Rabu, 16 Agustus 2017

Pilihanmu Tak Lagi Membuatku Cemas Part 2


Saya masih di sekolah, ketika dia datang dengan senyuman penuh misteri, saya memandang raut wajahnya dengan saksama, saya melihat ada kilau bahagia di matanya.
“Kamu lulus Nak?” Saya menatapnya sembari mengharap dia mengangguk.

Seperti biasa, dia tersenyum sambil menggoda, “Adajikah uangta untuk membayar biaya pendaftran ulang, kalau saya lulus?” Duh ini anak malah balik bertanya.
“Insya Allah ada.” Dan yang saya harapkan terjadi, dia mengangguk seraya menyodorkan laptop yang dibawanya. Pada file pengumuman yang dia perlihatkan, namanya tertera pada urutan 63 dari 138 nama calon taruna yang diterima, file itu berupa surat dengan kop surat, Kementerian Perhubungan Badan Pengembangan SDM Perhubungan.  Alhamdulillah.

Ini Baru Awalnya

Sejak hari itu, dia sangat sibuk mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pendaftaran ulangnya. Mulai dari pembayaran hingga surat-surat yang harus disiapkannya, semuanya dia lakukan sendiri. Kacuali, ketika dia diminta membeli pakaian tambahan sesuai petunjuk dari pihak kampus, sepatu olah raga, pakaian dalam yang berwarna putih, kemeja putih hingga pohon trembesi.

Pohon trembesi? Itu untuk apa yah? Belakangan baru saya mengerti, pohon itu akan ditanam di kampus baru atau kampus 2 Salodong Makassar, karena di sana masih sangat gersang.

Saat kami, saya dan ibu saya mengantarnya ke kampus, saya baru menyadari, mengapa dia sangat berminat melanjutkan pendidikannya di ATKP ini. Para taruna yang menyambut kami kelihatan gagah semua dengan postur tubuh yang tegap, kukuh dengan langkah kaki yang tegak dan gerakannya sigap. Yah mirip-mirip dengan tentara atau polisi. Mungkin inilah yang membuatnya tertarik.

Setelah serangkaian acara penyambutan selesai, calon taruna didampingi orang tuanya dipersilahkan ke salah satu ruang, seperti aula mini. Sebelum memasuki aula, tas calon taruna diperiksa, semua barang yang tidak sesuai dengan daftar yang telah diberikan sebelumnya, dikeluarkan. Dompet dan uang jajan yang saya selipkan di saku celananya juga dikembalikan kepada orang tua. Sekilas saya melihat matanya yang cemas.


Di dalam aula, calon taruna dan orang tua atau pengantar duduk terpisah tetapi saling berhadapan. Seorang pembina memberikan  wejangan, semacam renungan. Para orang tua diminta untuk bersabar dan mengikhlaskan anaknya untuk dibina dan digembleng. Karena selama tiga bulan, mereka tidak akan berhubungan dengan orang tua, baik via telepon apalagi bertemu langsung. 

Hampir semua yang hadir menangis terharu tidak terkecuali calon taruna, bahkan ada seorang ibu yang menangis sambil meraung-raung. Saya jadi kepo, rupanya anaknya itu adalah anak semata wayang. Tiga bulan bepisah dengan anak tanpa bisa berhubungan sedikitpun, mungkin itulah yang dipikirkan oleh ibu itu.

Sebenarnya saya juga berpikiran yang sama, tetapi saya percaya dia akan mampu melewatinya. Bukankah itu adalah pilihannya sendiri, itu artinya dia sudah siap menerima semua konsekwensinya.



Tiga Bulan Tanpa Berita

Inilah pertama kalinya saya berpisah dengan anak dalam jangka waktu lama tanpa komunikasi sedikitpun. Sekalipun usianya sudah 18 tahun, tetapi kecemasan akan keselamatannya sering mengganggu pikiran. Ditambah dengan informasi dari orang-orang, bahwa pendidikan seperti itu sarat dengan bullying, penyiksaan, penzaliman dari senior terhadap yuniornya.

Allahu Akbar, saya hanya pasrahkan semuanya kepada-MU.

Setelah dua bulan, rupanya pertahanan ini jebol juga. Saya harus bertemu dengan anak saya, sekedar melihatnya saja untuk memastikan keadaannya. Dengan dibonceng motor oleh kakaknya, saya menyusuri jalan Salodong, jalan menuju asramanya sambil membawa beberapa makanan kecil.

Sebelum tiba di kampus II, saya singgah di rumah penduduk, berbincang-bincang dengan mereka. Dari informasi mereka, saya tahu kalau setiap pagi, bis kampus mengantar semua taruna  ke kampus I di Maros untuk belajar dan sore harinya diantar kembali ke asrama.  Ada niat untuk menunggu bis itu lewat, tetapi kakaknya mengingatkan kalau hari itu adalah hari libur. Berarti semua taruna tidak ada yang ke kampus I. Tidak ada bis pengantar yang akan lewat.

Untuk beberapa waktu, saya hanya duduk di halaman rumah penduduk. Rupanya saya tidak cukup berani untuk menemuinya. Bukan karena penjagaan satpam yang cukup ketat, melainkan kecemasan saya, kalau-kalau dia akan mendapatkan hukuman akibat perbuatan saya. Sekali lagi, doa saja yang bisa saya kirimkan, semoga dia selalu dalam perlindungan Allah swt.


To be continue …

Selasa, 15 Agustus 2017

PILIHANMU MEMBUATKU CEMAS



Masih ingat peristiwa kurang lebih tiga tahun lalu, tepatnya saat putra ketiga saya  lulus dari SMK. Semangatnya untuk melanjutkan sekolah sangat tinggi, hingga hampir semua perguruan tinggi di Indonesia dia telusuri, namun yang paling dia minati adalah  ATKP.

Saya tidak yakin dengan pilihannya itu, lebih tepatnya sih ... saya yang tidak yakin, bukan karena saya meragukan kemampuannya melainkan saya meragukan mental dan  ekonomi saya, sanggup nggak yah membiayai kuliahnya, karena dari beberapa informasi yang saya dengar, biaya pendidikan di ATKP itu mahal.
Saya juga kurang informasi tentang akademi tersebut. Maka mulailah saya berselancar, mencari informasi tentang akademi itu. Dari hasil pencarian cepat di google, saya menemukan informasi berikut. 





ATKP Makassar adalah singkatan dari Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan. Kampus utamanya atau kampus I  terletak di Kabupaten Maros, tepatnya di JL Poros Makassar Maros KM 25 Maccopa-Sulawesi Selatan. 
Masih dari om google saya mendapatkan informasi tentang kampus II (waktu itu, masih tergolong kampus baru), yaitu terletak di Kecamatan Bringkanaya kelurahan Untia, jalan Salodong Makassar 90532.


Hanya sebatas itu, maka saya sarankan untuk mendaftar pula ke perguruan tinggi lainnya, sebenarnya di hati kecil ini berharap ada anak saya yang mau menjadi guru, tetapi rupanya dia tidak berminat. Yah sudahlah yah, apapun cita-citanya saya harus mendukungnya.
Semangat Mengikuti Tes

Juli 2014, saya lupa tepatnya tanggal berapa, yang saya ingat, dia datang membawa kabar atas kelulusannya pada tahap pertama, yaitu tes akademik. Maka mulailah serangkaian persiapan dia lakukan. Semuanya dia lakukan sendiri, saya cukup menyiapkan dananya.

Jujur, waktu itu saya hanya mendoakan sekedarnya saja, karena sebenarnya saya agak cemas dengan pilihannya itu. Apalagi mendengar berita tentang sekolah yang basisnya sama dengan ATKP, adanya penyiksaan senior kepada yuniornya, hingga berujung pada kematian.

Saya pasrahkan semuanya kepada Allah swt sambil berdoa, “Ya Allah, jika pilihan anak saya itu, baik di mata-Mu dan Engkau ridhoi maka mudahkanlah dan jika pilihannya itu tidak baik, maka limpahkanlah kesabaran padanya untuk menerima keputusan yang dia tidak inginkan.”

Pertengahan Ramadan 1435/Juli 2014, dia mengikuti tes fisik. Masih sangat jelas dalam ingatan, dia pulang dari tes dalam keadaan yang sangat payah hampir pingsan. Begitu payahnya sehingga dia tidak bisa lagi melangkahkan kakinya ke masjid untuk salat Jum’at. Dia mengikuti tes fisik, berlari mengitari lapangan sebanyak 10 kali putaran dalam keadaan berpuasa. Bukan hanya itu, masih ada beberapa tes fisik lainnya, dia enggan memberitahu saya.

Katanya; “Mama tidak perlu tahu, apa saja tesnya nanti mama cemas.”

Ini membuktikan semangatnya yang luar biasa  untuk mencapai impiannya, kuliah di ATKP. Maka tidak ada alasan lagi bagi saya untuk mencemaskannya, saya harus mendukungnya sepenuh hati.

To be continue …

Sumber Foto gedung ATKP:  http://www.skyscrapercity.com/

Jumat, 11 Agustus 2017

Tidak Semua Orang Senang Disebut Hebat

Sebagai seorang guru, yang hampir setiap hari bertemu dan berbicara dengan anak-anak, maka kata “hebat”  adalah kata yang selalu saya ucapkan. Baik itu untuk memuji murid saya manakala mereka telah mengerjakan tugasnya dengan baik, ataupun sekedar memompa semangatnya agar dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang saya berikan.



Bukan hanya kepada murid-murid saya, kata “hebat” selalu pula  saya katakan kepada anak-anak saya.  Saya mengucapkan kata itu saat mereka masih kecil hingga saat ini, di mana tiga dari lima anak saya sudah dewasa.

Jika ada anak saya berhasil menyelesaikan suatu pekerjaannya dengan baik, atau berhasil lulus dari suatu ujian, misalnya lulus masuk perguruan tinggi yang diidamkannya, maka secara spontan saya akan memujinya seraya berkata, “Alhamdulillah, luar biasa Nak, kamu anak mama yang hebat.”

Demikian pula, ketika putri bungsu saya tampil membacakan puisi dengan sangat menawan, saya juga memujinya di depan orang-orang, “Nabila hebat kan, bisa baca puisi dengan baik.”


Dan sejauh yang saya lihat, anak-anak saya juga murid-murid selalu saja tersenyum bahagia, manakala saya memujinya seraya mengucapkan kata hebat itu. Tidak ada masalah.

Mungkin karena kebiasaan itulah, saya juga terkadang mengatakannya kepada orang dewasa, saat melihat keberhasilan mereka atau mengetahui prestasi mereka.
“Wow, Anda hebat, bisa mencapai keberhasilan.” Atau terkadang pula saya berucap, “Masya Allah, Anda memang hebat.”

Tetapi tahukah anda, ternyata tidak semua orang  menerima kata-kata itu. Ada  yang protes, dengan alasan hanya  Allah swt yang bisa disebut hebat. Bahkan menolak saat saya mengatakan akan mendoakannya supaya menjadi hebat.
Sejenak saya tercenung. Apa yang salah dengan kata “hebat” itu? Apakah manusia tidak berhak disebut hebat?
Baiklah, kita lihat saja dahulu pengertian kata hebat menurut kamus bahasa Indonesia.

he.bat
[a] terlampau, amat sangat (dahsyat, ramai, kuat, seru, bagus, menakutkan, dsb): pertempuran itu -- sekali; kedua orang itu menampilkan permainan yg --; gempa bumi yg – (http://kamusbahasaindonesia.org/hebat).

Jika meresapi arti hebat  sebagai kata terlampau atau amat sangat. Maka sepertinya, manusia memang tidak bisa diberi label kata hebat, sebagus apapun dirinya, baik ditinjau dari kemampuannya, prestasinya atau apapun. Karena hanya yang Maha Kuasa yang berhak memiliki sifat terlampau atau amat sangat tersebut.

Namun jika kita meninjau contoh yang diberikan dalam kamus tersebut, dahsyat, ramai, seru, bagus, menakutkan, dan sebagainya. Atau kalau kita meresapi contoh lainnya, seperti; pertempuran itu hebat sekali; kedua orang itu menampilkan permainan yang hebat; gempa bumi yang hebat. Maka kata “hebat” sepertinya sah-sah saja diberikan kepada orang atau terhadap suatu peristiwa yang tidak biasa-biasa saja.

Entahlah, kebiasaan saya yang mengucapkan kata “hebat”, mungkin saja menggambarkan kekurangan saya dalam hal ilmu agama. Bahwa kita manusia biasa, tidak ada yang boleh disebut hebat kecuali yang memang pantas memiliki  sifat segalanya, yaitu Allah Subhanahu wataala.


Wallahualam Bissawab.