Rabu, 05 Desember 2018

Saat Pensiun, Haruskah Kita Galau?





Assalamualaikum sahabat.
Baca judul di atas jangan langsung salah menduga yah? Dikiranya saya sudah pensiun jadi mau curhat. Padahal belum, tetapi curhatnya memang iya. Hahaha …

Saya mau membagi cerita tentang teman yang sudah pensiun, lebih tepatnya hasil perbincangan saya dengan mereka. Disimak yah…

Pensiunan Pertama

“Bagaimana kabar-ta setelah memasuki masa pensiun?” Saya memulai percakapan sambil menatap matanya yang kuyu.
“Begini-mi ini kalau sudah tua maki, muncul semua-mi penyakit.” Jawabnya, dengan nada pilu.
“ Sakit apa-ki?” kembali saya tanya dengan menyentuh bahunya.
“ Sakit hati” Jawabnya ketus.

Beuh …. Rada-radanya mau curhat nih teman saya. Okelah , saya ladeni sok perhatian, aslinya kepo.

“Kenapa-ki sakit hati, sama siapa?”
“Sama semuanya. Sama suami yang makin rajin olahraga dan  saya ditinggal di rumah, sama anak-anak, masa saya dijadikan baby sister .. bla..bla..”
Beberapa menit saya jadi pendengar setia sambil membayangkan bagaimana dan apa yang akan saya lakukan saat saya pensiun.

Belajar dari curhatan teman tersebut, saya berpikir bahwa,  kalau pensiun itu tiba maka saya akan lebih rajin berolahraga. Suami teman saya itu rajin banget olahraga kan, bedanya saya akan mengajak Ayangbeb ikutan olahraga. Jangan sampai Beliau sakit hati kalau saya tinggal dan sehat sendiri, hahahaha… Kenyataannya sekarang Beliau lebih rajin olahraga.


Tidak mau jadi baby sister ah.. Tapi saya juga pingin gendong-gendong cucu.
Sesekali boleh lah 😃



Pensiunan kedua

Saat antri di salah satu bank, saya bertemu lagi dengan teman yang juga sudah pensiun. Terjadi lagi perbincangan seperti berikut ini.

“Masya Allah, ibu masih segar setelah sekian lama pensiun. Bagi resepnya Bu.” Saya jujur mengatakan itu. Terlihat dari matanya yang cerah dan senyumnya yang semringah. Lumayan kan dapat resep untuk persiapan pensiun.

“Alhamdulillah Dek. Rahasianya gampang-ji, jangan lupa bahagia.” Jawab Beliau enteng.
“Apa kegiatan-ta sekarang?” mencoba mengulik. 
Lupakan kata Jangan Lupa Bahagia. Sudah basi.

“Setiap terima uang pensiun saya keliling ke rumah anak-anak saya. Pekan pertama saya ke rumah anak sulung, pekan kedua ke rumah adiknya, pekan ketiga ke rumah sibungsu dan pekan keempat kembali ke rumah, luluran,  panggil tukang pijit, siram-siram bunga, dan sebagainya.” Cerita si Ibu sangat bersemangat.
 Wuii…. Bagus juga nih resepnya.

“Berdua-ki sama bapaknya jalan?” Ingat kalau Beliau masih bersama suami.
“Tidak, dia di rumah-ji. Malas-ki pergi-pergi.” Katanya sedikit ketus.
“ Oooo…”

Tidak jadi ah ikuti resepnya, saya kan mau pergi bersama Ayangbeb. Setia gitu sampai tua. Aamiin.



Pensiunan ketiga

Lain lagi cerita teman yang baru  pensiun lima tahun terakhir.
“Setelah pensiun, apa kegiatan Ibu?”
“Oh banyaaak.” Jawabnya antusias.
“Apa saja Bu.” Saya tak kalah antusiasnya.
“Saya ikut majlis taklim setiap akhir pekan, ikut senam jantung dua kali sepekan, saya juga merajut bersama kelompok ibu-ibu RT.”

Wow saya terpukau!

“Apalagi kegiatannya Bu?” Masa cuma tiga kegiatan itu dibilang banyak.
Nyinyir saya dalam hati.

“Saya juga rajin ke salon, yaah hanya sebulan sekali. Tiap Sabtu malam saya jalan-jalan ke Mall dan makan-makan dengan teman kelompok ibu-ibu pensiun.”
“Bersama suami Bu?” Tetep kepoin kabar suaminya.
“Suami saya kan sudah almarhum.” Jawabnya sendu.
“Maaf Bu, saya tidak tahu.” Menyesal tanyakan itu.
“Tidak apa-apa, tapi walaupun suami sudah tiada masih ada anak-anak saya yang selalu datang ke rumah, tidak setiap hari tapi mereka bergantian datang.”
“Ibu merawat cucu?”   Tanya saya lagi. Membayangkan Beliau jadi baby sister.
“Tidak. Malas urus cucu. Anak saya datang sendiri, hanya mengantarkan uang belanja karena uang pensiunan saya tidak cukup.”

Kalau tiap akhir pekan jalan ke Mall, belanja dan makan-makan.  Terus ke salon tiap bulan,  uang pensiun manalah cukup Bu. Batin saya, tidak berani bilang ke Beliau takut ditabok, hiiii …😃

Pensiunan keempat

Bapak yang satu ini lumayan istimewa, fisiknya masih bugar, masih mengajar di salah satu sekolah swasta, dan masih rajin ikut kegiatan-kegiatan lainnya.

“Apa kabar Pak, saya lihat Bapak masih aktif mengajar.”
“Alhamdulillah sehat, itu-ji kutahu mengajar Dek.” Jawabnya dengan senyum dikulum.
“Bersyukur-ki masih bisa mengajar dan terutama masih sehat.”
“Yah begitulah, saya masih ada tanggungan, istri masih menuntut gaji seperti waktu saya masih aktif. Sebenarnya saya sudah lelah tapi mau apalagi terpaksa cari sekolah swasta yang masih mau menerima pensiunan seperti saya.”

Kasihan juga bapak ini, mengajar karena terpaksa saja.

“Kenapa bapak tidak menggunakan uang pensiunnya untuk berbisnis misalnya.” Sok-sok kasi solusi.
“Uang pensiunan saya sudah habis, SK sudah digadaikan di bank untuk ambil kredit jangka panjang.
“Untuk apa Pak ambil uang kredit.”
“Untuk biaya pesta anak saya.” Bisiknya pilu.

Asli bengong!
Tuing … tuing … tuing

Pensiunan kelima

Saya melihat teman satu ini biasa-biasa saja. Kesehariannya di rumah seperti ibu-ibu pada umumnya, beres-beres rumah, merawat bunga, ke pasar, masak dan duduk-duduk di teras membaca sambil minum teh. 
Santai sekali hidupnya, paling tidak itu yang saya lihat. 
Mau tanya-tanya ah.

“Assalamualaikum Bu, bunganya segar semua.” Basa-basi biar tidak dicurigai.
“Waalaikumsalam. Segar karena selalu saya rawat.” Jawabnya datar.
“Dari dulu ibu suka merawat bunga di?”
“Oh tidak, mana ada waktu. Pergi pagi pulang sore. Sampai di rumah urus anak-anak, suami dan sebagainya.” Jawabnya cepat.
“Jadi ibu merawat bunga setelah ibu pensiun?”
“Tidak juga.” Mukanya tiba-tiba muram. 

Nah loh…nah loh…

“Saya merawat bunga setelah melewati tiga tahun pensiun. Tahun pertama pensiun saya stres, tahun kedua saya sakit-sakitan, tahun ketiga saya menjadi langganan psikiater. Lalu psikiater itu  manyarankan agar saya mencari kegiatan yang bermanfaat. Nah, ini-mi yang saya lakukan.”

Saya termangu mendengarnya.

“Maaf Bu, apakah sebelum pensiun tidak melakukan persiapan apa-apa?”
“Persiapan apa Dek? Saya terlalu sibuk di kantor dan urus keluarga. Saya mengupayakan segalanya agar suami dan anak-anak bahagia dan tercukupi semua kebutuhannya.” Beliau menggeser duduknya, badannya tegak dan sorot matanya terlihat tajam.

Apakah ia menyesal telah melakukan semuanya. 
Entahlah.

 “Maaf Bu, apakah ibu menikmati kegiatan ibu sekarang ini.”
“Saya hanya berusaha menikmatinya Dek, tidak tahu melakukan apa lagi. Tunggu ajal saja, kapan datang menjemput.” Jawabnya pasrah.
“Kalau adek lihat saya duduk minum teh, itu saya lakukan sambil mengenang masa-masa kesibukan saya.” Katanya lagi. Masih dengan nada pasrah.

Saya menelan ludah. 
Pahit.

Insya Allah Desember 2024 saya memasuki masa pensiun, pensiun jadi guru di sekolah. Semoga umur saya panjang sehingga bisa menikmati masa pensiun itu.
Tetapi saya hanya pensiun di sekolah, selebihnya saya akan terus bekerja dan mengajar di tempat lain. 

Woiii  …. Kamu sudah tuir Dawiah!

Siapa bilang?

Selama masih hidup “usia” saya akan terus muda dan bergelora. Itu prinsip yang baru saya canangkan 10 tahun terakhir. Pede amat.
Emang pedelah, namanya juga harapan. 

Pensiun itu kan hanya istilah yang diberikan kepada para pekerja yang sudah selesai masa kerjanya. Setiap profesi berbeda-beda masa kerjanya sehingga berbeda pula usia pegawainya saat memasuki masa pensiun.

Masa kerja yang dimaksudkan di sini adalah masa kerja di suatu instansi tertentu dan diikat dengan Surat Keputusan (SK). Karenanya tidak berarti yang pensiun sudah harus berhenti bekerja dan melakukan aktivitas.

Misalnya, saya guru dan akan pensiun jadi guru di sekolah pemerintahan. Namun bukan berarti saya harus berhenti jadi guru, berhenti mengajar dan mendidik.

Masih ada tempat lain, cara lain, media lain untuk tetap menjadi guru dan mengajar. Saya juga akan terus menulis, ngeblog dan terutama membaca. Termasuk membaca jiwamu, heuu…

Kok bisa?

Bisalah! Apa yang tidak bisa di zaman digital kini.

Menurut saya, selama masih ada waktu maka persiapkanlah masa pensiun itu dengan sebaik-baiknya. Dari segi materi, waktu, dan terutama mental.

Jangan habiskan seluruh waktumu demi mengejar pemenuhan finansial keluarga. Kalau urusan uang, pastilah tidak akan ada cukupnya.

Berikan waktu khusus untuk diri sendiri, istilah sekarang me time gitu.
Lakukan kegiatan yang bermanfaat dan bisa berguna di masa yang akan datang. Misalnya mengasah keterampilan menulis, keterampilan kerajinan, dan keterampilan lainnya.

Mudakan jiwamu dengan tetap bergaul dengan yang muda-muda.
Itu saya hihihi … bergaul dengan blogger-blogger muda agar saya bisa menangkap jiwa mudanya. 
Jangan malu berdekatan dan bergaul dengan mereka asal tidak malu-maluin saja.

Kalau sahabat pembaca, apa tipsnya nih dalam rangka menyambut masa pensiun atau masa tua nanti. 
Kasi tanggapannya di kolom komentar yah.

Apapun pilihanmu tetap bahagia dunia akhirat karena itu tujuan akhir kita.
Sesibuk apapun dirimu jadikan ibadah prioritas utamamu.
Qouts Dawiah



60 komentar:

  1. harus dinikmati , karena akan memberikan kebahagiaan aklau dinikmati , yang penting sehat dan punya kegiatan positif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah Mbak, yang penting bahagia dan sehat.

      Hapus
  2. Sodaraku setelah pensiun jadi traveler bersama suaminya keliling dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiis mantap banget itu Mbak. Berarti tabungan harus ditambah lagi nih biar ada modalnya, hehehe

      Hapus
  3. Aku tetep sih setuju dengan ibu yg bilang jangan lupa berbahagia itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih. Cuman penasaran saja bagaimana bentuk atau caranya bahagia. Thanks ya

      Hapus
  4. Setelah pensiun memang sepertinya harus tetap ada aktivitas. Mamah dan almarhumah mamah mertua tetap aktif. Saat ditanya alasannya supaya gak cepat pikun hehehe. Begitupun dengan papah saya. Setelah pensiun sempat kayak kurang bersemangat. Alhamdulillah ada yang menawarkan kerja kembali. Jadi papah kembali terlihat semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, pikun.
      Semoga kita tetap sehat dan semangat ya

      Hapus
  5. Bunda hampir sebaya kakak pertama saya ya, dia guru SMP dan pensiun 2023 nanti..

    Semangat mempersiapkan masa pensiun dengan semangat tetap bermanfaat serta menebar kebaikan untuk sesama ya Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah semangat, bersyukur dan bersabar. Titip salam sama kakaknya Mbak Dian

      Hapus
  6. Keren bunda, banyak sudut pandang.. Sungguh menginspirasi��

    BalasHapus
  7. Bundaaaa nanti kalau pensiun fokus nulid aja sambil ngeluarin buku lagi hee aaaminnn. Semoga umur kita panjang dan berkah ya bun

    BalasHapus
  8. aku pernah nulis nih Bun pengalaman ortu (bapak) yang menghadapi masa pensiun. Kalau gak salah judul artikelku " Mencegah post power syndrom". Alhamdulillah Bapak sudah pensiun sejak 2001, satu tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau merasa sudah siap. Di usia 75 tahun ini bapak juga masih mengajar Bahasa Jawa di sma swasta, tapi bukan karena tuntutan dari ibu hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah!

      Sudah usia 75 tahun masih berkarya. Salamin ya sama beliau.

      Hapus
  9. semua orang punya pilihan hidup yang beda beda trgantung tujuan hidup masing-masing, apapun itu yang penting dijalani dengan bahagia dan bersyukur

    BalasHapus
  10. 2024 ya?? masih tuaan bapak saya, mbak. hehehe

    kalau bapak saya insya Allah 3 th lagi pensiun... yaa gak jauh beda lah yaa cuma selisih 2 th wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bapaknya Mbak tetap sehat dan bahagia. Aamiin

      Hapus
  11. Ortuku juga udah pensiun. Baca cwrota di postingan ini ada yang mirip2 juga nih salah satunya ke rumah anak2nya gantian. Kadanv mamaku juga aktif di pengajian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting ortunya sehat dan bahagia. Salam takzim ya sama Beliau.

      Hapus
  12. Aduh kasian ya kalau uang buat pensiun dan lain lain habis hanya untuk biaya pesta anaknya :(. Aku sedih deh. Harusnya anaknya yang nyiapin ya biar ortu jalanin pensiun dengan bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa begitulah sebagian orang Mbak terlalu memaksakan diri, padahal bisa sajakan pesta nikahnya disederhanakan saja.

      Hapus
  13. Kalau tentara suka ada MPP, Mbak. MPP itu Masa Persiapan Pensiun. Biar nggak kaget saja pas udah pensiun. Dulu alm Bapak pernah bercita-cita kalau pensiun pengen angon bebek tapi ternyata Allah tidak menghendaki kami punya rumah di desa, jadi susah buat angon bebek, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya penting banget itu MPP, apalagi tentara kan pensiunnya lebih cepat dari guru (60 tahun).

      Hapus
  14. Belum terlintas di benakku tentang pensiun. Yang terlintas di benakku cuma sedang mengejar mimpiku sebelum bertambahnya usiaku.

    BalasHapus
  15. Bu Dawiah, keren ih. Aku suka tulisannya. Aku suka bu Dawiah dengan semangat mudanya 😊

    Aku jadi teringat cerita teman. Katanya kalau sudah tua, dia dan suami mau menikmati jerih payah mereka dengan menikmati hidup..anak2 disuruh mandiri aja. Tapi bukan berarti mereka gak menikmati hidup saat ini lho. Mungkin harus seperti itu juga 😊

    BalasHapus
  16. Kedua orangtuaku juga pensiunan Bu, mereka Alhamdulillah bahagia jarang sakit. Bapak sejak pensiun suka ke sawah meskipun enggak kerja cuma mengawasi yg kerja bantu di sawah.

    Ibu juga suka bercocok tanam di rumah. Ada banyak sayuran dan buah-buahan hasil tanaman ibu.

    Enggak jadi baby sister wong cucunya yg dekat cuma anak saya. Dulu waktu kecil meski di rumah eyangnya tetap ada si embak yang momong.

    Kalau enggak ada anak saya sepi di rumah. Melihat kedua orangtuaku sehat di masa pensiun itu membahagiakan.

    BalasHapus
  17. Ahh bunda mah keren, jowa mida bingits. Hehehe.. sehat terosss ya Bundsaay... ����

    BalasHapus
  18. Baca semua kisah para pensiunan di atas kok bikin sedih yaa ... Eh kalo irt seperti saya ada masa pendiun nggak ya?��

    BalasHapus
  19. Hampir sama maki umurta dengan umurku di. Sama juga suka main sm yang muda-muda. Setuju hidup itu hrs ada me time nya sekali waktu. Dan itu harus seimbang dgn family time, biar hidup jd berwarna dan semangat, hehe...

    BalasHapus
  20. Ada yang mirip kisah mertuaku. Kalau ibuku emang wiraswasta sih,jadi ya udah biasa kadang gak ada orderan. Tapi anyway, ibuku masih rajin menjahit atau bercocok tanam. kadang juga bikin kue. Kalau mertua emang jarang, jadi skrg lebih banyak kumpul teman pengajian. Ceritanya seru Mbak, menambah wawasan banget.

    BalasHapus
  21. Baca cerita-cerita para pensiunan ini bikin saya jadi speechless dan juga nyesek Bu... Jadi inget ortu sendiri, dan juga jadi kepikir harus gimana mulai dari sekarang untuk menyiapkan masa tua.

    BalasHapus
  22. Harus mempersiapkan diri dengan baik untuk masa pensiun. Baik keuangan. Maupun juga aktivitas. Wah kalo aktivitas sih banyak banget yg ingin kulakukan. Mudahan juga uangnya nanti cukup. Nabung dari skrg. Hehe

    BalasHapus
  23. miris yg pensiunan ke4 sk sudah digade buat pesta anaknya :( pelajaran banget nih kalau sekiranya ga ada jangan maksain kasian ortunya duh

    BalasHapus
  24. Masa pensiun bersama blogger kece, byk teman, ilmu, serasa blm pensiun. Terima kasih teman2

    BalasHapus
  25. Yang penting jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur yaaa Bu..soalnya Kalau ngga kita selalu merasa kurang dan capeeek terus. Nikmati masa pension dengan sebaik-baiknyaaa

    BalasHapus
  26. Semoga semakin berkah waktu-waktunya ketika nanti . Aku jadi ingat cara mengambil uang pensiunan almarhum Ayahk. Dulu buat aku melanjutkan kuliah, semoga kegiatan semakin bermanfaat nanti ya Mbak setelah pensiun nanti

    BalasHapus
  27. Beragam hal yg bisa dilakukan saat pensiun y bu
    Salut buat semua pensiunan produktif
    Saya sendiri nanti bayangin gimana y
    Anak pasti dah besar xixixi

    BalasHapus
  28. Salut banget sama Mba, masih produktif dan terus menginspirasi. Semangat dan sehat selalu mba :)

    BalasHapus
  29. Macam2 dii pengalaman pensiun temanta.
    Masa tua atau pensiun memang harus disiapkan, termasuk misal yg rencana mau resign dan jadi full time di rumah harusmi betul2 siap sebelum ajukan resign itu. Krna klo sdh terbiasa kerja, sibuk dsbnya trus tiba2 di rumah kerjakan kerjaan yg berulang "itu-itu ji saja" bisa jadi kayak temanta yg kelima itu. Weeww!

    Semangaaat Mak, masih ada 6 tahunan lagii dii :)

    BalasHapus
  30. Bunda, koq saya jadi miris ya baca cerita-cerita tentang orang pensiun di atas, sepertinya gak ada enak-enaknya :(

    Ngeblog atau menulis emang jadi salah satu hobi yang bisa jadi kegiatan utama kita di masa pensiun nanti. Otak tetap terasah, jiwa tetap berkembang dan Insya Allah bisa menghasilkan fulus juga.

    BalasHapus
  31. Saya enggak kepikiran pensiun mau apa mba, wong sekarang aja udah jadi ibu rumah tangga hehehee... Baru 2 bulan ini sih resign dan alhamdulillah menikmati.
    Ibu saya yang pensiunan guru dulu mengambil pensiun awal karena mau merawat bapak yang sakit parah. Hingga usia 75 ini ibu tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Banyak sekali kegiatan khas manula yang beliau ikuti. Saya senang sekali melihat beliau sehat dan penuh semangat meski udah pensiun. Dengan melihat ibu saya, saya yakin, masa pensiun bukanlah hal yang layak ditakuti. ;)

    BalasHapus
  32. Mantap ulasannya kak. Sejatinya memang kita harus mempersiapkan lebih diri lebih dulu untuk menghadapi masa2 pensiun. Klo saya sudah membidik satu profesi kala pensiun nanti yaitu BLOGGER

    BalasHapus
  33. Sejua masa memang harusnya dj nikmati ya kak dan saya belajar dari Papa saya , beliau menikmati masa pensiun dengan melkukan hobi yang tidak pernah ia lakukan semasa kerja.

    BalasHapus
  34. Pengen kalau udah tua bisa banyak ibadah dan aktif di kajian dan kegiatan sosial

    BalasHapus
  35. ceritanya seru sekali bu. Tiap orang menyikapi pensiun dengan cara yang beda ya bu. Kalau tips dari saya, usahakan selalu menyibukkan diri dengan hal-hal positif. Saya punya tante yang mirip dengan cerita no.5. Dia tidak mempersiapkan diri untuk masa pensiun akhirnya dia stress di rumah karena biasanya tiap hari mengajar di sekolah. Selamat menyambut pensiun bu. Sehat terus ya.

    BalasHapus
  36. Aku justru mengajukan resign waktu usia 47 karena ingin pensiun dini. Niatnya jadi fulltime blogger, bisa hadir ketika ada undangan pada hari kerja. Karena aku yakin, dengan banyak baca, menulis, semoga kita nggak cepat pikun.

    Kalo ibuku dan ibu meetme, punya kegiatan masing-masing jadi tetep bahagia meski udah pensiun. Apalagi bumerku tuh orangnya ngga bisa diam. Adaa aja yang dikerjakan, jadi usia 78 masih sehat kesana kemari dan jadi pemimpin pengajian

    BalasHapus
  37. Kakak sepupuku baru saja ambil pensiun setelah tiga anaknya lulus kuliah dan dapat kerja. Sekarang dia dan istrinya sibuk keliling Indonesia berdua dg tabungan semasa kerja dulu. Life goals aku banget itu :)

    BalasHapus
  38. Kalau jadi blogger nggak ada istilah pensiun ya mbak selama masih suka menulis dan aktif menulis dan Alhamdulillah rezeki mengikuti

    BalasHapus
  39. seru juga ya baca cerita para pensiunan di atas. semoga hari tua semakin bermanfaat utk dunia dan akhirat. amiin.

    BalasHapus
  40. Bapak rahimahullah juga begini, mba...
    Pas awal-awal pensiun itu memang berat. MPP yaa...istilahnya.
    Bapak jadi mudah marah.
    Tapi lewat setahun - dua tahun pertama, alhamdulillah...

    BalasHapus
  41. Saya mulai beberapa kali ngomongin ini sama suami, Mba. Gimana rencana nanti kalau udah pensiun. Dia pengennya siiih, nabung dari sekarang biar pas pensiun bisa jalan-jalan berdua, kan anak-anak udah besar tuh, hihi. Sama berkebun dan tinggal di kampung. Aamiin.

    BalasHapus
  42. Aku pensiun masih lamaaa, jd beln kepikir maubngapain nantk. Haha. Tp skrg justru lg kepikir oingin brhenti kerja dan bisnis saja

    BalasHapus
  43. Belajar dari pengalaman orang lain ya mba, jd dirimu bisa lebih mempersiapkan masa pensiun dg baik. Walau gk benar2 pensiun krn dirimu berencana utk terus mengajar hehe. Semoga sehat terus mbaa

    BalasHapus
  44. Biasanya kalau pesiun mengajar jadi dosen, atau datang ke kajian Karena waktunya lebih banyak. Atau coba jualan.

    BalasHapus
  45. Saya sdh 10th melewati masa pensiun, alhamdulillah baik2 aja.
    Yg penting persiapkan masa pensiun dgbaik, krn kita tak pernah tau apa yg akan terjadi didepan.

    Yg penting sehat & penuhi dg banyak bersabar, krn susmi makin tua makin rewel...hrhee

    BalasHapus
  46. Kalau dari pengamatan saya, kalau sudah terbiasa sibuk, setelah pensiun sebaiknya tetap sibuk dengan kegiatan lain. Itulah kenapa punya hobi yang positif itu penting. Karena kalau setelah pensiun langsung stop atau kurang kegiatan, biasanya itu akan memicu depresi, atau pikun. Cmiiw.

    BalasHapus
  47. Terima kasih ulasannya. Walau sudah pensiun, tetap harus beraktivitas ya, supaya selalu sehat.

    BalasHapus
  48. Sa suka sama Ibu pensiunan yang sebulan sekali ke salon, tiap minggu nge mall. Ya walaupun uangnya habis tapi setidaknya dia bisa menikmatinya. Setelah puluhan tahun bekerja untuk keluarga, apa salahnya menikmati uang pensiun dengan bersenang2. He he he

    BalasHapus