Kamis, 13 April 2017

Maafkan Aku Belum Menjadi yang Terbaik

Awalnya aku ingin menulis tentang kisahku ketika berurusan dengan ombdusman, beberapa kata telah tertulis, namun saat membaca tulisan Mbak Runi Adriyani, tiba-tiba aku  tercenung. Lalu tulisan  itu tak dapat lagi kuteruskan lalu akhirnya kuhapus, maka jadilah tulisan ini.

Profesiku guru sejak tahun 1984 hingga saat ini, dan aku tidak menjamin diriku kalau selama menjadi guru, aku bersih dari amarah, dan amarah itu bisa jadi membekas di hati murid-muridku, atau bisa jadi membekas pula di hati orang tua muridku. 
Oh..Ilahi Rabbi, ampuni hambaMu ini. 
Wahai murid-muridku, maafkanlah gurumu ini.


Seperti kejadian waktu itu, salah seorang muridku, tiap hari ke sekolah memakai baju kaos dengan celana warna hitam, padahal itu bukan pakaian seragam sekolah. 
Setiap kali ditanya, mengapa tidak memakai pakaian seragam. Maka dengan entengnya  dia menjawab.
  “Pakaian seragamku basah, Bu.”

Kok bisa yah, setiap hari basah, padahal saat itu bukan musim hujan. Tentu saja aku kesal mendengar alasan yang mengada-ada itu. Hingga akhirnya, si anak mendapat surat panggilan untuk orang tuanya.

Maka hari itu, Ibunya datang memenuhi surat pemanggilan orang tua. Seorang perempuan setengah baya, datang dengan rona kesal, langkahnya tegap, pakaiannya seperti orang yang mau ke pesta demikian pula dandanannya. 

  ”Mari Bu..” Sapaku ramah. Si Ibu hanya mengangguk dengan senyum tipis, cenderung sinis.
  “Kenapa aku dipanggil, Bu? Apa kesalahan anakku?” Suaranya sedikit parau dengan tekanan yang menandakan kalau dia lagi kesal.
  “Begini Bu, Kami memanggil Ibu, selain ingin bersilaturahim, kami juga mau tahu, mengapa anak Ibu kalau ke sekolah tidak memakai seragam?”
  “Oh itu masalahnya? Kayaknya anakku masih mengingat kebiasaannya ketika masih belajar di luar negeri, de..” Si Ibu menjawab dengan bangga.
  “Tetapi di sekolah ini kan peraturannya harus memakai pakaian seragam Bu.” Jawabku sabar.
  “Kenapakah sekolah mesti membuat peraturan seperti itu? Bukankah kita sudah merdeka, masa berpakaian saja mesti diatur-atur, coba de..Ibu guru melihat sekolah di luar negeri, di sana bebas kok.” Volume suara si Ibu mulai sedikit naik.
  “Ini salah satu tata tertib sekolah, Bu. Jika Ibu tidak berkenan, kami persilahkan mencari sekolah lain yang mempunyai peraturan seperti yang ibu inginkan.” Nah…keluar  juga tuh kata-kata yang sedari tadi kutahan.
  “Ooo… Ibu guru mau keluarkan anakku? Baik akan kulaporkan ke Pak Kadis Pendidikan, Ibu tidak tahu siapa aku? Aku ini isteri pejabat, aku bisa adukan Ibu dan sekolah ini, kalau perlu aku panggil wartawan dan memuat di koran tentang kelakuan ibu yang berlaku sewenang-wenang kepada anakku” Si Ibu nyerocos sambil berdiri dengan mata melotot. 

Lho kok?

Spontan aku ikut berdiri, kesal dan mulai terpancing untuk ikut marah, namun dengan segala daya kucoba menahan amarah. Aku duduk kembali, meraih gelas yang berisi air putih dan glek..glek.. air dalam gelas ludes menyejukkan kerongkonganku yang kering.

Aku menatap wajah si Ibu yang semakin merah karena amarah, sejurus kemudian aku ikut berdiri, menyentuh bahunya pelan, menatap matanya sambil berkata.
  “Sabar Bu, kenapa mesti marah? Aku kan hanya menawarkan jalan yang terbaik, jika Ibu tidak bersedia mengikuti aturan dan tata tertib sekolah berarti ibu tidak ikhlas menyekolahkan anaknya di sekolah ini.” Dengan perlahan aku menekan sedikit bahunya untuk duduk kembali, lalu kulanjutkan dengan kalimat berikut.
  “Kebetulan sekolah ini aturannya seperti itu, siapa tahu ada sekolah lain yang tidak menerapkan aturan pakaian seragam, itu kan bisa jadi pilihan Ibu, dan jika Ibu mau melaporkan kami ke manapun, silahkan.  Sekedar informasi, aku dan guru lainnya tidak pernah membedakan, siapapun orang tuanya.”

Kulihat wajah si Ibu semakin merah, menjadi lebih garang, lalu berdiri dengan menghentakkan kakinya, sambil memukul meja hingga gelas dan barang lain yang ada di atas meja bergetar. Ia memandangku dengan mata melotot lalu membalikkan badannya keluar dari ruangan tanpa berkata sepatah katapun.
Aku mengelus dada, lalu duduk merenung. Apa yang salah yah dari kata-kataku tadi.

Kejadian itu sudah lama berlalu, tetapi masih sangat membekas dalam ingatan. Setiap kali aku menghadapi orang tua muridku yang bermasalah, kejadian itu selalu datang tanpa diundang.

Maafkan aku, wahai orang tua muridku, jika bicaraku dan cara menangani masalah anak-anak kita, tidak sesuai dengan harapan juga tidak sebaik caranya para ahli. 


0 komentar:

Posting Komentar