Sabtu, 03 Maret 2018

SAGUSAKU DELAYING 2018

Menindak lanjuti kegiatan Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih (TNP) bulan Januari 2018 kemarin, maka inilah kegiatan yang bertujuan memantapkan salah satu kanal pelatihan IGI, yaitu Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU). Kanal pelatihan ini adalah kanal pilihan saya sejak awal bergabung di IGI.

Bukan tanpa sebab saya bergabung di kanal ini, semuanya berawal dari keinginan  saya, memiliki buku dan memahatkan karya saya sebagai warisan yang abadi.

Kegiatan TNP menghasilkan satu keputusan penting bagi kanal Sagusaku, bahwa guru yang telah dikukuhkan menjadi pelatih nasional IGI harus dibekali ilmu yang mumpuni, agar proses pelatihan yang akan dilakukan tidak asal-asalan. Oleh karena itu, Sagusaku melakukan pelatihan khusus bagi para pelatihnya dengan nama  “Pelatihan Coach Nasional Sagusaku IGI “Delaying.” Kegiatan ini dilaksanakan di Solo Jawa Tengah.

Mengapa Delaying?

Delaying adalah singkatan dari Desain, Editing, Lay out, dan Marketing. Materi-materi inilah yang akan diberikan kepada pelatih sagusaku delaying 2018.
Walaupun tidak sesuai dengan jadwal pelatihan yang telah dibagikan beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan ini, namun semua materi yang telah disiapkan oleh panitia tetap terlaksana dengan baik.

Dimulai dengan materi pertama, yaitu proses penerbitan oleh bapak Iqbal  Dawami, kemudain dilanjutkan dengan editing oleh bapak Joko Susilo. Hari pertama kami lalui hingga malam hari. Hari kedua  adalah materi desain cover oleh bapak Gusliani dan Lay Out oleh bapak Peng Keng Sun.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa prinsip IGI yang Sharing and Growing To Gether atau  berbagi dan tumbuh bersama benar-benar telah terbukti. Dari guru untuk guru lalu bersama saling memotivasi dan belajar demi meraih berjuta prestasi.

Adalah seorang guru SD dari Wonogiri yang memiliki skill mengedit suatu naskah, membagikan ilmunya, bapak Joko Susilo. Dimulai dengan informasi tentang sejarah editor yang sudah ada dalam dunia penerbitan buku di Indonesia sejak tahun 1890. Sementara itu, pendidikan editing di Indonesia setingkat diploma tiga (D3) baru dimulai sekitar tahun 1980, yaitu program studi editing D3 di Universitas Pajajaran Bandung.

Editor dalam penerbitan skala besar dibagi menjadi:
·       Chiep Editor adalah seseorang yang memegang kedudukan tertinggi di bagian editorial, bertugas mengontrol, mengelola, dan mengeluarkan keputusan strategis berkaitan dengan proses editorial.
·  Asisten Editor adalah setingkat dengan sekertaris redaksi yang bertugas sebagai pembantu editor yang menangani hal-hal teknis seperti administrasi naskah.
·        Managing Editor adalah seseorang yang mengatur semua kegiatan teknis editorial yang dilaksanakan oleh para editor.
·     Rights Editor adalah staf editor yang bertugas khusus mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta, seperti ISBN dan copyright.
·  Senior Editor bertugas mengatur perencanaan naskah, negoisasi, penjadwalan atau setingkat dengan kepala bagian.
·    Copyeditor adalah staf editor yang bertugas memeriksa dan memperbaiki naskah yang sesuai dengan kaidah yang berlaku sesuai dengan penerbitnya
·   Picture Editor juga adalah staf editor. Tugasnya adalah memeriksa dan memperbaiki bahan-bahan grafis untuk penerbitan.

Materi selanjutnya adalah materi pembuatan desain cover yang dibimbing oleh Pak Guslaini. Nama ngetopnya sih Pak  Bhp, beliau adalah guru muda yang berasal dari Riau. Dengan sabar dan telaten membimbing peserta belajar mengutak-atik aflikasi Photoshop. 

Tahu enggak, di sinilah saya merasa benar-benar sudah sangat matang (hihihi...makanan kali yeh).

Berbekal dengan petunjuk atau tutorial yang disiapkan oleh Pak Bhp, kami belajar hingga larut malam. Semua peserta sangat antusias demikian juga saya. Sayangnya saya belum lulus sampai hari ini, karena saya belum berhasil membuat desain cover buku saya. Tetapi saya pasti akan mempelajarinya. Janji pak Bhp!

Materi yang terakhir adalah materi Lay out. Untuk materi ini ada dua orang hebat yang membawakan materi ini. Pak Bhp (lagi-lagi Bhp, guru muda yang berprestasi dan selalu semangat) dengan bapak Pengkeng Sun. Sama dengan materi desain cover, saya juga masih dalam tahap belajar hingga hari ini.

Seperti pada umumnya pelatihan yang pesertanya berasal dari berbagai daerah, maka nilai positif yang  didapatkan selain materi itu sendiri, adalah silaturahim. Persahabatan dan pertemanan bertambah, jika sudah berkenalan sebelumnya maka perkenalan itu akan semakin akrab. Jika awalnya akrab di dunia maya, maka akan semakin akrab karena bertemu di dunia nyata.

Banyak hal menarik yang terjadi dalam kegiatan IGI kali ini. Terkhusus untuk saya dan teman-teman sekamar. Kami melakukan keseruan-keseruan yang membuat kami selalu kangen. Sekalipun saya yang terdewasa, bukan tertua tetapi bukan berarti saya tidak dapat mengikuti keseruan yang guru-guru muda lakukan.

Seperti menonton sinetron via handpone sambil bersembunyi di dalam selimut, atau selfi bareng,  bahkan mereka dengan nakalnya merekam kegiatan saya saat mengepak barang. Asyik dan membuat kami selalu kangen satu sama lain.

Akhirnya kegiatan selama dua hari telah berakhir. Waktunya para guru kembali ke daerah masing-masing untuk mengajar dan mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan.


Saat orang lain mengisi hari libur dengan jalan-jalan atau beristirahat, kami anggota IGI mengisinya dengan belajar. Sesuai dengan salah satu syair dalam lagu Mars IGI, yaitu “Pantang Mengajar Kalau Tidak Mengajar.”


12 komentar:

  1. Mulialah para guru. Karena berkat jasa para guru, terlahir orang-orang hebat di negeri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  2. Suka dengan judul Marsnya, Bunda, “Pantang Mengajar Kalau Tidak Mengajar.”

    Apalagi saat disebut, makin dewasa justru makin semangat Bunda Dawiah-nya..enggak kalah sama yang muda-muda. Salut! Saya nanti mau tiru itu...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe..selama fisik sehat insya Allah saya selalu semangat. Terima kasih ya..

      Hapus
  3. Semangat mba, gurulah pelita, penerang dalam gulita. Jasamu tiada tara. ^_^

    BalasHapus
  4. hebat! Guru-guru zaman sekarang memang harus mumpuni dan mengasah skill lain yang dimiliki. Tuntutan zaman semakin tinggi, begitu pula anak didik butuh guru2 yang semakin kompeten seperti ini. Mantab, Bu Dawiah.

    BalasHapus
  5. Asyiiik ya klo bisa dapat ilmu literasi seperti itu. Sukses untuk pr design cover bukunya ya..

    BalasHapus
  6. selalu kagum dan salut dengan guru2. Guru-guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa

    BalasHapus