Sulung yang Ulung Part 2

Senin, 28 Januari 2019



Katanya, jadi anak sulung itu berat. Ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin buat adik-adiknya, ia harus menjadi suri tauladan, menjadi tolok ukur keberhasilan, dan masih banyak lagi tuntutannya.

Kalau merujuk arti kata  “sulung” dalam KBBI, maka sulung = ulung. Sedangkan Ulung adalah berpengalaman; mahir; terbaik.

ulung1 a sulung
ulung2 a berpengalaman; mahir; terbaik:

Mungkin itulah sebabnya, anak sulung selalu diharapkan jadi yang terbaik, selalu mahir, dan lebih dari adik-adiknya.

Saya sering mendengar perbincangan mama-mama di perkumpulan arisan, di posyandu, maupun di tempat lain, katanya; 

“Kalau anak sulung berhasil maka berhasil pula adik-adiknya.”
“Gara-gara kakaknya malas ke sekolah, adiknya juga ikut-ikutan.”
“Saya tekankan ke kakak (si-sulung), kamu itu contoh buat adik-adikmu. Kamu harus jadi yang terbaik.”

Saya pikir, itu  terlalu berlebihan. Justru saya beranggapan, anak sulung itu adalah anak “percobaan” Segala bentuk model pengasuhan anak, dicobakan ke dia. Itu saya, entah Ashanti.

Tanpa disadari, saya juga termasuk orang yang berpendapat seperti mereka. Misalnya, masukkan anak ke pesantren.

Fandi sebagai anak sulung menjadi ajang coba-coba. Ternyata gagal. Mengacu pada kegagalan itu, saya tidak berani lagi masukkan adik-adiknya ke pesantren.

Fandi saya ikutkan bimbingan belajar, saat ia masih SD. Ternyata ia sering stres karena beban belajar yang tinggi, maka adik-adiknya tidak lagi saya ikutkan bimbingan.

Fandi suka main bola, maka saya suruh juga adik-adiknya untuk ikut main bola. Bahkan saya tuntut Fandi agar ia mengajak adiknya main bola.

Beberapa keputusan yang saya ambil berhasil, tapi tidak sedikit yang gagal. Saya baru menyadarinya setelah anak-anak saya beranjak remaja.
Misalnya, ternyata di antara mereka ada yang berpotensi mendalami ilmu agama. Tetapi saya tidak mengarahkannya ke sana, hanya karena kegagalan si-sulung.

Ternyata ada anak saya yang lebih pandai dari Fandi, tapi saya mengacuhkannya. Masih banyak lagi, penyesalan-penyesalan kecil lainnya.
Ya sudahlah, toh sejauh ini Fandi sudah cukup berhasil dalam menjalani perannya sebagai anak sulung.

Baca juga tentang Fandi di sini

Jadi Pembela Bagi Adik


Tahun 2000, saya hijrah dari rumah lama ke rumah yang baru di Sudiang. Waktu itu, Fandi baru kelas lima. Sedangkan dua adiknya masing-masing kelas tiga, dan kelas satu. Sementara anak keempat masih TK.
Otomatis mereka juga pindah sekolah. Dari sekolah yang berbasis agama ke sekolah umum.

Perubahan lingkungan berdampak pada pergaulan dan perubahan sikap. Ada yang  positif tapi ada juga negatifnya.

Positifnya, mereka menjadi lebih mandiri. Tidak ada lagi mama saya yang selalu memanjakan mereka. Tidak bisa lagi, kalau mau makan, langsung duduk dan makanannya sudah tersedia di atas meja.

Di rumah baru, saya menerapkan peraturan baru. Saya membuat jadwal kerja yang ditempel di dinding. Mulai jadwal menyapu, mengepel, cuci piring, sampai jadwal jaga warung.

Tanpa diminta, Fandi tampil jadi ketua. Ia yang mengontrol jadwal kerja adik-adiknya. Alhamdulillah, rumah selalu bersih. Kabar buruknya, hampir tiap hari saya menemukan pecah beling di tong sampah. Kalau bukan gelas yah piring yang pecah.

Tak masalah.

Punya empat anak laki-laki yang hampir seumuran itu ternyata mengundang juga anak laki-laki lainnya. Teras rumah kami selalu dipenuhi anak laki-laki.
Mereka berkumpul dan bermain di teras rumah atau di jalanan depan rumah.

Suatu waktu, Denis anak tetangga datang mengadu. Katanya, ia dicurangi oleh Fandi bersaudara. Maka saya sidang mereka.

“Apa maksudnya itu Denis, kalian main curang?”
“Tidak Mama, kita mainnya jujur tapi Denis tidak mau kalah, maunya menang terus.” Uci menjawab sambil senyum-senyum.
“Memangnya kalian main apa?” Saya penasaran.
“Begini mama, tadinya Uci main kelereng sama Denis, hampir-mi kalah dan mau-mi menangis.” Ical putra kedua mencoba menjelaskan.
“Terus?” Saya mulai menangkap gelagat tidak baik.
“Jadi saya ikut main, saya pinjam kelerengnya Uci, Ical juga saya ajak. Akhirnya habis-mi kelerengnya Denis.” Tukas Fandi.
“Intinya diborongi Denis, hahaha….” Uci tertawa puas.

Sebenarnya saya mau ketawa, tapi sedapat mungkin ditahan.

“Lain kali tidak boleh begitu Nak, kasihan Denis.”
“Tergantung-ji Ma, kalau situasi genting, yaah kami turun tangan.” Fandi menjawab tegas tanpa senyum. Beuh segitunya.


Kejadian seperti itu sering sekali terjadi. Mereka bertiga kompak. Tapi anehnya, rumah kami masih saja dipenuhi anak-anak.

Salah satu permainan yang paling sering mereka mainkan adalah main bola-bolaan (saya tidak tahu apa nama jenis permainan itu).
Alatnya terbuat dari kertas karton yang dilipat sedemikian rupa sehingga bisa berdiri, kertas itu diibaratkan orang. Jumlah kertas itu sebanyak 22. Lalu kertas-kertas itu diatur di atas lantai. 11 kertas di sebelah kanan dan 11 lainnya di sebelah kiri.

Ada yang berperan sebagai penjaga gawang, penyerang, dan lainnya. Bolanya juga terbuat dari kertas bentuknya bulat dan lebih kecil dari kelereng. Lucunya, setiap kertas ditulisi nama-nama pemain bola.
Cara bermainnya juga lucu, bola kecil disimpan di depan kertas karton lalu oleh pemainnya, karton ditekuk agar bola terlempar ke depan. Begitu seterusnya hingga tercipta gol.

Mereka bisa bermain semalaman. Saya dan bapaknya sering jadi supporter dari salah satu tim. Hehehe…

Fandi Gagal Kuliah S2


Sesaat sebelum Fandi diwisuda, ia berbisik.

“Ma, bisa-ji saya lanjut S2?”
“Maunya lanjut di mana?”
“Rencananya lanjut ke ITB.” Jawabnya hati-hati.
“Insya Allah, selama mama dan bapak masih hidup dan masih kerja Fandi boleh kuliah.”
Fandi tersenyum dan memeluk pundak saya.


Subuh di Yogyakarta, saya mempercepat salat subuh karena sudah tidak khusuk lagi mendengar handpone berdering tiada henti. Saat melihat di layar, 30 kali panggilan tak terjawab. Deg!
Saya lalu menelpon balik. Di seberang sana terdengar suara parau campur tangis.

“Kak, rumah mama kebakaran!”
“Innalillah, bagaimana keadaan mama dan semuanya?” Teringat mama saya yang sudah sepuh.
“Selamat-ji semua. Eh rumah-ta juga sudah mulai terbakar!” Teriak adik saya. Saya hanya melongo.


Suatu pagi di rumah pengungsian, pascamusibah kebakaran,  Fandi mendekati saya dengan wajah masygul.

“Ma jangan-mi saya lanjut S2, cari-ma dulu pekerjaan.”

Fandi paham, kalau semua tabungan kami harus dikuras demi membangun kembali rumah yang telah rata dengan tanah. Apalagi masih ada adiknya Uci yang sementara kuliah di ATKP.

Terima kasih atas pengertianmu Nak, kami terpaksa ingkar janji. Bukan karena tak mau tetapi keadaan tidak memungkinkan.

Fandi Jatuh Cinta, Saya Patah Hati


Tiba-tiba saya melihat Fandi memasang foto perempuan cantik di facebooknya. Dengan caption Limited edition.

Maka meluncurlah kalimat-kalimat nasehat di kolom komentarnya. Teman-temannya ikutan mengompori. Tak sekalipun Fandi membalas komenku. 

Untungnya Itu hanya  terjadi di dunia maya, di dunia nyata kami tak pernah membahasnya.

Saat itu Fandi masih berstatus mahasiswa. Saya dan bapaknya sudah tekankan, tidak boleh pacaran. Kalau mau pacaran, berhenti sekolah dan langsung menikah.

Anak-anak saya tahu bahwa ada aturan tidak tertulis yang sejak kecil ditanamkan ke mereka, bahwa mereka tidak boleh pacaran, tidak boleh membawa teman perempuan ke rumah yang bukan muhrim,  tidak boleh menikah sebelum  bekerja, jika saatnya tiba harus mencari pasangan yang seiman, dan berbagai aturan lainnya.

Mungkin itulah Fandi tidak berani membahas soal foto di facebooknya. Tetapi saya tahu, ia sudah jatuh hati kepada gadis di foto itu.

Saat Fandi diterima bekerja di salah satu perusahaan di Bandung, saya pertanyakan gadis yang ada di foto itu. Dengan hati-hati Ia menjelaskan siapa namanya, asal-usulnya dan segala hal tentang gadis itu.

Duhai, anakku betul-betul sudah jatuh cinta. Tapi aneh, saya merasa patah hati.  Merasa diduakan dan tak siap menerima kenyataan, kalau ada perempuan lain di hatinya.

Namun begitu, saya harus menerima kenyataan. Si sulung semakin dewasa. Lambat atau cepat, ia akan membina rumah tangga.

Gadis Gorontalo Pujaan Hati


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).  ....”
(QS: An-Nur ayat: 26)

Tak ada keraguan atas janji Allah itu, dan saya yakin Fandi adalah laki-laki yang baik maka ia berhak mendapatkan perempuan yang baik pula.

Setiap malam saya berdoa, mohon petunjuk atas pilihannya. Jika nama gadis itu yang  tertulis di Lauhul Mahfudz sebagai jodoh Fandi, maka mudahkanlah urusannya. 

Jika bukan, maka berilah anakku kesabaran menerima takdirnya.

Alhamdulillah, doa-doaku yang melangit ke Arsy dikabulkan. 
Kami bisa bersilaturahim ke Gorontalo sekaligus melamar gadis pujaan hati Fandi. Silaturahim itu berjalan hikmat dan penuh kekeluargaan.

Gadis pujaan Fandi akan menjadi anak perempuan kedua dalam keluarga kami.

Hadiah Untuk Fandi


Bapaknya bertanya, hadiah perkawinan apa yang bagus diberikan kepada Fandi?

“Tak ada hadiah berupa harta benda. Tetapi meminang perempuan beriman nan cantik untuknya adalah hadiah terbesar buat Fandi.”

Satu-satunya benda yang saya berikan adalah buku berjudul “ Menggapai Samara” sembari menitipkan pesan.

“Kamu telah memikul tanggung jawab sebagai suami, maka hidupmu sekarang bukan lagi untuk dirimu semata, melainkan untuk berdua dan kelak untuk anak-anakmu”

“Baik buruknya istrimu, ditentukan oleh caramu memimpinnya, maka tuntunlah dengan kasih sayang, siangi dengan cinta.”

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki)  telah memberikan nafkah dari hartanya ….”
(QS: An-Nisa; 34).



Sehat terus Nak, jadilah keluarga sakina mawaddah warahmah.
Sampai kapanpun kamu tetap anakku, maka doaku akan kebahagiaan dan kesuksesan  tak akan pernah berhenti untukmu.




26 komentar

  1. sukaku baca cerita-cerita begini ta kak. bangga dan bahagia pasti anak-anak ta ini baca kisah perjuangan seorang Ibu membesarkan mereka. saya menunggu tulisan lain ta, kak.

    BalasHapus
  2. Iye semoga saja mereka bangga. Kisah ibu tentang anaknya tak akan pernah habis, walaupun lebih seringnya hanya dalam ingatan. Terima kasih ya sudah mampir.

    BalasHapus
  3. Bagus sekali pola didiknya kak Dawiah dan suami tentang "tidak boleh pacaran" itu. Dan syukurnya karena anak-anaknya penurut semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin pacaranji juga tapi nasembunyikanki ka mallaki dikasi berhenti sekolah. Setidaknya tidak napamer-pamerki atau boncengan2ki di depan mata apalagi nabawa ke rumah. Tidak bisa juga terlalu dijamin anak-anak zaman now, hehehe.

      Hapus
  4. Masya Allah.
    Terharuuu.
    Baarakallahu fiikum.
    Samara ya Fandi.

    BalasHapus
  5. Beruntung sekali Fandi dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang penuh pengertian dan kasih sayang. Tidak heran kalau dia tumbuh jadi anak yang pengertian dan bisa diandalkan.

    Suka sekali saya baca cerita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau Daeng Ipul suka. Mungkin karena itu ditulis dari hati yang tulus.

      Hapus
  6. Masya Allah Bun, penuh lika-liku. Ooh tyt gt ya Bun, ada rasa cemburu juga di hati org tua ketika anaknya mulai menyukai wanita lain... Aku belum merasakan sih, so far masih menikmati anak kecilku, ntah kalau besar dia mulai suka dengan laki2 mungkin ayahnya yg cemburu... hihuu

    BalasHapus
  7. Kuterharuuuu. .. Semoga anak anakta menjadi anak sholeh yang memuliakan kaka dan ayang beib, sehat selalu, sukses dalam karir dan mendapatkan jodoh muslimah sholeha dan selamanya Samawa. Deh anak laki laki semua. Sama ka itu di rumahku juga selalu jadi tempat ngumpul anak mudayya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iye di anakta laki-laki semua. Jangan khawatir, nanti kalau sudah menikahmi adami juga anak perempuanta.

      Hapus
  8. Alhamdulillah, Saya belajar banyak dari tulisan ta kak sebagai ibu yang anaknya masih kecil. Harus siap mental juga ini.

    Setujuka dengan pernyataan kalau anak sulung jadi percobaan pola asuh, secara Kita baru pi juga belajar jadi orang tua masih trial and error :D meskipun kemudian ternyata pola asuh yang diterapkan sama sulung dan dianggap berhasil, ternyata tidak bisa diterapkan plek copy paste sama adeknya ya kak, karena setiap anak unik dan berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, setiap anak memiliki kepribadiannya masing-masing.
      Beruntunglah emak zaman now, banyak ilmu yang bertebaran dan gampang diakses. Kalau zamanku apalagi pernah tinggal di desa serta minim fasilitas, maka cara mendidik anak itu hanya mengikuti kata hati dan insting saja. Sesekali melihat caranya orang tua sekitar.

      Hapus
  9. Serasa ikut patah hati waktu baca bagian anakta jatuh cinta. Memang orangtua dih, kak, sampai kapanpun anak-anak tetap akan dianggap sebagai anak-anak. Dan nda rela rasanya kalau mereka menbagi hatinya untuk orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye tapi bagaimanapun harus diikhlaskan. Dunia tak akan berhenti, terus bergerak

      Hapus
  10. Wah Masyaallah, Barakallah untuk anak sulungnya. Alhamdulillah akhirnya menikah. Saya baper yg Fandi Jatuh Hati, Saya Patah Hati emang pasti seperti itu ya Ibu. Jadi lirik suami nih, kira2 ibunya jg patah hati enggak ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Patah hati sesaat saja tuh Mbak, sesudahnya sih aman terkendali hahaha

      Hapus
  11. Subhanallah, keren kak fandy. Apa saya kelak patah hati juga ya kalo si junior dewasa terus memiliki gadis idaman, duh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...saya aja kali yang lebay. Tapi lihat anak nikah itu rasanya gimana gitu. Krenyes-krenyes rasanya.

      Hapus
  12. Jadi ingat sulungku, cowok juga. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh, ya,Bu...

    BalasHapus
  13. Wah mantunya cantik Bunda... Kayak Nagita Slavina hehe.. Semoga bahagia selalu ya Bunda... amin

    BalasHapus
  14. Bundaaa ... Aku terharu sekali membacanya. Tahu nggak, sih? Ini seperti membayangkan anak lelakiku yang nanti jatuh cinta dan aku merasa diduakan. Ah, tapi bagaimana pun cepat atau lambat, jika Allah berkehendak, itu akan terjadi juga, yaaa. Salam hangat untuk keluarganya ya, Bun.

    BalasHapus
  15. Masya Allah Bunda..aku suka bacanya. Bisa buat pelajaran aku jadi ibu
    Alhamdulillah Abang Fandi sudah bekerja dan menikah. Lega pasti rasanya sudah mentas satu anak ya Bunda...
    Aku jadi bayangin nanti kalau patah hati dua kali karena ada perempuan lain di hati 2 anak lelakiku huhuhu...Mesti siap-siap dari sekarang ini hihihi

    BalasHapus
  16. Baarakallahu fiikum untuk Dek Fandi :)
    Seneng baca kisah ini, apalagi tentang kisah si sulung. Saya sendiri anak sulung dan sekarang sedang terus mengawal anak gadis sulung. Bedanya, dia sendiri yg minta ke pesantren Tahfizh, Bun. Sejauh ini sih cocok buat dia. Tapi setuju juga: ga semua anak bisa dipesantren-kan.

    BalasHapus
  17. MasyaAllah...saya kok nangis baca cerira ini ya, bun.
    Sepertinya anak sulung, laki laki pisan, membawa tanggung jawab besar di pundaknya walaupun orang tua tetap menyayanginya...

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *