Ramadan, Lebaran, dan Kenangan

Minggu, 02 Juni 2019


Ramadan memang selalu menyisakan kenangan, walaupun kebiasaan-kebiasaan masyarakat Indonesia selalu sama setiap tahunnya. Namun ada saja cerita menarik  yang menjadi pemanisnya.

Demikian pula yang terjadi dalam keluarga kami.

Jika tahun lalu, putra sulung saya masih mudik dan bisa berpuasa di lima hari terakhir sekaligus berlebaran bersama kami, maka tahun ini ia memilih mudik ke rumah mertuanya, itu berarti ia akan menjalani akhir-akhir Ramadan serta berlebaran di daerah kelahiran istrinya.

Semoga tahun depan, giliran kami yang dipilih mereka. Aamiin.

Eh, tiba-tiba saya membayangkan, jika suatu saat anak-anak sudah menikah atau bekerja di daerah lain, maka pastilah kesunyian akan menyergap rumah kami.

Mungkin saat itu kami sudah uzur, lemah dan sepi. Kami hanya akan sahur berdua. Tidak ada lagi drama membangunkan anak-anak untuk sahur bersama dan tidak ada juga riuhnya celoteh saat berbuka puasa.  

Aarraagh …

Daripada saya membayangkan hal-hal yang mengilukan hati, lebih baik saya cerita saja tentang drama yang pernah terjadi di   keluarga kami dalam bulan Ramadan.

Yaah sekedar mengenang saja.

Drama Saat Sahur


Saat membangunkan anak-anak untuk sahur adalah drama yang dialami oleh hampir semua keluarga yang punya anak kecil, eh anak yang sudah remaja juga kadang tak kalah dramanya.

Dari kelima anak saya, yang paling sulit dibangunkan itu adalah Uci, putra ketiga dan putri bungsu saya, Nabila.

Suatu waktu, entah sahur yang keberapa. Tiga putra saya sudah bangun dan duduk manis di depan meja makan. Tapi oleh bapaknya, belum boleh makan kalau belum kumpul. Sementara Uci belum bangun juga padahal sudah tiga kali saya dan bapaknya bergantian membangunkan.

Waktu itu, Nabila belum lahir dan Uci masih kelas 3 SD

“Kalau mauki kasi bangunki Uci bawa memang maki air Ma.” Kata Fandi.
“Saya pa kasi bangunki Ma.” Ami, putra keempat tampil jadi pahlawan.

Maka Ami masuk ke kamar sambil membawa timba berisi air.

Tiba-tiba terdengar suara,  gedebuk!
Maaa….!

Ami berlari keluar sambil menangis, badannya basah.
Natendangka  kakak Uci Ma, tumpahmi air kena bajuku.” Isak Ami.

Fandi dan Ical serentak terbahak. Saya menahan senyum geli sambil berpandangan sama bapaknya.

Rewa duduku, rasako, hahaha….” Ledek Fandi.
“Saya saja malla-malla kasi bangunki, pasti assempaki too…” Ical ikutan meledek.
“Kauji bilang, bawa memangki air ka mau ditimbai mukanya kakak Uci.” Ami protes.
“Itu untuk mama atau bapak, ka tidak berani Uci assempa kalau mama kasi bangunki.” Fandi menjelaskan sambil terbahak.

Sejurus kemudian, Uci keluar dari kamar dengan muka datar.

“Kenapa nutendangki Ami tawwa Uci?” Tanya Fandi.
“Mauka nasirami, barani-barani. Mama-ji yang boleh siramka yang lain jangko coba-coba, passempa itu nudapa.” Uci menjawab sambil mengancam.

Rewana,  tantara kapang.” Ical nyeletuk kesal.
“Bukan tentara tapi pilot, mauka saya jadi pilot.” Uci tak kalah ketusnya.
“Aamiin.” Kami serentak mengamini.

Maka dramapun berakhir dan mereka kembali akur.

Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani membangunkan Uci kecuali saya atau bapaknya.

Baju Harus Seragam


Memiliki empat orang putra yang usianya tidak terpaut jauh, cukup menguras pikiran saat menjelang lebaran. Pakaiannya harus serupa, baik model maupun warnanya karena jika tidak, maka akan terjadi drama berkepanjangan.  

Pernah suatu waktu, saya tidak menemukan empat baju dengan warna yang sama. Yang ada hanya tiga baju, terpaksa warna baju Fandi berbeda dengan ketiga adiknya.

Awalnya tidak ada masalah. Mereka terima saja, apalagi Fandi sangat puas dengan warna pilihan saya. 

Tiba pada hari H, kami sudah bersiap-siap ke lapangan.

Ical, Uci, dan Ami sudah berpakaian lengkap. Tinggal Fandi yang masih sibuk keluar masuk kamar.

“Ndi, ayo pakai bajumu, nanti kita telat Nak!” Seru saya sambil menyiapkan sarapan.
“Nda kudapatki bajuku Ma” Keluh Fandi.
“Ada di balik pintu kamar, mama semalam gantung di situ.”
“Tidak ada Ma, hilangki.” teriak Fandi
“Ah masa hilang.  Adiji itu.” Saya beranjak ke kamarnya.

Sangat yakin baju itu saya gantung di balik pintu kamar, lah semalam kan saya yang siapkan  semua.

Tadaaa…. baju itu tidak ada.

Maka jadilah kami semua bantu mencarinya. Lemari diubek-ubek dan semua sudut rumah tak luput diperiksa, tapi hasilnya nihil.

“Mungkin ada yang lebih suka baju ta Nak, pakai maki saja baju lama, yang penting kan bersih dan rapi.” Bujuk bapaknya setelah pencarian yang melelahkan tanpa hasil.

“Baju keduaku mo de kupake, nda mauka pake baju lama.”
“Ih baju kaus, nantipi dipake kalau pulangki lebaran.” Protes adiknya, Ical.
Biarmi, daripada pake baju lama.” Fandi berkeras.
Iye, pake baju kaus saja.” Saya putuskan cepat, daripada telat salat id.  

Mungkin saat itu salatku kurang khusyuk, kepikiran sama baju yang raib entah kemana. Padahal jelas-jelas saya setrika dan simpan di tempat yang aman. Kalau ada pencuri yang masuk ke rumah, kenapa hanya satu baju yang diambil, kenapa tidak ambil saja semua, kan baju-baju itu tergantung di tempat yang sama.

Pulang salat id, pencarian dimulai kembali. 
Iseng-iseng bapaknya buka mesin cuci. Saya menegur beliau.

“Tidak mungkin ada di dalam mesin cuci, itu kan pakaian kotor semua.”

Bapaknya hanya tersenyum dan tetap membuka penutup mesin cuci.

Alamak,  baju itu ada di sana lengkap dengan hangernya.

“Siapa yang simpan bajunya kakak Fandi di situ?” Saya betul-betul gusar.

Tak ada satupun yang menjawab. Tetapi sekilas saya melihat senyum kepuasan dari bibir Uci.

“Kenapa Nak, kamu sembunyikan baju kakak Fandi?” Saya langsung menodong Uci.
“Kenapa memang warna bajunya beda, ndak sama dengan yang lain.” Katanya ketus.

Melongo satu detik mendengar jawabannya.

Sejak saat itu, saya tak mau lagi membedakan warna dan model baju mereka hingga saatnya mereka bisa memilih sendiri.

Demikian cerita saya.

Selamat menyambut hari lebaran, semoga kita  terlahir fitri kembali. Aamiin.

Sumber Pribadi, Foto Lebaran Tahun 2013


READ MORE

PEREMPUAN BAIK INDONESIA LEBIH BAIK

Minggu, 19 Mei 2019

Tulisan ini pernah saya ikutkan lomba pada ulang tahun IIDN, alhamdulillah menang, sekalipun bukan juara 1, atau 2, bahkan 3.

Dan saya bangga telah menuliskan ini, karena telah berhasil menyuarakan hati para perempuan. Terlebih lagi berhasil menang dan berhak mendapatkan kiriman hadiah. 
Selembar kain batik adalah bukti kemenangan itu.



Sumber gambar: Pixabay

Perempuan Baik,  Indonesia Lebih Baik


Selama kurang lebih 30 tahun menjadi guru,  telah memberi saya kesempatan bertemu, berbicara bahkan mendengarkan curahan hati ibu-ibu, orang tua siswa saya. 
Dari mereka saya banyak belajar tentang hidup, banyak mendengar informasi tentang kerasnya kehidupan yang mereka jalani dan dari mereka pula saya melihat banyak penderitaan, kekhawatiran sekaligus rasa tidak percaya diri bahkan cenderung pesimis tentang masa depannya.

Karenanya saya mencoba menuliskan curahan hati mereka agar dapat dijadikan salah satu alasan, bahwa  Indonesia bisa lebih baik apabila perempuannya baik, karena saya sangat yakin, bahwa di tangan perempuanlah Indonesia bisa lebih baik.

Perempuan yang akan melukis negara ini dengan garis-garis ketegasannya, sehingga anak-anaknya juga tegas melawan segala godaan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan.

Perempuan yang akan melukis dan menggoreskan sapuan halus dengan  kuas cinta agar anaknya menjadi lebih perasa, lebih halus budi pekertinya. Dia pula yang akan menumpahkan cat segala warna pada kanvas kehidupan anaknya sehingga hidup anak-anaknya lebih berwarna dan dinamis.

Namun demikian untuk menciptakan perempuan-perempuan hebat, yang tegas tetapi lembut, yang perasa namun dinamis, diperlukan alasan dan berbagai sarana agar mereka dapat menunaikan tugas mulianya.


Bahagiakan Perempuan


Percaya atau tidak, di Indonesia masih banyak ditemukan kasus perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT,  Perlakuan KDRT  itu, bukan hanya karena dipukul, disiksa fisiknya melainkan siksaan lain berupa siksaan pada jiwanya dan perasaanya.

Masih banyak ditemukan, laki-laki sebagai kepala rumah tangga justru melimpahkan tanggung jawabnya kepada istrinya. Sifat keegoisan laki-laki yang menyerahkan seluruh tanggung jawabnya untuk membina dan mendidik anaknya tanpa mau berkontribusi dalam mengayomi anak  mereka.

Bahkan beberapa di antaranya ditinggalkan oleh suami disebabkan oleh berbagai hal, ditinggalkan dalam kesusahan ditambah dengan tanggung jawab memelihara dan membesarkan anak.

Bagaimana mungkin Indonesia bisa lebih baik jika perempuan terutama ibu tidak bahagia.

Bukankah perempuan adalah multitalenta, ia bisa berperan sebagai ibu, dokter, guru, asisten rumah tangga yang mengerjakan segala jenis pekerjaan rumah, mulai jadi tukang masak, tukang cuci, bahkan jadi tukang bersih-bersih.
Bahagaikanlah Perempuan!

Jika perempuan bahagia, maka siapapun akan takjub  dengan kekuatan yang dimilikinya.

Pelayanan Kesehatan Prima


Indonesia akan lebih baik apabila kesehatan setiap rakyatnya terpelihara, terutama perempuan.
Tahukah pemirsa, masih banyak rakyat Indonesia  yang mendapatkan pelayanan kesehatan  buruk.

Mereka diperlakukan tidak nyaman karena kurang mampu membayar. Dimulai ketika akan melahirkan di rumah sakit bersalin. Mereka akan mendapatkan  pelayanan berbeda antara pasien umum dengan pasien yang  mengandalkan kartu BPJS.

Tidak berhenti sampai di situ, pemilik kartu BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga rupanya berstarata dan berkelas-kelas. Semakin sedikit  iuran yang dibayar oleh pengguna maka akan semakin rendah pula kelasnya.
Semakin rendah kelasnya  maka pelayanan kesehatan yang diterima juga akan semakin minim.

Bayangkanlah, seorang ibu yang melahirkan dengan kondisi seperti di atas, akan mendapatkan pelayanan kesehatan minim, maka alih-alih mendapatkan perawatan prima agar ibu dan anaknya sehat malah mendapatkan perlakuan sebaliknya.

Singkatnya, pelayanan kesehatan di negara yang kita cintai ini belum merata untuk semua rakyatnya. Bahkan beberapa kasus, adanya seseorang yang tidak selamat jiwanya karena ditolak oleh rumah sakit, tentu saja dengan berbagai alasan.

Maka jaminlah kesehatan seluruh rakyat Indonesia, apabila mereka sehat maka mereka akan berkarya. Terutama kaum perempuan. Kalau perempuan, ibu sehat, maka akan melahirkan generasi yang sehat pula.

Sumber gambar: Pixabay

Pemahaman yang Salah pada Program Pendidikan Gratis


Beberapa daerah di Indonesia menggunakan pendidikan gratis sebagai bahan “jualan” pada saat pemilihan kepala daerah atau PILKADA, sejauh ini memang ampuh.

Namun pernahkah mereka memikirkan dampaknya?

Tidak dipungkiri, pendidikan gratis memang cukup membantu, tetapi beberapa masyarakat sering kebablasan memandang  pendidikan gratis itu, sehingga menganggap semua kebutuhan pendidikan anaknya adalah gratis.

Bagi orang tua yang mengerti tentang pentingnya pendidikan, biasanya secara sukarela menyiapkan segala keperluan pendidikan anaknya, tetapi bagaimana dengan sebahagian orang tua lainnya, yang memandang pendidikan hanya sekedar mendapatkan selembar ijazah semata, mereka dengan entengnya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Mereka seakan tidak mau tahu, bahwa belajar baik di sekolah atau di mana saja tentu memerlukan dana, baik untuk kesediaan buku-buku pelajarannya maupun peralatan belajarnya.

Bukan program pendidikan gratis yang salah, melainkan cara mensosialisasikannya yang tidak benar. Sebaiknya pemerintah menjelaskan, bahwa pendidikan gratis hanya untuk membiayai beberapa komponen saja dari seluruh pembiayaan sekolah, tetapi kesediaan buku pelajaran bagi anaknya, adalah tetap menjadi tanggung jawab orang tua.  

Perempuan Harus Cerdas


Perempuan harus cerdas, ini adalah harga mati bagi bangsa Indonesia jika ingin lebih baik. Bukankah sudah sering kita dengar istilah, bahwa perempuan adalah tiang negara.

Diibaratkan jika sebuah bangunan yang memiliki tiang rapuh, maka sudah dipastikan bangunan itu tidak akan bertahan lama. 
Demikian pula suatu negara. 
Jika ibu tidak cerdas maka pendampingan terhadap putra-putrinya juga tidak cerdas, akibatnya hanya akan menghasilkan keturunan yang tidak cerdas, dan akan menghasilkan generasi yang lemah. 

Maka bimbinglah kaum perempuan, biarkan dia menghabiskan waktu luangnya untuk belajar, agar dapat menjadi ibu cerdas dengan harapan generasi yang lahir dari rahim ibu cerdas akan menghasilkan keturunan yang cerdas.

Bukan hanya itu, seorang ibu yang cerdas akan menangani setiap problem kehidupannya dengan bijak dan cerdas.

Marilah wahai perempuan-perempuan Indonesia! 
Benahi dirimu dengan ilmu, kuatkan jiwamu dengan iman, haluskan budimu dengan akhlak. 

Sadarilah, di tanganmu akan lahir generasi penerus yang akan menjadikan Indonesia lebih baik.


READ MORE

Curahan Hati, Bisakah Menjadi Ide Tulisan?

Senin, 13 Mei 2019



Selama bulan Mei tahun ini, baru satu tulisan yang berhasil saya selesaikan dan posting di blog.


Tidak ada ide Marimar!

Ah, itu  hanya alasan, karena sebenarnya ide berseliweran dimana-mana.
Hanya butuh kekuatan jiwa untuk mengeksekusinya. 
Butuh kemampuan menantang diri, semampu apa kamu, eh saya,  menghalau segala godaan, agar ide yang menari-nari di kepala itu bisa ditangkap lalu menceburkannya ke dalam kolam kata-kata, membentuk kalimat-kalimat lalu menjadi satu tulisan yang pantas dibaca orang.  

Jadi tidak ada alasan tidak ada ide. 
Tsaa!

Sebenarnya saya mau curhat pemirsa, tapi bingung. Curahan hati itu, sebaiknya saya lampiaskan, eh tuliskan  di mana? 

Mau “nyampah” di medsos, ah malu.  Nanti ada yang berkata dan berpikir,  “ini kok sudah bau tanah masih bertingkah seperti kanak-kanak.”

Bisa-bisa sayalah yang menjadi penyebab orang lain melakukan dosa, alhasil saya kecipratan dosa juga jadinya.  

Nah, daripada curhatan itu jadi penyebab orang lain berdosa, terus nulisnya juga setengah-setengah, maka sekalian saja  saya tuliskan di sini. 

Curhatan jadi dan blog sayapun  terselamatkan dari sarang laba-laba.
Simbosis mutualisme😅

Soal curhatan lainnya bisa juga dibaca di sini. 


Rencana yang Gagal


Tiga bulan sebelum Ramadan, saya sudah berniat melakukan banyak hal sehubungan dengan aktivitas di dalam bulan penuh rahmat ini. Saya menuliskannya secara rinci, apa saja yang akan saya lakukan sekaligus tidak lakukan.

Namun rencana manusia tak selamanya sejalan  dengan ketentuan Allah Swt. Beberapa rencana batal diteruskan, diganti dengan rencana lain karena sesuatu dan lain hal.

Ada juga rencana yang telah dijalankan, tetapi berhenti di tengah jalan sebelum tuntas.

Sebaliknya pekerjaan, kegiatan, dan kebiasaan yang saya niatkan  tidak akan saya lakukan, justru berjalan lancar bagaikan jalan tol, bebas hambatan.

Ah, mengerjakan sesuatu yang buruk dan sia-sia ternyata jauh lebih gampang dibandingkan mengerjakan hal baik dan bermanfaat.

Tergoda Medsos


Saya sudah berjanji, sekesal apapun hati, tak akan menuliskannya di akun media sosial saya. Ternyata saya gagal pemirsa.

Sepekan memasuki bulan Ramadan, manakan curhat tentang  keadaannya yang tidak nyaman di suatu tempat. Tidak langsung ke saya sebenarnya, tetapi melalui cerita dan tulisan-tulisannya yang dia bagikan di media sosialnya, saya bisa menangkap, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan keadaannya.

Maka jadilah saya si bunda yang kepo, cari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tetapi ia tak sedikitpun mau cerita.

Hingga suatu hari, ia minggat dari rumah itu, pulang ke rumah orang tuanya yang notabene adalah adik saya. Yang namanya minggat, tentu saja tidak ada manis-manisnya.

Pergi meninggalkan cita-cita yang sekian lama ia perjuangkan dengan keringat dan air mata. Meninggalkan pekerjaan, di mana di situ ia gantungkan harapannya agar bisa melanjutkan kuliah dengan tekad belajar mandiri.

Saya rasa, tindakan nekadnya itu karena ada hal yang sangat menyesakkan dada.  

Singkat cerita, semuanya terungkap. Mendengarnya bercerita, melihat matanya yang sembab, anak dan ibu bertangisan telah membobol pertahanan saya.

Tak tahu bagaimana cara  membelanya, mungkin wejangan saja tak cukup, maka  curhatannya di media sosial saya tanggapi. Berusaha menghibur dan sedikit marah lalu nyerempet-nyerempet menyinggung pihak pelaku.
Namun apa yang terjadi?

Bukannya ada penyesalan, malahan kemarahan semakin membabi buta. Anak usia 18 tahun ditekan,  dicemooh, dan dibully habis-habisan oleh orang terdekatnya, sungguh suatu perbuatan yang tidak pantas.

Alhamdulillah, ia kuat. Sungguh sangat kuat, karena di balik kesedihannya ia bisa tertawa dan terus aktif. Walau saya tahu, kalau itu adalah usahanya membunuh duka.

Namun demikian, saya lega karena sudah membantunya meng-up curhatannya hingga dilihat dan ditanggapi pihak sana.  Paling tidak, mereka tahu kalau manakan saya itu  tidak sendiri. 
Ia masih memiliki saya yang siap mendukungnya, paling tidak saya siap menjadi telinga dan mulutnya.   

Namun saya sedikit menyesal, telah “nyampah” di medsos. Maafkan pemirsa, semoga kalian tidak melihatnya, heuuu…🙏

Penyakit Menunda Waktu


Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu ….” (Qs. Ad-Duha: 1-3).

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al-asr).

“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja, demi malam dan apa yang diselubunginya, demi bulan apabila jadi purnama, sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Maka mengapa mereka tidak beriman?” (Qs: 17-20).

Ketiga ayat dalam Alquran di atas adalah sebahagian sumpah Allah Swt atas nama waktu. Saya yang fakir dalam ilmu agama ini, bolehlah berpendapat bahwa, waktu adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan, terlihat betapa Allah Swt memperingatkan hamba-Nya dengan bersumpah atas nama waktu.

Tak dinyana, saya seringkali terlena hingga kadang tidak disiplin menggunakan waktu.

Rencananya mau menulis tapi melirik ke tumpukan pakaian yang mau dirapikan.

Ah, nanti sajalah nulisnya, selesaikan dulu lipatan pakaian ini. Sejurus kemudian, saya duduk di depan pakaian yang bertumpuk sambil meraih telepon genggam.

Mau periksa watshApp dulu ah, siapa tahu ada pemberitahuan penting dari kerabat. Terus berlanjut ke facebook, lalu ke instagram, terus ke telegram, teruuus begitu.

Waktu terus berjalan, ternyata sudah hampir dua jam berselancar di dunia maya sambil duduk di depan pakaian yang melambai-lambai.

Alamak!

Jadinya saya tidak menulis,   tidak pula mengerjakan pekerjaan domestik. Menyesal?
Tak ada gunanya, waktu tak pernah mau mengalah.

Untungnya Saya Ibu Rumah Tangga


Sebagai ibu yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan dan kelangsungan kehidupan dapur, maka patutlah saya bersyukur. Karena selama bulan Ramadan, suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus bangun pada dini hari untuk mempersiapkan makan sahur.

Maka di situlah keuntungan seorang ibu seperti saya.

Saat menunggu matangnya nasi, saya bisa nyambi menyelesaikan setrikaan.
Sambil menanti subuh usai sahur, saya bisa menulis.

Alhamdulillah, naskah  untuk antologi cerita anak beres dikirim ke email PJ-nya. Lega.


Saya  tidak menyesal-menyesal amatlah jadinya.

Demikianlah curahan hati saya. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga tetap sehat hingga terlahir fitri kembali.

READ MORE

Hari Pendidikan Nasional 2019; Antara Kenangan dan Harapan

Kamis, 02 Mei 2019




Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari Pendidikan Nasional bukanlah tanpa sebab. Tanggal itu dipilih sebagai penghargaan kepada menteri pendidikan (pengajaran) pertama Indonesia, yaitu Ki Hadjar Dewantara, di mana tanggal 2 Mei, adalah hari kelahiran beliau.

Keputusan hari nasional ini ditetapkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Awal Kemerdekaan


Waktu itu, awal kemerdekaan tahun 1945-1950 Kementerian  Pendidikan Indonesia masih bernama  Kementerian Pengajaran. Ki Hajar Dewantara sebagai menteri pengajaran pertama sangat getol menyuarakan identitas bangsa.

Ki Hajar Dewantara mewajibkan bagi sekolah untuk mengibarkan sang merah putih setiap hari di halaman sekolah, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghapus nyanyian Jepang Kimigayo.

Jika kita merujuk kepada sejarah munculnya Kementerian Pendidikan Indonesia, selayaknya jiwa kebangsaan kita menggelegar.

Betapa di masa itu, para pejuang  mengorbankan jiwa raganya demi kemajuan rakyat dan bangsa Indonesia di segala bidang, termasuk di bidang pendidikan. Para pejuang pendidikan memeras pikirannya agar dapat menemukan pola pendidikan yang baik dan lepas dari pengaruh penjajah.

Dimulai dari era awal kemerdekaan, tahun 1945-1950. Berlanjut ke era demokrasi liberal, tahun 1951-1959. Satu-satunya produk yang dihasilkan pada era ini adalah lahirnya payung hukum legal formal, yaitu UU Pokok Pendidikan Nomor 4 Tahun 1950.

Penyebabnya adalah  stabilitas politik pada waktu itu masih langka, sehingga program belum bisa dideskripsikan dengan baik. Ini terbukti dengan diadakannya pergantian kabinet sebanyak tujuh kali dalam masa sekitar sembilan tahun.

Era Demokrasi Terpimpin


Memasuki masa tahun 1959-1966, era demokrasi parlementer berakhir dengan terbitnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, menjadi era demokrasi terpimpin. Ini adalah era ujian berat yang menimpa bangsa Indonesia. Dimulai dengan konfrontasi dengan Belanda dalam masalah Irian Barat hingga peristiwa G30S/PKI.

Pendidikan di Indonesia masih sebatas mencari cara agar seluruh rakyat Indonesia bisa mengenyam pendidikan secara merata.

Era Orde Baru


Memasuki era Orde Baru (1966-1998), kebijakan di bidang pendidikan cukup banyak dan beragam, mengingat di era ini pemerintah yang berkuasa lumayan lama, 32 tahun.

Di era ini pulalah terjadinya pergeseran tahun ajaran baru, dari awal tahun ke bulan Juni. Tepatnya pada tahun 1978.
Yang bersekolah pada masa itu mengalami pertambahan masa belajar, yaitu  enam bulan, karena proses penerimaan murid baru dilaksanakan enam bulan kemudian.

Selain itu, di era orde baru terjadi pertumbuhan industri yang sangat pesat, akibatnya dibutuhkan tenaga kerja terampil dan siap pakai. Maka dimunculkanlah sistem pendidikan baru, yaitu program diploma. Masa belajar cepat, ilmu seadanya dan langsung kerja.

Termasuk dalam dunia pendidikan. Ada yang hanya membutuhkan waktu setahun belajar di perguruan tinggi atau disebut  Diploma 1,  bisa langsung mengajar di sekolah setingkat menengah pertama atau SMP. Lulusan  Diploma 3, bisa mengajar di sekolah menengah atas (SMA).

Maka tidak heran jika keberadaan  guru waktu itu hingga saat ini sering dipandang sebelah mata dan  diragukan kemampuannya, terutama guru produk lama seperti saya hehehe….

Lalu haruskah hal itu diterima begitu saja? 

Tentu saja tidak.

Karena kenyataannya, banyak guru yang mencoba melepaskan belenggu kekurangan ilmu itu dengan cara belajar kembali. Terus menerus meningkatkan pengetahuannya melalui berbagai macam cara.

Ada yang melanjutkan pendidikannya ke S1 bahkan hingga S3. Ada pula yang mengikuti pelatihan-pelatihan, workshop, dan seminar.

Berjuang  mengangkat harkat dan martabatnya sebagai guru yang berkualitas sehingga keberadaannya dapat dihargai sebagaimana layaknya.

Terlepas dari usaha guru meraih nilai akademis dan level pendidikan, toh pengalaman guru yang mengabdi sekian tahun di sekolah, melakukan tugasnya dengan ikhlas di tengah minimnya fasilitas dan penghargaan, sepatutnya bisa menjadi indikator keberhasilan.




Tak mengapa  hari pendidikan nasional tidak termasuk hari libur nasional seperti hari buruh, setidaknya pemerintah sudah menetapkan  satu peringatan yang dikenal sebagai  hari pendidikan nasional.

Anggaplah itu sebagai  penghormatan kepada siapa saja yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Walaupun menurut Nelson Mandela, “ pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa anda gunakan untuk mengubah dunia.”


Selamat HARDIKNAS 2019



READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *