Agak ragu sebenarnya mengikuti event ini “Tantangan Menulis 20 Hari Jadi Buku. Namun, kalau tak dipaksa, kapan niat menerbitkan buku solo terlaksana?
Makanya saya paksakan ikut tantangan ini.
Rapat pertama via zoom tadi memberiku ide. Tiba-tiba saja terbersit untuk menulis non fiksi, memoar dan saya proklamirkan. Heuu... sok-sokan. Nekad itu namanya.
Nah, sekarang saya bingung.
Memoar apa yang akan saya tulis?
Kisah Percintaan Saya dengan Ayangbeb?
Atau dengan orang lain, mantan misalnya? Hiii … yang terakhir, tidak boleh dong ditulis dalam bentuk memoar. Itu tuh sama saja membuka aib sendiri. Ngeri, beib!
Sama juga dengan kisah percintaanku dengan ayangbeb. Terlalu banyak buruknya walaupun baiknya masih lebih banyak.
Bukankah kalau memoar itu harus juga menuliskan hal-hal buruk. Tidak selalu yang positif saja kan?
Tidak masuk akal kalau dalam suatu hubungan tidak terjadi hal buruk. Masa iyah selama 38 tahun kisah kami baik semua. Banyak kok buruknya, sangat buruk malah. Banyak juga kejadian memalukan dan tidak elok jika diceritakan.
Memoar dengan Mama?
Bisa jadi ini bagus. Masalahnya saya harus memutar waktu jauh ke masa kecil saya. Sekitar 55 tahun lalu saat saya berusia 6 tahun. Itupun pasti banyak yang terlewat.
Anak usia 6 tahun, kenangan apa kira-kira yang masih melekat? Kedekatan di 10 tahun sisa masa hidupnya? Ah, saya meragukan hati sendiri. Bisakah saya kuat mengingatnya?
Memoar dengan Bapak?
Di masa kecil, saya dan bapak itu lebih dekat dibanding dengan mama. Kedekatan kami terjadi karena beliau rajin berbicara dan saya adalah pendengar yang baik, tapi tidak banyak kejadian penting yang kami lalui bersama. Apalagi masa kebersamaan kami sangat singkat. Bapak berpulang keharibaan-Nya di usia sekitar 40-an.
Memoar Jadi Guru?
Bisa juga, tapi sepertinya saya harus memilah. Sebab terlalu banyak kenangan dengan banyak peristiwa yang berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain.
Misalnya nih.
1. Menjadi Guru Honorer Saat Masih Kuliah?
Banyak cerita di baliknya, tapi di masa itu, fokus hidup saya adalah cari uang buat membiayai kuliah. Jadi apa yang mau diceritakan? Masa iya saya tulis betapa seringnya saya menyimpan catatan di kelas lalu kabur ke kampus. Malu. Tutup muka deh.
2. Saat mengajar di Balocci?
Hm, bisa juga. Namun, jujur aktivitas saya saat itu jarang sekali bersentuhan langsung dengan murid-murid. Sekadar masuk kelas, mengajar, kasi tugas lalu pulang.
Soalnya saat itu, saya malah sibuk merencanakan pernikahan dengan ayangbeb, hahaha.
3. Guru di Kota?
Tahun 1993 saya berhasil pindah ke kota. Mengajar di salah satu SMP yang cukup favorit di kota saya. Namun, lagi-lagi saya kurang “dekat” dengan murid-murid, karena saya sibuk kuliah untuk meraih gelar Amd. Yah, saya kuliah lagi Diploma 3. Lalu lanjut S1. Betapa tahun-tahun itu, saya dan suami berlomba-lomba menyelesaikan S1 untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Soalnya ada desas-desus yang beredar waktu itu, bahwa lulusan S1 akan mendapatkan sertifikat profesional guru dan berhak menerima tambahan gaji. Itu kabar menggembirakan. Bagai oase di tengah tekanan ekonomi yang umum dialami guru pada waktu.
4. Menjadi Kepala Sekolah TK
Wah, saya belum lama di sini. Baru setahun. Masih sedikit sekali cerita yang bisa saya gali untuk dijadikan memoar.
5. Menjalani Masa Pensiun
Yeeh, saya baru setahun resmi jadi pensiunan. Itupun tidak pensiun sepenuhnya karena menerima amanah baru sebagai kepala sekolah di TK.
Apa yah?
Saya bingung nih.
Alaamak!
Ada yang terlupakan.
Menjadi kepala sekolah di SMP swasta
Bisa nih.
Kurang lebih 10 tahun menjabat sebagai kepala sekolah di SMP Swasta itu adalah masa penuh perjuangan. Bagai naik roller coaster. kadang berada di atas tanjakan lalu menukik tajam dengan turunan yang curam atau melewati tikungan tajam.
Wah!
Ini nih yang akan saya angkat.
Namun, lagi-lagi saya harus “memanggil” kembali cerita itu lalu dijalin satu persatu.
Yaah, namanya juga memoar!
“Memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya.” (KBBI)
Kesimpulannya.
Memoar adalah catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang. Dan seseorang itu adalah saya.
Untuk sementara, saya pilih itu saja.
Entah esok, jika tiba-tiba saya mendapat keberanian menuliskan kisah lain yang mungkin sedikit kelam. Hua hahaha.
Doakan yah, teman-teman.
Makassar, 8 Februari 2026
Dawiah
