Senin, 15 Januari 2018

IGI Menjawab Tantangan

Musa berkata kepadanya, “ Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?
                                                                                                (QS: Al Kahf: 66)

Saat pertama kali melihat agenda kegiatan IGI di grup SAGUSAKU, terbersit di hati kecil saya, “bisakah saya mengikuti kegiatan tersebut?”
Setelah beberapa hari saya menyimak informasi-informasi di grup komunitas IGI, maka saya memutuskan untuk ikut terlibat dalam kegiatan itu. Ini adalah kegiatan awal saya di IGI pada tahun 2018.

Kegiatan penting yang akan IGI lakukan pada tanggal 5-7 Januari 2018, adalah: 1) Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI; 2) Presentasi Kanal Pelatihan IGI; dan 3) Pemecahan Rekor Muri “Guru Menulis dengan Metode Menemu Baling.”


Pengukuhan 300 Pelatih Nasional IGI

Menjadi pelatih di IGI bukanlah impian awal saya apalagi menjadi target utama. Bergabung di Ikatan Guru Indonesia (IGI) saja sudah memberikan kebahagiaan  dan kebanggaan tersendiri. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, saya membutuhkan wadah yang mau menampung aspirasi saya dan aspirasi seluruh guru di Indonesia tanpa membeda-bedakan status dan jabatannya, dan di IGI saya menemukan itu.

Saya bisa belajar dengan siapa saja dan kapan saja tanpa perlu menyiapkan dana yang banyak. Saya bisa mengapresiasikan pengetahuan yang saya miliki tanpa sungkan karena IGI memiliki prinsip  sharing and growing together atau berbagi dan tumbuh bersama. Karenanya kami membangun kebersamaan dan  saling menguatkan agar kami tumbuh bersama demi kejayaan pendidikan di Indonesia.

Karena itulah saya selalu bersemangat, manakala ada kegiatan di IGI sekalipun tempatnya jauh dan membutuhkan biaya yang dirogoh dari kantong sendiri.

Di bandara Sultan Hasanuddin, saya yang sudah janjian dengan dinda Mira Pasolong, wakil ketua PP IGI akhirnya bertemu. Ternyata ada pula Pak Awal Syaddad dan Pak Basri Lahamuddin, jadi kami berempat berangkat bersama menuju Jakarta, tempat pelaksanaan tiga kegiatan tersebut akan berlangsung. 

Kurang lebih 2 jam terbang bersama Lion Air akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta, lalu meneruskan perjalanan ke Mess Provinsi Riau, tempat saya dan dik Mira akan menginap. Mengapa ke Mess Riau, mengapa bukan Mess provinsi Sulawesi Selatan? Niat saya nginap di sana, selain karena itu adalah pilihan dik Mira saya juga ingin menjalin silaturahim dengan guru-guru yang berasal dari Riau. Belakangan saya ketahui kalau yang menginap di Mess Riau bukan hanya guru yang berasal dari Riau melainkan ada juga yang berasal dari Lubuklinggau. 

Setelah beristirahat, siang harinya kami bersiap-siap menuju kantor Kemdikbud tepatnya di Gedung A, lantai 3 untuk mengikuti prosesi pembukaan temu Pelatih Nasional IGI dan pengukuhan 300 pelatih nasional IGI.

Seperti biasanya, acara dimulai dengan pembukaan oleh protokol, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza disusul dengan lagu Mars IGI. Kegiatan ini sedianya dibuka oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, namun karena beliau mendadak diundang bapak presiden untuk menghadiri rapat terbatas, maka beliau diwakili  oleh Bapak Hamid Muhammad, plt Dirjen GTK.

Acara dilanjutkan dengan pengukuhan 300 Pelatih Nasional IGI yang dikukuhkan langsung oleh Ketua Umum PP IGI, Bapak Muhammad Ramli Rahim. Ada yang menarik dari pengukuhan tersebut. 
Prosesi pengukuhan itu saya rekam dan saya kirim ke suami saya. Jawabannya adalah, “IGI hebat ya … bersedia melatih atau menebarkan ilmunya dengan honor maupun tanpa honor.

Sesaat kemudian, acara penyerahan sertifikat yang diserahkan langsung oleh Bapak Hamid Muhammad, plt Dirjen GTK. Dengan terus menebarkan senyuman manisnya, pak Hamid Muhammad menyerahkan sertifikat satu persatu ke 300 guru pelatih nasional IGI.





67 Kanal Pelatihan IGI

Mungkin ada yang bertanya, 300 guru pelatih itu tugasnya apa ya? Apa saja yang dilatihkan dan kepada siapa?

Jawabannya ada pada  kegiatan di hari kedua.

300 pelatih nasional IGI tersebut akan melatih guru-guru lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Olehnya itu, panitia menyiapkan daftar daerah-daerah yang akan dipilih oleh kami sebagai tempat menebarkan pengetahuan. Daerah-daerah tersebut pada umumnya bukan daerah  yang berada di pusat-pusat kota, bahkan daerah yang terpencillah yang diprioritaskan.

Sebenarnya saya berniat memilih daerah-daerah tempat anak-anak saya bertugas atau berdomisili agar sekalian bisa mengunjungi mereka. Sambil menyelam minum air, sambil bertugas bisa melepas rindu sama anak hehehe … namanya juga usaha. Oleh karena itu, daerah yang saya bidik adalah  Bandung, Nabire, dan salah satu daerah di Sulawesi Selatan, yaitu Sidrap.  

Sayangnya ketiga daerah itu tidak ada dalam daftar. Maka akhirnya saya memutuskan memilih daerah-daerah yang ada di pulau Jawa saja.  Kabupaten Karawang adalah pilihan pertama saya,  daerah ini kan  masih berada di wilayah Jawa Barat, jadi tidak terlalu jauhlah dari Bandung. Dua daerah lainnya adalah Banyuwangi dan Temanggung.

Setelah pemilihan daerah tempat kami akan melatih, acara dilanjutkan dengan presentasi kanal-kanal pelatihan. Terdapat 67 kanal pelatihan IGI dengan menggunakan nama pelatihan khas IGI, yaitu SAGU (Satu Guru) dan ditambahkan dengan nama jenis pelatihannya. Seperti kanal pelatihan yang saya ikuti, yaitu SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku).

Luar biasa!

Dalam waktu kurang dari dua tahun. IGI sudah berinovasi membentuk kanal-kanal pelatihan yang semuanya dibutuhkan oleh guru-guru Indonesia, 67 jenis kanal pelatihan.
Karena kanal pelatihan itu lumayan banyak, maka akan saya perkenalkan satu persatu pada postingan khusus.

IGI adalah suatu organisasi guru yang berorientasi pada peningkatan kompetensi guru. IGI dengan prinsip yang disandangnya, sharing and growing together akan berjuang menjawab tantangan masyarakat dan pemerintah, yaitu menjadi guru profesional.

Sudah lama guru-guru Indonesia disoroti, dipandang sebelah mata, dan bahkan dihina. 

Mengapa? Apa yang salah?

Semuanya itu berawal dari rendahnya mutu pendidikan di negara yang kita cintai ini. Jika ada anak yang bodoh, malas, dan bandel maka yang salah adalah gurunya. Jika pendidikan kacau maka gurunyalah yang amburadul, bodoh, dan tidak pandai mendidik.

SEDIH!

Walaupun kami, guru-guru Indonesia berteriak dan mengatakan,

Itu bukan salah kami saja, orangtua, pemerintah, sistem dan bla .. bla… ikut bertanggung jawab!”

Namun suara kami tertelan oleh riuhnya pemberitaan yang sudah terlanjur meng”hakimi” kami. Itulah fenomena yang terjadi.

Maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, kami harus menerima. Tetapi bukan berarti kami diam. Semoga bersama IGI kami guru-guru Indonesia dapat merubah wajah pendidikan Indonesia.

Agar rakyat Indonesia   menjadi bangga kepada gurunya.

25 komentar:

  1. Balasan
    1. Alhamdulillah, lagi belajar jadi emak keren hhehe..

      Hapus
  2. Mutu pendidikan juga terkadang membingungkan ya Bunda. Ganti pejabat, akan ganti kebijakan, terus menerus seperti itu.

    Semoga suksess selalu Bundaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah begitulah adanya. Pemerintah kita masih dalam taraf coba-coba. Namun demikian kita tidak boleh putus asa, terus bergerak dan meningkatkan diri baik sebagai orangtua bagi anak-anak kita maupun sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

      Hapus
  3. Saya setuju bahwa mutu pendidikan kita bukan sepenuhnya tanggung jawab guru. Tapi tak bisa dipungkiri ada oknum guru yang membuat mutu pendidikan kita krg bisa dipertanggung jawabkan. Sungguh menyedihkan, padahal masih banyak guru yang memberikan hatinya, bukan sekedar mengajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah kehidupan mbak, bukan hanya di dunia pendidikan ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dunia kesehatan, ada dokter yang tidak bertanggung jawab, dunia literasi juga ditemukan penulis yang menyesatkan, bahkan begitu banyak orangtua yang justru menjerumuskan anak-anaknya ke hal-hal yang tidak baik. Pokoknya di segala lini kehidupan, kita akan terus mendapatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya. Tugas kita adalah berjuang mempertanggung jawabkan amanah yang telah diberikan Allah kepada kita. Terima kasih ya sayang sudah berkunjung.

      Hapus
  4. Inovasi yang bagus sekali ini ya Bu, selamat berjuang Bu Guru, semoga ilmunya berkah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Aamiin terima kasih ya sayang.

      Hapus
  5. Saya salut sama para guru, benar-benar dibutuhkan panggilan jiwa yang kuat untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Semangat, Bunda!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sayang. Semoga semua guru Indonesia juga terus membenahi diri dan belajar untuk meningkatkan kompetensinya demi kejayaan pendidikan Indonesia.

      Hapus
  6. Masya Allah Bunda..keren ini IGI dengan misi visinya. Semoga sukses dan dimudahkan serta dilancarkan apa yang dicita-citakan. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih ya sayang sudah berkenan berkunjung di blog yang sederhana ini.

      Hapus
  7. Saluuutt dengan bunda yang bangga dengan profesi gurunya. Saya suka melihat orang yang sangat menikmati profesinya. Memang jamak ya Bun kita dengar di luar kalau anak pintar bilangnya "anak siapa dulu dong?" Ketika anak bandel, pihak luar yang disalahkan, ya sekolah, ya guru. Semoga Allah membalas kebaikan Bunda dan para guru lainnya ya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, doa saya juga untukmu sayang. Yang pasti kita semua memiliki tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan Allah kepada kita. Semangat juga yah.

      Hapus
  8. Di keluargaku, rata-rata jadi guru, seperti sudah ada panggilan jiwa dan keturunan dari orang tua hehehhe 3 kakakku jadi guru juga. Salut sekali, mendidik anak sendiri tidak mudah apalagi ditambah mendidik anak orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Katanya guru adalah salah satu pekerjaan mulia, semoga saja dicatat sebagai amal jariah. Aamin.

      Hapus
  9. Sukses teru bunda
    Terpujilah wahai ibu guru ��

    BalasHapus
  10. Ada banyak faktor mengenai hasil yang dilihat dari pembelajaran anak, tidak bisa tawwa semata guru yang disalahkan, harus ditelaah baik2 pi.

    Oya tabe', Kak. Riau ada 2 provinsi (dulu satu ji). Yaitu Prov Riau dan Prov Riau Kepulauan. Pekanbaru itu ibukota Prov. Riau. Kalo Prov. Riau Kepulauan ibukotanya di Batam ... tabe' hehe, berhubung saya pernah tinggal di Riau dan melahirkan si sulung di sana ^__^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iye baru kubaca baik-baik, salahka dinda. Yang mau kutulis itu adalah Lubuklinggau bukan Pekanbaru. Terima kasih dinda. Segera saya perbaiki.

      Hapus
  11. Ada banyak stakeholder yang berperan penting dalam peningkatan mutu pendidikan, diantanya adalah guru, orangtua siswa, dan lingkungan. Jadi sepakat jika dikatakan bukan tanggungjawab guru sepenuhnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeh, walaupun demikian kita juga harus terus berbenah yah bu guru cantik

      Hapus
  12. Iya, padahal semua berperan serta dalam pembentukan karakter anak. Tapi kalau ada apa-apa, past guru yang dikambing hitam kan. Padahal perjuangan guru itu luar biasa sekali..

    BalasHapus
  13. IGI keren..
    Semoga program IGI bisa mensupport guru-guru di seluruh indonesiaaa

    BalasHapus