Sabtu, 08 Juli 2017

METAMORFOSIS KURA-KURA

Judul Buku: Metamorfosis Kura-Kura
Penulis: Edi Sutarto
Penyunting: Dampriyanto
Perancang Sampul: Sandy Ramadhan
Tata Letak: M. Sharifudin
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Cetakan  pertama, Desember 2015


Apa yang menarik dari buku ini?
Pertama kali melihat sampulnya, terus terang saya tidak tertarik. Tidak tertarik karena gambarnya yang tidak jelas. Antara gambar wajah manusia dengan kura-kura, antara gambar wajah yang tersenyum, cemberut dan sedih. Ini sampulnya gambar orang atau kura-kura sih?


Ah..yah, ini pasti gambar kura-kura, kan judul bukunya metamorfosis kura-kura. Judulnya ciamik mengundang tanya, apakah kura-kura bermetamorfosis?Baiklah! Sebaiknya saya baca saja dahulu.



Membuka halaman pertama, mata saya tertuju pada testimoni dari Habiburrahman El Shirazy.


Membaca kumpulan cerpen ini seperti merasakan lezatnya saraba. Hangat, sederhana, lezat, menyehatkan, dan tidak membosankan. Nilai-nilai edukatif diracik dalam cerita yang memikat. Enak dinikmati seperti minum Saraba.”

Iii..keren kan? Itu tanggapan penulis top bin keren lho. Penasaran? Sumpah saya juga penasaran!

Lalu buka lembaran berikutnya. Ada catatan Taufiq Ismail (Saya berani bilang, yang tidak kenal sama sosok ini, pasti tidak pernah nonton televisi, apalagi membaca). 


Lalu ada rektor UNHAS, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Palubuhu, MA. Ada pula Prof Aris Munandar, M.Pd (rektor UNM Makassar), lalu ada Yudhistira Sukatanya dan yang tidak kalah kerennya, ada Asma Nadia. 


Sambutan ditulis oleh seorang penulis top, jangan baper yah kalau saya katakan, bahwa yang memberi sambutan dalam buku ini adalah Helvy Tiana Rosa. Wuisss!

Melihat sekumpulan sastrawan hebat ditambah penulis-penulis keceh, maka jangan salahkan diri ini jika animo untuk membacanya semakin tak terbendung.

Terdapat 17 cerita pendek karena buku ini, memang ini adalah kumpulan cerita-cerita yang menarik. Cobalah baca salah satu judul cerpennya, Lapar Ayah.

Lapar Ayah. Sebahagian cerita dalam cerpen, Lapar Ayah ini sangat akrab bagi saya, juga semua guru di Indonesia. Kelakuan guru yang kelihatannya serius, rajin padahal sesungguhnya sibuk dengan diri sendiri, sampai-sampai dia tidak menyelisik setiap raut muka muridnya, bahwa dalam ketenangan murid-muridnya terdapat jiwa yang kacau balau.


Yang Tak Dikatakan Monyet. Terdapat percakapan seru antara monyet dengan kupu-kupu yang menggambarkan kegagalan suatu proses metamorfosis akibat ulah siswa yang sedang melancong. Lagi-lagi kritikan pedas terhadap ulah sebahagian guru di negeri yang kita cintai ini. Jleb banget, apalagi buat saya yang berprofesi guru.

Bejo jadi Biji. Kata ndeso cukup menggelitik, apalagi saat ini yang lagi ramai dengan kata-kata ajaib itu. Ndeso! Saya bukan orang Jawa, tetapi sangat paham artinya. Barangkali inilah yang disebut, "nama ndeso, otak  kota" (huaaa..saya terlalu memaksakan). Tetapi itulah kenyataan dalam cerpen ini, seorang lelaki dengan nama yang ndeso tetapi memiliki otak cemerlang.


Metamorfosis. Bercerita tentang guru yang sedang bermetamorfosis, hingga mampu mengepakkan sayap-sayap indahnya. Sampai di sini, saya tertegun. Bercermin pada diri, apakah saya telah menjadi kupu-kupu? Atau jangan-jangan sampai setua ini, saya masih saja menjadi kepompong.

Lalu akhirnya saya tak mampu lagi menuliskan setiap cerpen yang disajikan dengan apik ini. Ceritanya beragam tapi makna yang tersirat di dalamnya adalah satu, menginspirasi.

Oh iyah ada satu cerita, oh bukan, tetapi dua  sebelum saya akhiri.
Pertama, cerita yang cukup  lucu dengan akhir  yang tidak dinyana. Onde-Onde dan Sarabba.

Cerpen kedua adalah: Ingin Jadi Kura-Kura
Saat membaca cerpen yang menutup buku ini, ingatan saya seketika terbang dan hinggap pada satu wajah, sifat dan perangainya sama dengan Ibu Mardiah. Dan sayangnya, belum ada siswanya seperti dr. Fatir, membuat Ibu Mardiah ingin menarik kepalanya ke dalam batok tempurung rumahnya. Malu.

Jangan salah yah, bukan Ibu Marda, hehehe…

Maka pantaslah apabila buku dengan jumlah halaman 104 ini diendros oleh sejumlah sastrawan, penulis dan para akademisi.

2 komentar:

  1. Jadi penasaran sama bukunya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik mbak membacanya. Terima kasih sudah berkunjung. Maaf baru lihat komennya.

      Hapus