Sabtu, 17 Maret 2018

For My Husband



Sejak kecil saya suka membaca. Menulis hanya sebatas menulis di buku diary, itupun hanya berisi segala perasaan yang melanda di dada,  menuangkan kemarahan-kemarahan dan kekesalan saya kepada seseorang atau kepada sesuatu.

Seperti  saat saya mendapatkan nilai buruk sehabis ulangan, maka buku diary adalah tempat saya melampiaskan kekecewaan kepada guru.  “Kenapa soalnya terlalu sulit, kenapa soalnya tidak sama dengan materi pelajaran yang saya pelajari, dan lain sebagainya.” Padahal dasarnya, saya saja yang kurang belajarnya.

Menulis tentang apa saja di buku diary berlanjut terus hingga saya menikah. Ketika saya marah kepada suami, maka namanya pasti tertulis di buku diary itu. Jika saya gembira karena limpahan kasih sayangnya, maka kepadanya saya persembahan puisi-puisi cinta. Kadang saya menulis sambil berurai air mata, kadang pula saya menulis dengan senyuman tersungging di bibir.

Tiga tahun  awal penikahan,  saya lalui di desa yang cukup terpencil. Akses menuju ke desa tempat saya bertugas belum terlalu lancar. Pasar tradisionalnya digelar hanya dua kali sepekan. Selain itu, tidak ada toko atau warung yang menjual alat tulis kantor yang lengkap. Karenanya ketika buku diary saya sudah penuh, sementara kebutuhan untuk menulis tidak bisa ditunda, maka pilihannya jatuh kepada buku tulis, seperti buku tulis yang biasa digunakan oleh siswa saya.  

Hingga suatu waktu, buku itu hilang. Seharian saya mencari buku itu, tetapi tidak ketemu juga. Sementara tangan ini sudah gatal untuk menulis. Ada ide di kepala saya untuk menulis puisi atau sekedar kata-kata manis buat suami saya. Waktu untuk menulis saat itu sangat pas, anak saya sudah terlelap di atas ayunannya, suami pergi ke kota untuk menjenguk ibunya. 
Untuk mengantisipasinya, saya mengambil selembar kertas dari buku PR siswa saya, semoga siswa saya itu mengikhlaskan kertasnya.

Di secarik kertas itulah saya menuliskan perasaan cinta saya kepadanya, rasa bahagia, kekaguman dan sebagainya hingga kertas itu penuh, timbal balik. Mungkin kalau waktu itu diketik, paling-paling hanya sekitar 200 hingga 300 kata. Kertas itu kemudian saya lipat dengan rapi, lalu saya selipkan di antara lipatan baju dalam lemari.

Suatu waktu, kertas itu ditemukan oleh suami saya. Ia membacanya. Saya melihatnya. Sambil menahan debaran di dada, mengharap ia datang memeluk saya sambil berucap, “Terima kasih sayang, saya juga selalu sayang sama kamu.” 
Saya deg-degan menanti momen yang saya impikan itu.

Kurang dari lima menit, ia membaca kertas itu. Aneh bin ajaib, suami saya menatap tajam kepada saya. Tatapannya seakan menghunjam ke dalam hati. Saya balas menatapnya dengan mulut melongo sambil bertanya, “Ada apa Pak?”

“Siapa itu Hasbi?” Mulutnya mendesis. Suaranya bagaikan amukan harimau yang tertahan.
“Hasbi? Siapa itu Hasbi?” Saya balik bertanya. Bingung, kenapa nama itu keluar dari bibirnya setelah membaca kertas itu.
“Iniiii…” Katanya sambil menyodorkan kertas itu.
“Di sini Mama menulis kata-kata cinta, sayang, kagum, dan pujian kepada si Hasbi itu!” Suaranya geram, menahan kemarahan yang seakan siap meledak.

Saya meraih kertas itu. 
Yah Rabbi!




Rasanya ingin terbahak-bahak, tetapi saya sadar suami saya sedang dilanda cemburu, maka ketawa itu saya tahan. Namun senyum saya tidak bisa saya sembunyikan. Suami saya semakin murka.
“Kenapa senyum! Mama suka sama dia?” Bentaknya sambil meremas lengan saya.

Sambil menahan senyum saya memeluknya, saya raih lengannya, saya ciumi punggung tangannya. Suami saya belum bergeming. 
Saya merengkuh lehernya, saya mengecup bibirnya. Terasa bibirnya dingin. Saya berbisik halus di telinganya, “Sayang, tulisan itu untuk kamu.”
“Coba baca baik-baik judulnya.” Sambil menyodorkan kertas itu, saya menarik pinggangnya untuk duduk di pinggir ranjang.

Di kertas itu saya menulis judulnya, For My Husband. Karena tulisan itu adalah tulisan tangan, dan tulisan tangan saya kurang rapi sehingga kata Husband dibaca Hasbi. 
Hahaha …

Untunglah, tulisan itu saya akhiri dengan kalimat, “Suamiku, sehat terus ya..dan kamu tetap disayang Allah. Semoga kita akan terus bersama hingga maut memisahkan kita. Aamiin.”

Suami saya tersenyum malu-malu meong  sambil berkata, “Ah siapa suruh tulisanmu jelek, kan saya jadi cemburu.”

Ha…ha…ha… kami tergelak bersamaan sambil berpelukan.
Sejak saat itu, saya berusaha menulis dengan rapi, agar Husband tidak lagi dibaca Hasbi.

Apa kabar dengan buku tulis sekaligus buku diary saya yang hilang?
Nantikan jawabannya di buku antologi "Menulis Berbagi Rasa dan Cerita". 
To be continued …


Senin, 12 Maret 2018

ASYIKNYA KOPDAR DI MAKASSAR DIGITAL VALLEY




Senin, 5 Maret 2018 demikian tanggal yang tertera pada undangan yang disebarkan oleh punggawa IIDN Makassar, Mugniar dan Abby. Bagi saya ini adalah kopdar yang keempat kalinya, sekalipun sudah sering bertemu dengan teman-teman penulis Makassar dan anggota IIDN Makassar  diberbagai acara, namun kopdar sekaligus belajar bersama IIDN Makassar baru empat kali.

Kopdar pertama adalah bertepatan dengan bedah buku “Inspirasi Bunda” pada 22 Desember 2016. Di tempat inilah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan punggawa IIDN juga anggota-anggota lainnya, dan oleh-oleh yang saya bawa pulang adalah buku “Inspirasi Bunda.”

Kopdar kedua berlangsung pada 19 Januari 2017 sekaligus belajar “Cara Jitu Menerbitkan Buku dengan Self Publisihing” yang dibawakan oleh Umma Azura. Kali ini saya mendapatkan hadiah buku “Para Abdullah di Sekitar Rasulullah.” Buku tersebut dibagikan sendiri oleh penulisnya, Haeriyah Syamsuddin. Mengenai review buku ini dapat dibaca di sini: http://www.mardanurdin.com/2017/03/buku-yang-menginspirasi.html.

Berikutnya adalah kopdar ketiga  sekaligus bercanda dengan EBI oleh  Kepala Sekolah SP ibu Anna Farida pada 3 Juli 2017.  Kopdar yang asyik dan sangat mengesankan. Bertemu dengan mentor tercinta saya, tentu saja ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan saya.

Inilah kopdar yang keempat sekaligus belajar  “Ngeblog Untuk Pemula” bersama Abby Onety.
Jika pada kopdar pertama dan yang ketiga  bertempat di Regus Graha Pena, maka kopdar kedua di Dilo Makassar, jalan Dr. Ratulangi no 68. Kali ini  kopdar  keempat berlangsung  di Makassar Digital Valley, Jl. AP Pettarani no. 13 Makassar.
Ada nuansa tersendiri ketika kopdar dengan anggota IIDN, silaturahim semakin tejalin dengan baik. Selain itu, saya kembali berkenalan dengan anggota lain yang baru menghadiri kopdar, juga beberapa yang baru gabung di IIDN. Pertemuan ini tidak sekedar kongko-kongko tanpa makna ya teman-teman...  melainkan ada pembelajaran yang akan disampaikan oleh wakil ketua IIDN Makassar.

Dilo adalah tempat yang sudah sering saya datangi, tetapi itu beberapa tahun lalu antara tahun 2007 hingga tahun 2008.  Waktu itu, guru-guru sedang gencar-gencarnya belajar internet demi menyongsong program pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi.  Di Dilo (Digital Innovation Laounge) inilah  tempat saya dan beberapa rekan guru untuk pertama kalinya belajar tentang penggunaan email, bahkan beberapa teman belajar membuat email. Dilo yang saya maksudkan itu adalah yang bertempat di Jl. Dr. Sam. Ratulangi Makassar. Beberapa tahun kemudian, saya datang lagi ke Dilo, yaitu dalam rangka kopdar kedua seperti yang saya ceritakan di atas.



Nah, kali ini saya kopdar di Dilo lagi, tetapi bukan  di alamat yang lama melainkan sudah pindah ke Jl. A.P Pettarani. Rupanya Dilo sekarang telah pindah di Gedung Makassar Digital Valley atau MDV. Gedung MDV ini masih baru, hal ini terlihat dari ruangannya yang masih apik. Selain itu, perabotan-perabotannya juga masih baru dan tentu saja sangat bersih.

Memasuki ruangan MDV, kita akan langsung disuguhi suasana yang nyaman dan bersahabat. Pegawai yang bekerja di MDV ini akan menyambut Anda dengan ramah. Selain ruang tamu yang luas dan bersih, terdapat pula ruangan yang digunakan untuk belajar. Ruangan ini cukup luas, dapat menampung sekitar 30 orang.

Ruangannya yang dipenuhi AC tentu saja memberikan kesejukan yang nyaman. Selain itu, dinding-dinding pada setiap ruang didekorasi dengan indah, dan  sangat instagramable sehingga cukup asyik untuk difoto dan berfoto dengan latar belakang dindingnya.
Informasi lainnya adalah, ternyata Digital Valley tidak banyak di Indonesia, dan MDV atau Makassar Digital Valley ini adalah salah satu dari empat Digital Valley yang ada di Indonesia. Keren kan?

Maka kopdar saya yang keempat ini tidaklah sia-sia. Dapat ilmu di tempat yang asyik dan keren sekaligus menjalin silaturahim yang indah.



Sabtu, 03 Maret 2018

SAGUSAKU DELAYING 2018

Menindak lanjuti kegiatan Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih (TNP) bulan Januari 2018 kemarin, maka inilah kegiatan yang bertujuan memantapkan salah satu kanal pelatihan IGI, yaitu Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU). Kanal pelatihan ini adalah kanal pilihan saya sejak awal bergabung di IGI.

Bukan tanpa sebab saya bergabung di kanal ini, semuanya berawal dari keinginan  saya, memiliki buku dan memahatkan karya saya sebagai warisan yang abadi.

Kegiatan TNP menghasilkan satu keputusan penting bagi kanal Sagusaku, bahwa guru yang telah dikukuhkan menjadi pelatih nasional IGI harus dibekali ilmu yang mumpuni, agar proses pelatihan yang akan dilakukan tidak asal-asalan. Oleh karena itu, Sagusaku melakukan pelatihan khusus bagi para pelatihnya dengan nama  “Pelatihan Coach Nasional Sagusaku IGI “Delaying.” Kegiatan ini dilaksanakan di Solo Jawa Tengah.

Mengapa Delaying?

Delaying adalah singkatan dari Desain, Editing, Lay out, dan Marketing. Materi-materi inilah yang akan diberikan kepada pelatih sagusaku delaying 2018.
Walaupun tidak sesuai dengan jadwal pelatihan yang telah dibagikan beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan ini, namun semua materi yang telah disiapkan oleh panitia tetap terlaksana dengan baik.

Dimulai dengan materi pertama, yaitu proses penerbitan oleh bapak Iqbal  Dawami, kemudain dilanjutkan dengan editing oleh bapak Joko Susilo. Hari pertama kami lalui hingga malam hari. Hari kedua  adalah materi desain cover oleh bapak Gusliani dan Lay Out oleh bapak Peng Keng Sun.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa prinsip IGI yang Sharing and Growing To Gether atau  berbagi dan tumbuh bersama benar-benar telah terbukti. Dari guru untuk guru lalu bersama saling memotivasi dan belajar demi meraih berjuta prestasi.

Adalah seorang guru SD dari Wonogiri yang memiliki skill mengedit suatu naskah, membagikan ilmunya, bapak Joko Susilo. Dimulai dengan informasi tentang sejarah editor yang sudah ada dalam dunia penerbitan buku di Indonesia sejak tahun 1890. Sementara itu, pendidikan editing di Indonesia setingkat diploma tiga (D3) baru dimulai sekitar tahun 1980, yaitu program studi editing D3 di Universitas Pajajaran Bandung.

Editor dalam penerbitan skala besar dibagi menjadi:
·       Chiep Editor adalah seseorang yang memegang kedudukan tertinggi di bagian editorial, bertugas mengontrol, mengelola, dan mengeluarkan keputusan strategis berkaitan dengan proses editorial.
·  Asisten Editor adalah setingkat dengan sekertaris redaksi yang bertugas sebagai pembantu editor yang menangani hal-hal teknis seperti administrasi naskah.
·        Managing Editor adalah seseorang yang mengatur semua kegiatan teknis editorial yang dilaksanakan oleh para editor.
·     Rights Editor adalah staf editor yang bertugas khusus mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta, seperti ISBN dan copyright.
·  Senior Editor bertugas mengatur perencanaan naskah, negoisasi, penjadwalan atau setingkat dengan kepala bagian.
·    Copyeditor adalah staf editor yang bertugas memeriksa dan memperbaiki naskah yang sesuai dengan kaidah yang berlaku sesuai dengan penerbitnya
·   Picture Editor juga adalah staf editor. Tugasnya adalah memeriksa dan memperbaiki bahan-bahan grafis untuk penerbitan.

Materi selanjutnya adalah materi pembuatan desain cover yang dibimbing oleh Pak Guslaini. Nama ngetopnya sih Pak  Bhp, beliau adalah guru muda yang berasal dari Riau. Dengan sabar dan telaten membimbing peserta belajar mengutak-atik aflikasi Photoshop. 

Tahu enggak, di sinilah saya merasa benar-benar sudah sangat matang (hihihi...makanan kali yeh).

Berbekal dengan petunjuk atau tutorial yang disiapkan oleh Pak Bhp, kami belajar hingga larut malam. Semua peserta sangat antusias demikian juga saya. Sayangnya saya belum lulus sampai hari ini, karena saya belum berhasil membuat desain cover buku saya. Tetapi saya pasti akan mempelajarinya. Janji pak Bhp!

Materi yang terakhir adalah materi Lay out. Untuk materi ini ada dua orang hebat yang membawakan materi ini. Pak Bhp (lagi-lagi Bhp, guru muda yang berprestasi dan selalu semangat) dengan bapak Pengkeng Sun. Sama dengan materi desain cover, saya juga masih dalam tahap belajar hingga hari ini.

Seperti pada umumnya pelatihan yang pesertanya berasal dari berbagai daerah, maka nilai positif yang  didapatkan selain materi itu sendiri, adalah silaturahim. Persahabatan dan pertemanan bertambah, jika sudah berkenalan sebelumnya maka perkenalan itu akan semakin akrab. Jika awalnya akrab di dunia maya, maka akan semakin akrab karena bertemu di dunia nyata.

Banyak hal menarik yang terjadi dalam kegiatan IGI kali ini. Terkhusus untuk saya dan teman-teman sekamar. Kami melakukan keseruan-keseruan yang membuat kami selalu kangen. Sekalipun saya yang terdewasa, bukan tertua tetapi bukan berarti saya tidak dapat mengikuti keseruan yang guru-guru muda lakukan.

Seperti menonton sinetron via handpone sambil bersembunyi di dalam selimut, atau selfi bareng,  bahkan mereka dengan nakalnya merekam kegiatan saya saat mengepak barang. Asyik dan membuat kami selalu kangen satu sama lain.

Akhirnya kegiatan selama dua hari telah berakhir. Waktunya para guru kembali ke daerah masing-masing untuk mengajar dan mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan.


Saat orang lain mengisi hari libur dengan jalan-jalan atau beristirahat, kami anggota IGI mengisinya dengan belajar. Sesuai dengan salah satu syair dalam lagu Mars IGI, yaitu “Pantang Mengajar Kalau Tidak Mengajar.”