Selasa, 02 Oktober 2018

Musibah Seharusnya Mengajarkan Banyak Hal



 Ketika musibah menghampirimu maka kamu akan tahu siapa saudara dan sahabatmu  sesungguhnya, karena tidak semuanya akan perduli kepadamu.


Saya tidak percaya kalimat tersebut. Namanya teman apalagi yang mengaku sahabat mana mungkin tidak perduli dengan derita atau kesusahan yang dialami teman apalagi sahabatnya.  
Tetapi itu dulu.  Sebelum   suatu musibah menimpa keluarga saya.  

Saat kita tertimpa musibah maka akan kelihatanlah orang-orang yang bersimpati, orang-orang yang ringan tangan membantu tanpa perlu diminta, saudara dan teman-teman yang datang menolong tanpa pamrih.

Sebaliknya akan kelihatan pula orang-orang yang tersenyum samar tetapi puas melihat penderitaan kita. Datang mengucap kata turut prihatin tetapi disertai senyum kemenangan, seakan ini adalah pertarungan yang dia menangkan. 
Bahkan ada yang datang sekedar menonton sambil berfoto-foto ria. Memotret duka sambil tertawa suka.

Sadis!

Saat musibah itu menimpa keluarga saya di Makassar,  saya  sedang mengikuti studi banding ke beberapa sekolah di Surabaya dan di Yogyakarta. Kejadian itu terjadi saat saya sudah berada di salah satu hotel di Yogyakarta.
Setelah mendengar kabar itu, saya melapor kepada ketua rombongan untuk kembali ke Makassar. Tujuan saya hanya satu adalah  pulang secepatnya.

Berita tentang musibah yang menimpah saya dengan cepat menyebar ke anggota rombongan. Apalagi waktu itu, ketua rombangan meminta sumbangan kepada semua anggota rombongan. Padahal saya tidak minta. 

Beragam sikap dan celotehan yang saya dapatkan. Ada yang datang memeluk sambil berbisik, “Sabar ya Bu. Insya Allah semua akan diganti oleh Allah dengan rezeki yang lebih baik.”

Ada yang datang menyalami sambil bertanya. “Bagaimana keadaan keluarga-ta Apakah mereka baik-baik saja?”

Ada pula yang berkata. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, sabar Bu. Jaga kesehatan, jangan stress.”

Itu komentar yang positif dan cukup menghibur.

Beberapa di antara rombongan ada teman yang kenal dekat dengan mama dan keluarga saya. Beliau menanyakan kabar mama, anak-anak, dan adik-adik saya. Mengajak berbincang sambil menunggu bis yang akan mengantarkan saya ke Bandara. Di tengah perbincangan itu, Beliau bertanya tentang apakah ada barang berharga yang saya sembunyikan tetapi keluarga lainnya tidak tahu?

Saya langsung ingat.  Sedikit emas batangan yang saya sembunyikan di balik buku-buku dalam lemari. Spontan saya menelepon putra sulung saya, memberitakan keberadaan emas tersebut. Melalui telepon saya memberi petunjuk tentang letaknya hingga akhirnya emas yang tidak seberapa itu ditemukan.
Mungkin karena  menelepon dengan suara sedikit nyaring karena panik atau apalah, saya lupa gambaran perasaan saya waktu itu, sehingga beberapa orang yang duduk di sekitar kami  mendengarnya.
Maka mulailah suara-suara sumbang itu datang.

“Bagus ya Bu, ibu punya emas batangan.” Seorang ibu berkata dengan senyum yang terlalu manis untuk dikenang.

Tawwa ada emas batangannya.” Nyeletuk ibu lain dengan muka kecut sekecut cuka level 99%.

“Alhamdulillah kalau emasnya bisa ditemukan, jadi ada dong modal lagi untuk bangun rumah.” Ini menghibur apa menghinakah?

“Berarti tidak terlalu parah-ji rumah-ta, buktinya emas-ta bisa-ji diselamatkan.” Pertanda tidak puas dengan musibah saya karena masih ada yang tersisa. 
Beuh…

Bahkan ada sekumpulan ibu-ibu yang bercanda.

“Eh minggir dong yang punya emas batangan mau lewat.” Kata seorang ibu yang memakai jilbab paling lebar.
“Silahkan orang kaya!” Timpal lainnya sambil tertawa cekikikan.

SADIS!

Tahukah kalian? Sejak mendengar berita musibah itu tak setetespun air mata yang keluar,  tetapi mendengar suara-suara itu hati saya tersayat perih.

Saya pikir jika saya sudah berkumpul dengan keluarga maka celotehan yang “manis” tak terdengar lagi. Nyatanya makin gencar bahkan dengan mudahnya menghakimi dan menuduh seluruh korban musibah.
“Kamu tahu kenapa daerahmu kena musibah? Karena Allah marah!”
“Pantas daerahmu kena musibah, banyak uang haram sih yang beredar.”

Ya Allah!

Untunglah sekarang saya sudah melupakannya.  Tetapi tidak benar-benar hilang dari ingatan. Karena setiap ada kejadian serupa muka orang-orang itu seakan muncul lagi. Suara-suara sumbangpun kembali terngiang. Padahal harusnya dilupakan.
Tetapi itulah kenyataannya. Pikiran tidak bekerjasama dengan hati.




STOP SHARE!

Musibah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan musibah gempa bumi yang dialami saudara-saudara kita saat ini. Kehilangan harta belum seberapa dibandingkan kehilangan nyawa.
Gempa dan tsunami yang melanda Sigi, Donggala, dan Palu tahun ini sungguh telah menyisakan luka yang tak terperi. Betapa banyak yang kehilangan keluarganya dan orang-orang yang dicintanya. Ada  jazad telah  ditemukan tetapi tidak sedikit  yang hilang tanpa kabar. 
Sungguh telah mengharubiru banyak hati. 

Apakah mereka aman dari celoteh dan nyinyiran?
Mungkin saja mereka tidak mendengar langsung celoteh dari orang-orang di sekitarnya, tidak melihat senyum-senyum sinis yang seakan menghakimi mereka.

Tetapi saat ini dunia maya jauh lebih kejam daripada dunia nyata dan jemari lebih tajam daripada mulut.

Jika lidah bisa disebut tak bertulang lalu jari-jari yang mengetikkan kata-kata yang menyakitkan disebut apa? Jika 2 kali 14 tulang ruas pada jari tangan tak  diberi nyawa, paling tidak pemilik jari-jari itu memiliki hati dan otak.

Hati dan otak seharusnya saling bekerjasama dalam mengelola pengendalian diri. Agar tidak gampang menuliskan kalimat-kalimat yang menyakitkan. Agar tidak mudah mengklik berita, video dan apapun lalu mengirimkan ke media sosialnya.

Cukuplah dibagikan ke kalangan terbatas untuk saling mengingatkan, untuk saling menjaga serta saling  menghibur hati yang gulana.

Berhentilah saling menyalahkan dan mencari sebab musababnya!  
Karena sejatinya semua yang terjadi diluar kuasa manusia. Apapun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah skenario yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Berhentilah saling nyinyir antara yang membantu dengan yang tidak membantu! 
Karena bisa jadi yang kelihatan diam, tidak share di media sosialnya, atau yang tidak berkomentar apa-apa justru lebih banyak membantu dan berdoa untuk keselamatan saudara-saudara kita yang terkena musibah.  

Ketahuilah, bukan hanya musibah yang menyisakan kepedihan karena itu bisa saja hilang seiring dengan keikhlasan menerimanya,  melainkan kepedihan yang membekas karena hujatan dari orang-orang yang sok suci.

Mereka bisa bangkit lagi dengan sisa-sisa tenaga dan sedikit bantuan dari orang-orang tetapi pedihnya hati akibat dikecam dan dituding tanpa ampun akan terus membekas.

Semoga kita semakin cerdas bermedia.

79 komentar:

  1. Bunda...saya kok enggak habis pikir ya sama yang menghujat dan berkata tak semestinya saat ada bencana. Apa mereka tak berpikir bagaimana jika hal yang sama menimpa diri atau keluarganya?
    Apakah hujatan akan menyelesaikan masalah? Bisakah semua pulih jika saling mencaci dan bukan bekerja sama mengangggulangi?
    Bukankah bencana bisa menimpa siapa saja tanpa memandang siapa itu..
    Ah, semoga semua saudara yang sedang dicoba diberi kekuatan oleh Allah SWT. Dan segera pulih keadaan di sana dan semangat lagi menghadapi hari depan nanti...Aamiin



    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Kayaknya yang suka komen julid gitu menandakan kalau dirinya tidak cerdas de.

      Hapus
    2. Mau komen langsung kok susah ya Bunda

      Hapus
  2. Harus banyak bermuhasabah dan bermunajat pada Allah mba..
    Ingat Allah berfirman pada surat Al-Baqarah ayat 155-156
    "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 155-156)

    Bukan tentang siapa yang salah tapi ini sedikit ujian bagi kita..
    Mudah2an hati dan iman kita tetap kuat yah mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, kembalikan saja semuanya kepada Allah SWT.

      Aamiin

      Hapus
  3. Ya Allah bun, julid-julid banget sih mereka kaya netijen aja. Ih saya gemes punya temen2 julid gitu. Yang sabar ya bun, Alhamdulillah sekarang itu semua sudah berlalu, semoga Allah mudahkan bunda untuk bertemu orang2 baik dan tulus. Mereka yg pernah menghina bunda diberikan hidayah. Aamiin 🤲🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemes juga saat itu, tetapi sekarang sudah biasa saja. Apalagi setelah melihat akibatnya bagi mereka yang julid dulu.

      Hapus
    2. Jadi penasaran. Akibatnya apa Bun? Beneran, saya sampe nganga pas baca yang baguan itu. Sampe istighfar berkali-kali. Kok bisa gitu lo?

      Hapus
  4. Sedih banget melihat saudara2 kita. Lombok belum usai, menyusul Palu, Donggala, dan Sigi. Tapi itulah ketetapan Allah Swt yg pasti ada hikmah setelahnya. Berhikmah, jika kita semua mau fokus tolong menolong sbg sesama anak bangsa. Tapi hikmah itu bisa hilang jika di saat seperti ini malah mengeluarkan ujaran2 tak pantas :( Rabbanaa, ampuni kami.
    Tulisan yg menggugah nih, Bunda 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya seperti ya Mbak. Tetapi tidak semua bisa seperti itu sih.

      Hapus
  5. Duh, memang lidah tak bertulang ya. Mudah sekali menghakimi orang lain. Jaman now, lidah saingannya jempol. Sama tajamnya, entah untuk memuji ataupun untuk menghina. Semoga kita semua dijauhkan dari kekejian seperti ini ya Bun. Sehat dan semangat selalu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sayang. Semoga Mbak Bety juga sehat sekeluarga ya..

      Hapus
  6. cucok bunda. kalau kita kesusahan kita bakal tau siapa yang sunggu sahabat sejati dan hanya sekedar sahabat

    BalasHapus
  7. Gak pernah ngerti sama orang yang suka menghemat. Semoga Allah membuka hati dan pikiran mereka

    BalasHapus
  8. Ah, so sadis komennya. kalau saya yang kena pasti udah ... ah sudahlah.males juga ngeladeni orang kayak gini. Termasuk untuk urusan bencana yang akhir2 ini terjadi, saya lebih banyak diam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diam kan bukan berarti kita tidak perduli. Tetapi menjaga jari dan lisan daripada ujaran kebencian. Setuju de sama Mbak Damar

      Hapus
  9. Saya suka ulasannya. Sampai skrg sy gak habis pikir dengan mereka yg nyinyir. Sering ketemu. Ada musibah di satu tempat, eh ada yg komen pantas aja dikasih musibah krn sering maksiat. Ya Alloh. Mudahan gak lama lagi musibahnya berbalik sama yg komen sinis.

    BalasHapus
  10. Ya Allah, saya jadi membayangkan bagaimana perasaan mba Dawiah saat mendengar suara-suara sumbang tersebut, akalu saya pasi udah nangis kejer dengarnya, ya Allah ada saja ya orang yang tega berkata sadis di tengah orang mendapat musibah

    BalasHapus
  11. Ya Allah Mbak, sabar ya, insyaallah semua musibah menjadi penggugur dosa. Tiap orang pasti punya dosa kan ya, yang coment nyinyir juga punya dosa, jadi ga bisa sok suci. Semoga segera berlalu ya ujiannya

    BalasHapus
  12. Ya Alloh, hanya bisa meminta perlindungan agar terhindar dari kejelekan baik dari diri sendiri maupun oraang lain.

    Aamiin

    BalasHapus
  13. Ya Allah..kejam sekali komen2nya..bahkan bila itu dimaksudkan untuk bercanda yang sangat tak pantas juga dilakukan. Trims mba, diingatkan untuk selalu menjaga tingkah laku kita, terlebih dalam bersosialisasi..

    BalasHapus
  14. Aku juga gak habis pikir sama orang yg main2 dan komentar bodoh padahal mereka sedang susah. Semoga kita akan bijak bersosial media

    BalasHapus
  15. Musibah itu kekuasaan Alloh ada apa dibalik itu hanya hak Alloh yang tahu. Yang harus kita lakukan banyak istighfar, mungkin Alloh ingin mengingatkan begitu mudah Alloh membuat sesuatu itu musnah.
    Mengetuk hati agar banyak hati terketuk untuk menolong sesama tanpa melihat suku ras agama atau perbedaan lainnya. Sungguh saya berhari-hari menangis melihat gempa di Sulawesi. Bahkan sempat ingat bunda di dekat sana. Semoga Alloh melindungi kita semua aamiin.

    BalasHapus
  16. Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun itulah yang pertama kali kita ucapkan ketika ada musibah, ketika kita mendengar musibah. Dan tentu saja harus bijak lah mensikapi musibah. Berkomentar macam-macam atau malah membuat sedih itu baiknya dihindari. Musibah berarti Allah sedang menegur manusia. Dan kita banyak bermuhasabah kemudian mengambil hikmah dari setiap kejadian.

    Terima kasih sharingnya Mbak

    BalasHapus
  17. benar mba. setuju banget ama kata - kata kalau musibah membuat kita tau siapa orang yang benar peduli dengan kita. Bahkan kadang orang yang paling dekat kita malah yang paling sadis. Keep strong mba

    BalasHapus
  18. Ya Allah, perih bgt pasti rasanya ya. Been there. Peluukkk..

    BalasHapus
  19. Aamiin.. ucapan di media sering lebih pedas daripada didengar langsung ya. Semoga bisa kembali pulih dari kehilangan.

    BalasHapus
  20. Innalillahi.. mulut mu harimau mu. Walau bikin spanning dan kuping panas, yang kita bisa hanya bersabar aja mba. Karma does exist

    BalasHapus
  21. ya Allah, sedihnya :(

    Semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah diberi kekuatan untuk menghadapinya, amiin

    BalasHapus
  22. Setuju bunda. Kadang kita benar2 harus memilih mana yg tepat utk dibagikan dan mana yg dikonsumsi sendiri. Kadang tanpa sadar kita sudah berbagi kekhawatiran dengan apa yg kita bagikan. Semoga kita semua selalu dlm lindungan Alloh SWT ya bunda. Aamiinn

    BalasHapus
  23. Duh gemes banget deh sama yang komen, kalau saya dikomenin gitu pastu udah ngamuk-ngamuk, mba Dawiah sabar banget, semoga kita lebih bisa menjaga lisan dan jari kita ya dari menghujat orang lain

    BalasHapus
  24. semoga Allah kuatkan selalu ya mba. Musibah bukan hanya ujian bagi yang terkena dampaknya langsung tapi juga bagi sahabat dan saudara di sekitar daerah bencana. keep sabar dan tawwakal yang selalu dipegang.

    BalasHapus
  25. Semoga disadarkan dan dituntun menjadi lebih baik ah.
    Beberapa memang ada yang begitu Mba, tetap berpikir positif dan melapangkan hati dengan bijak. Kadangdiam memang lebih baik, daripada bersuara tapi memperparah.

    BalasHapus
  26. Duh miris banget ya, saat ada musibah, para penonton tersenyum sinis bahkan mengambil foto untuk dishare, keknya bangga berada di objek tersebut ya. Semoga kita semua diberikan keselamatan ya, mbak, aamiin

    BalasHapus
  27. Aduuuh, aku suka sedih meski hanya melihat beritanya di sosmed atau TV. Sebisa mungkin juga nggak share, milih mendoakan aja kalo bisa sih bantuin dalam bentuk materi meski tak seberapa

    BalasHapus
  28. Ikut sedih ya mba.. semoga orang2 seperti itu cepat tercerahkan :)

    BalasHapus
  29. Bunda sy baca komentar teman2 kogh sebel ya huhu. Siapa sih yg mau kena musibah, emas batanganmu jadi bahan lelucon, hiks. Semoga dengan musibah banyak merenung, banyak ibadah, karena ternyata dari cerita musibah di Palu, meninggal tak harus menunggu tua.

    BalasHapus
  30. Kalau aku pribadi biasanya gitu mba.
    Jika ditimpa musibah aku lebih banyak bermuhasabah (evaluasi diri).
    Jika hartaku diambil, mungkin aku kurang sedekah.
    Jika aku sakit, aku harus lebih menjaga kesehatan, memperhatikan makanan, waktu istirahat dan lain-lain.

    BalasHapus
  31. Naudzubillahi mindzallik.. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti itu dari dari orang-orang yang bersifat seperti itu. Aamiiin...

    BalasHapus
  32. Memang benar Bunda, lebih baik diam daripada ngeshare berita yang menyakiti keluarga yg sedang tertimpa bencana. Kalau tidak bisa membantu banyak, setidaknya tdk menambah dukanya.

    BalasHapus
  33. ya Allah segitunya. Aku sekarang belajar banget agar bisa ngerem komentar.

    BalasHapus
  34. Ya Allah.. enggak di dunia nyata enggak di dunia maya, ada saja ya orang-orang yang sadis berucap. Gemas sekali dengan orang-orang seperti itu, bikin hati panas, menyakiti orang lain.
    Ya Allah... Sabar ya, Mbak. Semoga saudara-saudara kita yang terkena musibah dimudahkan Allah dalam menghadapinya. Aamiin.

    BalasHapus
  35. Aku ga habis pikir deh bun dengan orang2 yang tega berkata yang tidak-tidak saat terjadi musibah. Paling sebel dengan komentar2 sok suci trus mencari kambing hitam. Seakan2 dirinya kebal dari musibah. Padahal segala sesuatu yg terjadi di dunia ini adalah hak dari Yang Maha Kuasa. Makanya kalo di sosmed aku pasti unfriend bun, org2 yg tipikal kayak gitu.

    BalasHapus
  36. Semoga kepada saudara yang tertimpa musibah diberi kekuatan dalam kesabaran. Hadapi dengan rasa ikhlas kalau ada orang julid. Walau sulittttt dan aku pernah mengalami

    BalasHapus
  37. Bener banget. Masih banyak dari kita yang kurang empati saat musibah. Ada yang becanda, ada yang share hoax yang nakut-nakutin, dan ada juga yang cari kesempatan. Semoga kita semua bisa menyikapi musibah dengan cara yang bijak.

    BalasHapus
  38. Saya juga suka ngga habis pikir dengan mereka yang komentarny tidak menyenangkan or kadang ngga penting saat ada yg tertimpa musibah. Biarkanlah mba orang2 itu.. yg penging kita selalu minta perlindungan-Nya

    BalasHapus
  39. Subhanallah...
    Smoga Allah menyembuhkan trauma pasca terkena musibah ya, mba...
    Sama halnya seperti saudara-saudara kita di Lombok dan Palu.

    Semoga Allah melindungi keluarga mba Dawiah selalu.

    BalasHapus
  40. Sedih emang org zaman skrng mudah berkomentar kejam. Kurang empati.
    Kyknya survei di Indonesia emang bilang mbak semenjak ada medsos kyknya kita bukan lg org Indoensia yg terkenal ramah gtu :(
    Makanya kalau ada musibah, saya gak paham apapun, saya gk akan komentar....

    BalasHapus
  41. Di sekitar kita memang akan selalu ada yang seperti ini mba. Bahkan saat terjadi musibah yg menimpa saudara2 kita, entah di Lombok ataupun Palu. Bukannya bersimpati atau gimana, malah bilang bencana ini karena ulah manusia juga. Duuuhh...sungguh miris. Sudah tertutupkah itu rasa empati dan kemanusiaannya. Jadi sedih aku mba klo bahas soal ini. Semoga kita tidak menjadi orang2 yg demikian ya.

    BalasHapus
  42. Jadi pelajaran juga buat kita ya mbak supaya bisa lebih empati dengan musibah yang dialami orang lain. Aku gak pernah share info apa2 mbak kalau di wa

    BalasHapus
  43. Setuju Kak. Sepertinya perlu ada "workshop menahan bibir dan jempol".

    BalasHapus
  44. Maaf mbaa.
    Aku merasa tertampar baca artikel ini.
    Untuk terus jaga mulut dan jempol.

    Smoga siapapun yg terkena musibah saat ini segera bangkit dan di bahagiakan Tuhan. Aamiin

    BalasHapus
  45. Baca tulisan kak Dawiah, saya jadi teringat bbrp thn yg lalu saat saya kehilangan semua harta benda yang sekuat tenaga kukumpulkan. Perampokan disiang hari bolong itu, membuatku harus mengikhlaskan semuanya dan kembali lagi ke NOL. Tapi percayalah, dibalik semua kejadian, ada rwncana Allah yang indah untuk kita. Aamiin...

    BalasHapus
  46. Bersyukur Kak Dawiah menulis ttg ini. Saya juga menulis topik ini

    BalasHapus
  47. Sedih banget ya mba klo ada musibah orang malah nyinyir dan bersikap bikin sakit hati.

    Makanya kalo quote Ali bin Abi Thalib, hitung jumlah kawan itu ketika kita ditimpa musibah.

    Semangat mba.

    BalasHapus
  48. Duh aku ikutan emosi jadinya..masih ada aja orang kek gitu, mulutnya nggak bisa diredam nggak mikir dan nggak punya hati kalau orang lagi tertimpa musibah. Sabar selalu ya mbak.

    BalasHapus
  49. Jukidnya semuaa bibir jd kayak lambe turah cin. Tp ya itu hanya yg pernah mengalami atau yg memiliki empati yang masih menyejukan.

    Ketika musibah menghampirimu maka kamu akan tahu siapa saudara dan sahabatmu sesungguhnya, karena tidak semuanya akan perduli kepadamu. Aku noted bgt kata2 itu mba.

    BalasHapus
  50. Duh gemes ku sama teman studi banding ta... org kalau kena musibah harus ki bersimpati. Ini malah julid. Tapi karena semua itu bisa meki tau yang mana sebenarnya hatinya kurang baik toh kk...

    BalasHapus
  51. Yang bisanya komen nyinyir itu belum pernah merasakan ada di posisi korban, jadi bisa seenaknya bicara. Semoga kita selalu dihindarkan dari sifat yang demikian.

    BalasHapus
  52. artikel membuka wawasan saya terhadap kejadian di sekitar kita.
    Turut berduka terhadap semua orang yang terkena musibah.

    Thank you for sharing.

    BalasHapus
  53. Kadang yang nyinyir itu merasa gak pernah rasakan bahagia kak..

    noted banget ini, kadang kitapun yang paham ilmunya kadang bisa terselip rasa nyinyir..Yaa Allah, semoga kita dijauhkan dari sikap yang bikin sakit hati saudarata :(

    BalasHapus
  54. Dan makin sedih ketika yg begitu orang yg kita kenal baik
    Nyesek
    Tp jd tau

    BalasHapus
  55. Ya Allah....betapa bahayanya lisan. Apalagi di depan orang yang tertimpa musibah. Semoga kita dijauhkan dari hal demikian

    BalasHapus
  56. Innalillahi wainna ilaihi roojiun
    itu saja setiap musibah datang dan menjaga keikhlasan hati kita

    BalasHapus
  57. Semoga kita bisa mengambil hikmah dr semua kejadian ya. Aamiin...

    BalasHapus
  58. Sejatinya Musibah adalah pengingat bagi diri.

    BalasHapus
  59. Manusia itu memang makhluk yang paling dimengerti, ada yang terkena musibah masih saja bisa nyinyir.
    Tapi aku percaya, lebih banyak lagi orang yang peduli dan menghargai.
    Semua akan selalu ada hikmahnya ya, Mba.

    BalasHapus
  60. Manis di depan belum tentu manis dibelakang, memang benar Bu, walaupun punya banyak teman, disaat kita senang, semua mau berkumpul, namun belum tentu semua mau diajak kerjasama disaat kita susah

    BalasHapus
  61. saya kadang juga heran lho, ada orang2 yang merasa iba orang lain kena musibah, tapi beberapa menit kemudian mereka cekikikan sambil foto2 nggak jelas. Cekikikannya di depan orang yang kena musibah lagi. Semoga orang2 terdekat kita selalu dijauhkan dengan sikap seperti itu ya, Mbak.

    BalasHapus
  62. Mantap.jiwa. tulisan dan blog, bagus banget mbak

    BalasHapus
  63. semoga kita terhindar dari sifat saling menyakiti dan berusaha menebar kebaikan di manapun berada...

    BalasHapus
  64. Walaupun sangat menyebalkan, kenyataannya orang-orang seperti itu selalu ada, bergembira jika orang lain dapat musibah. Cara terbaik memang berusaha bersikap tenang dan tidak peduli. Jika tidak ada tanggapan, komentar-komentar seperti itu akan hilang sendiri, malah bisa timbul rasa malu karena sudah bersikap tidak pantas. Btw, saya suka blognya Mbak Dawiyah, tulisannya besar-besar, gampang dan cepat dibacanya.

    BalasHapus
  65. Subhanalloh diingatkan dengan tulisan ini. Ikhfadz lisaanaka... Begitulah islam menganjurkan untuk menjaga lidah, karena nyatanya kata-kata nyinyir dari lidah memang bisa melukai perasaan, semoga kita tidak termasuk orang yang nyinyir

    BalasHapus
  66. Semoga Bunda Dawiah diberi kesabaran, kalau Kita sabar mengasah nyinyiran dapat pahala, biar Allah yang Bala's, Allah ga tidur, Bun.

    BalasHapus
  67. saya juga heran mbk, dengan orang yang begitu mudahnya nyinyir atau asal jeplak, padahal hanya melihat *sekelebat* aja.

    keep setrong yaaa mba!

    BalasHapus
  68. musibah adalah pelajaran bagi kita agar lebih dekat pada Allah. Nice phost mba.

    BalasHapus
  69. semoga kita bisa saling memaafkan jika ada yang menghujat seperti itu

    BalasHapus