SULUNG YANG ULUNG

Selasa, 22 Januari 2019






Saat saya berniat menulis tentang si-sulung ini, saya minta izin sama dia. Bagaimanapun  sekarang Beliau itu sudah dewasa, saya khawatir ia malu kalau “aibnya” dipublish.

Alhamdulillah, Beliau mengizinkan katanya, “dengan senang hati.”

Kenapa minta izin?  Kan tidak lucu kalau saya digugat oleh anak sendiri lalu kena jerat undang-undang IT dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan,  berhubung karena kisah masa kecilnya dipublish.

Lahir pada bulan Juni 1991 dengan wajah yang persis sama dengan wajah bapaknya. Saya beri nama Muhammad Fadlan Afandi, lebih akrab dipanggil Fandi.

Begitu miripnya, sampai-sampai teman SD bapaknya bisa langsung menebak kalau ia itu adalah anak temannya, padahal kami belum saling mengenal satu sama lain. 
Peristiwa itu terjadi di ruang tunggu, ruang praktik Dr.  Farid. 

Waktu itu, saya bawa Fandi berobat ke dokter anak, kami hanya berdua karena bapaknya juga kurang sehat. usianya sekitar tiga tahun. Walaupun dia sakit, tapi masih lincah berlarian ke sana kemari.

Seorang laki-laki yang seumuran dengan bapaknya, tidak berhenti memperhatikan Fandi. Mungkin karena sangat penasaran, beliau langsung mendatangai saya dan bertanya.

Tabe Bu, itu anak-ta?”
“Iye, kenapa Pak?” Saya balik bertanya.
“Ibu istrinya Nasir, anaknya itu Nasir di?” Tanyanya beruntun.
“Iye, kenapa bapak tahu, pernah-ki ketemu?”
“Lama sekali-mi saya tidak ketemu sama bapak. Tapi dari tadi saya perhatikan anak-ta, itu mukanya persis teman SD ku dulu, namanya Nasir. Makanya saya langsung tebak, pasti ini anaknya teman SD ku.” Jawabnya dengan mata berbinar, menyiratkan kalau tebakannya berhasil.

“ooo… begitu di?”

“Benarkah to Bu, kita istrinya temanku. Titip salam ya sama dia.” Jawabnya senang.

Maka berbincanglah kami, sekaligus ia memperkenalkan istrinya. Mereka juga membawa anak sulungnya berobat.

Pulangnya saya ceritakan kejadian itu dan bapaknya  jawab begini.
“Betul toh, Fandi itu anakku.” Sambil mengedipkan mata.

Hahaha… siapa juga yang meragukannya.

Satu hal yang saya sesali sehubungan dengan masa kecilnya, ia tidak menikmati asi eksklusif. Waktu itu pengetahuan saya tentang ASI belum ada. Bahkan kalau ke Posyandu, ibu-ibu dan petugas Posyandu lebih ribut membicarakan jenis-jenis susu formula. 

Tapi bukan karena itu juga alasannya, melainkan karena saya hamil anak kedua sebelum saya mengalami haid pertama pascamelahirkan.

Betapa sedihnya, saat pertama kali mau menghentikan dia menyusu. Usianya hanya terpaut 18 bulan dengan anak kedua. Maka praktis Fandi berhenti ASI saat usianya belum menginjak dua tahun.  

Kalau Tidak Bodoh Sekali, Dia Akan Pintar Sekali

Kalau anaknya tidak bodoh sekali maka ia akan pintar sekali. 

Kalimat itu diucapkan oleh dokter ahli syaraf yang merawat Fandi. Duhai betapa nelangsanya.

Ceritanya, waktu itu Fandi  terjatuh dari tangga, jarak jatuhnya sekitar 2 meter dan pingsan selama kurang lebih 10 menit. Sesaat setelah sadar Fandi muntah dua kali. Maka spontan kami melarikannya ke dokter terdekat.

Karena dokter anak lagi tak ada di tempat, maka saya daftarkan Fandi ke dokter ahli syaraf. Yah karena ini berhubungan dengan kepalanya yang terbentur saat jatuh, mungkin dokter ahli syaraf bisa membantu menanganinya. Itu yang kami pikirkan waktu itu.

Setelah diperiksa, dokter menyimpulkan kalau Fandi kena gegar otak. Ia harus diterapi sampai sembuh.
Maka jadilah Fandi sebagai langganan pasien dokter ahli syaraf.

Diakhir proses terapinya, dokter mengatakan bahwa, saya harus ekstra mendampingi Fandi serta memantau perkembangan otaknya, karena bisa jadi ia akan mengalami kemunduran perkembangan otak atau malah mengalami kemajuan yang pesat.

“Maksud dokter bagaimana?” Untuk mempertegas pernyataannya.
“Anak ibu, bisa saja tidak pandai atau malah sangat pandai. Kalau tidak terlalu bodoh yah sangat pandai.” Jelasnya lugas.  

“Ya Allah! Jadi apa yang harus saya lakukan agar anak saya tidak idiot?”
“Bukan idiot Bu, tapi tidak pintar.” Ah sama saja pikirku.
“Berdoalah Bu, kan ibu sudah  ikhtiar dengan melakukan terapi, kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi.”

Maka jadilah hari-hari saya diliputi rasa cemas dan malam-malam penuh doa khusus buatnya.

Sirnalah Sudah Kecemasan


Tanda-tanda kalau otak Fandi tidak rusak sebenarnya sudah mulai terlihat, sejak beberapa bulan  setelah paristiwa jatuhnya dari tangga itu. 
Usianya baru 2,5 tahun, dan ia sudah pandai membedakan warna dan mengelompokkannya. 

 Walaupun agak lambat berbicara dan lambat pula berjalan.
Dia lancar berjalan saat teman-teman seusianya sudah bisa berlari,  dia baru terbata-bata berbicara saat anak-anak seusianya sudah bisa bernyanyi.

Namun perkembangan otaknya luar biasa. 

Enam bulan setelah jadi langganan dokter syaraf dan diterapi, ia menunjukan perkembangan yang signifikan. 

Fandi bisa mengarahkan matanya pada lensa okuler lalu mengatur lensa objektif pada mikroskop untuk mendapatkan gambar obyek yang terang.   

Ia bisa melakukannya selama berjam-jam, dan tidak mau berhenti sebelum obyek yang dilihatnya  terlihat jelas.  Walaupun ia tidak tahu gambar apa yang ia amati.

Selain itu, ia sangat suka memainkan garpu tala. Ia pukulkan ujung garpu tala lalu mendekatkannya ke selembar kertas. Saat kertas itu ikut bergetar ia tertawa kesenangan, bola matanya berputar-putar bahagia. 
Seakan memberitahu kalau kertas itu ikut bergetar akibat getaran pada garpu tala.

Yah, ia sangat akrab dengan alat-alat laboratorium IPA. 
Pastilah akrab,  tempat bermainnya di laboratoirum IPA, hehehe…

Saat itu,  saya masih bertugas di SMP Balocci, kebetulan saya jadi kepala lab IPA, maka setiap mengajar di lab,  Fandi selalu saya bawa dan ia senang sekali bermain dengan alat-alat laboratorium.  

Kecemasan atas perkembangan kecerdasan Fandi baru betul-betul sirna setelah  ia  masuk SD. 

Akibat pernyataan dokter yang terus membayangi pikiran, maka jadilah saya mama-mama yang selalu merepotkan gurunya. Hampir setiap hari saya bertanya kepada guru kelasnya. 

Apalagi kalau melihat kebiasaannya di rumah yang tidak mau membaca, ia lebih senang pelajaran berhitung. Setiap kali diberikan buku bacaan, ia tepis dan ia ganti dengan pelajaran berhitung.

Pernah satu waktu saya ke sekolahnya, oleh gurunya ia diberi PR berhitung tersendiri. Saya protes, kenapa anak saya diperlakukan tidak sama dengan temannya. Temannya diberi PR berhitung tiga nomor eh anak saya diberi PR enam nomor dan berbeda pula dari yang lainnya.

Ternyata menurut gurunya, kalau diberi PR yang sama pasti temannya meniru sama dia, tidak jadi PR tapi dikerjakan saat itu juga.
Masih menurut gurunya, kalau dia  menuliskan PR  di papan tulis, Fandi menulis di buku PR langsung dengan jawabannya, nah temannya tahu dan meniru. Maka tidak jadi PR deh. Olehnya itu, ia diberi soal tersendiri dan lebih banyak.

Alhamdulillah, saya lega. 
Ternyata Fandi  tidak masuk kategori tidak pandai sekalipun dalam hal membaca masih kurang, setidaknya otaknya masih bekerja dengan baik.

Anak Manja yang Dimanjakan

Saya melihat Fandi suka sekali mengaji, atas dasar itulah saya masukkan ia ke pesantren selepas tamat SD. Ia ikhlas saja dimasukkan ke sana, tetapi bapaknya kurang ikhlas.

Bagaimana tidak saya katakan demikian,  tiap hari ia berkunjung ke pesantren. Kalau tahu ada anak lain yang mengganggu maka Beliau pasang badan. 

Saya menyesal juga kenapa ya saya tidak masukkan ke pesantren yang jauh, biar bapaknya tidak terlalu sering berkunjung ke pesantren.

Lah,  ini pesantrennya  selalu dilewati tiap pulang mengajar, maka jadilah ia rajin berkunjung.

Selama di pesantren,  beberapa kali Fandi mewakili pesantrennya mengikuti lomba matematika. Walau tidak pernah menang tetapi masuk 10 besar dan mewakili pesantrennya sudah membuat saya bangga. Setidaknya ia lebih pandai matematika dari santri lainnya.

Sayangnya, cita-cita saya agar Fandi jadi  penghafal Al Qur’an  tidak tercapai. Walaupun begitu, saya tetap bangga kepadanya. Karena ia tumbuh menjadi pemuda yang baik, rajin sholat, terutama pergaulannya terkontrol.
Ia selalu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya.

Cat Hitam Tanda Stres

Suatu waktu, Fandi minta uang untuk beli cat. Ia ingin mengecat kamarnya. Sebagai mama yang baik, saya senang. Fandi sudah mulai mandiri. Maka saya berikan uang itu, dan percaya ia pasti bisa melakukannya.

Alhasil ia beli cat, lalu bersama temannya ia cat kamarnya dan dengan bangga ia pamerkan kepada saya.

“Ma,  sudah-mi kucat kamarku, masuk maki, nyaman sekali suasananya.”

Daaan ... saya tertegun.

Kamarnya dicat warna hitam!

Dinding dan plafonnya semua hitam. Astagfirullah! 
Apa bagusnya coba?

Kamar yang hanya seluas 3 kali 3 meter itu semuanya gelap. 

Begitu bapaknya datang, Beliau geleng-geleng kepala sambil berkata.
“Gigimu mami yang kelihatan Nak, itu juga kalau kau ketawa.” Hahaha….

Peristiwa itu terjadi selepas tamat SMA. Kata adiknya.
 “Fandi stres mama, tidak lulus di UNHAS.”

Yah sudahlah, saya hanya minta dia untuk mengubah warna plafonnya jangan hitam semua, dan dindingnya diberi sedikit sentuhan putih agar tidak terlalu kelabu.

Apakah itu pertanda stres? Saya tidak tahu. Yang pasti ia kecewa karena tidak lulus di beberapa perguruan tinggi negeri.

Oleh bapaknya, ia didaftarkan di STIMIK Handayani.
“Yang penting ia kuliah, tidak perduli di perguruan tinggi mana. Kalau tinggal di rumah, ia bisa tambah stres.” Bagitu pikir bapaknya.

Satu hal yang saya kagumi dari Fandi, ia tidak gampang putus asa. Selama setahun ia menjalani kuliah di STIMIK sambil ikut bimbingan belajar. Targetnya adalah tahun berikutnya ia harus lulus di teknik UNHAS.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan harapannya. Ia lulus dan menyelesaikan S1 nya di teknik UNHAS  dengan nilai yang memuaskan.




Gagal Lanjut S2


Kenapa Fandi gagal lanjut S2, padahal saya sudah setuju dan bersedia membiayai kuliahnya? 
Postingan berikutnya saja yah saya ceritakan.


Bersambung …











67 komentar

  1. ah, Bunda bikin penasaran. lagi asik-asik baca kisah si Fandi eh malah selesai dan berlanjut. oh iya, gimana perasaannya itu tinggal di kamar warna hitam? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu panjangmi, nanti bosanki bacai gang.

      Hapus
  2. Pastinya panas hahaha...

    Terlalu panjang ceritanya bela

    BalasHapus
  3. Hidup anak sulung... Sebagai anak sulung memang agak-agak gimana gitu. Kadang dilema untuk menjadi diri sendiri dengan panutan buat asik. Beruntung kalau perannya sama, keren, kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak sulung selalu dituntut jadi teladan buat adik-adiknya.

      Hapus
  4. Bunda, maaf ya, saya ngakak mbayangin itu kamar dicat warna hitam. Hahaha..ini yang kemarin nikah bukan bun?

    BalasHapus
  5. Jadi sekarang kamarnya Fandi warna apa kak? Hehehehe.

    Semangat fandi untuk tetap belajar. Langsung ingat skripsi sendiri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa lalu itu Icha, sekarang Fandi sudah tinggal di luar Makasar. Ayo selesaikan cepat skripsinya.

      Hapus
  6. Yaaa... Gantung lagi deh ceritanya Bunda :(
    Padahal saya udah penasaran pengen tau cerita tentang Fandi.

    Alhamdulillah yaa Bun, ternyata tidak seperti yang dibayangkan bakal jadi anak yang tidak pintar. Ternyata Fandi malah tumbuh dan berkembang jadi anak yang cerdas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti dilanjut ya, mata sudah tak mau diajak kompromi hehehe.
      Alhamdulillah, Fandi sudah dewasa sekarang.

      Hapus
  7. Deh padahal tulisannya ini panjang tapi tidak terasa, malah pas bersambung, kok jadi kesel hahaha.

    Saya harus bisa menulis tentang anak saya kayak seperti ini, setidaknya ada kenangan. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuliski selagi masih kecil. Kalau sudah besarmi, banyakmi kenangan yang terlewatkan.

      Hapus
  8. Anak sulung selalu jadi kebanggaan Ibu. Ya iyalah first born. Semoga si Sulung tetap shaleh, sukses,dan berbakti ke orangtua ya Bun...

    BalasHapus
  9. Masya Allah, Fandiii ... Kita tak harus bisa segala hal, cukup fokus dan ahli dalam 1 hal itu sudah cukup, ya Bunda... Semoga saleh dan mendapatkan istri salehah...

    BalasHapus
  10. MasyaAllah ... Selalu ada cerita bersambung kalau membicarakan buah hati kita ya, Bund. Ditunggu lanjutannya, yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu banyak kisah yang bisa dituliskan kalau urusan anak, hehehe...

      Hapus
  11. Waktu seumuran Fandi saya senang sekali bermain di Laboratorium IPA dan menyenangi matematika. Tapi seiring waktu bergeser pula apa yang disenangi. Perjalanan hidup setiap orang berbeda dan selalu melegakan jika selama ini dapat dijalani dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, yang penting tetap berjalan pada jalan yang lurus di.

      Hapus
  12. Wah lebih senior sedikit anakta bunda daripada saya heheh titip salam deh (hahah apa sih)
    ditunggu kelanjutan ceritanya, penasaran kenapa nda sambung s2..

    BalasHapus
  13. Duhhh penasaaraaan kelanjutannya hdhe. eh saya beda setahun dengan Fandi loh kak. Hihi.. Saya juga senang dengan Laboratorium IPA, dulu ummiku sampe belikan mikroskop ala ala gara gara mau kubawa pulang mikroskop di sekolah hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakaknya atau adiknya Fandi? Eh Nunu kan seumuran dengan anaknya sahabatku, ah nantipi kuceritakanki.

      Hapus
  14. Kak Fandi mengecat hitam kamarnya masih bagus sih, Bunda.. Setidaknya tidak lari ke hal hal yang negatif ketika stress. ((ternyata anak pertama ta lebih tua dari saya, bun)) wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya alhamdulillah. Wah Faryl keren, sudah bergaul sama mama-mama, aups hihihi...

      Hapus
  15. waaah aku penasaran dengan cerita selanjutnyaaa. Sama sih saya juga gagal S2 wkwwk, mau keluar negeri enggak lolos beasiswa. Coba ke UI, enggak keterima wkwk. yaudah sekarang menikmati jadi ibu rumah tangga aja, hehe. biar suami yang S2 hihihi ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ibu rumah tangga jauh lebih mulia loh

      Hapus
  16. Bunda..anak laki-laki memang susah diduga ya
    Cat hitam buat warna kamar...duh
    Tapi Alhamdulillah, akhirnya bisa kuliah dan lukus di universitas yang diimpikan.
    Ditunggu lanjutan ceritanya..

    BalasHapus
  17. Awalnya sya kira anaknya msih kecil kak, trnyata diceritakan sampe besar. Spertinya Fandi seumuran sama sya deh. Sya lahir 1997 angkatan 2014 dkampus. Kuliah teknik juga. Klo si Fandi, ohiya. Baru cek ternyata 1991. Lebih tua dari saya. Hahaha.

    Ngakak ketawa pas bagian cat dinding wrna hitam itu, trs smpe bilang "tinggal gigimu mami yg kliatan itu nak" hahaha. Spertinya dia terobsesi dengan dunia rock n roll kak. Mkanya di cat hitam smua.

    Bdw, Kren ya punya ibu seorang blogger. Klo mau baca cerita masa kecil tinggal buka blog ibu hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaaa Rey itu seumuran dengan anak keempatku

      Hapus
  18. Penasaran nih sama cerita selanjutnya. Ditunggu yaa bunda..

    BTW, tahun kelahiran saya dengan anak sulung bunda sama lho..1991, bedanya saya kelahiran Februari :)

    BalasHapus
  19. Ditunggu kelanjutan storynya Bunda, seru kiiii hahahha Fandi ini yang menikah kemarin ya Bun? Alhamdulillah

    BalasHapus
  20. Kok pake bersambung sih bun....bikin penisirin bingits.
    Lanjutannya kapan nih...

    BalasHapus
  21. Yah, bunda. saya udah asik baca ceritanya. eh, bersambung. ditunggu cerita selanjutnya ya, bund.

    BalasHapus
  22. Waduh, kamar di cat hitam semua, kok bisa kepikiran gitu ya bun? Rapi salu deh buat putranya,sukses terus ya

    BalasHapus
  23. Ibu deket banget ya sama putranya?�� semoga putranya makin soleh & membanggakan ya bu

    BalasHapus
  24. Masyaallah... Saya baca perkata, penasaran dengan ceritanya. Saya gak punya anak laki. Hehe... Nungguin kisah selanjutnya ya Bun...

    BalasHapus
  25. Jaket Merah jaket almamaterku mbaa. BTW Kasihan kok si sulung bs jatuh di ketinggian? Beruntung gk parah y gegar otaknya..
    Alhamduliilah.. Penasaran sm ceritanya bersambung, ditunggu yaa MBA...

    BalasHapus
  26. Sulung yang keren dunia akhirat. In sya Allah

    BalasHapus
  27. Masya Alloh, nggak kebayang kalau jadi Bunda.Mendengar penjelasan dokter yang seperti itu pasti sudah dag dig dug saka. Hehe. Alhamdulillah Allah beri yang terbaik ya , Bund. Btw, anakki juga plek sama bapaknya. Suatu ketika ada saudara jauh ketemu Najwa,langsung aja nyeletuk, "Anaknya Didit, ya? Nah, yang ini pasti istrinya," Saya kaget kok beliaunya tahu, ternyata karena wajah Najwa plek bapaknya.Hahaha

    BalasHapus
  28. Mbak.. sekarang kak Fandi usianya brp ya? Alhandulillah ya mba. Meski dulu pernah jatuh tp kak Fandi tumbuh menjadi anak yang pandai

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah .. Fandi menjadi anak yg membanggakan keluarga ya..

    BalasHapus
  30. Alhamdulillah Fandi tumbuh sehat dan cerdas ya, Mba. Etapi maaf, saya agak sedikit ketawa pas baca bagian bapaknya yang hampir tiap hari mengunjungi Fandi ke pesantren. Biasanya kan ibu ibu yang kayak gitu ya, haha

    BalasHapus
  31. Salut sama Fandi, ndak gampang menyerah. Alhamdulillah.
    Btw, bagaimanami itu kamar yg dicat serba hitam dii? Dehh gelapnya pasti itu, untung mauji dia rubah kembali cat plafonnya dii.
    Menunggu lanjutan kisahnya, Mak :)

    BalasHapus
  32. Wah, Mas Fandi ini seumuranku. Cerita hidupnua seru abis ya. Kutunggu cerita lanjutnya, Bun.

    BalasHapus
  33. Wuehehehe Fandi seumuran adik saya, Mbak. And langsung aku teringat juga sama adek yg nggak lulus PTN dan sempet down juga tapi ngga sampe ngecat kamar jadi hitam, hihihi maaf ya Mbak kok aku mlaah jadi ngakak

    BalasHapus
  34. Semua anak memang memiliki karakter dan takdir hidup yang berbeda-beda ya mba, tapi sebagai ortu kita berkewajiban mengarahkan dan berdoa yang baik-baik. Duh, jadi deg-deg dengan anak sulungku cewek yang cuek habis, moga bisa membuatku tersenyum bahagia, aamiin

    BalasHapus
  35. Wah asyik nih ceritanya jadi pengen baca sambungannya hahaha...lucu pas bagian ayahnya bilang yg keliatan giginya aja...hahaha... alhamdulillah setresnya enggak keterusan ya..hehe..

    BalasHapus
  36. Yah bersambung. Tapi fandi kan masih muda ya mba, bisa lanjut kuliah S2 nya kapan saja *sotoy, padahal belum baca kelanjutannya hehehe

    BalasHapus
  37. Penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Fandi ini hampir seumuran dengan adik saya. Kalau adik saya kelahiran 93 :)

    BalasHapus
  38. Anak sulung selalu menjadi kebanggaan bunda. Ihh selisih 4 tahun dengan anak sulungku. Sekarang sedang proses skripsi yang adaa aja hambatannya. Sampai minta cuti karena mau kerja dulu

    BalasHapus
  39. Semoga selalu sehat ya bunda buat abang Fadlan ya,,,sukses dan tercapai semua keinginnanya

    BalasHapus
  40. Maa syaa Allah semoga ananda sehat selalu, dimudahkan langkah dan upaya baiknya dalam meujudkan seluruh impiannya, sukses dan jadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang. Aamiin

    BalasHapus
  41. Inspiring bgt mb ceritany
    Saya enggak bisa membayangkan gimana waktu itu pas kejadian
    Anakny hebat bundany juga hebat
    Smoga makin sholeh dan cerdas y mba

    BalasHapus
  42. Wah ternyata anaknya udah ada yg segede itu ya mbak :D
    Btw kamar hitam asal tau cara pengecatan juga desain interiornya bisa jd bagus lho. Skrng kan lg zaman tu anak laki2 kamarnya hitam digambarin planet2 hehe.
    Moga2 anaknya sukses ya mbak, gk ngrasa stres2 lg hehe

    BalasHapus
  43. Aku lagi membayangkan semua cat diganti warna hitam:)
    Fandy hebat kaya gini karena punya orangtua yang hebat mbak. Menunggu kelanjutan ceritanya tentang Fandy, Allhamdulillah andy mengizinkan ya untuk ditulis

    BalasHapus
  44. Wah Kak Fandi ini luar biasa ya, soal hitungan matematika bisa jauh di atas teman2nya.
    Anak lelakiku dulu juga pernah jatuh gitu kebentur kepala mba pas bayi malahan. Udah takut banget waktu itu. Alhamdulillah kesini-sininya tidak apa-apa ternyata.

    BalasHapus
  45. Menunggu cerita selanjutnya. Punya 2 anak laki2 jadi selalu menarik dengar cerita ortu lain yg pny anak laki2 juga

    BalasHapus
  46. mbaaa sulungmu udah besaaar ya..dan Aku suka baca perjuangannya yang tak kenal lelah! Selalu semangaaaat yaaa

    BalasHapus
  47. Bun ditunggu kelanjutannya aku suka sama ceritanya

    BalasHapus
  48. Ya Allah semoga dimudahkan segalanya buat si sulung ya BUnd, semoga sulung mau S2 menuunggu cerita lengkapnya. Bagaimanapun juga orangtua selalu ingin yang terbaik untuk ank, tapi kadang anak maunya beda

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *