Jumat, 18 Mei 2018

Indahnya Kedamaian


Empat hari sebelum memasuki bulan suci Ramadan tepatnya Minggu tanggal 13 Mei 2018, kita dikejutkan oleh bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Jawa Timur. Tiga gereja tersebut adalah Gereja Santa Maria Tak bercela di Jalan Ngagel, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Sungguh memilukan.

Dilakukan oleh keluarga muslim. Suami isteri dan dua orang anaknya yang berusia 16 tahun dan 18 tahun, terlebih lagi mereka melibatkan dua anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Sontak, hati setiap rakyat Indonesia menjadi sedih dan cemas.

Maka suka tidak suka, mau tidak mau masyarakat non muslim akan selalu waspada dan mungkin juga curiga kepada saudara setanah airnya yang muslim. Jangan salahkan mereka karena yang seimanpun bisa saja memiliki perasaan yang sama.
Walaupun perasaan itu tidak seharusnya timbul, karena perbuatan keluarga itu yang diberi label TERORIS bukan ajaran agama Islam dan ajaran dari agama apapun.

Saya yakin, agama apapun tidak mungkin mengajarkan kebencian, pembunuhan, apalagi bunuh diri. Agama apapun mengajarkan dan menganjurkan pemeluknya untuk tidak saling membunuh. Termasuk agama Islam. 

Bahkan secara tegas larangan membunuh dan bunuh diri sangat jelas dituliskan dalam kitabullah.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, “Janganlah kamu menumpahkan daramu (membunuh orang) dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu.” Kemudian, kamu berikrar dan bersaksi.” (QS Al-Baqarah: 84).

 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisa’: 29).

Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anaknya karena kebodohan tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan semata-mata membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Sungguh, mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 140).

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.” (QS Al-Isra’: 31).

Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk saling memupuk persaudaraan dengan berkasih sayang.

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Mumtahanah: 7).

“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS Al-Balad: 17).

Jika berkasih sayang dan tidak membunuh serta bunuh diri sudah dituliskan dan diperintahkan dalam kitabullah, lalu mengapa masih saja ada orang-orang yang melakukannya serta memilih hidup dalam kebencian?

Sumber gambar: Pixabay.com

Pastilah karena ia tidak mempelajari kitabnya sebagai petunjuk dalam hidup beragama, atau bisa jadi ia memiliki persepsi yang salah tentang ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah SWT sehingga menjadi sesat. Ini merupakan tipu daya syetan yang berwujud manusia untuk menimbulkan perpecahan sehingga rasa persatuan dan kesatuan menjadi hilang.

Lihatlah caranya!

Pelakunya adalah  muslim, kemudian yang diserang adalah tempat ibadah non muslim maka sangat jelas motifnya, yaitu ingin menghancurkan rasa toleransi dan kerukunan umat beragama. Jika kita terpancing, maka yakinlah tidak ada lagi rasa toleransi dan akan selalu timbul rasa curiga satu sama lain.
Bukankah sikap toleransi merupakan sikap lapang dada untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah mereka, menurut ajaran dan ketentuan agama masing-masing?

Kita memiliki agama yang berbeda, cara ibadah yang berbeda, tauhid yang berbeda. Tetapi ingatlah, ada yang sama, yaitu agama kita masing-masing mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan kebaikan dan melarang  melakukan kejahatan.

Sumber gambar: Kompas.com



Jika ada yang melakukan kejahatan, yakinilah bahwa yang melakukan itu adalah oknum. Bukan perintah agama siapapun, termasuk agama Islam. 
Yakinlah saudaraku, bahwa:
Teroris itu bukan Islam dan Islam bukan teroris 

Mari suarakan.  Damai Itu Indah!

 “Lakum diinikum wa liya diin”
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS Al Kafirun: 6).


Ditulis pada 1 Ramadan 1439 H/ 17 Mei 2018 M

32 komentar:

  1. Betul sekali, Mbak. Islam tidak mengajarkan sesuatu yang bisa menyebabkan orang lain celaka atau menderita kerugian. Bunda juga ikut sedih melihat via televisi dan mendengar berita-berita yang miris koq bisa begitu tega kedua ortu mengajak anak untuk sama-sama menjadi pengantin, hiks, hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah yah... pasti karena mereka tidak mendalami agama dengan lebih baik. Semoga tidak ada lagi keluarga yang seperti itu.

      Hapus
  2. betul pendidikan agama yang baik mulai dr rumah dan memantau lingkungan anak bergaul. krn banyak diluar sana yang mendoktrin radikal, anakku oleh guru agamanya juga dioktrin tapi krn dia sdh banyak arahan di rumah , dia sih gak mmepan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Pendampingan orangtua memang sangat penting dan diperlukan demi menjaga keturunan kita dari ajaran yang sesat.

      Hapus
  3. Betul sekali kak, damai itu indah. Terapkanlah toleransi selama bukan hal yang berkaitan dengan akidah. Semoga suasana kondusif dan tidak adalagi teror bom. Sedihnyaaa keluarga yang ditinggalkan kodong :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Agama apapun yang dianut pasti kesedihan ditinggalkan oleh keluarganya sama. Semoga kedamaian terpelihara kembali untuk negara kita.

      Hapus
  4. Damai itu indah..Dan hal ini harus diawali dari rumah. Kalau di rumah sudah dibekali sikap toleransi, Insya Allah kita akan bisa menerapkan hal yang sama di pergaulan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mbak. Dimulai dari rumah lalu ke lingkungan sekitar maka insya Allah Indonesia akan damai.

      Hapus
  5. Bener banget Bun. Semoga ya kita semua tidak terpancing melinkan saling support prsatuan negara dan gak ada lagi tindakan2 keji semacam itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita ciptakan kedamaian tanpa melihat suku, ras dan agama. Jika kita memelihara toleransi pasti kedamaian akan terpelihara.

      Hapus
  6. Saya juga sedih mendengar kejadian yang mengoyak rasa toleransi antar umat beragama yang sejak dulu sudah diajarkan para leluhur kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga semuanya akan baik-baik saja yah. Aamiin

      Hapus
  7. Sepertinya ada yang ingin memperkeruh suasana. Ada yang ingin kita saling gontok-gontokkan. Untung saja, masyarakat sekarang sudah semakin cerdas dan tidak termakan untuk saling menyakiti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semoga Indonesia kembali damai dan rakyatnya juga damai, aman dan tentram.

      Hapus
  8. Setuju, Bun. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Cukup percaya dalam hati, tanpa perlu memaksakan kepercayaan itu pada orang lain. Damailah Indonesiaku!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali sayang. Marilah kita menciptakan kedamaian agar hidup kita tentram dan nyaman.

      Hapus
  9. Bikin deg deg an tuh teroris. Jd gak tenang deh mau kemana mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah swt. Aamiin

      Hapus
  10. Setuju. Peristiwa ini memang menyakitkan. Islam bukan teroris, teroris bukan Islam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tidak terulang lagi. Selalu sedih mendengarkan berita seperti ini

      Hapus
  11. Iya Bun, saya juga sedih sekali baca beritanya. Ngerasa kejadian itu langsung mencemarkan agama islam aja dan sedihnya lagi banyak orang islam sendiri yang phobia ama agamanya sndiri ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah itu disebabkan karena kurang memahami ajaran agamanya sendiri. Padahal dalam kitab suci kita sudah sangat jelas, bahwa dalam urusan toleransi kita diperintahkan untuk meyakini Lakuum dinukun wal yadin.

      Hapus
  12. Mereka yang melakukan itu pasti karena pemahaman beragamanya beda. Entah caranya menginterpretasi ayat suci yang salah atau bisa juga karena emang gak mau hidup berdampingan dengan umat agama lain.
    Miris banget...

    Tapi dari kejadian kemarin itu, 1 ji pertanyaanku "mana BIN??"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sembunyi barangkali BIN nya dek, atau justru terlalu sibuk mencari teroris sehingga tidak tereksposki.

      Hapus
  13. Betul banget kak. damai itu sangat indah kak. jangan sampai kita terpengaruh dikarenakan oleh oknum tertentu dan terpecah bela. Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan karna itu hanya buang waktu untuk kita . lebih baik kita memperkuat iman dan ketakwaan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, setuju!
      Kita mulai dari diri sendiri kemudian keluarga dan lingkungan terdekat yah..

      Hapus
  14. Sedihnya pas ada berita itu
    Tapi tetap tenang karena warga indonesia itu sudah cerdas dan gak akan membabibuta menuduh atau menyudutkan agama tertentu. Teroris has no region .
    Senoga kerukunan umat beragama di negeri kita makin dipererat ya bund

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sayangnya masih ada saudara kita yang kurang cerdas menanggapinya. Untung masih lebih banyakji yang cerdas dibanding yang kurang cerdas. Mari memupuk persaudaraan agar damai tercipta di bumi Indonesia. Merdeka!
      eh semangatku di..

      Hapus
  15. Sepakat Bunda.... Damai Itu Indah. Satu hal yg perlu kita pahami bahwa hidup ini harus bersosialisasi dengan siapapun dalam lingkungan kita. Manusia tidak akan pernah hidup tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, mari berpegangtangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, agama kita sudah mengajarkan itu, yaitu silaturahim demi menjaga perdamaian.

      Hapus
  16. Kalau terorisme yg baru2 sja terjadi di srbya mnurut sy sih bukan persoalan agama lg tp soal kesehatan mental. Sepasang org tua mengajak anak2nya ikut bunuh diri apa iya bsa dikatakan sehat mental? Itulah pentingnya kta saling peduli dgn org2 di sekitar kta, menjadi pendengar yg baik untuk org2 yg punya masalah, memastikan mereka baik2 saja dan dalam keadaan mental yg sehat. Kalau kta saling cuek satu sama lain, tdk peduli masalah yg dialami org lain, maka makin byk org yg berpotensi sakit mental dan berujung merugikan diri sndiri maupun org lain 😢.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Terlalu naif kalau dikatakan itu hanya persoalan agama. Saya setuju kalau itu berhubungan dengan kesehatan mental, bisa juga dibilang pelakunya mengalami cacat mental.

      Hapus