Sabtu, 25 November 2017

Anak-anak Sudah Dewasa, Haruskah Kita Kesepian?

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri …
                                    (Khalil Gibran)


Ingat masa-masa lalu, saat anak-anak saya masih kecil, saat mereka masih bergantung segalanya kepada saya. Hampir setiap saat saya dapat melihatnya, menyentuhnya, bercakap-cakap dengannya, bahkan masih bisa berdiri dengan mata melotot memarahi, ketika mereka melakukan kesalahan.


Waktu itu, saya merasa sayalah “penguasa” atas diri mereka.
Bagaimana tidak merasa jadi penguasa, jika setiap akan melakukan sesuatu, mereka akan bertanya kepada saya, meminta pendapat, bahkan memohon disetujui atas keputusan yang akan mereka ambil.

“Ma, baju apa yang akan saya pakai besok?”
“Maa…warna celana ini cocok ndak?”
“Saya sudah lulus SD, daftar sekolah di mana yang bagus Ma..?”
“Saya mau makan mi instan, bolehkah Ma..?”
“Ma..kapan kita jalan?”

Dan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang  mereka ajukan. Kadang dengan nada merayu bahkan merajuk, agar keinginannya dipenuhi.








Lalu …

Kini mereka sudah beranjak dewasa, momen-momen itu sudah tidak mungkin berulang. Mereka sudah bisa menentukan keputusan sendiri. Apalagi kalau hanya sekedar bertanya tentang pakaian, makanan, dan segala remeh temeh kegiatannya.

Menentukan kekasih hatinya saja, mereka sudah tidak membutuhkan usulan dari orang tuanya. Yaah … paling-paling hanya memperkenalkan, meminta pendapat, dan restu.

Mereka sudah merasa “berhak” mengatur hidup dan masa depannya sendiri.
Apakah saya harus marah?

Tentu saja tidak!

Karena sejatinya, memang begitulah seharusnya. Kehidupan tidak akan tinggal diam. Akan terus bergerak dan bergerak.

Seperti kata Khalil Gibran, “… sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri … .”

Hanya saja ada rasa yang hilang. Rasa itu adalah rasa yang tidak dapat digambarkan. Kemudian rasa itu bermetamorfosis menjadi RINDU.

Rindu itu perlahan melayang di atas kepala, menggumpal dan berputar-putar seperti gumpalan asap kecil kemudian pecah menjadi butiran-butiran lalu menguap dan raib.
Diam!

Dalam diam, dalam kesendirian, dalam perasaan yang merasa tidak diperlukan lagi, haruskah kita larut dan mengikuti aliran rasa yang mengajak ke dalam penyesalan?
Tidak!

Sekali lagi TIDAK!

Ini tidak boleh terjadi, kehidupan terus berjalan. Saya, kamu, dan semua orangtua terutama ibu, mama, bunda, emak, atau apapun namanya, kita tidak boleh tinggal diam.
Kita harus bergerak terus, melawan segala rasa, melawan kesepian, dan melawan apapun yang akan membuat diri merasa lemah, dan merasa tidak dibutuhkan.

Saya dan kalian, mari melawan rasa sepi!
Kita gempur itu dengan karya, kita isi hari-hari kita dengan kegiatan yang bermanfaat.

Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan, seperti aktif di majlis-majlis pengajian, olahraga ringan setiap pagi, berkomunitas dengan orang-orang kreatif, dan menulis.

Menulis dan menulis. Tulislah segala hal yang baik, tuangkan ide-ide cemerlangmu, bagikan kisahmu, dan pengalaman pahit manismu.

Yakinlah bahwa mereka, anak-anak kita dimanapun berada tetaplah anak-anak yang pasti merindukan dan membutuhkan orangtuanya, sebagaimana kita yang masih selalu rindu dan mebutuhkan orangtua kita.

Maka kirimkanlah doa-doamu atas diri anakmu.
Tembus langit dengan rintihan harapan atas sukses anakmu.
Karena doamu, wahai ibu akan mengguncangkan langit, membangunkan malaikat lalu segera melaporkannya kepada pemberi anugrah dan ridho. Allah Azza Wajallah.





19 komentar:

  1. Balasan
    1. Jadikanlah kesedihanmu untuk datang ke orangtua ananda, kabarkan kalau ananda selalu dan selalu mencintai dan sayang padanya.

      Hapus
  2. Mungkin kayak gini ya perasaan Mamak dirumah, aku yang kerja dan harus kos, adekku yang kuliah di kota sebelah, g ada yang nemenin dirumah, pasti rindu. Pantes aja setiap kali aku pulang pasti cerita soal masa kecilku, dan selaku diulang2. Semoga para ibu didunia ini senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih sudah mendoakan.
      Karena begitulah cara orangtua mengenang anak-anaknya. Hanya kenangan yang mereka miliki. Salam sama Mamanya ya Nak.

      Hapus
  3. Aku jadi sedih bacanya mak ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blogku yang sederhana ini.

      Hapus
  4. Subhanallah kata-katanya masuk ke hati saya Bun. Terima kasih ya untuk tulisannya. Membuat saya harus banyak bersyukur dan menikmati masa kecil anak saya sebelum anak saya beranjak tumbuh dewasa

    BalasHapus
  5. Anak2 yg hebat lahir dari rahim perempuan yang hebat.

    BalasHapus
  6. Bacanya sedih deh, walau anak masih kecil tapi tetep rasanya ada sedih perlahan menyeruak.

    BalasHapus
  7. Kesepian itu tidak akan terjadi bila terus mengisi hidup ini dengan karya, berbuat yang manfaat buat orang lain, membaca, kumpul dengan komunitas, melakukan hobi, dan semacamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Pak. karena itulah saya mengisi waktu luang saya dengan menulis dan membaca. Terima kasih Pak sudah mampir.

      Hapus
  8. jadi ngeliatin anak-anak, nanti kalau mereka besar gimana ya.. terima kasih sudah berbagi mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Curahkanlah segala perhatian kepada mereka agar kelak saat mereka dewasa, kenangan itu menjadi alasan mereka merindukan orang tuanya. Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  9. Iya sayapun sedang menjelang kesana bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari menjadi ibu yang selalu dirindukan oleh anak-anak kita. Terima kasih sudah meninggalkan jejak.

      Hapus
  10. Terharu jadinya Bun... makasih sudah mengingatkan 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sayang sudah meninggalkan jejak. Teruslah menjadi ibu yang hebat untuk anak-anaknya.

      Hapus
  11. terima kasih sudah diingatkan, bu.
    saat anak2 masih belum dewasa spt skr inilah yg membuat saya banyak melewatkan banyak peluang rejeki dan memilih mencurahkan banyak waktu untuk mereka di rumah. ga nyesel, apalagi sirik dgn pendapatan blogger lain lewat berbagai event. krna kebahagiaan bersama anak2 punya 'rejeki' yg lebih besar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, bersama anak-anak, melihatnya bahagia adalah rezeki yang tiada taranya.

      Hapus