Senin, 26 November 2018

Arisan Resik HIJUP dan Manjakani; Manjakan Ibu dengan Ilmu. Ciptakan Keluarga Harmonis


Assalamualaikum sahabat Blogger.

Pernahkah Emak mengalami suasana yang tidak nyaman dengan suami? Bertengkar misalnya lalu main diam-diaman?
Jujur ya jawabnya. Tak perlu diumumkan, cukup dijawab dalam hati. Hehehe…

Saya?  Jawabnya PERNAH.  Beberapa kali malah.

Namanya juga suami istri, selama lebih 28 tahun hidup bersama, yang namanya mengalami suasana yang kurang nyaman, bahkan kadang sangat tidak nyaman pastilah pernah merasakannya. Bertengkar, iya. Ngambek-ngambekan juga  iya.

Apakah langsung pisah ranjang?

Astagfirullah! 
Jangaan!
 Amit-amiiit. Sumpah tujuh dasawarsa!

Suami istri ribut, itu sudah biasa. Piring dan sendok saja kadang ribut padahal tidak seranjang cuma sekeranjang kan?   
Itu benda Dawiah! Eits ada yang protes.
Tetapi itulah kenyataannya. Terus bisa bertahan sampai 28 tahun lebih itu, rahasianya apa Mak? Apa yah?

Saya juga bingung jawabnya.

Begini, saya dan Ayangbeb itu punya perbedaan banyak sekali. Ayangbeb seniman, hobbi  dan pandai menyanyi, bisa mainkan gitar dan mainkan  organ.  Beliau juga suka dan piawai melukis. Melukis pemandangan, mukaku saja tak pernah ia lukis. Terlalu indah  untuk diukir. Kata saya hehehe..

Sedangkan saya sama sekali tidak pandai dan tidak hobbi. Saya sukanya menikmati saja. Menikmati suaranya, permainan gitarnya, permainan organnya.  Juga menikmati lukisannya. Kalau disuruh menyanyi, saya akan lari sembunyi ke dalam pelukannya. Eeaa..😆

Saya hobbi membaca terutama novel, suka menulis dan menjahit. Sedangkan Ayangbeb paling malas disuruh membaca apalagi menulis. Tulis status saja yang pendek-pendek malas apalagi menulis artikel.

Selera makan kamipun jauh berbeda. Ayangbeb sukanya makan ikan yang ukurannya kecil-kecil, seperti ikan teri dan sebangsanya. Saya suka makan ikan yang besar. Makin besar ikannya makin saya suka, andai ada ikan paus, ikan pauspun saya makan. Sesuai ukuran tubuh, hehehe…

Satu-satunya persamaan kami adalah sama-sama CINTA.

Sama-sama suka tidur berdua (namanya juga suami istri) masa suami tidur di ranjang, istri tidur di dapur, iya kan?

Terus rahasianya bisa awet hingga sekarang? Semoga sampai maut memisahkan.
Yaah karena perbedaan itu.

Andai hobbi kami sama, pasti kami berebutan gitar, berebutan organ, tanding-tandingan menyanyi terus saling kritik. Atau kami akan berebutan novel, tanding-tandingan menulis dan seterusnya. Itu keluarga saya.  Jangan dijadikan tolok ukur dan jangan membully. Please!

Keluarga lain memiliki  hobbi yang sama, justru bisa saling mendukung


Perbedaan-perbedaan di antara kami itu menjadikan kami saling menghormati, lalu kami membuat suatu garis lurus agar ada benang merahnya. Benang merah itu sangat halus tetapi sangat kuat, yaitu SETIA.

Apakah hanya CINTA resep bertahannya suatu rumah tangga?

Inilah yang diperbincangkan kemarin di acara talksow bertema Arisan Resik bersama HIJUP dan Blogger Makassar yang berlangsung di ON20 Bar & Dining Sky Lounge Hotel Aston Makassar.


Hadir tiga orang pembicara yang sangat menginspirasi, yaitu Dr. Amelia Abdullah, SpOG, Nina Septiani, dan Yuna Eka Cristina yang mewakili resik V Manjakani. 
Perbincangan yang seru, buka-bukaan tentang keharmonisan suami istri, juga rahasia kesehatan dan kebersihan area kewanitaan.

Nina Septiani (influencer)

Nina Septiani, seorang ibu muda dengan segudang aktivitasnya banyak bercerita tentang kerempongannya menjadi ibu dari dua anak. Bagaimana ia harus “pingsankan” anak dulu sebelum bermesraan, heuu… 
Beliau juga banyak bertanya seputar miss V kepada Dr. Amelia yang kami sambut dengan tertawa. Soalnya yang diperbincangkan juga yang ditanyakan itu adalah juga pengalaman mama-mama muda yang hadir, kecuali saya mama tua.

Dr.  Amelia menjelaskan, salah satu kunci keharmonisan rumah tangga itu memberi pelayanan yang memuaskan kepada suami. Nah loh.

Dr. Amelia Abdullah, SpOG (Specialis Obstetri & Ginekologi)

Memuaskan dalam arti, suami merasa nyaman saat bersama istri, nyaman saat berhubungan intim, nyaman karena istrinya bersih, sehat, dan terutama resik. 
Caranya?
Yah, dirawatlah. 
Terutama daerah kewanitaan. Sebenarnya bukan hanya sekedar untuk kepuasan suami, tetapi lebih kepada menjaga kesehatan diri sendiri. Jika miss V bersih, sehat, dan terawat maka segala penyakit yang berhubungan daerah kewanitaan akan jauh.

“Sering-seringlah mengganti celana dalam (3-4 jam sekali), jangan memakai celana dalam yang terlalu ketat, dan rajin membersihkan daerah kewanitaan.”
Dr. Amelia

Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Ibu Yuna Eka Christina, Beliau menjelaskan bahwa merawat daerah kewanitaan sudah dilakukan para wanita sejak dahulu. Salah satunya dengan menggunakan buah manjakani.

Yuna Eka Christina (Brand Representative Resik V)

MANJAKANI?



Buah Manjakani

Dari berbagai sumber dijelaskan bahwa, Manjakani bernama latin Quercus infectoria adalah tumbuhan spesies Quercus. Pohon ini tumbuh di kawasan Yunani dan di sekitar Asia Kecil.
Secara farmakologi, manjakani mengandung zat inflamasi, antitremorin, anti virus, anti bakteri, antidiabetik, anti jamur, dan anti larvasida.

Melihat khasiat dari pohon ini, wajarlah jika digunakan sebagai salah satu bahan untuk menjaga kesehatan area kewanitaan. 
Yuk, kita gunakan buah Manjakani!
Wuiiits, daripada ribet mencari pohon Manjakani, terus diolah lagi yang belum tentu cara pengolahannya klinis maka  lebih baik kita gunakan yang pasti-pasti saja.

Apaan tuh? 
Produk Resik-V Khasiat Manjakani!

Produk ini, insya Allah dijamin halal, klinis, dan aman. Apalagi ditambah dengan bengkoang yang berkhasiat memutihkan. Tahu bengkoang kan? Muka saja bisa diputihkan atau dicerahkan apalagi daerah kewanitaan kita. 
Masa iya muka saja yang dibikin cling, sementara daerah "kesukaan" suami tidak. Iya kan?

Jadi jangan ragu lagi gunakan product knowledge dari resik-v Manjakani Whitening yah.

Oh yah, di acara Arisan Resik kemarin itu bukan sekedar arisan seperti arisannya ibu-ibu sosialita. Soal arisannya tidak pakai uang apalagi berlian hehehe… 

Tapiii ilmu yang didapatkan jauh lebih bermanfaat dibandingkan berlian. Kalau ada yang mau memberi saya berlian, yah pasti diterima dengan senang hati. Kalau arisan? Tunggu dulu, mesti kurangi jatah makan siang, malam, dan lain-lainnya. Hahaha….

Sudah dapat pencerahan, dapat bonus produk, dan tambahan ilmu lagi.
Yeeaaah.. workshop Decoupage Framing!

Diajar dengan telaten oleh mbak yang manis, Hennitandi. Crafter asal Surabaya ini katanya sudah bermukim di Makassar. Kalau masih  penasaran, silahkan stalkin ig nya, @kingsouvenir.mks

Yeeaah ini hasil praktik saya 😍

Alhamdulillah, nikmat Tuhan mana lagi yang akan saya dustakan.

Arisan Resik sudah memberi banyak manfaat kepada saya dan ibu-ibu blogger Makassar. Terkhusus terima kasih  kepada @HIJUP.com yang telah mengadakan acara ini.

Nah sebelum saya pamit, saya mau kasi kabar gembira nih. HIJUP.com kasi kamu voucer belanja Rp.50.000, belanja minimum Rp. 250.000. Horeeee!
Untuk dapatkan voucernya, silahkan klik di sini 

Tapi ingat yah, masa berlaku voucernya hingga 30 November 2018. Masih ada waktu kan. Buruan!



#ArisanResik
 #ResikVManjakaniWhitening
 #IstriResik
 #HIJUPBMmakassar

Jumat, 23 November 2018

Kala “Rindu” Mengaduk Rasa


Kala “Rindu” Mengaduk Rasa

 “Kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup. Sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah semakin keras kau berlari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul memenuhi kepala.”
Tere Liye, Rindu



Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian kalimat lainnya  di dalam novel Rindu, kalimat itu seakan menghipnotis  dan secara gamblang  menampar keegoan diri.  

Dari sekian banyaknya karya Tere Liye, novel Rindu  inilah  yang paling saya ingat. Mulai dari tokoh-tokoh serta karakter dari setiap tokoh tersebut hingga alur cerita majunya.  Mungkin karena di dalam ceritanya mengambil setting daerah Makassar dan beberapa tokoh utamanya adalah orang Makassar,  sehingga terasa ada ikatan emosional.

Bukan buku baru. Novel Rindu terbit tahun 2014  (cetakan pertama pada Oktober 2014). Namun peminatnya tak berkurang hingga saat ini. Dibuktikan dengan cetakannya hingga cetakan ke-40 pada akhir tahun 2016. Bahkan beberapa waktu lalu, ketika saya ke  toko buku, saya melihat novel Rindu ini masih banyak peminatnya. Barangkali  sudah dicetak lagi beberapa kali setelah tahun 2016 itu.

Luar biasa!


Soal menulis novel yang sarat dengan makna dan ajakan ke kebaikan pastilah Tere Liye tidak diragukan lagi. Di awali dengan riset yang dalam dan sangat teliti, sehingga sejarah yang dituliskan nyata adanya.

Termasuk meneliti penanggalan yang tepat. Bagaimana Tere Liye yang bernama asli Muhammad Darwis itu menuliskan tanggal 1 Desember 1939 M yang bertepatan dengan 9 Syawal 1357 H. Itu tidak mudah mencari penanggalan 75 tahun lalu.

Novel Rindu ini menghadirkan banyak tokoh dan kisah, kemudian diramu sedemikian rupa, sehingga kita bisa langsung jatuh cinta pada tokoh-tokoh tersebut.
Ada beberapa tokoh  yang berperan dalam cerita itu, tokoh-tokoh tersebut saling terkait satu sama lain, terhubung dengan sendirinya karena perjalanan yang berlangsung selama sembilan bulan di atas laut, di atas kapal  Blitar Holland.
Kisah-kisah tersebut merupakan perjalanan panjang dalam kerinduan. Rindu ke Tanah Suci.

Tokoh pertama adalah Daeng Adipati, tokoh dengan karakter yang digambarkan Tere Liye sebagai seorang bangsawan sekaligus pedagang yang sukses. Sebagai calon jemaah haji yang menumpang kapal Blitar Holland dengan membawa serta keluarganya. Istri dan kedua anaknya, Anna dan Elsa.
Daeng Adipati digambarkan sebagai sosok yang kharismatik, terpandang, terpelajar, kaya raya, dan dekat dengan orang-orang Belanda. Di balik sosoknya yang nampak bahagia tersimpan satu rasa kebencian yang mengikutinya sehingga menimbulkan kosongnya jiwa.
Awalnya saya kurang sreg dengan tokoh ini. Terlalu sempurna tetapi menyimpan keborokan. Dibilang protagonis tetapi nyaris antagonis. Untungnya pada ending cerita, Adipati bisa berdamai dengan rasa sakit hati dan dendam. Hal itu tergambar setelah pulang dari Tanah Suci, Adipati mengajak saudara-saudaranya berziarah ke kuburan ayahnya sekaligus meminta keikhlasan untuk memaafkan ayahnya. Maka saya berubah pikiran menjadi suka tokoh ini.

Gurutta alias Ahmad Karaeng, dihadirkan oleh Tere Liye sebagai ulama besar dari tanah Bugis. Makassar. Sifatnya yang rendah hati, bersahaja serta dicintai oleh orang-orang yang mengenalnya. Tokoh sentral ini sangat bijak, terbuka dan bisa bergaul dengan siapa saja, bahkan bisa langsung akrab dengan orang yang baru ditemuinya.
Dengan santai ia bisa bercakap-cakap dengan Ruben, semeja dengan Chef Lars, menjadi sangat dekat dengan dua putri Adipati, Anna dan Elsa, serta berdikusi serius dengan Kapten Phillips dan Daeng Adipati.
Kisah heroik Ambo Uleng, pemuda pendiam kelasi kapal Blitar Holland menjadi daya tarik tersendiri. Kejadian serangan serdadu Belanda di sekitar Pasar Turi Surabaya mengajarkan saya, bagaimana menulis adegan demi adegan dengan sangat nyata seakan kita yang mengalaminya. Itulah kepiawaian Tere Liye.

Tema cinta dan romantisme diperlihatkan oleh sepasang suami istri yang sudah sepuh. Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet yang berasal dari Semarang.

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu.  Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.” (halaman 205).

Kisah cinta yang pilu dialami Ambo Uleng. Dia pergi meninggalkan daerahnya demi melupakan sakit ditinggal menikah oleh kekasihnya, sampai-sampai Kapten Phillips menanggapi.

“Aku juga pernah muda seperti kau, Ambo. Hanya dua hal yang bisa membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat yang dia sukai, lantas memutuskan pergi naik kapal apa pun yang bisa membawanya sejauh mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam. Oh my son, jangan-jangan, kau mengalami dua hal sekaligus.” (halaman 33).

Nah itulah sedikit cuplikan cerita dalam novel Rindu. Insya Allah saya akan tulis lagi kelanjutannya. 
Penasaran?
Eh yang sudah baca, pastilah hafal jalan cerita selanjutnya. Namun yang belum baca, pasti menjadi penasaran.
Kamu kategori yang mana?
To be continue ...

Judul Novel: Rindu

Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Cover: Andriyati
Penerbit: Republika. Jakarta
Cetakan ke XL (Oktober 2016).



Minggu, 18 November 2018

Novel Lama yang Masih Membekas Dalam Ingatan




Dari semua jenis bacaan yang pernah saya baca, bacaan jenis  fiksilah yang paling sering saya baca. Rasanya asyik saja manakala menelusuri kata demi kata lalu dirangkai menjadi kalimat yang  mendramatisasi hubungan antar manusia atau antar makhluk.

Seakan berada dalam alur yang diciptakan oleh penulisnya. Ikut serta atau hanya sekedar jadi penonton atas kejadian atau konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh hasil rekayasa penulis.

Masih teringat jelas novel pertama yang saya baca, yaitu Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. (Ketahuan umurnya, hehehe…).
Saya masih mendapati novel itu ditulis dan dicetak dalam bahasa Melayu dengan menggunakan ejaan lama, dimana kata “U” ditulis “OE”, atau kata “J” dituliskan dengan “DJ.”
 
Sumber Foto: Yahoo.com


Tokoh yang berperan dalam novel inipun masih sangat jelas. Ada Syamsulbahri sebagai tokoh protagonis, juga Sitti Nurbaya. Lalu ada tokoh antagonisnya, yaitu Datuk Maringgi. Sedangkan tokoh pendukungnya adalah Sultan Mahmud Syah ayah Syamsulbahri, Baginda Sulaeman, Siti Maryam, teman-teman Syamsulbahri yakni Zainularifin dan  Bakhtiar.

Setting cerita novel ini  terdiri atas dua bagian, yaitu di kota Padang dan di Jakarta dengan latar waktu sekitar tahun 1920-an.
Novel Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai  ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922.

Novel kedua yang masih lekat dalam ingatan saya adalah “Salah Asuhan” karangan Abdoel Moeis. Diterbitkan oleh Balai Pustaka dan dirilis pada tahun 1928.
Sumber gambar: Yahoo,com

Novel Salah Asuhan ini menceritakan tentang cinta terlarang antara Hanafi dan Qory dikarenakan perbedaan kebangsaan. Sedangkan setting ceritanya mengambil latar kota Solok Sumatra dan Semarang.

Adalah Hanafi seorang pemuda terpelajar berdarah Minangkabau yang dipaksa menikah dengan Rafiah oleh mamaknya karena balas jasa. Pertemuan Hanafi dengan cinta lamanya Qory menjadikan Hanafi berhati dua. Hanafi  menceraikan dan meninggalkan Rafiah demi menikahi Qory yang berdarah indo-Prancis.

Rupanya perbedaan latar belakang keduanya menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Puncaknya Qory meminta cerai lalu pergi ke Semarang. Hingga akhirnya meninggal dunia akibat penyakit kolera yang dideritanya. Karena didera rasa penyesalan yang teramat dalam, Hanafi akhirnya jatuh sakit. Ia memilih kembali ke Solok dan minta maaf kepada mantan isterinya Rafiah, juga kepada ibunya.

Novel ketiga yang masih lekat dalam ingatan adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang dirilis pada tahun 1938. Setting cerita karangan Hamka ini adalah Cilacap, Makassar, Minangkabau, serta Jakarta yang dahulu masih bernama Batavia.  
 
Sumber gambar: Yahoo.com
Dikisahkan tentang Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap selama 12 tahun, lalu menetap di Makassar. Hasil pernikahan Pendekar Sutan dengan gadis Makassar, Daeng Habibah membuahkan anak yang diberi nama Zainuddin.

Setelah Zainuddin menjadi yatim piatu, ia berangkat ke Minangkabau. Sayangnya kehadiran Zainuddin di Minangkabau tidak diterima dengan baik, karena masyarakat Minangkabau menarik struktur kekerabatan dari ibu. Ia dianggap bukan darah Minangkabau karena ibunya berdarah Bugis.

Rasa kesedihan akibat terkucilkan itulah yang kerap ia curahkan kepada Hayati hingga menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka. Singkat cerita, hayati dijodohkan dengan Azis kakak kandung sahabatnya, Khadijah dan Zainuddin diusir dari tanah Minangkabau.

Mengetahui kekasihnya Hayati telah menikah membuat Zainuddin putus asa, ia lalu pergi ke Batavia lalu ke Surabaya. Di Surabaya inilah Zainuddin meraih kesuksesan sebagai penulis. Di saat yang bersamaan keluarga Azis dan Hayati pindah pula ke Surabaya.

Azis yang memiliki kebiasaan buruk menjadikan keluarganya dalam kesusahan. Lalu Zainuddin datang sebagai penolong. Sayangnya konflik rumah tangga Hayati dan Azis berujung pada keputusasaan yang membuat   Azis bunuh diri.
Walaupun Zainuddin menolong keluarga Hayati hingga Aziz berterima kasih dan menitipkan istrinya Hayati kepadanya, tetapi Zainuddin tidak bisa memaafkan Hayati. Zainuddin masih menyimpan dendam atas penghianatan Hayati yang meninggalkannya dan menikah dengan Azis.
Hayati akhirnya disuruh pulang ke Batipuh dengan menumpangi kapal Van der Wijck. Dalam perjalanan, kapal itu tenggelam yang  membuat Hayati meninggal dunia. Sepeninggal Hayati, hati Zainuddin dirundung kesedihan hingga ia sakit dan berujung pada kematian. Ia dikuburkan di samping kuburan kekasihnya Hayati.

Ketiga novel itu memang sangat populer pada era tahun 1970-an. Bahkan oleh guru bahasa Indonesa saya, waktu itu dijadikan bahan bacaan untuk kemudian ditelaah. Jadi jangan heran kalau ketiga novel itu masih saya ingat hingga kini.

Teman-teman yang pencinta bacaan fiksi, novel atau buku fiksi apakah yang masih membekas dalam ingatan?


Jawab di kolom komentar yah.



Jumat, 16 November 2018

“Menyesal” Telah Mengunjungi 5 Tempat Ini


 “Menyesal” Telah Mengunjungi 5 Tempat Ini

Tiba-tiba saya merasa menyesal telah mengunjungi beberapa tempat tetapi   tidak menemukan momen indah yang diharapkan, tidak menikmati momen indah di tempat itu, dan terutama tidak sempat menuliskannya. Padahal tempat-tempat yang saya kunjungi itu adalah tempat yang bersejarah, indah, dan menyimpan banyak cerita.
Sekarang rasanya ingin mengulangi lalu menuliskannya. Tetapi mengulanginya tentu saja tidak akan sama, setiap momen yang dialami pastilah tak akan berulang. Seperti juga waktu, jika sudah berlalu maka pasti tak akan kembali.

Menuliskannya kembali mungkin bisa, hanya saja  butuh perenungan yang mendalam agar setiap kenangan bisa dimunculkan kembali. Yah mungkin serupa de javu.

Pernahkah kalian mengalaminya?

Nah, berikut ini adalah tempat-tempat yang pernah saya kunjungi sekaligus saya sesali itu.. Untungnya masih ada foto-foto yang sedikitnya bisa membuktikan kalau saya memang pernah berkunjung ke tempat itu. Jadi bukan hoaks kan.

Madina

Pebruari 2015  bersama mama saya diberi rezeki melaksanakan ibadah umroh. Madina adalah tempat pertama bagi rombongan kami singgahi sebelum melaksanakan ibadah umroh di Mekka.
Rombongan kami tiba pas azan subuh berkumandang maka kami hanya diberi kesempatan untuk menyimpan barang lalu segera ke Masjid Nabawi. Saya bersama mama segera ke Masjid Nabawi yang berada di depan hotel tempat rombongan kami akan tinggal beberapa hari. 
Berhubung kami belum pernah melihat bentuk Masjid Nabawi sama sekali maka jadilah kami salat di pelataran masjid yang awalnya kami mengira tempat itu  sudah berada di dalam masjid.

Koleksi Pribadi: Di depan Masjid Quba

Menurut beberapa referensi yang saya baca, Madina dahulu bernama Yatsrib lalu berganti nama menjadi Madinah setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah. Di kota inilah Rasulullah dimakamkan. Selain itu, di kota ini pernah menjadi pusat kekhalifahan. Ada tiga khalifah yang pernah berkuasa dan menajdi penerus Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

Selain Masjid Nabawi, ada dua masjid lagi yang kami kunjungi dan melaksanakan salat di sana, yaitu Masjid Quba dan Masjid Qiblatain. Kedua masjid itu merupakan masjid tertua dan masjid tertua ketiga adalah masjid Nabawi sendiri.

Lima hari saya dan rombongan berada di kota ini. Banyak kisah yang tak sempat saya catat, banyak pula cerita yang mengharubiru dan sekali lagi saya menyesal karena tak sempat menulisnya.
Penyesalan saya lainnya  ketika berada di kota Madina adalah saya tidak dapat mengambil banyak gambar yang menarik, padahal begitu banyak tempat yang sangat indah untuk diabadikan.

Penyesalan lainnya adalah saya tidak sempat mencatat nomor handpone teman-teman seperjalanan, padahal mereka adalah saudara-saudara baru saya yang baik hati dan asyik. Jadi setelah kembali ke tanah air kami kehilangan kontak. Semoga hal itu karena disebabkan saya fokus ibadah sekaligus mendampingi mama sehingga dapat dicatat sebagai pahala. Aaamiin.

Mekka

Hari ke-6 rombongan kami berangkat menuju Mekka. Sepanjang jalan, saya merekam kota yang sangat indah itu. Sayangnya semua hasil rekaman itu terhapus. Tiba di Mekka sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Kami hanya diberi waktu sekitar 10 menit untuk menyimpan barang di hotel lalu segera berkumpul dengan rombongan dan bersiap melaksanakan ibadah umroh.

Koleksi Pribadi: Seusai Menjalankan Ibadah Umroh


Rombongan kami berada di kota Mekka ini selama lima hari. Melaksanakan ibadah umroh sebanyak dua kali. Ingatan di kota suci sebenarnya masih cukup jelas, tetapi banyak penggalan-penggalan cerita yang terputus. Terutama cerita-cerita manis saya bersama mama.
Di kota inilah saya merasa untuk pertama kalinya menjadi anak yang berbakti untuk mama saya. Dengan sabar saya  membimbing, mengantar, dan meladeni mama saya walaupun sesekali dapat juga omelannya. Saya terlalu lambat berjalan dibandingkan mama yang masih lincah.


Saya dan Mama  di Masjidil Haram

Sangat menyesal karena tidak dapat membantu mama saya mencium Hajratul Aswad, padahal itu adalah salah satu impiannya. Ustaz yang mendampingi kami tidak mau mengambil resiko, mengingat mama saya sudah cukup sepuh. Ustaz mengkhawatirkan keselamatan mama saya.
Saya juga tidak sempat foto-foto di antara burung-burung di sekitar pelataran Masjidil Haram. Apalagi saat melihat foto-foto teman rombongan yang berpose di antara burung-burung itu, duh rasanya cemburu hihihi… 

Dieng Wonosobo

Desember 2016 saya ikut rombongan teman-teman Ayangbeb berlibur ke beberapa tempat wisata di Dieng Wonosobo. Sebenarnya teman-teman Ayangbeb itu adalah  teman-teman saya juga. Kami pernah sekantor, jadi tidak perlu lagi beradaptasi, toh kami sudah sering seru-seruan.
Ada tiga tempat wisata yang kami kunjungi di Wonosobo, yaitu Telaga Warna, Bukit Sikunir, dan Kawah di Dieng.

Menyusuri jalan menuju Bukit Sikunir pada malam hari memberikan sensasi tersendiri. Tiba di atas bukit sekitar pukul 12.00 malam, menyisakan keletihan. Akibatnya sunrise tak dapat saya nikmati. Padahal tujuan ke bukit ini adalah ingin melihat sekaligus mengabadikan sunrise yang sangat terkenal itu. Menyaksikan sinar matahari yang berwarna kekuningan itu pastilah sangat indah.

Saya dan Ayangbeb di Dieng Wonosobo 😄

Ketika ke Kawah Sikidang bau kawah yang menyengat membuat saya sedikit sesak. Maka saya hanya dapat memandang teman-teman yang turun ke sekitar kawah dan berfoto-foto ria di sana. Untungnya pemandangan indah berupa hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar tanah kawah masih bisa saya nikmati. Tapiii … tak ada fotonya. Hiks.

Rombongan SMPN 7 Makassar

Nah di Telaga Warna inilah satu-satunya tempat yang cukup memberi saya kepuasan karena bisa foto-foto bersama Ayangbeb sekaligus menikmati telaga yang indah. Walaupun tidak dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga untuk lebih menikmati keindahannya.

Di Telaga Warna😍

Bandung

Sudah tiga kali saya mengunjungi kota kembang ini, tetapi belum sekalipun mengunjungi daerah wisatanya. Padahal begitu banyak tempat yang asyik untuk dikunjungi. Yah memang saya ke Bandung bukan untuk liburan apalagi untuk wisata, tetapi kan bisa juga perjalanan dinas diselingi dengan liburan (harapan saya).

Pertama kali ke Bandung, sempat menginap di salah satu villa di Ciwidey tetapi esoknya langsung meneruskan perjalanan. Belum sempat menikmati pemandangannya dan  belum sempat foto-foto, rombongan langsung jalan. Wuis kecewa berat.

Hingga saya berniat,  suatu saat saya akan ke Bandung lagi tetapi hanya berdua Ayangbeb saja atau diantar sama anak.

Kedua kalinya ke Bandung adalah studi banding ke beberapa sekolah swasta. Namanya juga studi banding, yaah yang didatangi adalah sekolah-sekolah. Jadii… yang dikunjungi sekolah saudara-saudara! Hehehe…

Yang ketiga adalah saat mengunjungi si sulung. Sempat jalan ke kawasan Cihampelas Walk atau Ciwalk dan menikmati objek wisata Teras Cihampelas yang membentang sepanjang 450 meter di atas jalan Cihampelas.

Duduk sejenak sebelum jalan lagi. Weits capek juga ya. Tanda-tanda sudah tuir 😅

Selain itu, sempat pula salat di Masjid bersejarah kebanggaan warga bandung, yaitu Masjid raya Bandung. Sedikit mengobati kekecewaan karena tidak bisa ke tempat wisata lainnya.


Gorontalo

Sebenarnya mengunjungi kota ini memang bukan untuk berwisata melainkan untuk datang meminang  salah satu putri Gorontalo untuk putra sulung saya. Jadi wajarlah kalau saya tidak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata di kota ini.

Di Bandara Jalaludin Gorontalo

Tetapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk suatu saat datang lagi dan mengukir kenangan di sana. Yang pasti saya sudah berhasil memboyong putri terbaiknya untuk putra sulung saya.
Nah, teman-teman ada jugakah yang memiliki pengalaman seperti saya? Cerita ya di kolom komentar.