Dia Butuh Telinga Bukan Mulut

Selasa, 05 Maret 2019


Saya termangu membaca kertas tebal warna ungu itu. Di sana tertera nama orang yang lima  tahun ini memproklamirkan dirinya sebagai kekasih saya, Diaz.
Nama Diaz tidak sendiri, namanya bersanding dengan nama perempuan lain. Bukan nama saya.

Undangan pesta pernikahan itu saya amati, tidak ada air mata hanya dada rasanya dipukul godam. Sakit sekali.

Laki-laki yang selama lima tahun ini menjadi orang yang paling dekat, telah menikahi perempuan lain. Tanpa perasaan, mereka mengirimkan undangannya.
Perempuan itu adalah teman masa kecil kami, saya dan Diaz.

Namanya Alfiah. Kami berteman sejak kecil karena sekampung. Demikian pula Diaz. Kami selalu belajar, bermain, dan berangkat ke sekolah bersama-sama. Tamat SMP, Alfiah pindah ke daerah lain, tetapi hubungan kami tidak terputus. Telepon adalah media kami berkomunikasi.

Sore itu sepulang dari acara penamatan SMA,  Diaz mengutarakan perasaannya. Ia menyukai saya dan berniat menikahi saya setelah ia bekerja. Tanpa berpikir dua kali, saya menerima cintanya, karena sejak kecil saya memang menyukainya.

Hampir lima tahun kami menjalani masa-masa indah. Ke kampus bersama, walaupun kami beda jurusan tetapi kampus kami sama. Hingga Diaz berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat setahun dari saya. 

Hanya tiga setengah tahun. Katanya, ia ingin cepat-cepat bekerja lalu menikahi saya.
Saya melambung bahagia.

Diaz memang cerdas dan aktif dalam berbagai organisasi. Mungkin itu salah satu sebabnya ia tidak lama menganggur dan diterima bekerja di salah satu perusahaan BUMN Indonesia.

Enam bulan bekerja di kota yang sama, kami masih sering bersama. Ia selalu menyempatkan waktunya menemani dan membantu proses penyelesaian skripsi saya.

Saat saya diwisuda,  Diaz lebih sibuk dari orangtua saya. Dia  memilihkan salon terbaik agar saya bisa tampil paripurna. Ia meminjam mobil kantornya untuk mengantar saya sekaligus mendampingi. Dia bukan orang asing buat teman-teman dan keluarga saya. Karena hanya dia satu-satunya laki-laki yang selalu ada dalam lingkungan keluarga selain saudara laki-laki dan keluarga lainnya.

Suatu hari Diaz salat magrib berjamaah di rumah saya. Ia diimami oleh bapak. Usai salat dan  berdoa, ia mendatangi bapak dan pamit kepada  Beliau karena esoknya ia akan berangkat ke Bandung. Ia dipindahkan tugas di sana. Ia pamit sekaligus berjanji akan datang melamar setelah enam bulan di sana.

“Saya mau mencari rumah dulu di Bandung Pak, insya Allah enam bulan dari sekarang saya akan datang melamar putri bapak.” Dengan takzim ia ucapkan janji itu.

Bapak mengangguk seraya berkata. “Kalau kamu memang berjodoh dengan anak bapak, pasti akan dimudahkan oleh Allah swt.”

Selama enam bulan di Bandung, komunikasi kami tak pernah terputus. Ada jadwal bertelepon yang telah kami sepakati. Dan ia tak sekalipun ingkar dari jadwal itu.

Facebook Pembuka Tabir


Enam bulan berhubungan jarak jauh cukup membuat jenuh. Facebook adalah media yang saya jadikan tempat untuk mengatasi kejenuhan itu. Saya mencari teman-teman lama, mengajaknya berteman, lalu bercengkrama. Saling memberi jempol dan saling komen untuk setiap postingan.

Saya juga mengajak Diaz untuk aktif di media sosial. Tetapi ia menolak, katanya ia tak punya waktu untuk urusi itu. Pekerjaannya semakin banyak.

Sutu ketika saat membuka facebook,  sungguh kaget melihat postingan foto yang ada di linimasa saya. Foto itu diposting oleh Alfiah, teman masa kecil saya.
Dalam foto itu ada Alfiah, dan tiga orang laki-laki. Salah satunya adalah Diaz.
Saya langsung berkomentar di kolom komentarnya.

| Fiah, kayaknya saya kenal cowok baju biru itu de, hehehe…|
Beberapa saat kemudian, Fia membalas.
| Ha..ha…ha…kenal di mana Neng?|
| Siapa yah Namanya?| Kami berbalas candaan.
| Masa lupa sih, dia Diaz. Teman masa kecil kita. Dia calon imamku loh|

Deg!

Saya tidak membalas lagi komennya. Foto itu saya save dan langsung kirim ke Diaz lewat whatsapp, ditambah kalimat, “tolong jelaskan.”

Diaz membalas.

| Sebentar sayang, lagi rapat. 15 menit lagi selesai |

Duh ya Allah! 15 menit menunggu rasanya 15 bulan, lamaaa..

Saya gelisah menanti penjelasannya. Bukan fotonya, toh di foto itu mereka berempat dan posisi Alfiah dan Diaz tidak berdekatan. Tapi kata-kata Alfiah itu yang bikin insting saya  mengirimkan isyarat waspada.

Akhirnya komunikasi kami terhubung. Dengan bercanda Diaz menjelaskan, kalau Alfiah itu hanya panas-panasin saya. Katanya, ia sengaja. Mau tes tingkat kecemburuan saya. 

Ternyata cemburu betul, hahaha…

Hati saya kembali tenang. Saya minta maaf kepada Diaz juga kepada Alfiah karena sempat curiga. Alfiah hanya menanggapi dengan mengirim emotikon senyum.

Peristiwa itu terjadi 3 bulan lalu. Mungkin waktu itu mereka sudah menjalin kasih tetapi belum berani mengakuinya. Sudah ada pengkhianatan dan mereka menyimpannya dengan rapi.

Barangkali Diaz masih ragu, siapa di antara kami yang paling ia cintai. Lalu akhirnya ia mengambil keputusan. Keputusan yang menghantam dada dan merobek jantung saya.

Tepat enam bulan setelah janji Diaz ke bapak, ia mengirimkan undangan pernikahannya. Ia kabarkan kalau ia telah mengingkari janjinya.

Bapak hanya terdiam saat saya memperlihatkan undangan itu. Matanya kuyu, ia tahu anak perempuannya terluka tapi tak bisa berbuat apa-apa. 
Bapak hanya menghela napas seraya berkata getir,

“ Diaz bukan jodohmu Nak, Ikhlaskan.”

Mudah sekali mengucapkan kata itu. Ikhlas, bukan jodoh, Allah sudah mengatur,  bla…bla..bla..

Tapi mereka tak tahu betapa sesaknya dada ini. Tak ada lagi air mata, karena mata sudah pedis menahan tangis.

Sumber gambar: Pixabay.com


Sahabat saya menceritakan semua duka laranya dengan mata basah. 
Kadang air matanya menderas, kadang bibirnya gemetar, sesekali tersenyum getir.

Saya tak mau memberinya nasehat. Ia tidak butuh. Ia hanya perlu telinga untuk mendengarkan cerita dukanya. Ia butuh  didengar.

Walaupun saya larut dengan kisahnya. Terkadang ikut menangis, kadang pula tersenyum getir mengikuti alur ceritanya dan lebih banyak geram. 

Marah kepada sosok Diaz. 
Tapi apakah itu membantu?


Saya hanya mengajaknya ke masjid. Kami salat.

Usai salat, saya mengajaknya duduk di pinggir Pantai Losari, memandangi laut sambal menunggu terbenamnya matahari. 

Saya tak tahu apa yang dipikirkannya dan saya tak mau mengusiknya. Setidaknya ia tidak lagi menangis.

Sesekali ia menghela nafas sambal berbisik lirih, astagfirullah … La haula wala quwwata illa billah

Semoga  dengan melafalkan kalimat taibah itu,  sesaknya bisa berkurang.

Kisah ini saya persembahkan kepada setiap hati yang luka akibat dikhianati.
Perempuan muslimah, yakinlah dengan ayat Al Qur'an!


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).  ....”
(QS: An-Nur ayat: 26)

Siapapun yang mengkhianatimu, pasti bukan yang terbaik untukmu. Allah swt sudah menyediakan pasangan yang baik buat kamu, hanya perlu memperbaiki dan meningkatkan akhlak baikmu,  agar jodoh terbaik juga yang akan datang membawamu ke pelaminan.

Wallahualam Bissawab

67 komentar

  1. Jlebb dengan penutupnya. Setuju pakai banget Bunda:
    Siapapun yang mengkhianatimu, pasti bukan yang terbaik untukmu. Allah swt sudah menyediakan pasangan yang baik untukmu, kamu hanya perlu memperbaiki dan meningkatkan akhlak baikmu agar jodoh terbaik juga yang akan datang membawamu ke pelaminan.

    Maka...move on wahai bagi sesiapa yang sedang dipatahkan hatinya. Masih ada dia yang terbaik yabg disiapkan-Nya untuk kita di luar sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah harusnya kita tidak nyinyirin siapapun yang bernasib begitu ya Mbak. Cukup diam dan mendengarkan mereka, karena mereka butuh didengar. Terima kasih ya sudah mampir dan meninggalkan jejak.

      Hapus
  2. Ya ampuuun ceritanya kaya yang sekarang lagi hits aja, terinspirasi dari itukah Bun? #TMT... Hihiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, tiba-tiba ingat sahabat saya Mbak. Nasibnya kurang lebih sama. Hiks

      Hapus
  3. Wah kisahnya mirip dengan yang kisah Syahrini yang sekarang hits itu. Berada di posisi teman yang dikhianati pacarnya tentu tidaklah mudah. Ikut mendoakan, semoga medapat jodoh yang terbaik.

    BalasHapus
  4. kalau bersabar dan memiliki akhlak yang baik akan menemukan jodoh yang terbaik ya, mbak :)

    BalasHapus
  5. Wah memang jodoh sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Sebagai manusia kita hanya mengikuti skenarionya dengan terus berdoa mohon petunjukNya. Nah, kalau bukan jodoh tidak bisa dipaksanakan apalagi kalau sampai sakit hati oh no...

    BalasHapus
  6. Sekarang temannya gimana mba? Semoga sudah atau segera menemukan cinta dan kebahagiaan baru yaa.. Rencana Allah selalu indah, kita cuma perlu menunggu waktunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah akan saya tuliskan juga nanti.

      Hapus
  7. Sedih ya ditinggal kawin. Tapi tidak apa apa memang belum jodoh. Nanti ada jodoh terbaik .

    Move on daripada bengong .
    Ketika ia patah hati Dia butuh telinga buat mendengar curhatan

    BalasHapus
  8. Jadi inget Mbak Bulan aku mah, hehehe. Tapi emang fenomena kayak gini sebenarnya banyak di masyarakat kita. Temen saya banyak yang ngalamin. Syukur alhamdulillah saya nggak pernah jagain jodoh orang. Alias nggak punya pacar, wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaah emang banyak banget di sekitar kita, hanya mereka itu bukan seleb jadi nggak muncul di media sosial.

      Hapus
  9. MaasyaAllah, memang benar mbak, saya pernah menemukan sahabat saya mengalami hal seperti ini, tapi saya hanya bisa berucap "bersyukurlah kau melihat sifat buruknya sebelum menikah" karena calon imanmu insyaAllah yang lebih baik dan bertanggung jawab:)

    BalasHapus
  10. Yang paling mengiris hati itu karena si lelaki sudah berjanji pada ayah si wanita yaa. Tega sekali melanggar janji, huhuhu sedihnya :(

    BalasHapus
  11. Banyak kisah yang seperti ini, Mba. Sang kekasih yang telah berjanji akan menikahi, malah menikah dengan wanita lain karena jarak. Hubungan jarak jauh memang butuh komitmen dan kesetiaan berlipat karena godaannya besar :(

    BalasHapus
  12. Butuh telinga itu kapan saja, bukan perkara ditinggal menikah sih. Teman saya curhat karena suaminya selingkuh. Ya saya engga berani komentar, hanya mendengarkan. Saya komentar pun salah, malah dibilang ngompor-ngomporin. Semakin tua, ternyata ya suaminya kembali lagi ke teman saya. Yadwa gitu aja...Saya cuma ember...hehe...menampung keluh kesahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali-sekali jadi ember itu ada juga baiknya ya Mbak, hitung-hitung cari pahala. Daripada kasi nasehat, belum tentu juga yang sedang berduka begitu mempan dengan nasehat.

      Hapus
  13. ya Allah, sedih ya kalau ada kejadian seperti ini yang menimpa teman terdekat.
    kesel juga sih sama yang namanya diaz itu --"

    BalasHapus
  14. pasti sedih banget diposisi dikhianati :( tapi lebih baik tau dari sebelum menikah jadi tau kalau memang dia bukan jodoh kita :)

    BalasHapus
  15. Masyaa allah betapa bagus dan pemilihan diksi nya juga tepat tetap semangat dalam menulis mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga proses belajar saya bermakna ya mbak. Terima kasih

      Hapus
  16. Allah Maha Tahu, Allhamdulillah ditunjukkan sebelum pernikahan jadi tahu dia bukan jodoh yang cocok. Ikhlas itu memang berat :)

    BalasHapus
  17. Ikhlas itu berat, tapi dengan bersandar pada Allah, insya Allah tak ada hal yg berat.. begitu bukan? TFS kisah ini mba, membuatku ingat utk terus bersandar hanya pada Allah semata..

    BalasHapus
  18. Wah, si Diaz hanya berjanji untuk melamar, ya? Masih belum ada ikatan, tuh. Peluang putus dan sakit hati masih terbuka, memang.

    Move on. Insya Allah jika bukan jodoh, berarti itu yg terbaik menurut Allah Swt

    BalasHapus
  19. Bund salam buatvtemannya, ya Allah bikin sedih certanya. Memang ya Perempuan keji untuk lelaki yang keji begitu sebaliknya

    BalasHapus
  20. Always believe in the Almighty. Allah SWT will always have the best scenario for each and everyone of us. It might not that easy but believe that it’s the best

    BalasHapus
  21. Jodoh itu memang rahasia Allah ya mba, sesuatu yang gak baik akan terbuka dengan sendirinya, beruntung dia belum menikah dengan laki2 seperti itu

    BalasHapus
  22. Allah memberikan yang terbaik untuk sahabat Bunda. Dia tidak jadi menikah dengan lelaki yang tidak setia. Dari kisah itu, kita yakin jika perempuan baik pasti akan mendapakan lelaki yang baik pula.
    Sebagai tempat bercerita, kita memang tidak perlu banyak menanggapi, ya, Bun. Cukup jadi pendengar saja.

    BalasHapus
  23. Wah, kisahnya bikin mata berkaca kaca. Kasihan banget ya, udah lima tahun akhirnya ditinggal kawin. Lebih baik jangan pacaran sebelum menikah jadi gak sakit hati haha

    BalasHapus
  24. Wahhh kyk cerita nyata yg lgi viral ya mbak. Baiknya bersyukur saja dan segera move on dan yakin bhw Diaz bkn jodohnya. ��

    BalasHapus
  25. Jodoh itu sepeti maut tak bisa di sangka siapa dimana dan kapan datangnya ya bunda.
    Ikhlas itu memang berat tapi ya kudu belajar.
    Keren banget kisahnya.

    BalasHapus
  26. Penutupnya bagus mba, salut udah bisa bikin pembaca move on ini

    BalasHapus
  27. Ya Allah, sedih bgt.. Tapi bersyukur ya tahunya selingkuh sebelum menikah. Karena itu sifat yg sulit dihilangkan ��

    BalasHapus
  28. Ya Allah, ngenes banget denger ceritanya. Dulu aku pikir cerita seperti ini hanya fiksi, ternyata emang banyak terjadi ya. Semoga temennya kuat dan tabah ya, Mba, serta diberi pengganti imam yang terbaik oleh Allah SWT. Amiin :)

    BalasHapus
  29. Jika ada masalah, solatlah dan mengadu pada Allah. Di Mesjid dapat ketenangan alhamdulillah.
    Ayo segera move on

    BalasHapus
  30. Pasti berpikir dunia bakal runtuh, nangis ngeraung raung. Tapi sebentar, toh dunia masih berputar meski diaz bukan jodohnya. Masih ada Allah tempat untuk berpasrah dan meminta perlindungan.

    Gemes yak sama diaz, tapi itulah jalan hidup seseorang yang bakal menjadi cerita

    BalasHapus
  31. Semoga diberi ganti yang terbaik sama Allah. Jodoh memang benar2 rahasia Allah

    BalasHapus
  32. Benar sekali mba, tak akan seseorang yang keji dipasangkan dengan orang baik. Jodoh terbaik sudah disiapkan Allah untuk wanita muslimah yang berniat memiliki pasangan yang baik pula.

    BalasHapus
  33. Pada dasarnya Allah sudah menetapkan siapa siaap jodoh dr para HambaNya ya mba. Semoga jodoh yang Allah beri itulah yang baik utk kita semua. Salam buat Diaz. Hehehe

    BalasHapus
  34. Duh sedihnya. Eh tapi mungkin itu takdir terbaik yang Allah berikan ya. Siapa tahu Allah sedang menyiapkan jodoh terbaik. Ya kan

    BalasHapus
  35. Duh bacanya jadi agak falshback ke belakang hehe tapi yang jelas sih kalau di khianati lebih baik sudah tinggalkan karena itu tandanya bukan yang terbaik untuk kita.

    BalasHapus
  36. Bunda cerpennya mantaaap banget. Sukaaak. Saya larut membaca kisahnya yang entah berakhir tragis atau happy ending nih. Kenapa saya bilang happy ending ya karena bersyukur si tokoh aku ini tidak berjodoh dengan lelaki seperti Diaz. Tentunya akan jauh lebih menyakitkan bila sudah menikah baru kedapatan suaminya berkhianat. Untungnya ini cuma cerpen ya meski dalam kehidupan nyata banyak kejadian yang seperti ini. That's why aturan islam luar biasa sekali, melarang penganutnya menjalin hubungan kekasih sebelum halal karena ya seperti itu. Meski sydah bertahun-tahun pacaran tapi kalau bukan jodoh ya pasti nggak bakalan bersatu juga.

    BalasHapus
  37. Semoga sahabatnya bisa mendapatkan jodoh terbaik, namanya belum jodoh mba. Sakit tentu tapi jauh lebih sakit jika Diaz itu menikahi sahabat mba namun ternyata selingkuh jua :(

    BalasHapus
  38. haru banget. tapi Allah selalu kasih tunjuk yang terbaik untuk kita apalagi jika selalu ada orangtua yang mendoakan

    BalasHapus
  39. Jadi teringat guru honor di SD ibu saya yang batal menikah Mba, tapi insyaa Allah ada hikmahnya. Allah tunjukkan alasan kuat, dan akhirnya bersyukur tak jadi nikah.

    BalasHapus
  40. Pasti berat ya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi. Makanya kan, kayak pesan Mbak Bulan, jangan mencintai terlalu dalam. Cinta harus didasari oleh cinta pada-Nya juga.

    BalasHapus
  41. Kadang pelaku kejahatan itu orang dekat ya mbak, termasuk pelaku pengkhiatan ini, suka gemes sama orang yang kayak gini.

    BalasHapus
  42. aku ikut sediiiih, bete dikhianati, eh tapi yaudahlah syukur FB karya Om Mark nunjukkin kalau Diaz main belakang. Thank you Mark!

    BalasHapus
  43. huaaaa ini ceritanya kekinian deh Mak, kalau dihubungkan dengan yg sedang trending topic yaahh.. teman makan teman.
    iisshh, Diaz itu kejam banget deeehh.. Alfiah juga.. huuuhh.

    tapi janji Allah yang pasti, Perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik begitupula sebaliknya, Aamiin :)

    BalasHapus
  44. Kisah nyata atau cerpen ya ini? Saya ngalamin juga seperti yang dialami si tokoh ini. Alhamdulillah, penggantinya malah lebih baik hehe

    BalasHapus
  45. Itu sakitnya luar biasa, ditinggal nikah saja sudah sakit apalagi dikhianati dan sama teman sendiri.

    Semoga hati2 yang saat ini bersedih diangkat rasa sedihnya dan diganti dengan kebahagiaan yang tepat. Aamiin.

    BalasHapus
  46. Ya Allah, memang sedih banget kalau apa yang kita harap lebih malah gak memberikan sebuah kenyamanan sesuai harapan. Sabar ya, insya Allah ada jalan.

    BalasHapus
  47. itu mi kak susahnya orang-orang. susah sekali mi cari orang yang mau mendengar sekarang. sanging orang mau ji bacocer :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kata Bacocer lamanya baru bisa kupahami artinya, bertanyapa, sama siapa itu dulu di yang kasi tauka artinya hahaha....

      Hapus
  48. Sedih sekali membacanya. Kadang memang nda semua yang kita inginkan, bisa kita raih. Tapi kehilangan "pasangan" ini memang betul sesak.

    I was there. But, i was in the other side position. Sama sedihnya :(

    BalasHapus
  49. Kak sedihnhyaa, nda bisaku :( I hate you Diaz huhu Semoga juntuk orang2 yg dikhianati diberikan ganti yang lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin. Saya juga berdoa, semoga Tari tidak mengalaminya. Sedih aku tuh...

      Hapus
  50. Terhenyak ka baca ini tulisan. Sebuah perenungan bagi saya.

    BalasHapus
  51. MEmang menyakitkan ya Kak . Tapi pada saatnya, indahnya kalau yang dikhianati berpikir bahwa lebih baik dia disakiti sebelum menikah daripada ketika sudah menikah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini cucok. Kenapa juga terlalu dipikirkan, tapi bagaimanapun saat keadaan itu terjadi pasti ada luka di hati.

      Hapus
  52. Saya membolak-balik category post ini. Saya penasaran apakah ini sebuah kisah nyata atau sebuah cerita fiksi. Kagumku sama tulisanta, menghanyutkan, sampai saya baca detail kata per kata.

    Saya selalu percaya, apa yang terjadi itulah yang terbaik. Bahwa urusan jodoh bukanlah kita sebagai manusia yang memegangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, jodoh adalah salah satu ketentuan yang ditetapkan Allah untuk setiap hamba-Nya.
      Saya juga tidak tahu apakah ini bisa dikategorikan fiksi atau bukan, yang jelasnya kisah itu pernah dialami oleh teman saya namun sebagian saya fiksikan

      Hapus
  53. Memang benar ya, kadang kita hanya butuh telinga dan bukan mulut. Dengan didengarkan saja, rasanya sudah tenang. Setidaknya setengah dari beban kita sudah terlepas.

    Kalau dibalas dengan perkataan, bisa saja malah menambah beban atau membuat luka baru.

    BalasHapus
  54. Sedih sekali ceritanya kak, saya hampir menangis membacanya ((. Dan kok kisahnya mirip dengan kisahnya aku yah HIKSSSS

    BalasHapus
  55. Betul betul yahh, jodoh tidak ada yg tau kapan dan dengan siapa, smua sdh jd suratan

    BalasHapus
  56. Kisah yang sangat menyedihkan Bunda..Lelaki macam apalah Si diaz ini..tega banget..apa pun , surah An-Anur Ayat 26 adalah jawabannya..Lelaki yang baik untuk perempun yng baik dan bgitu pula sbaliknya..Kalau jodoh pasti takkan kemana..mungkin ada laki-lakinyang terbaik dari diaz untuknya..

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *