Selasa, 14 November 2017

TABAYYUN YUK!

Bismillahirrahmanirrahim.
Saat tali silaturahim tiba-tiba kusut karena informasi yang ditelan bulat-bulat, padahal informasi itu belum tentu benar maka saat itu pula syetan dan seluruh pasukannya berpesta pora. Merayakan kemenangan atas kebodohan manusia.
Semua itu adalah tipu daya syetan, makanya Allah swt memperingatkan kita melalui ayatnya,
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS: Al Hujurat:6).
Periksa…. Periksa…dan Periksa.
Dengan kata lain TABAYYUN!


BERPIKIRLAH SEBELUM BERUCAP ATAU MENULIS

Tabayyun itu apa sih?
Menurut ahli bahasa, pengertian tabayyun dari aspek bahasa mencakup tiga pengertian, yaitu:
1.    Mencari kejelasan suatu berita maupun suatu masalah hingga masalah itu benar-benar terungkap dengan jelas.
2.    Berhati-hati dalam menanggapi
3.    Tidak tergesa-gesa menarik suatu kesimpulan.
Apakah akibatnya jika kita tidak tabayyun?
Ingatlah ketika isteri Rasulullah saw, Aisya ra yang dituduh serong oleh Abdullah bin Ubai bin Salul. Walaupun hal itu tidak benar, namun Aisyah ra yang suci itu tetaplah menjadi stress. Karena hampir separuh penduduk Madina mulai percaya dengan berita itu.
Untunglah beliau adalah isteri Rasulullah saw, sehingga Allah swt membelanya secara langsung melalui Al Qur’an, surah An-Nur ayat 11-16.
Allah swt menjelaskan dan memperingatkan kita.
“… jangan mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 17).
Itu isteri orang termulia di dunia. Lalu kita? Siapa kita?
Bukan siapa-siapa, kita hanyalah makhluk yang lemah, makhluk yang selalu bermaksiat.
Maka tiada lain yang harus dilakukan selain mengucapkan, Astagfirullah…astagfirullah..astagfirullah.
Karena hanya itu sajalah kemampuan kita.
Apa lagi akibat jika kita tidak tabayyun?
Akan timbul fitnah bahkan pertumpahan darah.
Hii..ngeri kan?
Ingatlah kisah Usamah bin Zaid ra yang telah membunuh salah seorang musuh yang sesaat sebelumnya mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Rasulullah saw marah kemudian bersabda:
“Hai Usamah, mengapa engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah? Saya jawab:” Dia mengucapkan itu hanya untuk melindungi diri”. Namun Rasulullaah saw terus mengulang-ulang pertanyaan itu, hingga saya merasa belum pernah masuk Islam sebelumnya. (HR. Bukhari).
(Dalam riwayat Muslim, Nabi saw bertanya kepada Usamah.” Apakah kamu telah membedah hatinya?”).
Mengapa manusia sulit tabayyun?
Apa penyebabnya?
1.    Faktor orang tua yang tidak memberi contoh. Jika anak biasa melihat dan mendengar orang tuanya tidak memiliki sikap tabayyun, maka sikap itu akan meresap ke dalam jiwa anaknya, sehingga kelak anaknya akan mengikuti perbuatan orang tuanya.
2.   Terjebak dalam kepandaian berbicara. Karena retorika yang bagus, kata-kata yang manis dan menarik maka bisa jadi kita hanyut lalu terjebak dan tidak lagi memikirkan dan memeriksa kebenaran kata-katanya. Itulah sebabnya Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya kalian mengajukan perkara kepadaku, dan barangkali sebagian dari kamu lebih pintar berbicara dengan alasan-alasannya daripada yang lain, maka
baarngsiapa yang aku putuskan dengan hak saudaranya karena kepintarannya bermain kata-kata, maka berarti aku telah mengambilkan untuknya sepotong bara api neraka, maka janganlah ia mengambilnya.” (HR. Bukhari)
Tulisan yang indah, kiasan-kiasan yang manis adalah bentuk lain dari kefasihan dalam berbicara.

Apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari sikap tidak tabayyun?
1.    Mari tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepad Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan mengampuni (dosa-dosamu). Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29).

2.    Bergaullah dengan orang-orang yang dewasa pemikirannya. Memiliki sikap kehati-hatian dan tidak sungkan memperingati kita apabila kita lalai.

3.    Biasakanlah untuk selalu berprasangka baik terhadap saudara seiman.
“Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat, tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata. “ini adalah (suatu berita bohong yang nyata)”. (QS: An-Nur: 12).

Yang paling penting, marilah berdoa!

“Ya Allah yang Maha Mengetahui, berilah kami jiwa dan pikiran yang tenang. Lapangkan dada kami. Karuniakanlah ketakwaan kepada kami agar kami bisa membedakan antara yang haq dengan yang batil.”


10 komentar:

  1. saya sepakat mbak
    jangan hanya ketidaksukaan terhadap sesuatu maka kita menyebarkan hal2 bohong
    think before post kan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap selalu berpikiran positif. Terima kasih sudah meninggalkan jejak.

      Hapus
  2. Terima kasih, jadi diingatkan dan harus berhati-hati ketika menerima berita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita saling mengingatkan, kalau tidak bisa melalui lisan, maka dengan tulisan juga ampuh kok. Terima kasih sudah meninggalkan jejak.

      Hapus
  3. semoga kita tidak mudah terpengaruh, karena kita tidak tahu apa maksud dibalik semua berita yang dengan cepat tersebar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, tetap tabayyun ya mbak. Terima kasih sduah meninggalkan jejak.

      Hapus
  4. Astaghfirullah... Tidak tabayyun maka bisa menimbulkan fitnah yang berarti dosa.
    Nice share, kk

    BalasHapus
  5. Ngeri ya Kak jika tidak menjadi orang yang suka tabayyun. Na'udzu billah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah bisa jadi fitnah. Padahal fitnah kan lebih kejam daripada pembunuhan.

      Hapus