Ramadan, Lebaran, dan Kenangan

Minggu, 02 Juni 2019


Ramadan memang selalu menyisakan kenangan, walaupun kebiasaan-kebiasaan masyarakat Indonesia selalu sama setiap tahunnya. Namun ada saja cerita menarik  yang menjadi pemanisnya.

Demikian pula yang terjadi dalam keluarga kami.

Jika tahun lalu, putra sulung saya masih mudik dan bisa berpuasa di lima hari terakhir sekaligus berlebaran bersama kami, maka tahun ini ia memilih mudik ke rumah mertuanya, itu berarti ia akan menjalani akhir-akhir Ramadan serta berlebaran di daerah kelahiran istrinya.

Semoga tahun depan, giliran kami yang dipilih mereka. Aamiin.

Eh, tiba-tiba saya membayangkan, jika suatu saat anak-anak sudah menikah atau bekerja di daerah lain, maka pastilah kesunyian akan menyergap rumah kami.

Mungkin saat itu kami sudah uzur, lemah dan sepi. Kami hanya akan sahur berdua. Tidak ada lagi drama membangunkan anak-anak untuk sahur bersama dan tidak ada juga riuhnya celoteh saat berbuka puasa.  

Aarraagh …

Daripada saya membayangkan hal-hal yang mengilukan hati, lebih baik saya cerita saja tentang drama yang pernah terjadi di   keluarga kami dalam bulan Ramadan.

Yaah sekedar mengenang saja.

Drama Saat Sahur


Saat membangunkan anak-anak untuk sahur adalah drama yang dialami oleh hampir semua keluarga yang punya anak kecil, eh anak yang sudah remaja juga kadang tak kalah dramanya.

Dari kelima anak saya, yang paling sulit dibangunkan itu adalah Uci, putra ketiga dan putri bungsu saya, Nabila.

Suatu waktu, entah sahur yang keberapa. Tiga putra saya sudah bangun dan duduk manis di depan meja makan. Tapi oleh bapaknya, belum boleh makan kalau belum kumpul. Sementara Uci belum bangun juga padahal sudah tiga kali saya dan bapaknya bergantian membangunkan.

Waktu itu, Nabila belum lahir dan Uci masih kelas 3 SD

“Kalau mauki kasi bangunki Uci bawa memang maki air Ma.” Kata Fandi.
“Saya pa kasi bangunki Ma.” Ami, putra keempat tampil jadi pahlawan.

Maka Ami masuk ke kamar sambil membawa timba berisi air.

Tiba-tiba terdengar suara,  gedebuk!
Maaa….!

Ami berlari keluar sambil menangis, badannya basah.
Natendangka  kakak Uci Ma, tumpahmi air kena bajuku.” Isak Ami.

Fandi dan Ical serentak terbahak. Saya menahan senyum geli sambil berpandangan sama bapaknya.

Rewa duduku, rasako, hahaha….” Ledek Fandi.
“Saya saja malla-malla kasi bangunki, pasti assempaki too…” Ical ikutan meledek.
“Kauji bilang, bawa memangki air ka mau ditimbai mukanya kakak Uci.” Ami protes.
“Itu untuk mama atau bapak, ka tidak berani Uci assempa kalau mama kasi bangunki.” Fandi menjelaskan sambil terbahak.

Sejurus kemudian, Uci keluar dari kamar dengan muka datar.

“Kenapa nutendangki Ami tawwa Uci?” Tanya Fandi.
“Mauka nasirami, barani-barani. Mama-ji yang boleh siramka yang lain jangko coba-coba, passempa itu nudapa.” Uci menjawab sambil mengancam.

Rewana,  tantara kapang.” Ical nyeletuk kesal.
“Bukan tentara tapi pilot, mauka saya jadi pilot.” Uci tak kalah ketusnya.
“Aamiin.” Kami serentak mengamini.

Maka dramapun berakhir dan mereka kembali akur.

Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani membangunkan Uci kecuali saya atau bapaknya.

Baju Harus Seragam


Memiliki empat orang putra yang usianya tidak terpaut jauh, cukup menguras pikiran saat menjelang lebaran. Pakaiannya harus serupa, baik model maupun warnanya karena jika tidak, maka akan terjadi drama berkepanjangan.  

Pernah suatu waktu, saya tidak menemukan empat baju dengan warna yang sama. Yang ada hanya tiga baju, terpaksa warna baju Fandi berbeda dengan ketiga adiknya.

Awalnya tidak ada masalah. Mereka terima saja, apalagi Fandi sangat puas dengan warna pilihan saya. 

Tiba pada hari H, kami sudah bersiap-siap ke lapangan.

Ical, Uci, dan Ami sudah berpakaian lengkap. Tinggal Fandi yang masih sibuk keluar masuk kamar.

“Ndi, ayo pakai bajumu, nanti kita telat Nak!” Seru saya sambil menyiapkan sarapan.
“Nda kudapatki bajuku Ma” Keluh Fandi.
“Ada di balik pintu kamar, mama semalam gantung di situ.”
“Tidak ada Ma, hilangki.” teriak Fandi
“Ah masa hilang.  Adiji itu.” Saya beranjak ke kamarnya.

Sangat yakin baju itu saya gantung di balik pintu kamar, lah semalam kan saya yang siapkan  semua.

Tadaaa…. baju itu tidak ada.

Maka jadilah kami semua bantu mencarinya. Lemari diubek-ubek dan semua sudut rumah tak luput diperiksa, tapi hasilnya nihil.

“Mungkin ada yang lebih suka baju ta Nak, pakai maki saja baju lama, yang penting kan bersih dan rapi.” Bujuk bapaknya setelah pencarian yang melelahkan tanpa hasil.

“Baju keduaku mo de kupake, nda mauka pake baju lama.”
“Ih baju kaus, nantipi dipake kalau pulangki lebaran.” Protes adiknya, Ical.
Biarmi, daripada pake baju lama.” Fandi berkeras.
Iye, pake baju kaus saja.” Saya putuskan cepat, daripada telat salat id.  

Mungkin saat itu salatku kurang khusyuk, kepikiran sama baju yang raib entah kemana. Padahal jelas-jelas saya setrika dan simpan di tempat yang aman. Kalau ada pencuri yang masuk ke rumah, kenapa hanya satu baju yang diambil, kenapa tidak ambil saja semua, kan baju-baju itu tergantung di tempat yang sama.

Pulang salat id, pencarian dimulai kembali. 
Iseng-iseng bapaknya buka mesin cuci. Saya menegur beliau.

“Tidak mungkin ada di dalam mesin cuci, itu kan pakaian kotor semua.”

Bapaknya hanya tersenyum dan tetap membuka penutup mesin cuci.

Alamak,  baju itu ada di sana lengkap dengan hangernya.

“Siapa yang simpan bajunya kakak Fandi di situ?” Saya betul-betul gusar.

Tak ada satupun yang menjawab. Tetapi sekilas saya melihat senyum kepuasan dari bibir Uci.

“Kenapa Nak, kamu sembunyikan baju kakak Fandi?” Saya langsung menodong Uci.
“Kenapa memang warna bajunya beda, ndak sama dengan yang lain.” Katanya ketus.

Melongo satu detik mendengar jawabannya.

Sejak saat itu, saya tak mau lagi membedakan warna dan model baju mereka hingga saatnya mereka bisa memilih sendiri.

Demikian cerita saya.

Selamat menyambut hari lebaran, semoga kita  terlahir fitri kembali. Aamiin.

Sumber Pribadi, Foto Lebaran Tahun 2013


6 komentar

  1. Ingat seragam ingat mama dulu, karena beliau penjahit jadilah kami couple semua anak perempuan mama

    BalasHapus
  2. Ceritanya lucu, tante. Kelihatan pendiam, kak Uci ternyata pemeran utama keonaran hehe. Semoga lebaran tahun depan tante dan keluarga bisa berkumpul bersama, aamiin.

    BalasHapus
  3. MasyaAllah lucu dek Uci ya, yang mas Fandinya enggak madalah, eh enggak terduga malah si bungsu heheheh.... Seru bunda, anak-anaknya 4 jagoan dan satu putri:)

    BalasHapus
  4. Ramai ya mbak, punya anak laki-laki semua

    BalasHapus
  5. Serunya pengalaman berramadhan dan berlebaran bersama anak-anak. Anak-anakku juga mulai berangkat dewasa, bahkan 3 orang terpisah dari kami. Alhamdulillah, lebaran kali ini semua ngumpul di Malaysia.

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *