Saat Pensiun, Haruskah Kita Galau?

Rabu, 05 Desember 2018




Assalamualaikum sahabat.
Baca judul di atas jangan langsung salah menduga yah? Dikiranya saya sudah pensiun jadi mau curhat. Padahal belum, tetapi curhatnya memang iya. Hahaha …

Saya mau membagi cerita tentang teman yang sudah pensiun, lebih tepatnya hasil perbincangan saya dengan mereka. Disimak yah…

Pensiunan Pertama


“Bagaimana kabar-ta setelah memasuki masa pensiun?” Saya memulai percakapan sambil menatap matanya yang kuyu.
“Begini-mi ini kalau sudah tua maki, muncul semua-mi penyakit.” Jawabnya, dengan nada pilu.
“ Sakit apa-ki?” kembali saya tanya dengan menyentuh bahunya.
“ Sakit hati” Jawabnya ketus.

Beuh …. Rada-radanya mau curhat nih teman saya. Okelah , saya ladeni sok perhatian, aslinya kepo.

“Kenapa-ki sakit hati, sama siapa?”
“Sama semuanya. Sama suami yang makin rajin olahraga dan  saya ditinggal di rumah, sama anak-anak, masa saya dijadikan baby sitter .. bla..bla..”
Beberapa menit saya jadi pendengar setia sambil membayangkan bagaimana dan apa yang akan saya lakukan saat saya pensiun.

Belajar dari curhatan teman tersebut, saya berpikir bahwa,  kalau pensiun itu tiba maka saya akan lebih rajin berolahraga. Suami teman saya itu rajin banget olahraga kan, bedanya saya akan mengajak Ayangbeb ikutan olahraga. Jangan sampai Beliau sakit hati kalau saya tinggal dan sehat sendiri, hahahaha… Kenyataannya sekarang Beliau lebih rajin olahraga.



Tidak mau jadi baby sitter ah.. Tapi saya juga pingin gendong-gendong cucu.
Sesekali boleh lah πŸ˜ƒ



Pensiunan kedua


Saat antri di salah satu bank, saya bertemu lagi dengan teman yang juga sudah pensiun. Terjadi lagi perbincangan seperti berikut ini.

“Masya Allah, ibu masih segar setelah sekian lama pensiun. Bagi resepnya Bu.” Saya jujur mengatakan itu. Terlihat dari matanya yang cerah dan senyumnya yang semringah. Lumayan kan dapat resep untuk persiapan pensiun.

“Alhamdulillah Dek. Rahasianya gampang-ji, jangan lupa bahagia.” Jawab Beliau enteng.
“Apa kegiatan-ta sekarang?” mencoba mengulik. 
Lupakan kata Jangan Lupa Bahagia. Sudah basi.

“Setiap terima uang pensiun saya keliling ke rumah anak-anak saya. Pekan pertama saya ke rumah anak sulung, pekan kedua ke rumah adiknya, pekan ketiga ke rumah sibungsu dan pekan keempat kembali ke rumah, luluran,  panggil tukang pijit, siram-siram bunga, dan sebagainya.” Cerita si Ibu sangat bersemangat.
 Wuii…. Bagus juga nih resepnya.

“Berdua-ki sama bapaknya jalan?” Ingat kalau Beliau masih bersama suami.
“Tidak, dia di rumah-ji. Malas-ki pergi-pergi.” Katanya sedikit ketus.
“ Oooo…”

Tidak jadi ah ikuti resepnya, saya kan mau pergi bersama Ayangbeb. Setia gitu sampai tua. Aamiin.




Pensiunan ketiga


Lain lagi cerita teman yang baru  pensiun lima tahun terakhir.
“Setelah pensiun, apa kegiatan Ibu?”
“Oh banyaaak.” Jawabnya antusias.
“Apa saja Bu.” Saya tak kalah antusiasnya.
“Saya ikut majlis taklim setiap akhir pekan, ikut senam jantung dua kali sepekan, saya juga merajut bersama kelompok ibu-ibu RT.”

Wow saya terpukau!

“Apalagi kegiatannya Bu?” Masa cuma tiga kegiatan itu dibilang banyak.
Nyinyir saya dalam hati.

“Saya juga rajin ke salon, yaah hanya sebulan sekali. Tiap Sabtu malam saya jalan-jalan ke Mall dan makan-makan dengan teman kelompok ibu-ibu pensiun.”
“Bersama suami Bu?” Tetep kepoin kabar suaminya.
“Suami saya kan sudah almarhum.” Jawabnya sendu.
“Maaf Bu, saya tidak tahu.” Menyesal tanyakan itu.
“Tidak apa-apa, tapi walaupun suami sudah tiada masih ada anak-anak saya yang selalu datang ke rumah, tidak setiap hari tapi mereka bergantian datang.”
“Ibu merawat cucu?”   Tanya saya lagi. Membayangkan Beliau jadi baby sitter.
“Tidak. Malas urus cucu. Anak saya datang sendiri, hanya mengantarkan uang belanja karena uang pensiunan saya tidak cukup.”

Kalau tiap akhir pekan jalan ke Mall, belanja dan makan-makan.  Terus ke salon tiap bulan,  uang pensiun manalah cukup Bu. Batin saya, tidak berani bilang ke Beliau takut ditabok, hiiii …πŸ˜ƒ

Pensiunan keempat


Bapak yang satu ini lumayan istimewa, fisiknya masih bugar, masih mengajar di salah satu sekolah swasta, dan masih rajin ikut kegiatan-kegiatan lainnya.

“Apa kabar Pak, saya lihat Bapak masih aktif mengajar.”
“Alhamdulillah sehat, itu-ji kutahu mengajar Dek.” Jawabnya dengan senyum dikulum.
“Bersyukur-ki masih bisa mengajar dan terutama masih sehat.”
“Yah begitulah, saya masih ada tanggungan, istri masih menuntut gaji seperti waktu saya masih aktif. Sebenarnya saya sudah lelah tapi mau apalagi terpaksa cari sekolah swasta yang masih mau menerima pensiunan seperti saya.”

Kasihan juga bapak ini, mengajar karena terpaksa saja.

“Kenapa bapak tidak menggunakan uang pensiunnya untuk berbisnis misalnya.” Sok-sok kasi solusi.
“Uang pensiunan saya sudah habis, SK sudah digadaikan di bank untuk ambil kredit jangka panjang.
“Untuk apa Pak ambil uang kredit.”
“Untuk biaya pesta anak saya.” Bisiknya pilu.

Asli bengong!
Tuing … tuing … tuing

Pensiunan kelima


Saya melihat teman satu ini biasa-biasa saja. Kesehariannya di rumah seperti ibu-ibu pada umumnya, beres-beres rumah, merawat bunga, ke pasar, masak dan duduk-duduk di teras membaca sambil minum teh. 
Santai sekali hidupnya, paling tidak itu yang saya lihat. 
Mau tanya-tanya ah.

“Assalamualaikum Bu, bunganya segar semua.” Basa-basi biar tidak dicurigai.
“Waalaikumsalam. Segar karena selalu saya rawat.” Jawabnya datar.
“Dari dulu ibu suka merawat bunga di?”
“Oh tidak, mana ada waktu. Pergi pagi pulang sore. Sampai di rumah urus anak-anak, suami dan sebagainya.” Jawabnya cepat.
“Jadi ibu merawat bunga setelah ibu pensiun?”
“Tidak juga.” Mukanya tiba-tiba muram. 

Nah loh…nah loh…

“Saya merawat bunga setelah melewati tiga tahun pensiun. Tahun pertama pensiun saya stres, tahun kedua saya sakit-sakitan, tahun ketiga saya menjadi langganan psikiater. Lalu psikiater itu  manyarankan agar saya mencari kegiatan yang bermanfaat. Nah, ini-mi yang saya lakukan.”

Saya termangu mendengarnya.

“Maaf Bu, apakah sebelum pensiun tidak melakukan persiapan apa-apa?”
“Persiapan apa Dek? Saya terlalu sibuk di kantor dan urus keluarga. Saya mengupayakan segalanya agar suami dan anak-anak bahagia dan tercukupi semua kebutuhannya.” Beliau menggeser duduknya, badannya tegak dan sorot matanya terlihat tajam.

Apakah ia menyesal telah melakukan semuanya. 
Entahlah.

 “Maaf Bu, apakah ibu menikmati kegiatan ibu sekarang ini.”
“Saya hanya berusaha menikmatinya Dek, tidak tahu melakukan apa lagi. Tunggu ajal saja, kapan datang menjemput.” Jawabnya pasrah.
“Kalau adek lihat saya duduk minum teh, itu saya lakukan sambil mengenang masa-masa kesibukan saya.” Katanya lagi. Masih dengan nada pasrah.

Saya menelan ludah. 
Pahit.

Insya Allah Desember 2024 saya memasuki masa pensiun, pensiun jadi guru di sekolah. Semoga umur saya panjang sehingga bisa menikmati masa pensiun itu.
Tetapi saya hanya pensiun di sekolah, selebihnya saya akan terus bekerja dan mengajar di tempat lain. 

Woiii  …. Kamu sudah tuir Dawiah!

Siapa bilang?

Selama masih hidup “usia” saya akan terus muda dan bergelora. Itu prinsip yang baru saya canangkan 10 tahun terakhir. Pede amat.
Emang pedelah, namanya juga harapan. 

Pensiun itu kan hanya istilah yang diberikan kepada para pekerja yang sudah selesai masa kerjanya. Setiap profesi berbeda-beda masa kerjanya sehingga berbeda pula usia pegawainya saat memasuki masa pensiun.

Masa kerja yang dimaksudkan di sini adalah masa kerja di suatu instansi tertentu dan diikat dengan Surat Keputusan (SK). Karenanya tidak berarti yang pensiun sudah harus berhenti bekerja dan melakukan aktivitas.

Misalnya, saya guru dan akan pensiun jadi guru di sekolah pemerintahan. Namun bukan berarti saya harus berhenti jadi guru, berhenti mengajar dan mendidik.

Masih ada tempat lain, cara lain, media lain untuk tetap menjadi guru dan mengajar. Saya juga akan terus menulis, ngeblog dan terutama membaca. Termasuk membaca jiwamu, heuu…

Kok bisa?

Bisalah! Apa yang tidak bisa di zaman digital kini.

Menurut saya, selama masih ada waktu maka persiapkanlah masa pensiun itu dengan sebaik-baiknya. Dari segi materi, waktu, dan terutama mental.

Jangan habiskan seluruh waktumu demi mengejar pemenuhan finansial keluarga. Kalau urusan uang, pastilah tidak akan ada cukupnya.


Berikan waktu khusus untuk diri sendiri, istilah sekarang me time gitu.

Lakukan kegiatan yang bermanfaat dan bisa berguna di masa yang akan datang. Misalnya mengasah keterampilan menulis, keterampilan kerajinan, dan keterampilan lainnya.

Mudakan jiwamu dengan tetap bergaul dengan yang muda-muda.

Itu saya hihihi … bergaul dengan blogger-blogger muda agar saya bisa menangkap jiwa mudanya. 
Jangan malu berdekatan dan bergaul dengan mereka asal tidak malu-maluin saja.

Kalau sahabat pembaca, apa tipsnya nih dalam rangka menyambut masa pensiun atau masa tua nanti. 
Kasi tanggapannya di kolom komentar yah.

Qoute Dawiah

Apapun pilihanmu tetap bahagia dunia akhirat karena itu tujuan akhir kita.

Sesibuk apapun dirimu jadikan ibadah prioritas utamamu.





79 komentar

  1. harus dinikmati , karena akan memberikan kebahagiaan aklau dinikmati , yang penting sehat dan punya kegiatan positif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah Mbak, yang penting bahagia dan sehat.

      Hapus
  2. Sodaraku setelah pensiun jadi traveler bersama suaminya keliling dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiis mantap banget itu Mbak. Berarti tabungan harus ditambah lagi nih biar ada modalnya, hehehe

      Hapus
  3. Aku tetep sih setuju dengan ibu yg bilang jangan lupa berbahagia itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih. Cuman penasaran saja bagaimana bentuk atau caranya bahagia. Thanks ya

      Hapus
  4. Setelah pensiun memang sepertinya harus tetap ada aktivitas. Mamah dan almarhumah mamah mertua tetap aktif. Saat ditanya alasannya supaya gak cepat pikun hehehe. Begitupun dengan papah saya. Setelah pensiun sempat kayak kurang bersemangat. Alhamdulillah ada yang menawarkan kerja kembali. Jadi papah kembali terlihat semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, pikun.
      Semoga kita tetap sehat dan semangat ya

      Hapus
  5. Bunda hampir sebaya kakak pertama saya ya, dia guru SMP dan pensiun 2023 nanti..

    Semangat mempersiapkan masa pensiun dengan semangat tetap bermanfaat serta menebar kebaikan untuk sesama ya Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah semangat, bersyukur dan bersabar. Titip salam sama kakaknya Mbak Dian

      Hapus
  6. Keren bunda, banyak sudut pandang.. Sungguh menginspirasi��

    BalasHapus
  7. Bundaaaa nanti kalau pensiun fokus nulid aja sambil ngeluarin buku lagi hee aaaminnn. Semoga umur kita panjang dan berkah ya bun

    BalasHapus
  8. aku pernah nulis nih Bun pengalaman ortu (bapak) yang menghadapi masa pensiun. Kalau gak salah judul artikelku " Mencegah post power syndrom". Alhamdulillah Bapak sudah pensiun sejak 2001, satu tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau merasa sudah siap. Di usia 75 tahun ini bapak juga masih mengajar Bahasa Jawa di sma swasta, tapi bukan karena tuntutan dari ibu hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah!

      Sudah usia 75 tahun masih berkarya. Salamin ya sama beliau.

      Hapus
  9. semua orang punya pilihan hidup yang beda beda trgantung tujuan hidup masing-masing, apapun itu yang penting dijalani dengan bahagia dan bersyukur

    BalasHapus
  10. 2024 ya?? masih tuaan bapak saya, mbak. hehehe

    kalau bapak saya insya Allah 3 th lagi pensiun... yaa gak jauh beda lah yaa cuma selisih 2 th wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bapaknya Mbak tetap sehat dan bahagia. Aamiin

      Hapus
  11. Ortuku juga udah pensiun. Baca cwrota di postingan ini ada yang mirip2 juga nih salah satunya ke rumah anak2nya gantian. Kadanv mamaku juga aktif di pengajian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting ortunya sehat dan bahagia. Salam takzim ya sama Beliau.

      Hapus
  12. Aduh kasian ya kalau uang buat pensiun dan lain lain habis hanya untuk biaya pesta anaknya :(. Aku sedih deh. Harusnya anaknya yang nyiapin ya biar ortu jalanin pensiun dengan bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa begitulah sebagian orang Mbak terlalu memaksakan diri, padahal bisa sajakan pesta nikahnya disederhanakan saja.

      Hapus
  13. Kalau tentara suka ada MPP, Mbak. MPP itu Masa Persiapan Pensiun. Biar nggak kaget saja pas udah pensiun. Dulu alm Bapak pernah bercita-cita kalau pensiun pengen angon bebek tapi ternyata Allah tidak menghendaki kami punya rumah di desa, jadi susah buat angon bebek, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya penting banget itu MPP, apalagi tentara kan pensiunnya lebih cepat dari guru (60 tahun).

      Hapus
  14. Belum terlintas di benakku tentang pensiun. Yang terlintas di benakku cuma sedang mengejar mimpiku sebelum bertambahnya usiaku.

    BalasHapus
  15. Bu Dawiah, keren ih. Aku suka tulisannya. Aku suka bu Dawiah dengan semangat mudanya 😊

    Aku jadi teringat cerita teman. Katanya kalau sudah tua, dia dan suami mau menikmati jerih payah mereka dengan menikmati hidup..anak2 disuruh mandiri aja. Tapi bukan berarti mereka gak menikmati hidup saat ini lho. Mungkin harus seperti itu juga 😊

    BalasHapus
  16. Kedua orangtuaku juga pensiunan Bu, mereka Alhamdulillah bahagia jarang sakit. Bapak sejak pensiun suka ke sawah meskipun enggak kerja cuma mengawasi yg kerja bantu di sawah.

    Ibu juga suka bercocok tanam di rumah. Ada banyak sayuran dan buah-buahan hasil tanaman ibu.

    Enggak jadi baby sister wong cucunya yg dekat cuma anak saya. Dulu waktu kecil meski di rumah eyangnya tetap ada si embak yang momong.

    Kalau enggak ada anak saya sepi di rumah. Melihat kedua orangtuaku sehat di masa pensiun itu membahagiakan.

    BalasHapus
  17. Ahh bunda mah keren, jowa mida bingits. Hehehe.. sehat terosss ya Bundsaay... ����

    BalasHapus
  18. Baca semua kisah para pensiunan di atas kok bikin sedih yaa ... Eh kalo irt seperti saya ada masa pendiun nggak ya?��

    BalasHapus
  19. Hampir sama maki umurta dengan umurku di. Sama juga suka main sm yang muda-muda. Setuju hidup itu hrs ada me time nya sekali waktu. Dan itu harus seimbang dgn family time, biar hidup jd berwarna dan semangat, hehe...

    BalasHapus
  20. Ada yang mirip kisah mertuaku. Kalau ibuku emang wiraswasta sih,jadi ya udah biasa kadang gak ada orderan. Tapi anyway, ibuku masih rajin menjahit atau bercocok tanam. kadang juga bikin kue. Kalau mertua emang jarang, jadi skrg lebih banyak kumpul teman pengajian. Ceritanya seru Mbak, menambah wawasan banget.

    BalasHapus
  21. Harus mempersiapkan diri dengan baik untuk masa pensiun. Baik keuangan. Maupun juga aktivitas. Wah kalo aktivitas sih banyak banget yg ingin kulakukan. Mudahan juga uangnya nanti cukup. Nabung dari skrg. Hehe

    BalasHapus
  22. miris yg pensiunan ke4 sk sudah digade buat pesta anaknya :( pelajaran banget nih kalau sekiranya ga ada jangan maksain kasian ortunya duh

    BalasHapus
  23. Masa pensiun bersama blogger kece, byk teman, ilmu, serasa blm pensiun. Terima kasih teman2

    BalasHapus
  24. Semoga semakin berkah waktu-waktunya ketika nanti . Aku jadi ingat cara mengambil uang pensiunan almarhum Ayahk. Dulu buat aku melanjutkan kuliah, semoga kegiatan semakin bermanfaat nanti ya Mbak setelah pensiun nanti

    BalasHapus
  25. Beragam hal yg bisa dilakukan saat pensiun y bu
    Salut buat semua pensiunan produktif
    Saya sendiri nanti bayangin gimana y
    Anak pasti dah besar xixixi

    BalasHapus
  26. Salut banget sama Mba, masih produktif dan terus menginspirasi. Semangat dan sehat selalu mba :)

    BalasHapus
  27. Macam2 dii pengalaman pensiun temanta.
    Masa tua atau pensiun memang harus disiapkan, termasuk misal yg rencana mau resign dan jadi full time di rumah harusmi betul2 siap sebelum ajukan resign itu. Krna klo sdh terbiasa kerja, sibuk dsbnya trus tiba2 di rumah kerjakan kerjaan yg berulang "itu-itu ji saja" bisa jadi kayak temanta yg kelima itu. Weeww!

    Semangaaat Mak, masih ada 6 tahunan lagii dii :)

    BalasHapus
  28. Bunda, koq saya jadi miris ya baca cerita-cerita tentang orang pensiun di atas, sepertinya gak ada enak-enaknya :(

    Ngeblog atau menulis emang jadi salah satu hobi yang bisa jadi kegiatan utama kita di masa pensiun nanti. Otak tetap terasah, jiwa tetap berkembang dan Insya Allah bisa menghasilkan fulus juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balik tulisan ini lagi...
      Yang penting tetap optimis dan selalu semangat jelang masa pensiun ya, bunda ��

      Hapus
  29. Saya enggak kepikiran pensiun mau apa mba, wong sekarang aja udah jadi ibu rumah tangga hehehee... Baru 2 bulan ini sih resign dan alhamdulillah menikmati.
    Ibu saya yang pensiunan guru dulu mengambil pensiun awal karena mau merawat bapak yang sakit parah. Hingga usia 75 ini ibu tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Banyak sekali kegiatan khas manula yang beliau ikuti. Saya senang sekali melihat beliau sehat dan penuh semangat meski udah pensiun. Dengan melihat ibu saya, saya yakin, masa pensiun bukanlah hal yang layak ditakuti. ;)

    BalasHapus
  30. Sejua masa memang harusnya dj nikmati ya kak dan saya belajar dari Papa saya , beliau menikmati masa pensiun dengan melkukan hobi yang tidak pernah ia lakukan semasa kerja.

    BalasHapus
  31. Pengen kalau udah tua bisa banyak ibadah dan aktif di kajian dan kegiatan sosial

    BalasHapus
  32. ceritanya seru sekali bu. Tiap orang menyikapi pensiun dengan cara yang beda ya bu. Kalau tips dari saya, usahakan selalu menyibukkan diri dengan hal-hal positif. Saya punya tante yang mirip dengan cerita no.5. Dia tidak mempersiapkan diri untuk masa pensiun akhirnya dia stress di rumah karena biasanya tiap hari mengajar di sekolah. Selamat menyambut pensiun bu. Sehat terus ya.

    BalasHapus
  33. Aku justru mengajukan resign waktu usia 47 karena ingin pensiun dini. Niatnya jadi fulltime blogger, bisa hadir ketika ada undangan pada hari kerja. Karena aku yakin, dengan banyak baca, menulis, semoga kita nggak cepat pikun.

    Kalo ibuku dan ibu meetme, punya kegiatan masing-masing jadi tetep bahagia meski udah pensiun. Apalagi bumerku tuh orangnya ngga bisa diam. Adaa aja yang dikerjakan, jadi usia 78 masih sehat kesana kemari dan jadi pemimpin pengajian

    BalasHapus
  34. Kakak sepupuku baru saja ambil pensiun setelah tiga anaknya lulus kuliah dan dapat kerja. Sekarang dia dan istrinya sibuk keliling Indonesia berdua dg tabungan semasa kerja dulu. Life goals aku banget itu :)

    BalasHapus
  35. Kalau jadi blogger nggak ada istilah pensiun ya mbak selama masih suka menulis dan aktif menulis dan Alhamdulillah rezeki mengikuti

    BalasHapus
  36. seru juga ya baca cerita para pensiunan di atas. semoga hari tua semakin bermanfaat utk dunia dan akhirat. amiin.

    BalasHapus
  37. Bapak rahimahullah juga begini, mba...
    Pas awal-awal pensiun itu memang berat. MPP yaa...istilahnya.
    Bapak jadi mudah marah.
    Tapi lewat setahun - dua tahun pertama, alhamdulillah...

    BalasHapus
  38. Belajar dari pengalaman orang lain ya mba, jd dirimu bisa lebih mempersiapkan masa pensiun dg baik. Walau gk benar2 pensiun krn dirimu berencana utk terus mengajar hehe. Semoga sehat terus mbaa

    BalasHapus
  39. Kalau dari pengamatan saya, kalau sudah terbiasa sibuk, setelah pensiun sebaiknya tetap sibuk dengan kegiatan lain. Itulah kenapa punya hobi yang positif itu penting. Karena kalau setelah pensiun langsung stop atau kurang kegiatan, biasanya itu akan memicu depresi, atau pikun. Cmiiw.

    BalasHapus
  40. Terima kasih ulasannya. Walau sudah pensiun, tetap harus beraktivitas ya, supaya selalu sehat.

    BalasHapus
  41. Sa suka sama Ibu pensiunan yang sebulan sekali ke salon, tiap minggu nge mall. Ya walaupun uangnya habis tapi setidaknya dia bisa menikmatinya. Setelah puluhan tahun bekerja untuk keluarga, apa salahnya menikmati uang pensiun dengan bersenang2. He he he

    BalasHapus
  42. mama mertuaku baru pensiun bulan agustus kemarin. Kegiatannya setelah pensiun ini adalah jalan-jalan kemana ia mau pergi sambil sesekali ke kebun memetik buah jambu mente yang kebetulan sedang lebat berbuah :)

    Kalo alm. papaku, setelah pensiun beliau berkebun untuk mengisi hari-harinya :)

    BalasHapus
  43. Kalau ke orangtua atau ke om om ku yg maumi dekat masa pensiunnya, kami kami yg selalu datang ke mereka buat nimbrung bersama2 menggali personal branding apa yg bs beliau2 lanjutkan untuk dilakukan, berkebun kah, bertani kah, beternak jualan sapi kah dll dll , kita yg anak keponakan bantu support atau bantu tekhnisnya biar mereka gak galau tawwa heheh

    BalasHapus
  44. Jadi teringat percakapan sama mami yang tahun depan sudah masuk masuk masa pensiun. Sempat ngomong juga seperti nanti mami jaga anak ku kalau saya kerja. Terus mamiku jawab, mami mo urus bunga saja karena memang dirumah banyak bunga. hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mauka tozz sama mamita hehehe... Masa merawat anak terus tawwa, lebih baikmi merawat bunga

      Hapus
  45. Ada baiknua jauh sblm masa pensiun sudah dipersiapkan kegiatan saat pensiun nanti, contohnya berkebun, bertani, usaha2, araupun jadi blogger senior hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi bloger senior mo saya de, biar mami senior dari segi usiaji.

      Hapus
  46. langusngka kepikiran bgm klo maceku pensiun nnati, soalny tahun ini sudah mau pensiun. jd kepikiran kira-kira kegiatan-kegiatan apa yg bisa sy sarankan ke beliau klo pensiun nanti biar, sehat mental jasmani rohani, mmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajak bicara Beliau, tanyakan apa yang menarik hatinya. Semoga ibuta sehat dan bahagia.

      Hapus
  47. mirisnya itu yang pensiunan keempat. semoga anaknya tidak lupa ji pada orang tuanya. sehat-sehat ki terus Kak, biar selalu jadi guru bagi kamu yang lahir belakangan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kasian miris betul. Semoga saya dan suami bisa menikmati pensiun dengan bahagia. Aaamiin.

      Hapus
  48. Baca ini langsung ingat abah ku,. Maumi pensiun... Orangnya aktif sekali. Langsung ka khawaatir kalau pulang ke mks nanti. Harus disiapkan memang masa masa pensiun itu :') terima kasih bundaa. Tulisannya sukak dan sangat menyadarkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti sudahmi napersiapkan itu abah ta. Kalau orang aktif begitu insya Allah banyakmi persiapannya. Semoga abahta sehat terus.

      Hapus
  49. Mertuaku juga pensiunan guru bunda, sekarang dia punya kerjaan baru yang menyenangkan yaitu jalan-jalan sama cucunya kalo abis terima pensiun hihi...
    Atau pergi jalan-jalan sama suaminya ke luar kota berdua-dua gitu. Sehat-sehat terus bunda...Love!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, senangku dengarki mertuata suka jalan-jalan berdua-dua. Aamiin.

      Hapus
  50. Hmmm pensiun ya?
    Kayaknya masih jauh sih, tapi untuk orang dengan pekerjaan seperti saya apa iya masih ada istilah pensiun? Hahaha

    Saya maunya kalau sudah jadi senior citizen ya nanti jalan-jalan saja, terus menulis hasil jalan-jalan itu hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis itumi juga harapanku Daeng, biar terhindar dari penyakit pikun.

      Hapus
    2. Kepengen juga gini, nanti di masa pensi pengen ke luar negri, mengekspos tempat2 yg menjadi impian selama ini (mimpi dlu gpp kan kak heheh)

      Hapus
  51. mertuaku mi ini kena sindrom pensiun, bingung mau bikin apa di rumah

    BalasHapus
  52. Kedua orang tua saya sudah pensiun. Dulu sempat drop pada masa awal karena terbiasa sibuk tiba-tiba ndak ada kegiatan. Alhamdulillah seiring dengan berjalannya waktu sudah mulaimi menemukan ritme dan sudah mulai ikut-ikut kegiatan orang-orang yang pensiun.

    BalasHapus
  53. Alhamdulillah bisa berkenalan dengan kakak adalah anugerah. Saya bisa belajar banyak karena kita semua akan menuju waktu dan keadaan yang sama.
    Selalu berbagi dan tetap semangat πŸ€—

    BalasHapus
  54. Pertama kali kenal Bunda Wiah di grup AM kirain masih umur 20 atau 30-an, apalagi pas baca tulisan2nya di blog ini,

    Nggak nyangka ternyata Bunda seusia mama saya tapi dari tulisan2nya emang gaul banget. Ya, umur boleh tua tapi jiwa harus tetap muda ya Bund😊

    BalasHapus
  55. Saya tidak pernah bekerja sih bunda jadi dak mungkin merasakan kegalauan masa pensiun. Saya juga orangnya pemalesan senangnya santai-santai dan hidup damai hehehe... Semoga di masa pensiun nanti bunda menemukan kebahagiaannya sendiri 😊

    BalasHapus
  56. Untuk yang biasa bekerja sejak muda, pensiun kadang jadi menakutkan karena sudah tidak tahu mau ngapain haha. Ibu saya malah masih mau ngajar walau sudah umur 74 tahun. Alasannya, sakit kalau diam di rumah -_-"

    BalasHapus
  57. Bapakku juga pensiunan guru, salah satu aktivitasnya yg sa ingat dulu temanika belajar baca. Suka sekali membacakan buku atau mendongeng sebelum tidur. Yang palinggg dinanti kalau pulang terima gajin pensiun, pasti Ada buku2 Dan majalah dibelikanki

    BalasHapus
  58. Paceku sekarang pensiunmi dirumahji saja. nunggu anak sama cucu na datang.

    semangaat bunda

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *