PENGALAMAN YANG MENDEBARKAN

Selasa, 03 Oktober 2017


Siang yang cerah, saat aku menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ada asa dan suka cita di hati, membayangkan akan bertemu dengan guru-guru hebat yang berasal dari sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sesama guru yang terkumpul dalam salah satu program IGI. SAGUSAKU.

Jarak dari rumahku ke bandara yang sejauh 17,3 km kutempuh tanpa keluhan, padahal sinar matahari sangat menyengat. Benarlah kata orang, bahwa seburuk apapun cuaca jika hati kita  bahagia maka hati akan terasa nyaman.



Setelah berkomunikasi dengan Ibu Dewi Wahyuni, ketua IGI Bulukumba sebagai teman seperjalanan sekaligus yang akan menjadi teman sekamarku, akhirnya kami bertemu. Karena memiliki profesi yang sama, cita-cita dan visi misi yang sama, kami langsung klop.

Ketinggalan Pesawat

Oh yah, ada kejadian lucu sekaligus mendebarkan, kami ketinggalan pesawat!
Astagfirullah!
Ini adalah akibat kecerobohan kami. Aku dan Bu Dewi sama-sama sangat ceroboh. Cobalah dibayangkan, sejak siang kami sudah di bandara, sudah cek in, kopor kami sudah di bagasi, sudah masuk gate 5, sisa menunggu panggilan masuk pesawat.
Tetapi kami ketinggalan pesawat, gara-gara fokus mendaftar GESS via online, kami tidak mendengar pangumuman keberangkatan pesawat. Saat aku menutup laptop, sayup-sayup aku mendengar namaku dan nama bu Dewi dipanggil sebagai panggilan terakhir.
Aku berseru kaget, “Bu Dewi, itu nama kita dipanggil!”

Kami lalu berlarian dari gate 6 lalu ke gate 5 kembali ke gate 6. Dan pas tiba di gate 6, pesawat sudah menarik tangganya.
Alamak!   Pesawatnya sudah mulai bergerak.

Dengan muka memelas, Bu Dewi memohon kepada petugas, “Pak tolonglah pesawatnya disuruh berhenti sejenak, nanti kami berlari ke sana.”
“Itu bukan pete-pete Bu.” Jawab petugas tersenyum lucu.
“He..he…he..,buru-mi itu Bu Dewi.”
Maka kami memandang pesawat yang membawa kopor kami dengan hati nelangsa.
Da..da..da.. kopor!
Sampai bertemu di bandara Sukarno Hatta, baik-baik yah di sana.

Menuju Hotel RedDoorz

Jam 19.30 pesawat kami mendarat dengan manis di bandara Sukarno Hatta. Kecemasan yang melanda hati kami beberapa jam sebelumnya perlahan-lahan mulai sirna berganti dengan keceriaan. Karenanya kami sempatkan foto-foto, Emak-emak narsis eieuee…
Sambil jepret-jepret si-lincah bu Dewi, aku ingatkan tentang kopor yang jalan duluan.
“Ingat kopor kita Bu Dewi, jangan sampai lupa.”
“Iyah yah, bagaimana kalau kopornya hilang, apa yang terjadi dengan kita?” Tanyanya cemas.
“Yaaah … alamat bau de nih badan.” Jawabku santai.
Ha..ha..ha… kami tertawa lepas, walaupun masih sedikit dumba-dumba.



Alhamdulillah. Kopor kami sudah diamankan oleh petugas bandara. Terima kasih ibu petugas bandara yang manis, jasamu tak akan kami lupakan.
Dua kopor itu “menatap” kami dengan mata sayu, rindu untuk dibelai, ada rasa takut di matanya. Dan aku menjingjingnya dengan rasa sayang sambil berbisik mesra, “Tenang saja, aku pasti mencarimu, aku juga merindukanmu, karena di dalam badanmu tersimpan segala perlengkapanku.” Hiist ..lebay…

“Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan” Inilah janji Allah yang pasti.
Kami sudah mengalaminya. Pejalanan kami menuju hotel diantar oleh sopir yang baik, sopan, dan ramah sehingga kami merasa aman dan nyaman. Diantar hingga di depan hotel, lalu disambut dengan suasana hotel yang teduh, kamar yang apik dan bersih.
Setelah istirahat sejenak, aku mengajak bu Dewi ke luar hotel cari makan (hotel tidak menyiapkan makan. Hiiks).

Rupanya temanku ini sudah lama diet karbo dan tidak makan di malam hari. Oh alaaa… gimana dong, aku kan tidak bisa tidur kalau belum makan, ini bawaan lahir Mak.
Mungkin karena kasihan atau tidak enak hati, maka jadilah bu Dewi menemaniku makan. Dia makan dengan muka menyesal.
“Maaf yah Bu Dewi, sekali-sekali langgar janjilah.” Bujukku sambil menyuap habis capcay pesananku, teh manis panas kuseruput dengan nikmat.


8 komentar

  1. Waduh.. Semoga kejadian ketinggalan pesawat gak pernah jadi pengalamanku, apalagi karena kecerobohan sendiri, hiihii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, cukuplah kami yang mengalaminya.

      Hapus
  2. Kalau saya pasti panik, ketinggalan pesawat, huhu.
    Alhamdulillah ada jalan keluarnya, dan baik-baik semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Sangat panik dan deg-degan apalagi ganti pesawat yang beda pemberangkatannya sekitar 2-3 jam.

      Hapus
  3. Alhamdulillah, tetap bisa terbang... Pasti senang bertemu para guru dari wilayah lain. Mengunduh semangat dan ilmu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah, luar biasa senang dan bahagianya. Bertemu dengan guru-guru hebat menginspirasi jiwa.

      Hapus
  4. Huwaaa gk kebayang ketinggalan pesawat kyk apa :(
    Alhamdulillah kopor2nya selamat dan bisa ketemu lg ya mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, pengalaman yang cukup seru dan mendebarkan. Terima kasih yah sudah berkunjung.

      Hapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *