Rabu, 24 Mei 2017

TERIMA KASIH IIDN

Sudah lama tak menyapa “rumahku” ini, berhubung karena kesibukan dan kejar target sana-sini, padahal target itu setiap saat bertambah seiring dengan keegoisan diri.
Apa yang mau kuceritakan yah? Oh iyah tentang IIDN.

Ibu-ibu doyan nulis, sebuah komunitas yang saya masuki hampir dua tahun terakhir ini. Padahal usia komunitas ini sudah memasuki usia 7 tahun. Kalau dibandingkan dengan usia manusia, berarti IIDN sudah memasuki usia sekolah dasar. Yah IIDN sudah kelas 1 SD.

Yeaaah! Itu artinya IIDN sudah semakin “pintar” dan akan semakin banyak mendapatkan ilmu di bangku sekolah.  Padahal IIDN itu sendiri lebih laik disebut sekolah. Sekolah bagi ibu-ibu penghuni komunitas ini. Sekolah yang jauh lebih luas artinya dibandingkan dengan sekolah yang sesungguhnya, terutama sekolah bagi diri saya yang masih fakir ilmu ini.

IIDN, di dalamnya berkumpul ibu-ibu seluruh Indonesia bahkan ibu-ibu seluruh dunia yang memiliki hobbi, minat atau mungkin bakat yang serupa walau tak sama. Ada Ibu yang senang menulis artikel di web tertentu, ada pula yang nyaman menulis di blog dan tidak sedikit yang telah menelurkan buku.

Buku! Yah Buku, inilah benda yang menjadi jejak abadi setiap penulis, walau saat ini pada era komunikasi yang tanpa batas, buku bukanlah satu-satunya yang bisa menyimpan jejak kepenulisan seseorang. Karena tulisan-tulisan di blog juga akan abadi  bahkan lebih bisa dibaca oleh semua orang di seluruh penjuruh dunia.

Kembali ke IIDN, awal saya bergabung ke IIDN Makassar adalah derap langkah saya selanjutnya setelah merasakan nyamannya berada di IIDN pusat atau Ibu-ibu Doyan Nulis – Interaktif. Saya melangkahkan kaki ke kota Makassar, tentu saja  tanpa meninggalkan komunitas induknya, semua itu  karena terdorong asa untuk bersilaturahim dengan ibu-ibu yang sekota dengan saya, agar kami bisa saling berjabat tangan, cipika cipiki atau paling tidak mendengar cerita mereka sambil menatap gerakan bibirnya, ikut tersenyum melihat senyumannya. Masya Allah.

Saya sudah menikmatinya walaupun belum bertemu dengan seluruh penghuninya, tetapi paling tidak sudah pernah saling menyapa dengan yang lainnya terutama Ibu muda yang selalu bersemangat. Ketua IIDN Makassar, Mugniar. Sekaligus saya bermimpi, suatu saat saya juga akan bersenda gurau dengan seluruh penghuni IIDN di seluruh dunia, terutama berpelukan dengan pembuat komunitas ini Indari Mastuti.

Inilah komunitas dari sekian komunitas yang saya masuki, suatu komunitas yang khusus bersentuhan dengan kata “MENULIS.”
Di sinilah saya menemukan dunia yang telah lama saya tinggalkan, di sinilah saya menjumpai ibu-ibu yang luar biasa, bersemangat dan saling support tanpa batas dan tanpa pamrih.

Terima kasih kepada pencetus ide sekaligus pendirinya, seorang Ibu yang telah menginspirasi banyak perempuan Indonesia. Ibu Indari Mastuti.

Terima kasih atas semua yang telah diberikan. Saya yakin dan percaya bahwa setiap noktah yang tertuang baik berupa ide, tips-tips, suntikan-suntikan semangat pastilah tidak sia-sia, karena di Arsy sana Allah swt  sedang “menatap dengan senyum” dan melalui malaikat-Nya, akan mencatatnya sebagai pahala.

Terima kasih IIDN, selamat milad, semoga semakin berjaya. 


0 komentar:

Posting Komentar