Bumikan Sejarah; Dukung Mochammad Sroedji Menjadi Pahlawan Nasional

Minggu, 07 April 2019



Kebiasaan saya setiap memasuki awal tahun pelajaran, saat pertama kali berjumpa dengan  peserta didik baru,  adalah bertanya tentang hal-hal seputar keluarganya, asal sekolah, hobbi dan pelajaran yang mereka sukai atau kurang disukai.

Pada umumnya mereka menjawab bahwa pelajaran yang paling tidak disukai adalah pelajaran matematika, karena menurut mereka itu adalah pelajaran paling sulit sehingga kurang diminati. Sedangkan pelajaran yang paling banyak disukai adalah pelajaran seni setelah pelajaran olahraga.

Ini hanyalah survei kecil-kecilan sehingga tidak bisa dijadikan tolok ukur, karena kenyataannya banyak juga murid saya yang suka pelajaran matematika.

Namun demikian, saya bisa menarik kesimpulan bahwa memang ada pelajaran-pelajaran tertentu yang hampir semua murid menyukainya dari tahun ke tahun,  Seperti olahraga dan seni.  

Bagaimana dengan pelajaran sejarah? 


Sepulang dari kegiatan diskusi tentang sejarah pada Ahad, 31 Maret 2019 di Up Normal Makassar, saya bertanya kepada Nabila, putri bungsu saya.

“Siapa pahlawan nasional yang kamu kenal?
Eh, ia balik bertanya. “Siapa di?”
Sejurus kemudian, ia jawab juga.
“Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Jendral Sudirman, Soekarno.”
Pertanyaan berikutnya.
“Siapa pahlawan nasional yang berasal dari Sulawesi Selatan?’
Spontan ia menjawab. “Sultan Hasanuddin.”

Alhamdulillah, ia tahu.  Tapi hanya itu. Selebihnya ia tidak tahu.

Pertanyaan ini sering juga saya lontarkan kepada murid-murid saya, Ironisnya, jawaban mereka hampir sama dengan jawaban Nabila.

Ada apa dengan Nabila dan sebagian besar murid-murid saya?

Saya pikir-pikir, itu bukan kesalahan mereka. Yang salah adalah saya dan sebagian besar guru-guru Indonesia. Saya dan mereka tidak pernah mengajarkan, menceritakan tentang siapa, mengapa dan bagaimana sejarah para pahlawan Indonesia itu.

Untungnya  belum terlambat, karena saya masih hidup sehingga  masih bisa menebus kesalahan itu dengan menceritakan tentang sejarah bangsa dan tokoh-tokoh  pahlawan Indonesia yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan bangsa ini.
(Hm, saya harus belajar lagi ini tentang sejarah pahlawan-pahlawan Indonesia.)

Belum terlambat!


Karena ada bu Irma Devita yang terus  berjuang tanpa lelah  membumikan sejarah melalui Irma Devita Learning Center.

Perjuangan Irma Devita





Awalnya bu Irma Devita, berjuang untuk kakeknya sang patriot Moch Sroedji agar bisa dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Pengajuan itu dilakukan pada tahun 2016, walaupun sulit dan hingga hari ini belum terealisasi namun perjuangan bu Irma tak pernah surut.

Berangkat dari kisah-kisah yang diceritakan oleh neneknya, ibu Rukmini istri dari Moch Sroedji  tentang kegigihan kakeknya berjuang merebut kemerdekaan Indonesia,  Irma kecil berjanji kepada neneknya  untuk mengabadikan sejarah kepahlawanan beliau.

Hingga suatu waktu, Irma Devita  dirundung  kegelisahan seakan ada yang menagih janji yang pernah ia patrikan kepada neneknya. Ditambah lagi dengan  kerisauannya ketika mengetahui  bahwa masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jember tidak mengenal sosok Letkol Moch Sroedji, sekalipun ada patung besar Moch Sroedji yang berdiri di tengah-tengah kota Jember, bahkan namanya dijadikan nama jalan.

Maka di sinilah awalnya, bu Irma mulai menapaki sejarah Moch Sroedji. Mengumpulkan data dan informasi tentang kepahlawanan beliau.

Tak lelah berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya demi mengumpulkan data, menyusuri  jejak-jejak perjuangan sang  Letkol Mochammad Sroedji hingga ke pelosok desa bahkan ke negeri Belanda.


Setelah semuanya terkumpul, bu Irma menghimpunnya dalam sebuah novel yang bertajuk “Sang Patriot”
Tidak berhenti sampai di situ, bu Irma juga menyusun tiga komik sekaligus dengan judul yang sama, Sang Patriot.

Mengenalkan Pahlawan Indonesia, Membumikan Sejarah Bangsa


Yang menarik dari kegiatan Irma Devita Learning Center adalah kegiatan sosialisasi yang tiada henti dan tanpa lelah untuk mendapatkan dukungan agar sang kakek, Letkol Moch Sroedji mendapatkan gelar sebagai  Pahlawan Nasional, justru berdampak kepada munculnya nama-nama pahlawan lainnya  yang juga sudah dilupakan oleh rakyat, terutama masyarakat Jember.

Bahkan tercipta satu program “1 sekolah 1 TNI” dan masyarakat Jember semakin antusias mencari dan menggali sejarah tentang pahlawan-pahlawan daerahnya.

Inilah yang disebarkan hingga ke Makassar. Bagaimana masyarakat Makassar, terutama generasi mudanya agar dapat  mengenal sejarah daerah sekaligus mengenal pahlawan-pahlawan daerahnya.


Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Tjahyo. Harapan beliau, bagaimana kita bekerja sama dan menciptakan suatu sistem agar anak-anak lebih mengidolakan pahlawan bangsa sendiri.

Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal pahlawan fiktif, serupa batman dan sejenisnya daripada pahlawan bangsanya sendiri.

Karena dengan mengenal pahlawan bangsa, maka kita dan anak-anak telah  membumikan sejarah bangsa.

Bagaimana Caranya Membumikan Sejarah?


Ada diskusi dinamis dalam kegiatan hari itu. Bahwa berangkat dari pengalaman saya di sekolah, yang enam hari dalam sepekan bertemu dan bersentuhan langsung dengan anak-anak milenal, menemukan kenyataan.

Bahwa mereka, anak-anak yang lahir di tahun 2000-an ke atas cenderung lebih menyukai informasi yang visual, kurang konsentrasi untuk membahas sesuatu yang mereka anggap informasi lama. Atau lebih frontalnya, mereka kurang menyukai sejarah yang disuguhkan melalui  buku yang isi dan gambarnya  kurang menarik.  

Walaupun menurut Anwar Jimpe, berdasarkan pengalaman beliau, yang beberapa kali menyelenggarakan kegiatan pelatihan kepenulisan, di mana pesertanya tak pernah sepi dari anak-anak muda, beranggapan bahwa, buku tak akan tergantikan karena format yang kekinian itu hanya bersifat sementara. Informasi yang didapatkan akan gampang datang teapi  mudah pula dilupakan.


Kenyataannya, seperti yang saya tuliskan di awal bahwa,  anak-anak milenial kurang menyukai pelajaran sejarah. Oleh sebab itu mereka kurang mengenal sejarah bangsanya sendiri.

Bukan salah mereka.

“Mungkin karena kita yang tergolong generasi X, kurang piawai menyuguhkan informasi sejarah yang menarik.”

Dan tahukah Anda? Kalimat  di atas  diamini oleh dua anak milenal yang duduk di sebelah kiri kanan saya.

Saya yakin, kehadiran mereka di acara diskusi itu adalah salah satu awal yang baik.

Semoga perjuangan kita membumikan sejarah dapat tercapai,  dengan harapan akan muncul anak-anak milenal yang menciptakan sesuatu, mungkin pelajaran dalam bentuk visual yang menarik, aplikasi atau apapun itu bentuknya yang akan memperkenalkan dan menceritakan  tentang sejarah bangsa Indonesia.

Agar sejarah bangsa Indonesia tidak terkubur oleh masa.

Semoga perjuangan Irma Devita agar Letkol Mochammad Sroedji mendapatkan gelar pahlawan nasional segera terwujud.

READ MORE

Designing the Unlimited You; Bahagia, Berdaya, Berkarya Melalui Metode Point of You

Sabtu, 16 Maret 2019


Tak akan lahir seorang anak jika ia tidak unggul. Kalimat ini sering sekali saya sampaikan kepada anak-anak dan  murid-murid saya.

Perhatikanlah proses terbentuknya janin, dimulai dari awal proses pembuahan hingga terbentuknya zigot!

Perjalanan panjang sel kelamin laki-laki (sel sperma) yang  melalui banyak rintangan dan persaingan untuk bersatu dengan sel kelamin perempuan (sel telur) untuk membentuk manusia baru.

Proses itu disebut pertilization atau pembuahan.

Selama melakukan hubungan sexual terdapat sekitar 300 juta sel sperma masuk ke dalam vagina. Segera setelah itu,  jutaan di antaranya akan mengalir keluar dari vagina atau mati karena tak kuat berada di lingkungan yang asam namun banyak juga yang selamat.

Selanjutnya sperma harus melewati serviks dan membuka rahim yang biasanya tertutup, namun leher rahim terbuka beberapa hari saat wanita berevolusi.

Sperma berenang melalui lendir serviks menuju rahim, saat itu jutaan sperma mati karena tak kuat melewatinya atau terperangkap di dalam lipatan serviks.
Di dalam rahim, kontraksi otot membantu sperma dalam perjalanan menuju ovum atau sel telur, namun anti imun dalam rahim menyangka kalau sperma  yang masuk itu adalah benda asing sehingga menghancurkan ribuan sperma lainnya.

Ribuan sperma yang selamat terus melanjutkan perjalanannya menuju sel telur,  beberapa  sperma  terjebak masuk ke tuba falopi yang kosong dan ada pula yang berenang menuju ke telur yang tidak dibuahi.

Sementara itu, di dalam tuba falopi suatu benda yang disebut cilia mendorong telur keluar menuju rahim. Cilia ini sangat aktif sehingga banyak sperma yang terjebak dan tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju sel telur.

Selama perjalanan ini, bahan kimia di saluran reproduksi  berubah yang menyebabkan sperma menjadi hiperaktif, berenang lebih keras dan cepat  menuju tujuan hingga akhirnya sperma mencapai sel telur.

Hanya beberapa lusin dari 300 juta sperma tersisa


Namun perjuangan belum berakhir, karena sel telur dilindungi oleh lapisan sel yang disebut corona radiata. Sperma harus melewati lapisan ini. Jika berhasil maka sperma terus melakukan perjalanannya dan berlomba memasuki zona pellucia.

Hanya satu sperma untuk satu sel telur


Sperma yang pertama kali melakukan kontak akan membuahi sel telur. Pada saat sperma berhasil melakukan kontak, saat itu pula selaput luar sel telur menarik sperma masuk ke dalam dan secara otomatis selaput sel telur mencegah sperma lain menempel padanya.

Telur melepaskan zat kimia yang menyebabkan sperma lainnya menjauh dan menciptakan membran pelindung yang tidak dapat ditembus. Sperma lain tak bisa lagi menempel.

Maka saat itu di dalam sel telur terjadi proses penyatuan materi genetik jantan dan materi genetik betina.

Sampai di sini, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ada perjuangan yang sangat keras juga persaingan yang sangat ketat dari sperma untuk dapat mencapai telur.

Ada perlindungan yang diberikan oleh telur, agar proses penyatuan dua jenis materi genetik dapat berlangsung dengan aman.

Maka apakah yang membuatmu merasa diri lemah dan tidak unggul?


Namun dalam proses perjalanan kehidupan selanjutnya, kadang orang berada pada lingkungan yang tidak disukai atau tidak diinginkan. Bertemu dengan orang-orang yang tidak sefrekuensi dengannya sehingga timbul berbagai gejolak rasa.  

Terjadi berbagai hal, mungkin musibah, cobaan, dan ujian sehingga diri merasa lemah, sedih, lelah bahkan putus asa. Karenanya kita merasa orang yang paling susah, paling sedih, paling menderita.

Lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang unlimited.


Sumber: Pixabay.com

Hal-hal itulah yang akan dicoaching  oleh perempuan supel nan cantik, Fauziah Zulfitri, ACC.  dalam kegiatan Designing the UNLIMITED YOU.

Insight Indonesia bekerjasama dengan Sombere Social Media Partner, mengundang 10 bloger perempuan Makassar sebagai peserta , di mana nantinya akan diberikan coaching game dan  Exploring and sharing menggunakan metode Points of You.

Mengapa Perempuan?


Oleh Fauziah Zulfitri, ACC yang biasa dipanggil coach Ochy ini menjelaskan di awal sesi, bahwa perempuan diberkahi kemampuan yang multi tasking dan sumber daya yang luar biasa.

Memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, seperti mengalami haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sehingga secara tidak langsung, perempuan dituntut menjadi lebih kuat, walaupun sering dijuluki sebagi makhluk yang lemah.

Dengan mengikuti coaching ini, peserta diharapkan bisa menengok ke dalam diri sendiri sehingga menemukan sesuatu yang berharga dalam dirinya dan menjadi lebih berdaya, karena perempuan yang berdaya akan mampu memberdayakan perempuan lain.

Mengenal Coach Fauziah Zulfitri, ACC


Coach Ochi (Foto: sumber pribadi)

Terlahir dengan nama Fauziah Zulfitri merupakan psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Pengalaman profesionalnya di beberapa Multi National Company telah dijalaninya selama 10 tahun di Jakarta dan 9 tahun di Makassar. Mayoritas di area Human Resources Development.

Beliau pernah menduduki posisi sebagai GM Operations of Trans Studio Makassar (2010 - 2013). Jabatan terakhirnya adalah sebagai Director of Hospitality Group, Bosowa Corporation.

Memiliki Certified Trainer, Certified Professional Coach & Executive Coach, NLP Practitioner & Hypnotherapist. Beliau adalah perempuan pertama di Indonesia timur yang meraih gelar cretified    sebagai Associate Certified Coach (ACC) dari International Coach Federation, maka tidak heran jika perempuan cerdas dan lincah ini telah melakukan lebih dari 2000 jam Training Session dan lebih dari 300 jam Professional Coaching & Mentoring
WOW!

Sesi Coaching

Sumber foto: Awie (www.fillyawie.com)

Ada yang menarik pada sesi coaching ini, setidaknya buat saya yang jarang sekali curhat. Saya selalu merasa sebagai perempuan yang kuat, tidak gampang menangis, tidak mudah putus asa, dan orang lain tak perlu tahu kesusahan saya. 

Ternyata  saya tidaklah sekuat itu, hehehe….

Baru memasuki sesi awal, saya sudah tak dapat membendung air mata.
Dipersilahkan untuk mengambil gambar demi gambar yang mewakili perasaan dan pikiran hingga di akhir sesi, saya merasa PLONG!

Ajaibnya, saya tidak sendiri.

Kesembilan perempuan bloger Makassar itu merasakan hal yang sama. Alhamdulillah, setidaknya saya tak perlu malu.

Padahal kalau ditilik dari segi usia, harusnya saya sudah lolos. Tidak perlu lagi terharu apalagi mewek. 

Tapi menurut coach Ochy, banyak yang belum bisa menengok ke dalam dirinya sendiri sekalipun usianya sudah setengah abad. Ditampar sama usia.

Saat proses  coaching berlangsung, peserta diarahkan untuk melakukan empat hal, yakni pause, expand, focus, dan doing.

Goalnya adalah sering-seringlah menengok ke dalam diri, temukan sumber daya yang dimiliki lalu tingkatkan kualitas diri karena ANDA adalah  manusia yang UNLIMITED.






Terima kasih Insight Indonesia (Videonya keren dan teristimewa terima kasih kepada Coach Ochy yang telah memperkenalkan metode Points of You ini. 

Terima kasih Sombere Social Media Partner yang telah memilih saya sebagai peserta. 

Mau tahu tentang Sombere Social Media Partner?
Silahkan hubungi Mamy Ery atau Teh Awie. 


Insight Indonesia
Alamat: Grand Losari, Jl. Losari Permai No. 12, 
Jl. Tanjung Bunga, Tj. Merdeka, Makassar
Telepon: 0822-6007-0003
Website: https://www.insightgroup.co.id/
IG: @insigthgroupID
Facebook: Insight Indonesia






READ MORE

Dia Butuh Telinga Bukan Mulut

Selasa, 05 Maret 2019


Saya termangu membaca kertas tebal warna ungu itu. Di sana tertera nama orang yang lima  tahun ini memproklamirkan dirinya sebagai kekasih saya, Diaz.
Nama Diaz tidak sendiri, namanya bersanding dengan nama perempuan lain. Bukan nama saya.

Undangan pesta pernikahan itu saya amati, tidak ada air mata hanya dada rasanya dipukul godam. Sakit sekali.

Laki-laki yang selama lima tahun ini menjadi orang yang paling dekat, telah menikahi perempuan lain. Tanpa perasaan, mereka mengirimkan undangannya.
Perempuan itu adalah teman masa kecil kami, saya dan Diaz.

Namanya Alfiah. Kami berteman sejak kecil karena sekampung. Demikian pula Diaz. Kami selalu belajar, bermain, dan berangkat ke sekolah bersama-sama. Tamat SMP, Alfiah pindah ke daerah lain, tetapi hubungan kami tidak terputus. Telepon adalah media kami berkomunikasi.

Sore itu sepulang dari acara penamatan SMA,  Diaz mengutarakan perasaannya. Ia menyukai saya dan berniat menikahi saya setelah ia bekerja. Tanpa berpikir dua kali, saya menerima cintanya, karena sejak kecil saya memang menyukainya.

Hampir lima tahun kami menjalani masa-masa indah. Ke kampus bersama, walaupun kami beda jurusan tetapi kampus kami sama. Hingga Diaz berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat setahun dari saya. 

Hanya tiga setengah tahun. Katanya, ia ingin cepat-cepat bekerja lalu menikahi saya.
Saya melambung bahagia.

Diaz memang cerdas dan aktif dalam berbagai organisasi. Mungkin itu salah satu sebabnya ia tidak lama menganggur dan diterima bekerja di salah satu perusahaan BUMN Indonesia.

Enam bulan bekerja di kota yang sama, kami masih sering bersama. Ia selalu menyempatkan waktunya menemani dan membantu proses penyelesaian skripsi saya.

Saat saya diwisuda,  Diaz lebih sibuk dari orangtua saya. Dia  memilihkan salon terbaik agar saya bisa tampil paripurna. Ia meminjam mobil kantornya untuk mengantar saya sekaligus mendampingi. Dia bukan orang asing buat teman-teman dan keluarga saya. Karena hanya dia satu-satunya laki-laki yang selalu ada dalam lingkungan keluarga selain saudara laki-laki dan keluarga lainnya.

Suatu hari Diaz salat magrib berjamaah di rumah saya. Ia diimami oleh bapak. Usai salat dan  berdoa, ia mendatangi bapak dan pamit kepada  Beliau karena esoknya ia akan berangkat ke Bandung. Ia dipindahkan tugas di sana. Ia pamit sekaligus berjanji akan datang melamar setelah enam bulan di sana.

“Saya mau mencari rumah dulu di Bandung Pak, insya Allah enam bulan dari sekarang saya akan datang melamar putri bapak.” Dengan takzim ia ucapkan janji itu.

Bapak mengangguk seraya berkata. “Kalau kamu memang berjodoh dengan anak bapak, pasti akan dimudahkan oleh Allah swt.”

Selama enam bulan di Bandung, komunikasi kami tak pernah terputus. Ada jadwal bertelepon yang telah kami sepakati. Dan ia tak sekalipun ingkar dari jadwal itu.

Facebook Pembuka Tabir


Enam bulan berhubungan jarak jauh cukup membuat jenuh. Facebook adalah media yang saya jadikan tempat untuk mengatasi kejenuhan itu. Saya mencari teman-teman lama, mengajaknya berteman, lalu bercengkrama. Saling memberi jempol dan saling komen untuk setiap postingan.

Saya juga mengajak Diaz untuk aktif di media sosial. Tetapi ia menolak, katanya ia tak punya waktu untuk urusi itu. Pekerjaannya semakin banyak.

Sutu ketika saat membuka facebook,  sungguh kaget melihat postingan foto yang ada di linimasa saya. Foto itu diposting oleh Alfiah, teman masa kecil saya.
Dalam foto itu ada Alfiah, dan tiga orang laki-laki. Salah satunya adalah Diaz.
Saya langsung berkomentar di kolom komentarnya.

| Fiah, kayaknya saya kenal cowok baju biru itu de, hehehe…|
Beberapa saat kemudian, Fia membalas.
| Ha..ha…ha…kenal di mana Neng?|
| Siapa yah Namanya?| Kami berbalas candaan.
| Masa lupa sih, dia Diaz. Teman masa kecil kita. Dia calon imamku loh|

Deg!

Saya tidak membalas lagi komennya. Foto itu saya save dan langsung kirim ke Diaz lewat whatsapp, ditambah kalimat, “tolong jelaskan.”

Diaz membalas.

| Sebentar sayang, lagi rapat. 15 menit lagi selesai |

Duh ya Allah! 15 menit menunggu rasanya 15 bulan, lamaaa..

Saya gelisah menanti penjelasannya. Bukan fotonya, toh di foto itu mereka berempat dan posisi Alfiah dan Diaz tidak berdekatan. Tapi kata-kata Alfiah itu yang bikin insting saya  mengirimkan isyarat waspada.

Akhirnya komunikasi kami terhubung. Dengan bercanda Diaz menjelaskan, kalau Alfiah itu hanya panas-panasin saya. Katanya, ia sengaja. Mau tes tingkat kecemburuan saya. 

Ternyata cemburu betul, hahaha…

Hati saya kembali tenang. Saya minta maaf kepada Diaz juga kepada Alfiah karena sempat curiga. Alfiah hanya menanggapi dengan mengirim emotikon senyum.

Peristiwa itu terjadi 3 bulan lalu. Mungkin waktu itu mereka sudah menjalin kasih tetapi belum berani mengakuinya. Sudah ada pengkhianatan dan mereka menyimpannya dengan rapi.

Barangkali Diaz masih ragu, siapa di antara kami yang paling ia cintai. Lalu akhirnya ia mengambil keputusan. Keputusan yang menghantam dada dan merobek jantung saya.

Tepat enam bulan setelah janji Diaz ke bapak, ia mengirimkan undangan pernikahannya. Ia kabarkan kalau ia telah mengingkari janjinya.

Bapak hanya terdiam saat saya memperlihatkan undangan itu. Matanya kuyu, ia tahu anak perempuannya terluka tapi tak bisa berbuat apa-apa. 
Bapak hanya menghela napas seraya berkata getir,

“ Diaz bukan jodohmu Nak, Ikhlaskan.”

Mudah sekali mengucapkan kata itu. Ikhlas, bukan jodoh, Allah sudah mengatur,  bla…bla..bla..

Tapi mereka tak tahu betapa sesaknya dada ini. Tak ada lagi air mata, karena mata sudah pedis menahan tangis.

Sumber gambar: Pixabay.com


Sahabat saya menceritakan semua duka laranya dengan mata basah. 
Kadang air matanya menderas, kadang bibirnya gemetar, sesekali tersenyum getir.

Saya tak mau memberinya nasehat. Ia tidak butuh. Ia hanya perlu telinga untuk mendengarkan cerita dukanya. Ia butuh  didengar.

Walaupun saya larut dengan kisahnya. Terkadang ikut menangis, kadang pula tersenyum getir mengikuti alur ceritanya dan lebih banyak geram. 

Marah kepada sosok Diaz. 
Tapi apakah itu membantu?


Saya hanya mengajaknya ke masjid. Kami salat.

Usai salat, saya mengajaknya duduk di pinggir Pantai Losari, memandangi laut sambal menunggu terbenamnya matahari. 

Saya tak tahu apa yang dipikirkannya dan saya tak mau mengusiknya. Setidaknya ia tidak lagi menangis.

Sesekali ia menghela nafas sambal berbisik lirih, astagfirullah … La haula wala quwwata illa billah

Semoga  dengan melafalkan kalimat taibah itu,  sesaknya bisa berkurang.

Kisah ini saya persembahkan kepada setiap hati yang luka akibat dikhianati.
Perempuan muslimah, yakinlah dengan ayat Al Qur'an!


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).  ....”
(QS: An-Nur ayat: 26)

Siapapun yang mengkhianatimu, pasti bukan yang terbaik untukmu. Allah swt sudah menyediakan pasangan yang baik buat kamu, hanya perlu memperbaiki dan meningkatkan akhlak baikmu,  agar jodoh terbaik juga yang akan datang membawamu ke pelaminan.

Wallahualam Bissawab

READ MORE

Wajah Baru Kurikulum di Tahun 2019; Seminar Nasional IGI Makassar

Kamis, 28 Februari 2019





Ketika flyer Seminar Nasional dengan tema “Wajah Baru Kurikulum di Tahun 2019” itu disebar di grup-grup whatsapp guru, ada teman yang kirim pesan ke saya. Katanya, “apakah ada lagi perubahan kurikulum?"

Yah, inilah salah satu kelemahan kita, kadang membaca tanpa menyimak dengan baik. Seminar ini tidak akan memperkenalkan apalagi membahas tentang kurikulum baru tahun 2019.

Lah dalaah, kurikulum lama saja (kurikulum 2013) masih di sekitar sosialisasi, keluhan-keluhan karena belum paham penerapan penilaiannya, persamaan persepsi tentang cara menggunakannya, dan sebagainya. 
Padahal ini sudah berjalan lima tahun. Yaah, mungkin karena ini masih usia balita, makanya masih perlu berjalan tertatih-tatih. 

Kita tinggalkan sejenak kurikulum 2013, mari tengok revolusi industri 4.0 yang muncul bagai jelangkung, datang tanpa diundang,  dan pergi tidak diantar. 

Revolusi industri 4.0 memaksa kita berada dalam sistem fisik maya. Hampir semua kegiatan yang dahulu hanya bisa dilakukan di dunia nyata, berpindah ke dunia maya. Internet seakan menjadi kebutuhan utama manusia.

Bahkan  generasi saat ini, dikenal sebagai anak milenial lebih memilih tidak jajan makanan, daripada tak punya kuota internet. Itu mengindikasikan kalau kebutuhan mereka terhadap internet seakan jauh lebih tinggi daripada kebutuhan akan makanan. 

Kabar baiknya, mereka bisa mengakses informasi melebihi kecepatan bicara gurunya di kelas. 
Nah, kalau guru masih terlena dengan gaya belajar dan mengajar seperti dahulu kala, maka jangan marah kalau muridnya lebih cepat menguasai ilmu yang mau diajarkan sebelum sang guru mengajarkannya.

Bayangkanlah, di dalam kelas seorang  guru  sedang menjelaskan  cara membedah katak  dengan tujuan ingin memperlihatkan organ-organ katak, hingga mulutnya berbusa-busa.  
Sementara itu,  muridnya  bisa langsung membedah katak, lalu  memperlihatkan organ-organnya  lengkap dengan penjelasan yang rinci. 
Kan tidak asyik dan bikin keki. 

Olehnya itu, guru harus secepatnya berbenah. Belajar lebih keras agar bisa mengimbangi gaya belajar anak milenial.

Tak perlulah ikutan gaya milenialnya, cukup amati, pelajari, dan modifikasi.

Tingkatkan Kompetensi Guru Bersama IGI


Ikatan Guru Indonesia (IGI) sebagai salah satu organisasi guru yang diinisiasi pada tahun 2000 dan resmi berbadan hukum pada tanggal 26 November 2009.

Periode kepengurusan berikutnya, yakni 2016-2021 dengan Ketua Umum Muhammad Ramli Rahim juga telah terdaftar di Kementerian Hukum dan Ham, sangat paham masalah ini.  Olehnya itu, IGI menitik beratkan perjuangannya dalam meningkatkan kompetensi guru. 


Bagi IGI, ujung pangkal dari persoalan pendidikan di Indonesia ada pada rendahnya kompetensi guru Indonesia yang meliputi empat kompetensi, yakni kompetensi profesional, paedagogik, sosial, dan kepribadian.

Dengan mengusung motto “sharing and growing together” IGI sudah melakukan banyak hal melalui gerakan-gerakan seperti berikut.
  1. Gerakan Guru Berintegritas
  2. Gerakan Hemat Energi dan Penciptaan Energi Baru dan Terbarukan.
  3. Gerakan peningkatan kemampuan guru Inklusi dan pendidikan untuk semua
  4. Gerakan Guru Saudara
  5. Gerakan Bayar Balik


Disamping gerakan-gerakan di atas, IGI juga melahirkan 67 kanal  kegiatan pada awal tahun 2018.  
Kanal apa sajakah itu? Silahkan baca di sini.

Pantang Mengajar Kalau Tidak Belajar


Sebagai guru yang menjadi tombak dalam penyelenggaraan Pendidikan, seharusnya berprinsip, bahwa guru harus belajar setiap saat  dan jangan berani mengajar kalau tidak belajar.

IGI senantiasa memberi ruang bagi guru untuk belajar dan berbagi dengan mengadakan kegiatan workshop, pelatihan, dan seminar.

Nah, itulah yang dilakukan oleh Pengurus IGI Daerah Makassar pada awal tahun 2019, yaitu mengadakan  Seminar Nasional, bertempat di Aula Sekolah Islam Athira Kajaolalido. 

Mengangkat tema “Wajah Baru Kurikulum di Tahun 2019” dengan menghadirkan empat pembicara yang berkompeten dibidangnya. 

Mereka adalah Prof. Dr. Jasruddin, M.Si selaku  Kepala LLDIKTI Wilayah IX, H. Irman Yasin Limpo, SH, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, dan H. Muh Hasri,M.Hum utusan Widyaiswara LP3TK Gowa, serta Ketua Umum IGI Pusat, Muhammad Ramli Rahim.

Peserta yang diprediksi akan hadir hanya sebanyak 300 orang, ternyata membludak hingga 400 lebih. Sampai-sampai   peserta yang datang belakangan terpaksa duduk melantai beralaskan karpet. Ini bertanda kalau guru-guru di Sulawesi Selatan, khususnya guru- guru di Makassar semakin sadar akan pentingnya mengupgrade pengetahuannya. 

Demi mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan peserta ini, saya dan teman-teman panitia tak sempat lagi menyimak pembahasan yang disampaikan oleh Pak Hasri selaku pembicara pertama.

Padahal materi yang disampaikan sungguh keren, yaitu Peranan Higher Order Thinkings Skills (HOTS) dalam Pengembangan Kurikulum. Tema yang  populer akhir-akhir ini seiring didengungkannya revolusi industri 4.0. 

Tantangan Kurikulum di Era Revolusi Industri 4.0


Seperti biasanya, kalau Pak Irman Yasin Limpo yang lebih akrab dipanggil Pak None ini berbicara maka hadirin akan terpaku, terpukau, dan menyimak dengan sungguh-sungguh sehingga waktu 1 jam 30 menit itu berlalu tanpa terasa.

Secara garis besar, Beliau menjelaskan tentang perkembangan kurikulum di Indonesia. Dimulai dari kurikulum 1947 yang disebut Rencana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum 2013.

Pak None juga menyebutkan,  bahwa kurikulum itu berubah disebabkan oleh
enam faktor  yaitu globalisasi, teknologi industri, orientasi politik, konsep pemikiran baru, eksploitasi ilmu pengetahuan, dan perubahan internal bangsa.

Apakah pergantian menteri identik dengan pergantian kurikulum? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung situasi dan kondisi bangsa.

Bagaimana seharusnya kurikulum Pendidikan di Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0?


Pak None menjawabnya dengan penekanan bahwa, peserta didik harus memiliki lima kemampuan yang mumpuni dalam menghadapinya. Kelima kemampuan itu adalah sebagai berikut.
  1. Kemampuan berpikir kritis
  2. Kreatif dan inovatif.
  3. Kemampuan berkomunikasi
  4. Kemampuan berkolaborasi.
  5. Memiliki kepercayaan diri.

Jika peserta didik saja dituntut memiliki lima kemampuan tersebut, apalagi guru  yang seharusnya memiliki lebih dari itu. 

Bagaimana bapak dan  ibu guru, sudah siapkah menyongsong revolusi industri 4.0?

Kurikulum Sejalan dengan Perkembangan Pendidikan


Hal lain yang dijelaskan oleh Pak None adalah kurikulum yang selalu sejalan dengan perkembangan pendidikan. Dicontohkan bahwa, Pendidikan 1.0, kurikulum berorientasi kepada guru. Jika disandingkan dengan industri 1.0 berarti ini terjadi pada abad ke-18. Masa itu industri masih berfokus pada produksi mekanik.

Pendidikan 2.0, kurikulum menekankan peserta didik sebagai wadah pengetahuan. Revolusi industri yang terjadi pada saat itu adalah industri 2.0. di mana telekomunikasi dan listrik ditemukan.

Pendidikan 3.0, kurikulum menekankan pada tugas guru sebagai fasilitator. Sedangkan revolusi industri pada masa itu adalah revolusi industri 3.0 yang terjadi pada awal tahun 70-an hingga abad ke-20. Pada masa itu, IT dan penggunaan elektronik mulai mengotomatisasi produksi.

Saat ini kita berada pada pendidikan 4.0 di mana guru diharapkan menjadi konektor, kreator, dan konstruktor lalu  peserta didik akan berfikir tingkat tinggi (HOTS). Hal ini seiring dengan revolusi industri 4.0, di mana sistem fisik maya semakin mengglobal.

Jika peserta didik dituntut berfikir tingkat tinggi melalui HOTS, maka seharusnya guru lebih dahulu menerapkan itu dalam kesehariannya mengajar. 
Sehingga tuntutan sebanding dengan ketersediaan. 

Pada akhir sesi, Pak None menutup dengan mengajak peserta seminar untuk merenungi gambar yang ada di layar, sistem pendidikan di Finlandia.
Hm, kalau sistem pendidikan di Indonesia seperti di Finlandia, sepertinya saya tidak mau pensiun sampai ajal menjemput, hehehe ...

Maunya mengajar terus. 


Bersama pengurus IGI Makassar, Sul-Sel, dan Ketum IGI Pusat










READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *