Minggu, 23 Juli 2017

MUHASABAH DIRI

Indonesia baru saja memperingati Hari Anak Nasional, yaitu tanggal 23 Juli. Sebagaimana negara-negara di belahan dunia lainnya, walaupun berbeda-beda waktunya, tetapi dasar dan tujuannya sama. Menghormati hak-hak anak.

Hem, menghormati hak-hak anak. Sebagai Ibu, rasanya ada yang menyentuh sanubariku sekaligus satu pertanyaan yang membuat kalbu ini terasa berdenyut. Apakah aku sudah memenuhi hak-hak anak-anakku?

Aku bisa saja menjawab, bahwa aku sudah memenuhinya dengan memberinya nafkah sehingga mereka tumbuh dan berkembang dengan baik, sudah menyekolahkannya hingga mereka mengecap pendidikan. Sekedar itu?

Tidak! Tanggung jawabku kepada mereka, jauh lebih besar dari itu semua.

Barangkali aku butuh satu waktu untuk duduk tafakur, lalu mengingat dengan saksama, apa saja yang telah kulakukan kepada anak-anakku. Apakah aku sudah memberinya rasa aman dan damai? Aman dari lingkungan yang buruk, lingkungan yang bisa saja menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan. Damai dari situasi yang hiruk pikuk, situasi yang bisa saja membuat jiwa-jiwa mereka resah dan gelisah.

Lebih dari itu, apakah aku sudah mendekatkannya kepada yang Maha Pemberi Kehidupan?  Sejauh manakah usahaku membuat mereka cinta kepada Pemilik Cinta?

Banyak pertanyaan yang tiba-tiba saja membuatku risau. Ini adalah muhasabah untuk diriku sendiri, bahwa setelah 26 tahun menjadi ibu untuk anak-anakku, rasanya aku belum melakukan apa-apa. Hanya satu harapan terbesar di dalam sanubariku, yaitu menjadikannya mereka sebagai anak saleh dan salihah.
Sungguh, harapan itu sangat berat untuk mencapainya. Karena aku sendiri merasa belum menjadi anak yang salihah untuk orangtuaku.

Yah, maka aku menyerah saja kepada takdir, setelah segala usaha dan upaya diiringi dengan doa untuk selalu berjuang berjalan menuju jalan yang lurus.

Semoga usahaku itu dapat menjadi pembelajaran buat anak-anakku, bahwa Ibunyapun tiada henti-hentinya belajar, berusaha dan berjuang untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Sabtu, 08 Juli 2017

METAMORFOSIS KURA-KURA

Judul Buku: Metamorfosis Kura-Kura
Penulis: Edi Sutarto
Penyunting: Dampriyanto
Perancang Sampul: Sandy Ramadhan
Tata Letak: M. Sharifudin
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Cetakan  pertama, Desember 2015


Apa yang menarik dari buku ini?
Pertama kali melihat sampulnya, terus terang saya tidak tertarik. Tidak tertarik karena gambarnya yang tidak jelas. Antara gambar wajah manusia dengan kura-kura, antara gambar wajah yang tersenyum, cemberut dan sedih. Ini sampulnya gambar orang atau kura-kura sih?


Ah..yah, ini pasti gambar kura-kura, kan judul bukunya metamorfosis kura-kura. Judulnya ciamik mengundang tanya, apakah kura-kura bermetamorfosis?Baiklah! Sebaiknya saya baca saja dahulu.



Membuka halaman pertama, mata saya tertuju pada testimoni dari Habiburrahman El Shirazy.


Membaca kumpulan cerpen ini seperti merasakan lezatnya saraba. Hangat, sederhana, lezat, menyehatkan, dan tidak membosankan. Nilai-nilai edukatif diracik dalam cerita yang memikat. Enak dinikmati seperti minum Saraba.”

Iii..keren kan? Itu tanggapan penulis top bin keren lho. Penasaran? Sumpah saya juga penasaran!

Lalu buka lembaran berikutnya. Ada catatan Taufiq Ismail (Saya berani bilang, yang tidak kenal sama sosok ini, pasti tidak pernah nonton televisi, apalagi membaca). 


Lalu ada rektor UNHAS, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Palubuhu, MA. Ada pula Prof Aris Munandar, M.Pd (rektor UNM Makassar), lalu ada Yudhistira Sukatanya dan yang tidak kalah kerennya, ada Asma Nadia. 


Sambutan ditulis oleh seorang penulis top, jangan baper yah kalau saya katakan, bahwa yang memberi sambutan dalam buku ini adalah Helvy Tiana Rosa. Wuisss!

Melihat sekumpulan sastrawan hebat ditambah penulis-penulis keceh, maka jangan salahkan diri ini jika animo untuk membacanya semakin tak terbendung.

Terdapat 17 cerita pendek karena buku ini, memang ini adalah kumpulan cerita-cerita yang menarik. Cobalah baca salah satu judul cerpennya, Lapar Ayah.

Lapar Ayah. Sebahagian cerita dalam cerpen, Lapar Ayah ini sangat akrab bagi saya, juga semua guru di Indonesia. Kelakuan guru yang kelihatannya serius, rajin padahal sesungguhnya sibuk dengan diri sendiri, sampai-sampai dia tidak menyelisik setiap raut muka muridnya, bahwa dalam ketenangan murid-muridnya terdapat jiwa yang kacau balau.


Yang Tak Dikatakan Monyet. Terdapat percakapan seru antara monyet dengan kupu-kupu yang menggambarkan kegagalan suatu proses metamorfosis akibat ulah siswa yang sedang melancong. Lagi-lagi kritikan pedas terhadap ulah sebahagian guru di negeri yang kita cintai ini. Jleb banget, apalagi buat saya yang berprofesi guru.

Bejo jadi Biji. Kata ndeso cukup menggelitik, apalagi saat ini yang lagi ramai dengan kata-kata ajaib itu. Ndeso! Saya bukan orang Jawa, tetapi sangat paham artinya. Barangkali inilah yang disebut, "nama ndeso, otak  kota" (huaaa..saya terlalu memaksakan). Tetapi itulah kenyataan dalam cerpen ini, seorang lelaki dengan nama yang ndeso tetapi memiliki otak cemerlang.


Metamorfosis. Bercerita tentang guru yang sedang bermetamorfosis, hingga mampu mengepakkan sayap-sayap indahnya. Sampai di sini, saya tertegun. Bercermin pada diri, apakah saya telah menjadi kupu-kupu? Atau jangan-jangan sampai setua ini, saya masih saja menjadi kepompong.

Lalu akhirnya saya tak mampu lagi menuliskan setiap cerpen yang disajikan dengan apik ini. Ceritanya beragam tapi makna yang tersirat di dalamnya adalah satu, menginspirasi.

Oh iyah ada satu cerita, oh bukan, tetapi dua  sebelum saya akhiri.
Pertama, cerita yang cukup  lucu dengan akhir  yang tidak dinyana. Onde-Onde dan Sarabba.

Cerpen kedua adalah: Ingin Jadi Kura-Kura
Saat membaca cerpen yang menutup buku ini, ingatan saya seketika terbang dan hinggap pada satu wajah, sifat dan perangainya sama dengan Ibu Mardiah. Dan sayangnya, belum ada siswanya seperti dr. Fatir, membuat Ibu Mardiah ingin menarik kepalanya ke dalam batok tempurung rumahnya. Malu.

Jangan salah yah, bukan Ibu Marda, hehehe…

Maka pantaslah apabila buku dengan jumlah halaman 104 ini diendros oleh sejumlah sastrawan, penulis dan para akademisi.

Jumat, 07 Juli 2017

Apa Kabar Setelah 35 Tahun?


Entah mengapa, Ramadan dan lebaran selalu identik dengan reuni. Mungkin karena libur panjang setelahnya, sehingga banyak waktu untuk kumpul-kumpul, atau bisa jadi karena efek dari lebaran yang selalu disertai dengan silaturahim dengan keluarga dan  teman.
Yah baguslah, bukankah menyambung silaturahim itu akan memperpanjang usia?
Nah, ini cerita reuniku bersama teman-teman tempo dulu, kurang lebih 35 tahun lalu (hehehe…kentara usianya).

Sebenarnya sudah beberapa kali menghadiri acara reuni SMA, kebetulan saya dari SMAPAT (zaman kami dahulu belum ada singkatan itu, masih namanya SMA Negeri 4 Makassar). Tetapi hanya sekedar mengikuti seremonialnya saja, saya justru merasa asing di antara sekian banyak alumni yang hadir. Bingung sendiri, cari-cari seangkatan atau lebih tepatnya mencari teman sekelas, soalnya yang hadiri reunian berasal dari semua angkatan. Lebih banyak dari angkatan tahun 90-an, sementara saya termasuk angkatan 80-an.


Nah, kebetulan tahun ini, salah seorang teman sekelas yang kebetulan juga tetanggaan, mencetuskan ide itu. Reuni khusus angkatan 1983, yeaaahh! Pucuk dicinta ulampun tiba. Terima kasih Hj Husniah!
Setelah menghubungi beberapa teman, lalu mengumpulkan informasi nomor-nomor  handpone teman-teman lainnya, maka terjadilah reuni itu.

Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan, yah..hanya sekedar makan, bercengkrama, saling tanya apa kabar keluarga dan bla..bla.. lalu foto-foto, sambil tukar-tukaran nomor handpone.

Saat acara makan, satu persatu datang. Hebohnya, setiap yang datang, kami bergantian bertanya, “masih ingat dengan saya?”
Kita masih kenal sama saya?  Ada yang masih ingat, tetapi tidak sedikit yang lupa.
Yah wajarlah, tiga puluh lima tahun Bo!

Terlalu banyak perubahan yang terjadi, yang dahulu imut-imut sekarang jadi amit-amit. Bukan karena wajahnya saja yang berubah tetapi postur tubuh itulah yang mengalami perubahan yang cukup bikin pangling. Dulunya langsing, sekarang istilah kerennya menjadi “langsung.” Hehehe.
Dulunya tidak pakai jilbab, sekarang pakai jilbab. Dulu, muka mulus sekarang menjadi sedikit keriput. Huaaah.

Mungkin karena saya yang paling sibuk tanya-tanya nomor handpone teman sekaligus mencatatnya,  maka saya didaulat untuk membuat grup WA sekaligus menjadi adminnya. Maka di situlah saya berterima kasih kepada media sosial.
Terbentuklah grup itu. Dari sana, bertambah lagi teman yang selama ini tak tau rimbanya, akhirnya diketemukan lagi lalu dicemplungkan ke dalam grup (maafkanlah diriku ini teman, tidak permisi dahulu).


Untuk mengupdate ingatan teman-teman tentang masa 35 tahun lalu, berikut saya masukkan foto-foto kita dahulu. Sayangnya sebahagian besar foto-foto lama sudah habis dilalap jago merah. 
Berikut ini saja yang tersisa.

Bandingkan dengan foto berikut ini.


Bagaimana dengan ini!


Semoga ini awal yang baik. Aamiin.

Minggu, 02 Juli 2017

Dunia Tanpa Aair Mata yang Sarat Dengan Air Mata

Judul Buku: Dunia Tanpa Air Mata
Penulis: Pipiet Senja & Azimattinur Siregar
Pemeriksa Aksara: Aminah Mustari
Pewajah  Sampul: Meita Safitri
Penata Letak: Yunita Hye
Penerbit: Salsabila Pustaka Al-Kautsar Grup
Cetakan: Pertama, Januari 2016

Pipiet Senja, nama ini sudah tidak asing lagi bagiku, sejak kecil aku sudah menggandrungi tulisan-tulisannya. Tetapi mengenal beliau secara pribadi hingga dapat berkomunikasi melalui media sosial barulah pada tahun ini.
Namun bukan tentang pertemananku dengan beliau yang akan aku tulis melainkan perasaanku terhadap salah satu dari ratusan karyanya, yaitu “Dunia Tanpa Air Mata.”


Tidak butuh waktu lama untuk melumat habis isi buku itu, mungkin karena ceritanya yang terasa sangat nyata. Apalagi dibarengi dengan tulisan Azimattinur Siregar, anak beliau yang ngocol dan fresh sekali.

Dimulai dari tulisan Pipiet Senja yang dibagi menjadi 9 tulisan, bercerita tentang penyakit yang beliau derita sejak kecil, lalu selanjutnya semua tentang Butet, panggilan untuk putrinya, Zhizhi Siregar alias Azimattinur Siregar.
Ada asa dalam tulisan itu, cinta dan kasih sayang yang tak dapat diukur kedalamannya. Juga kesabaran menerima perilaku yang ajaib dari pasangannya. Sungguh suatu pembelajaran kesabaran.

Kemudian beranjak ke tulisan Zhizhi yang juga terbagi atas beberapa bagian. Kisah-kisah yang lucu dengan gaya penulisan yang menurutku “anak muda” sekali, sehingga aku merasa sedikit konyol membacanya. Bagaimana tidak konyol, jika saat membacanya, aku lebih banyak senyum-senyum bahkan terbahak.

Sub-sub judul yang ditampilkan juga lucu dan mengundang rasa penasaran, cobalah simak, Nightmare, Baybay Einstein, Pensi Ajep-ajep atau Hari Degdegplas. Dari semua sub-sub judul itu terdapat benang merah yang menghubungkan antara penderitaan dan kebahagiaan yang silih berganti, juga kasih, cinta dan bangga kepada mamanya.
Zhizhi menyuarakan penderitaannya dengan lugas tetapi dalam bahasa yang unik, tidak menghiba apalagi meraung. Sungguh, suatu pribadi yang kuat.

Dari semua cerita yang disuguhkan oleh Manini (begitu biasa beliau dipanggil) Pipiet Senja dan anaknya itu dalam buku ini, terdapat dua bab terakhir yang membuatku benar-benar larut, sehingga memicu kemarahanku sekaligus kesedihanku.
Bagaimana tidak marah coba, mengetahui perlakuan orang-orang di rumah sakit, mulai petugasnya hingga perawatnya yang begitu ketus tak berperikemanusiaan. Dapat kubayangkan, andaikan aku berada di posisi itu, aku belum tentu sesabar Manini.

Hampir seluruh bab-bab terakhir dalam buku ini membahas tentang keburukan pelayanan rumah sakit yang besar itu. Demikian yang bisa kusimak.

Walaupun buku ini berjudul “Dunia Tanpa Air Mata” namun sesungguhnya kisah-kisah di dalamnya  justru sarat dengan air mata, air mata kebahagiaan, keharuan dan ketidak berdayaan.

Oh iya, ada satu tulisan yang jleb banget ke hatiku, “Setiap anak memenggal cita-cita orangtuanya hingga ke titik tertentu. Membatasinya, bahkan bisa jadi menghancurkannya. Adalah tugas setiap anak untuk mengemban harapan-harapan yang tercapai itu.”

Sudahkah aku memenuhi harapan orangtuaku, terutama mamaku?
Apakah aku tahu apa harapannya? Karena aku dan mamaku tidak sedekat Zhizhi dengan mamanya  (mungkin karena aku banyak bersaudara, mencoba mencari alasan, bheuu…)

Membaca buku ini memberiku kesadaran baru, bahwa sangat penting melakoni hidup dengan semangat perjuangan yang tiada henti yang dibarengi dengan rasa syukur atas semua nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah swt.

Terima kasih Manini.

Terima kasih Zhizhi.