4 Tahun Indonesia Kreatif

Kamis, 31 Januari 2019


 


Sebenarnya agak ragu mengikuti kegiatan yang dilaksanakan KOMINFO  di Hotel Aryaduta ini. Bukan apa-apa, kegiatan itu kan lomba Design  antar Netizen.

Siapalah saya yang tidak memiliki latar belakang desain.

Tetapi  setelah tahu, kalau  selain lomba ada juga workshop diawal acara, maka saya putuskan akan hadir.

Sekalian mau “cuci mata.”  Aups!

Bertemu, berkenalan, dan bercanda dengan anak muda adalah salah satu resep saya untuk memudakan diri. Serius.

Anak muda itu akan selalu memancarkan aura semangat, jiwa yang bergelora, dan pemikiran yang fresh

Asaaal, anak mudanya bukan anak muda palsu, hehehe…

Catatan Acara Pembukaan


Seperti biasanya, acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian laporan pelaksanaan dari Ibu Direktur Pengelolaan Media, Siti Meiningsih.

Dalam laporannya, Ibu Siti Meiningsih menjelaskan, bahwa acara yang sedang digelar merupakan kerja sama antara Kominfo dan Tim Komunikasi Presiden, serta Dinas Kominfo Makassar.

Tujuannya adalah memberi wawasan kepada netizen Makassar tentang pencapaian pemerintah selama kurun waktu 4 tahun. 

Yap, tugas Kominfo adalah mendiseminasikan program pencapaian pemerintah.

Ibu Siti Meiningsih juga memaparkan bahwa, peran ekonomi kreatif memberi sumbangan ke negara sebanyak 5,79% dan anak muda ikut berkontribusi secara signifikan, contohnya menjadi teknopreneur, mengembangkan startup, dan produk lokal.

Hal ini ditunjang oleh pesatnya perkembangan penetrasi pengguna internet. Dikatakan, terdapat 143,26 juta jiwa pengguna internet dari tabel populasi Indonesia 262 juta orang atau sebanyak 54,68%. Artinya lebih dari seperdua rakyat Indonesia telah menggunakan internet.

Contohnya CEO Go-jek, seorang anak muda yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi ratusan ribu masyarakat Indonesia melalui aplikasi Go-Jek.

Masih menurut Ibu Siti Meiningsi, tahun 2018 Flas Design dilaksanakan di Surabaya, Medan, Gorontalo, dan Semarang, dan tahun ini, Makassar yang menjadi pelaksana pertama.

Yeeeh … berikan applause  untuk Makassar! 
Prok …Prok …Prok!

Masih Acara Pembukaan


Ibu Dra. Rosalinda Niken Astuti selaku Dirjen IKP Kominfo dalam sambutannya menginformasikan,  kalau peraih komikus terbaik tahun 2018 yang diadakan oleh UNICEF berasal dari Makassar. 

Ini membuktikan bahwa kreativitas mampu mengembangkan diri dan diakui internasional.

Ibu Niken juga bercerita kalau  ada anak kos di rumahnya, berasal dari Palopo, menulis novel di aplikasi internet dan novel itu sudah dibaca lebih dari 20 juta orang.

Hm, makin bangga  jadi orang Sul-Sel.

Sayangnya, beasiswa yang disiapkan Kominfo untuk 20 ribu mahasiswa,  hanya ditujukan untuk mahasiswa yang umurnya tidak lebih dari 29 tahun.

Saya bagaimana Bu Dirjen?

Ah, berikanlah kesempatan kepada anak muda sebagai generasi penerus. Kamu tinggal duduk manis saja sambil mengamati, sejauh mana pencapaian mereka.

Ciee… jadi pengamat niye, hi … hi … hi…

Bu Dirjen juga menyoroti, bahwa lebih banyak pengguna internet hanya dipakai untuk chatting.

Lihat saja datanya, 3,3 juta informasi dikirim via FB per menit, dan melalui WA dalam satu menit ada 29 juta informasi yang beredar.

Padahal kalau internet digunakan untuk membuat konten-konten kreatif dan  positif  itu jauh lebih baik. Iya kan?

Bu Dirjen juga mengingatkan agar kita bersama-sama memberantas hoax, karena hoax merusak moral jangka panjang. 

Bisa terjadi disintegrasi bangsa. Karena hoax bisa menghancurkan kepercayaan terhadap data dan kebenaran.


Siap Bu Dirjen, bersama kita  berantas Hoax!

Jangan sampai kena UU ITE, hii .. ngeri.

Anak Muda Maju, Indonesia Maju


“Berikan Aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Bung Karno).

Pak Andoko selaku Tenaga Ahli Kominfo. Memberi judul presentasinya "Anak Muda Maju, Indonesia Maju."

Cocoklah dengan apa yang pernah dikatakan oleh presiden pertama Indonesia, Bung Karno.

Oleh Beliau dijelaskan bahwa, ada enam tipe anak muda, yakni sebagai berikut.

  • Tipe Kreator

Pemuda dengan tipe kreator itu pada umumnya bekerja di tempat yang membutuhkan daya kreativitas yang tinggi, bahakn bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Seperti bisnis Start Up dan musisi.

  • Tipe  Peduli. 

Pemuda yang masuk kategori ini adalah mereka yang memilih menjadi relawan.

  •  Tipe Biasa 

Tipe ini adalah anak-anak muda yang umumnya menajdi followers dan pekerja.

  • Tipe  Pahlawan

Para atlet yang bertanding mewakili daerahnya, klubnya bahkan negaranya termasuk dalam kategori ini. Tim Sar bisa juga dikategorikan ke dalam tipe ini.

  • Tipe Cendekiawan

Tipe kelima ini adalah  anak muda yang mengejar pendidikan setinggi-tingginya, lalu menjadi ilmuwan atau akademisi.

  • Tipe  Eksplorer

Dicontohkan oleh Pak Andoko, tipe ini adalah  anak muda yang suka traveling, pencinta alam dan sebagainya.

Nah, kamu masuk tipe yang mana?

Presentasi workshop berikutnya dibawakan oleh dua anak muda, yaitu Hari Prast dan Aditya. 

Oh yah, kalau mau tahu lebih jauh materi yang disampaikan oleh dua anak muda ini,  cari infonya di blog teman saya, Adda
Pembahasannya lengkap. 

Ucapan Adalah Doa


Ada cerita lucu sebelum saya menghadiri acara ini. Mau tahu?
Mau yah!  Maksa.

Ceritanya saya mau minta izin kepada Ayangbeb. Maka saya perlihatkanlah flayernya sebagai bukti kalau memang ada acara, bukan hoax hihihi…

Saat melihat flayer itu, keningnya berkerut sembari bertanya.

“Mau-ki juga ikut lomba?”
“Tidak-ji hanya mau ikut workshopnya.”

Eeeh, Fahmi yang saya minta tolongi untuk mengantar ikutan coddo.

“Deh, Mama jangan-maki ikut, itu untuk mahasiswa.”
“Biar-mi Fahmi, nanti mamamu jadi peserta tertua.” Canda Ayangbeb.

Dengan sedikit kesal saya membalas candaannya.

“Nanti ada kategori peserta tertua, saya-mi yang dapatki.”

Masya Allah, rupanya kata-kata itu adalah doa.  Langsung dikabulkan.

Saya menerima hadiah sebagai peserta tertua. Yeeaah…

Masi mau-ko lawan orangtua? Hahaha….


Foto dari Aisyah, terima kasih Aisyah!


Ini juga dari Aisyah. Terima kasih ya.


Catatan

Diseminasi secara khusus diartikan sebagai penyebarluasan informasi, doktrin, pemikiran, kebijakan, dan hasil penelitian. (Wikipedia).

Disintegrasi adalah keadaan tidak bersatu padu; keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan; 2 Fissebarang transformasi, baik spontan maupun terimbas oleh radiasi, yang dibarengi dengan pemancuran zarah atau foton. (KBBI Daring).


READ MORE

Momen Panjang yang Indah Bersama Mama; Pelajaran Berharga Tak Terukur

Rabu, 30 Januari 2019


Derik Pintu yang Selalu Saya Rindukan

 

Sudah hampir setahun  saya tak mendengar derik pintu rumah mama. Derik pintu itu pertanda subuh sudah menjelang. Karena saat pintu pagar berderik, itu berarti mama akan ke masjid salat subuh.

Kebiasaan salat di masjid sudah puluhan tahun dilakukannya, tepatnya sebulan setelah meninggalnya bapak, tahun 1993. Mungkin itu salah satu usahanya menepis rasa kehilangan.

Jika kamu kehilangan orang terkasih maka labuhkanlah hatimu kepada-Nya. Dia tak akan pernah pergi selama engkau mendatangi-Nya

Pertengahan tahun 2018, tiba-tiba mama mengeluh sakit di bagian pinggangnya. Sekedar mengeluh, karena tidak mau dibawa ke dokter untuk berobat. 

Mama memang begitu orangnya, nanti mau konsultasi ke dokter kalau dipaksa.  
Lagian mama itu jarang sakit, kalaupun sakit, tidak pernah sakit parah. Olehnya itu, kalau ada anaknya yang mengeluh sakit, maka mama biasanya meledek.

“Ih masih muda sudah sakit-sakitan.”

Namun sakitnya kali ini benar-benar parah, buktinya ia tidak ke masjid lagi. Selama sakitnya bisa dibawa jalan, pasti ia ke masjid. Katanya, masjid adalah tempat terbaik selain rumah.

Beberapa kali dibawa ke dokter. Hingga diopname di rumah sakit untuk pemeriksaan intensif. Tak ada penyakit tertentu yang ditemukan oleh dokter. Tekanan darahnya normal, gula darahnya normal, kolesterol dan asam urat normal.

Lalu apa penyakitnya? Kenapa tiba-tiba Beliau mengeluh sakit pada tulang-tulangnya? Mungkinkah itu gejala osteoporosis? Kata dokter, tulang mama saya sehat.

Katanya lagi, itu penyakit orang tua. Entahlah.

Saat ini Beliau hanya di rumah, tidak lagi beraktivitas seperti dulu. Salat juga hanya dilakukan di rumah.

Dan derik pintu saat subuh menjelang,  tak lagi terdengar. Saya merindukannya. 

Momen Indah Bersama Mama


Kalau ada yang bertanya, apa momen paling berkesanmu bersama Ibu? Maka di situlah saya akan terdiam.

Baca juga tentang bapak di sini

Sepanjang ingatan saya, masa kecil saya lebih banyak dihabiskan bersama bapak walaupun kami serumah. 
Saya hanya jadi pengamat dan penilai akan kelemahan ibu yang saya panggil Mama itu di hadapan bapak dan mertuanya.

Bapak pandai dan memiliki wawasan luas, juga jago berdiskusi lebih tepatnya berdebat, serta sangat kreatif menciptakan hal-hal yang kelihatannya mustahil pada waktu itu, membuat Mama  menjadi isteri yang sangat patuh, penurut, tanpa bisa mengeluarkan pendapat. 

Karena semua pendapatnya tak pernah dianggap penting.

Bapak yang besar di kota, aktif dalam organisasi, yang bisa menghabiskan waktunya berjam-jam membaca, mulai dari koran, majalah, buku-buku agama, hingga buku sejarah, lalu berdampingan dengan mama yang berasal dari kampung dan  tanpa ijazah, maka terlihat sangat tidak pandai di mata saya.

Karenanya saya lebih banyak bertanya apapun kepada bapak. Lebih sering berdiskusi dengan beliau. Bahkan soal pasanganpun saya hanya minta restu sama bapak.

Kalau bapak setuju maka semuanya beres. mama pasti tinggal mengangguk saja.

Hal lain yang membuat saya jarang dekat dengan mama dan lebih dekat dengan bapak adalah  keheroikan bapak.

Beliau selalu membantu saudara-saudara mama yang berasal dari kampung. Mereka ditampung di rumah kami, diberi jalan untuk bekerja, bahkan difasilitasi untuk  menikah.

Sehingga saya merasa, sungguh hebat Bapak dan sungguh lemah Mama.

Mama tidak pandai dan bapak sangat pandai. Itulah penilaian saya dan  tanpa disadari membangun tekad sendiri kalau saya tidak ingin seperti mama dan tidak mau mendapatkan pasangan seperti bapak.

Hingga akhirnya mata saya terbuka lebar saat bapak terkena penyakit hingga mengalami kebutaan,  dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1993, tepat seminggu usia anak kedua saya.

Saya melihat kekuatan mama yang tak dapat diukur dengan alat ukur apapun. Saya melihat kecerdasan yang sekian lama tersembunyi dalam otak kecilnya.

Saya mohon ampun atas semua penilaian masa kecil saya yang keliru terhadap mama.  

Untuk membayar semua itu, saya memutuskan untuk pindah mengajar dari daerah ke kota demi mendampingi mama.

Adik-adik saya belum ada yang berkeluarga. Tiga  orang masih  sekolah dan mereka butuh pembimbing paling tidak ada orang selain mama yang mereka segani agar bisa terus berkembang dengan baik.

Maka saya hadir untuk itu.

Itulah momen-momen kebersamaan saya dengan mama.  

Menempuh jalan panjang dalam mendampinginya dan membantu dari segala segi untuk membesarkan anak-anaknya, adik-adik saya.

Satu persatu adik-adik saya  tamat bersekolah kemudian satu persatu pula mengakhir masa lajangnya, Itu merupakan momen-momen kebersamaan kami yang tak ternilai harganya.

Sangat berkesan.

Saat ada yang datang melamar untuk adik-adik perempuan saya, maka mama akan berbisik-bisik di telinga saya. Meminta pendapat, mengajak berembuk, dan menyusun rencana agar pernikahan mereka berjalan lancar.

Demikian pula saat anak laki-laki satu-satunya akan melamar gadis pilihannya, sayalah orang pertama yang diberi tahu.

Masalah sebesar atau sekecil  apapun dalam keluarga kami, saya dan mama selalu bergandengan dan bekerjasama menyelesaikannya.

Puncak dari semua kebersamaan itu adalah bahagia saya yang tak terkira saat melihatnya tertawa lepas di depan ka’bah untuk pertama kalinya. 

Orang-orang di sekitar kami menangis terharu, mama justru tertawa lepas sambil menggapit lengan saya seraya berseru. 

”Awwih … Dawiah uwita tongengni Ka’bae! Hehehe…”
(= Oh Dawiah,  akhirnya saya melihat Ka’ba).

Dan mama meminta dengan takzim kepada saya.

“Tolong umrohkan juga Bapakmu.”

Ah, mama memang selalu cinta kepada bapak, dan saya harus banyak belajar ketulusan, keikhlasan, serta kesabaran juga rasa syukur kepada mama.

Sembuhlah Mama!

Agar kita bisa kembali lagi ke tanah suci. 

Penantian panjang yang selalu mama rindukan sebentar lagi akan terwujud.









READ MORE

Sulung yang Ulung Part 2

Senin, 28 Januari 2019



Katanya, jadi anak sulung itu berat. Ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin buat adik-adiknya, ia harus menjadi suri tauladan, menjadi tolok ukur keberhasilan, dan masih banyak lagi tuntutannya.

Kalau merujuk arti kata  “sulung” dalam KBBI, maka sulung = ulung. Sedangkan Ulung adalah berpengalaman; mahir; terbaik.

ulung1 a sulung
ulung2 a berpengalaman; mahir; terbaik:

Mungkin itulah sebabnya, anak sulung selalu diharapkan jadi yang terbaik, selalu mahir, dan lebih dari adik-adiknya.

Saya sering mendengar perbincangan mama-mama di perkumpulan arisan, di posyandu, maupun di tempat lain, katanya; 

“Kalau anak sulung berhasil maka berhasil pula adik-adiknya.”
“Gara-gara kakaknya malas ke sekolah, adiknya juga ikut-ikutan.”
“Saya tekankan ke kakak (si-sulung), kamu itu contoh buat adik-adikmu. Kamu harus jadi yang terbaik.”

Saya pikir, itu  terlalu berlebihan. Justru saya beranggapan, anak sulung itu adalah anak “percobaan” Segala bentuk model pengasuhan anak, dicobakan ke dia. Itu saya, entah Ashanti.

Tanpa disadari, saya juga termasuk orang yang berpendapat seperti mereka. Misalnya, masukkan anak ke pesantren.

Fandi sebagai anak sulung menjadi ajang coba-coba. Ternyata gagal. Mengacu pada kegagalan itu, saya tidak berani lagi masukkan adik-adiknya ke pesantren.

Fandi saya ikutkan bimbingan belajar, saat ia masih SD. Ternyata ia sering stres karena beban belajar yang tinggi, maka adik-adiknya tidak lagi saya ikutkan bimbingan.

Fandi suka main bola, maka saya suruh juga adik-adiknya untuk ikut main bola. Bahkan saya tuntut Fandi agar ia mengajak adiknya main bola.

Beberapa keputusan yang saya ambil berhasil, tapi tidak sedikit yang gagal. Saya baru menyadarinya setelah anak-anak saya beranjak remaja.
Misalnya, ternyata di antara mereka ada yang berpotensi mendalami ilmu agama. Tetapi saya tidak mengarahkannya ke sana, hanya karena kegagalan si-sulung.

Ternyata ada anak saya yang lebih pandai dari Fandi, tapi saya mengacuhkannya. Masih banyak lagi, penyesalan-penyesalan kecil lainnya.
Ya sudahlah, toh sejauh ini Fandi sudah cukup berhasil dalam menjalani perannya sebagai anak sulung.

Baca juga tentang Fandi di sini

Jadi Pembela Bagi Adik


Tahun 2000, saya hijrah dari rumah lama ke rumah yang baru di Sudiang. Waktu itu, Fandi baru kelas lima. Sedangkan dua adiknya masing-masing kelas tiga, dan kelas satu. Sementara anak keempat masih TK.
Otomatis mereka juga pindah sekolah. Dari sekolah yang berbasis agama ke sekolah umum.

Perubahan lingkungan berdampak pada pergaulan dan perubahan sikap. Ada yang  positif tapi ada juga negatifnya.

Positifnya, mereka menjadi lebih mandiri. Tidak ada lagi mama saya yang selalu memanjakan mereka. Tidak bisa lagi, kalau mau makan, langsung duduk dan makanannya sudah tersedia di atas meja.

Di rumah baru, saya menerapkan peraturan baru. Saya membuat jadwal kerja yang ditempel di dinding. Mulai jadwal menyapu, mengepel, cuci piring, sampai jadwal jaga warung.

Tanpa diminta, Fandi tampil jadi ketua. Ia yang mengontrol jadwal kerja adik-adiknya. Alhamdulillah, rumah selalu bersih. Kabar buruknya, hampir tiap hari saya menemukan pecah beling di tong sampah. Kalau bukan gelas yah piring yang pecah.

Tak masalah.

Punya empat anak laki-laki yang hampir seumuran itu ternyata mengundang juga anak laki-laki lainnya. Teras rumah kami selalu dipenuhi anak laki-laki.
Mereka berkumpul dan bermain di teras rumah atau di jalanan depan rumah.

Suatu waktu, Denis anak tetangga datang mengadu. Katanya, ia dicurangi oleh Fandi bersaudara. Maka saya sidang mereka.

“Apa maksudnya itu Denis, kalian main curang?”
“Tidak Mama, kita mainnya jujur tapi Denis tidak mau kalah, maunya menang terus.” Uci menjawab sambil senyum-senyum.
“Memangnya kalian main apa?” Saya penasaran.
“Begini mama, tadinya Uci main kelereng sama Denis, hampir-mi kalah dan mau-mi menangis.” Ical putra kedua mencoba menjelaskan.
“Terus?” Saya mulai menangkap gelagat tidak baik.
“Jadi saya ikut main, saya pinjam kelerengnya Uci, Ical juga saya ajak. Akhirnya habis-mi kelerengnya Denis.” Tukas Fandi.
“Intinya diborongi Denis, hahaha….” Uci tertawa puas.

Sebenarnya saya mau ketawa, tapi sedapat mungkin ditahan.

“Lain kali tidak boleh begitu Nak, kasihan Denis.”
“Tergantung-ji Ma, kalau situasi genting, yaah kami turun tangan.” Fandi menjawab tegas tanpa senyum. Beuh segitunya.


Kejadian seperti itu sering sekali terjadi. Mereka bertiga kompak. Tapi anehnya, rumah kami masih saja dipenuhi anak-anak.

Salah satu permainan yang paling sering mereka mainkan adalah main bola-bolaan (saya tidak tahu apa nama jenis permainan itu).
Alatnya terbuat dari kertas karton yang dilipat sedemikian rupa sehingga bisa berdiri, kertas itu diibaratkan orang. Jumlah kertas itu sebanyak 22. Lalu kertas-kertas itu diatur di atas lantai. 11 kertas di sebelah kanan dan 11 lainnya di sebelah kiri.

Ada yang berperan sebagai penjaga gawang, penyerang, dan lainnya. Bolanya juga terbuat dari kertas bentuknya bulat dan lebih kecil dari kelereng. Lucunya, setiap kertas ditulisi nama-nama pemain bola.
Cara bermainnya juga lucu, bola kecil disimpan di depan kertas karton lalu oleh pemainnya, karton ditekuk agar bola terlempar ke depan. Begitu seterusnya hingga tercipta gol.

Mereka bisa bermain semalaman. Saya dan bapaknya sering jadi supporter dari salah satu tim. Hehehe…

Fandi Gagal Kuliah S2


Sesaat sebelum Fandi diwisuda, ia berbisik.

“Ma, bisa-ji saya lanjut S2?”
“Maunya lanjut di mana?”
“Rencananya lanjut ke ITB.” Jawabnya hati-hati.
“Insya Allah, selama mama dan bapak masih hidup dan masih kerja Fandi boleh kuliah.”
Fandi tersenyum dan memeluk pundak saya.


Subuh di Yogyakarta, saya mempercepat salat subuh karena sudah tidak khusuk lagi mendengar handpone berdering tiada henti. Saat melihat di layar, 30 kali panggilan tak terjawab. Deg!
Saya lalu menelpon balik. Di seberang sana terdengar suara parau campur tangis.

“Kak, rumah mama kebakaran!”
“Innalillah, bagaimana keadaan mama dan semuanya?” Teringat mama saya yang sudah sepuh.
“Selamat-ji semua. Eh rumah-ta juga sudah mulai terbakar!” Teriak adik saya. Saya hanya melongo.


Suatu pagi di rumah pengungsian, pascamusibah kebakaran,  Fandi mendekati saya dengan wajah masygul.

“Ma jangan-mi saya lanjut S2, cari-ma dulu pekerjaan.”

Fandi paham, kalau semua tabungan kami harus dikuras demi membangun kembali rumah yang telah rata dengan tanah. Apalagi masih ada adiknya Uci yang sementara kuliah di ATKP.

Terima kasih atas pengertianmu Nak, kami terpaksa ingkar janji. Bukan karena tak mau tetapi keadaan tidak memungkinkan.

Fandi Jatuh Cinta, Saya Patah Hati


Tiba-tiba saya melihat Fandi memasang foto perempuan cantik di facebooknya. Dengan caption Limited edition.

Maka meluncurlah kalimat-kalimat nasehat di kolom komentarnya. Teman-temannya ikutan mengompori. Tak sekalipun Fandi membalas komenku. 

Untungnya Itu hanya  terjadi di dunia maya, di dunia nyata kami tak pernah membahasnya.

Saat itu Fandi masih berstatus mahasiswa. Saya dan bapaknya sudah tekankan, tidak boleh pacaran. Kalau mau pacaran, berhenti sekolah dan langsung menikah.

Anak-anak saya tahu bahwa ada aturan tidak tertulis yang sejak kecil ditanamkan ke mereka, bahwa mereka tidak boleh pacaran, tidak boleh membawa teman perempuan ke rumah yang bukan muhrim,  tidak boleh menikah sebelum  bekerja, jika saatnya tiba harus mencari pasangan yang seiman, dan berbagai aturan lainnya.

Mungkin itulah Fandi tidak berani membahas soal foto di facebooknya. Tetapi saya tahu, ia sudah jatuh hati kepada gadis di foto itu.

Saat Fandi diterima bekerja di salah satu perusahaan di Bandung, saya pertanyakan gadis yang ada di foto itu. Dengan hati-hati Ia menjelaskan siapa namanya, asal-usulnya dan segala hal tentang gadis itu.

Duhai, anakku betul-betul sudah jatuh cinta. Tapi aneh, saya merasa patah hati.  Merasa diduakan dan tak siap menerima kenyataan, kalau ada perempuan lain di hatinya.

Namun begitu, saya harus menerima kenyataan. Si sulung semakin dewasa. Lambat atau cepat, ia akan membina rumah tangga.

Gadis Gorontalo Pujaan Hati


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).  ....”
(QS: An-Nur ayat: 26)

Tak ada keraguan atas janji Allah itu, dan saya yakin Fandi adalah laki-laki yang baik maka ia berhak mendapatkan perempuan yang baik pula.

Setiap malam saya berdoa, mohon petunjuk atas pilihannya. Jika nama gadis itu yang  tertulis di Lauhul Mahfudz sebagai jodoh Fandi, maka mudahkanlah urusannya. 

Jika bukan, maka berilah anakku kesabaran menerima takdirnya.

Alhamdulillah, doa-doaku yang melangit ke Arsy dikabulkan. 
Kami bisa bersilaturahim ke Gorontalo sekaligus melamar gadis pujaan hati Fandi. Silaturahim itu berjalan hikmat dan penuh kekeluargaan.

Gadis pujaan Fandi akan menjadi anak perempuan kedua dalam keluarga kami.

Hadiah Untuk Fandi


Bapaknya bertanya, hadiah perkawinan apa yang bagus diberikan kepada Fandi?

“Tak ada hadiah berupa harta benda. Tetapi meminang perempuan beriman nan cantik untuknya adalah hadiah terbesar buat Fandi.”

Satu-satunya benda yang saya berikan adalah buku berjudul “ Menggapai Samara” sembari menitipkan pesan.

“Kamu telah memikul tanggung jawab sebagai suami, maka hidupmu sekarang bukan lagi untuk dirimu semata, melainkan untuk berdua dan kelak untuk anak-anakmu”

“Baik buruknya istrimu, ditentukan oleh caramu memimpinnya, maka tuntunlah dengan kasih sayang, siangi dengan cinta.”

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki)  telah memberikan nafkah dari hartanya ….”
(QS: An-Nisa; 34).



Sehat terus Nak, jadilah keluarga sakina mawaddah warahmah.
Sampai kapanpun kamu tetap anakku, maka doaku akan kebahagiaan dan kesuksesan  tak akan pernah berhenti untukmu.




READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *