Sabtu, 20 Januari 2018

Berbagi dan Tumbuh Bersama IGI


 Motto IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang selalu didengungkan sebagai penyemangat adalah  sharing and growing together  atau berbagi dan tumbuh bersama sungguh ampuh. Demikian ampuhnya sehingga guru-guru yang menjadi anggota IGI bersedia mempersembahkan waktu, tenaga, pikiran, dan materinya untuk belajar bersama lalu berbagi agar dapat tumbuh dan berkembang bersama demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Tujuan mulia itulah yang menghantarkan kami berkumpul di Kantor Kemdikbud kemarin, tepatnya pada tanggal 5-7 Januari 2018 dalam acara pengukuhan 300 pelatih nasional IGI, presentasi kanal-kanal pelatihan IGI, dan pemecahan Rekor Muri Menulis dengan Metode Menemu Baling.

Sebenarnya beberapa kanal pelatihan sudah lama berjalan terutama kanal-kanal yang digawangi oleh para Pimpinan Pusat IGI. Namun tidak sedikit muncul kanal-kanal baru yang dikembangkan oleh para guru dari seluruh Indonesia hingga mencapai 67 jenis pelatihan.
Setiap kanal diketuai oleh pencetus jenis pelatihannya atau foundernya,  kemudian ke- 300 pelatih tersebut memilih kanal-kanal yang dikuasai, diminati, atau pernah mengikuti pelatihan itu sebelumnya. Misalnya, saya pernah mengikuti pelatihan SAGUSAKU sebelumnya, maka saya memilih kanal sagusaku sebagai wadah saya nantinya untuk melatih guru-guru lain yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut.

Kanal-Kanal Pelatihan IGI

Presentasi kanal pelatihan IGI dipandu oleh beberapa pengurus IGI Pusat secara bergantian. Oleh pemandu acara, presentasi kanal dibagi menjadi beberapa sesi dan setiap sesi terdapat 6 kanal yang akan dipresentasikan. Kanal-kanal yang masuk dalam sesi pertama adalah sebagai berikut.

SAGUSANOV atau Satu Guru Satu Inovasi oleh bapak Abd Kholiq. Sagusanov sudah berjalan selama 18 bulan, baik secara online maupun offline di 50 kabupaten kota di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Sagusanov  bertujuan melatih guru untuk membuat inovasi pembelajaran berbasis android.

Berikutnya adalah SAGUSAE (Satu Guru Satu Ebook) oleh foundernya Bapak Elyas, S.Pd., M.Pd. Ini adalah salah satu sarana untuk mencapai Gapernas, Gerakan Paperless Nasional. Produk yang dihasilkan adalah file APK, yang sudah siap untuk didistribusikan ke smartphone Android. Kegiatan ini sudah pernah dilaksanakan di Makassar yang bertempat di sekolah saya beberapa waktu lalu, tepatnya pada awal tahun 2017.

SAGUSAKA (Satu Guru Satu Aplikasi Koreksi LJK) berbasis android oleh bapak Dahli Ahmad, M.Pd. Kanal ini menggunakan tagline, “Koreksi LJK Semudah Selfie”



SAGUSAMIK (Satu Guru Satu Pembelajaran Matematika yang Bermakna dan Menyenangkan) oleh bapak Abd Karim. Kanal ini khusus untuk bapak ibu guru pengampu mata pelajaran matematika. Bapak Abd Karim menjelaskan, bahwa kanal ini dibuat agar guru dapat mengajarkan matematika dengan suasana yang menyenangkan, sehingga peserta didik tidak lagi menganggap matematimka sebagai pelajaran yang membosankan.

SAGUDELTA (Satu Guru Dua Evaluasi Digital) oleh foundernya bapak Khairuddin. Menurut bapak Khairuddin, kanal ini akan melatih guru membuat soal evaluasi berbasis windows dan android. Kanal ini juga akan melatih guru membuat soal tanpa internet, tanpa Learning Management System. Dan tanpa kelas maya untuk melaksanakan ujian.

SAGUSAVI (Satu Guru Satu Video Pembelajaran) dengan foundernya Widi Astiyono, S.Ag., M.Pd. Kanal pelatihan ini akan melatih guru membuat video pembelajaran berupa video klip atau film pendek yang berdasarkan dari materi pelajaran. Pak Widi Astiyono menjelaskan, dari materi pembelajaran dituangkan ide cerita, sinopsis, skenario, dan bermain peran serta menjadi kameramen.

Setelah sesi pertama selesai, oleh bapak ketua umum IGI Pusat, Muhammad Ramli Rahim meminta kepada yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan tanggapannya.

Setelah ditanggapi maka acara berlanjut ke sesi yang kedua. Kanal pelatihan yang akan tampil di sesi ini adalah SAGUSARIF, SAGUSAGAME, SAGUSOF 365, SAGUSAKU, SAGUPASI, SAGUSAMEF.

SAGUSARIF adalah singkatan dari Satu Guru Satu Kearifan Lokal. Kanal ini dipresentasikan oleh foundernya, yaitu bapak Arnold Jacobus, M.Pd. Beliau berasal dari IGI Daerah Kota Singkawang. Tujuan Sagusarif adalah mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan mempertahankan jati diri bangsa.

Selanjutnya adalah presentasi kanal SAGUSAGAME. Foundernya adalah seorang guru perempuan dari Ponorogo, Ibu Crysna Rhani Ningrum, S.Kom. Sagusagame adalah singkatan Satu Guru Satu Game Edukasi. Kanal pelatihan ini akan melatih guru membuat game edukasi pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi peserta didik.

Oh yah, sebelum beliau tampil mempresentasikan kanalnya. Di luar ruangan kegiatan,  saya dan beberapa teman guru sempat “menodong” beliau,  agar diajari cara membuat game edukasi. Ibu Crysna dengan senang hati meladeni “todongan” kami, dan bersedia dikerumuni oleh guru-guru. Kami sangat antusias memperhatikan Bu Crys menjelaskan cara-cara pembuatan game edukasi. Terima kasih Bu Crysna, IGI Makassar menanti kedatangan ibu dan tim Sagusagame.

Kanal pelatihan selanjutnya yang dipresentasikan oleh foundernya, Ibu Anastasi adalah SAGUSOF 365, Satu Guru Satu Akun Microsoft Office 365. Tujuan kanal ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru agar handal dalam memanfaatkan teknologi. Ada dua hal penting yang akan dimiliki guru setelah mengikuti pelatihan di kanal ini, yaitu: guru akan memiliki lebih banyak ide dalam mendesain kegiatan pembelajaran yang interaktif dan tidak membosankan daripada sebelumnya, dan guru  dapat mengajarkan peserta didiknya bagaimana menggunakan teknologi secara positif.

SAGUPASI (Semua Guru Paham Pendidikan Inklusif) dipresentasikan oleh founder-foundernya yang cantik, Ibu Nur Syamsih, M.Pd dan Ibu Rusnani, M.Pd. Cakupan  output yang diharapkan kanal ini adalah peningkatan dan penguatan layanan Inklusi bagi anak dengan kebutuhan khusus di Sekolah Umum, termasuk di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) untuk setiap jenjang (PAUD-SD-SMP-SMA/K).

Presentasi selanjutnya di sesi kedua ini adalah SAGUSAMEP (Satu Guru Satu Media Publikasi). Oleh foundernya bapak Abdul Halim menjelaskan bahwa kanal ini akan melatih guru membuat media publikasi untuk sekolah. Keterampilan tersebut bisa pula digunakan guru untuk membuat media pembelajaran di kelas.

Kanal pelatihan terakhir yang tampil di sesi kedua ini adalah kanal tempat saya berkecimpung, yaitu SAGUSAKU. Foundernya adalah seorang perempuan yang luar biasa. Ibu Nur Badriyah, M.Pd.
Satu Guru Satu Buku adalah kanal pelatihan yang akan melatih dan menuntun  guru menulis dan menghasilkan minimal satu buku. Kanal ini memiliki motto “Tingkatkan Kompetensi Raih Berjuta Prestasi.”

Demikianlah sekilas penjelasan tentang sebagian kanal  pelatihan yang diprogramkan oleh IGI. Insya Allah IGI  akan berjuang melatih 1 juta guru di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

“Dialah yang mengutus seseorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS: Al-Jumuah: 2).


Senin, 15 Januari 2018

IGI Menjawab Tantangan

Musa berkata kepadanya, “ Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?
                                                                                                (QS: Al Kahf: 66)

Saat pertama kali melihat agenda kegiatan IGI di grup SAGUSAKU, terbersit di hati kecil saya, “bisakah saya mengikuti kegiatan tersebut?”
Setelah beberapa hari saya menyimak informasi-informasi di grup komunitas IGI, maka saya memutuskan untuk ikut terlibat dalam kegiatan itu. Ini adalah kegiatan awal saya di IGI pada tahun 2018.

Kegiatan penting yang akan IGI lakukan pada tanggal 5-7 Januari 2018, adalah: 1) Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI; 2) Presentasi Kanal Pelatihan IGI; dan 3) Pemecahan Rekor Muri “Guru Menulis dengan Metode Menemu Baling.”


Pengukuhan 300 Pelatih Nasional IGI

Menjadi pelatih di IGI bukanlah impian awal saya apalagi menjadi target utama. Bergabung di Ikatan Guru Indonesia (IGI) saja sudah memberikan kebahagiaan  dan kebanggaan tersendiri. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, saya membutuhkan wadah yang mau menampung aspirasi saya dan aspirasi seluruh guru di Indonesia tanpa membeda-bedakan status dan jabatannya, dan di IGI saya menemukan itu.

Saya bisa belajar dengan siapa saja dan kapan saja tanpa perlu menyiapkan dana yang banyak. Saya bisa mengapresiasikan pengetahuan yang saya miliki tanpa sungkan karena IGI memiliki prinsip  sharing and growing together atau berbagi dan tumbuh bersama. Karenanya kami membangun kebersamaan dan  saling menguatkan agar kami tumbuh bersama demi kejayaan pendidikan di Indonesia.

Karena itulah saya selalu bersemangat, manakala ada kegiatan di IGI sekalipun tempatnya jauh dan membutuhkan biaya yang dirogoh dari kantong sendiri.

Di bandara Sultan Hasanuddin, saya yang sudah janjian dengan dinda Mira Pasolong, wakil ketua PP IGI akhirnya bertemu. Ternyata ada pula Pak Awal Syaddad dan Pak Basri Lahamuddin, jadi kami berempat berangkat bersama menuju Jakarta, tempat pelaksanaan tiga kegiatan tersebut akan berlangsung. 

Kurang lebih 2 jam terbang bersama Lion Air akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta, lalu meneruskan perjalanan ke Mess Provinsi Riau, tempat saya dan dik Mira akan menginap. Mengapa ke Mess Riau, mengapa bukan Mess provinsi Sulawesi Selatan? Niat saya nginap di sana, selain karena itu adalah pilihan dik Mira saya juga ingin menjalin silaturahim dengan guru-guru yang berasal dari Riau. Belakangan saya ketahui kalau yang menginap di Mess Riau bukan hanya guru yang berasal dari Riau melainkan ada juga yang berasal dari Lubuklinggau. 

Setelah beristirahat, siang harinya kami bersiap-siap menuju kantor Kemdikbud tepatnya di Gedung A, lantai 3 untuk mengikuti prosesi pembukaan temu Pelatih Nasional IGI dan pengukuhan 300 pelatih nasional IGI.

Seperti biasanya, acara dimulai dengan pembukaan oleh protokol, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza disusul dengan lagu Mars IGI. Kegiatan ini sedianya dibuka oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, namun karena beliau mendadak diundang bapak presiden untuk menghadiri rapat terbatas, maka beliau diwakili  oleh Bapak Hamid Muhammad, plt Dirjen GTK.

Acara dilanjutkan dengan pengukuhan 300 Pelatih Nasional IGI yang dikukuhkan langsung oleh Ketua Umum PP IGI, Bapak Muhammad Ramli Rahim. Ada yang menarik dari pengukuhan tersebut. 
Prosesi pengukuhan itu saya rekam dan saya kirim ke suami saya. Jawabannya adalah, “IGI hebat ya … bersedia melatih atau menebarkan ilmunya dengan honor maupun tanpa honor.

Sesaat kemudian, acara penyerahan sertifikat yang diserahkan langsung oleh Bapak Hamid Muhammad, plt Dirjen GTK. Dengan terus menebarkan senyuman manisnya, pak Hamid Muhammad menyerahkan sertifikat satu persatu ke 300 guru pelatih nasional IGI.





67 Kanal Pelatihan IGI

Mungkin ada yang bertanya, 300 guru pelatih itu tugasnya apa ya? Apa saja yang dilatihkan dan kepada siapa?

Jawabannya ada pada  kegiatan di hari kedua.

300 pelatih nasional IGI tersebut akan melatih guru-guru lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Olehnya itu, panitia menyiapkan daftar daerah-daerah yang akan dipilih oleh kami sebagai tempat menebarkan pengetahuan. Daerah-daerah tersebut pada umumnya bukan daerah  yang berada di pusat-pusat kota, bahkan daerah yang terpencillah yang diprioritaskan.

Sebenarnya saya berniat memilih daerah-daerah tempat anak-anak saya bertugas atau berdomisili agar sekalian bisa mengunjungi mereka. Sambil menyelam minum air, sambil bertugas bisa melepas rindu sama anak hehehe … namanya juga usaha. Oleh karena itu, daerah yang saya bidik adalah  Bandung, Nabire, dan salah satu daerah di Sulawesi Selatan, yaitu Sidrap.  

Sayangnya ketiga daerah itu tidak ada dalam daftar. Maka akhirnya saya memutuskan memilih daerah-daerah yang ada di pulau Jawa saja.  Kabupaten Karawang adalah pilihan pertama saya,  daerah ini kan  masih berada di wilayah Jawa Barat, jadi tidak terlalu jauhlah dari Bandung. Dua daerah lainnya adalah Banyuwangi dan Temanggung.

Setelah pemilihan daerah tempat kami akan melatih, acara dilanjutkan dengan presentasi kanal-kanal pelatihan. Terdapat 67 kanal pelatihan IGI dengan menggunakan nama pelatihan khas IGI, yaitu SAGU (Satu Guru) dan ditambahkan dengan nama jenis pelatihannya. Seperti kanal pelatihan yang saya ikuti, yaitu SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku).

Luar biasa!

Dalam waktu kurang dari dua tahun. IGI sudah berinovasi membentuk kanal-kanal pelatihan yang semuanya dibutuhkan oleh guru-guru Indonesia, 67 jenis kanal pelatihan.
Karena kanal pelatihan itu lumayan banyak, maka akan saya perkenalkan satu persatu pada postingan khusus.

IGI adalah suatu organisasi guru yang berorientasi pada peningkatan kompetensi guru. IGI dengan prinsip yang disandangnya, sharing and growing together akan berjuang menjawab tantangan masyarakat dan pemerintah, yaitu menjadi guru profesional.

Sudah lama guru-guru Indonesia disoroti, dipandang sebelah mata, dan bahkan dihina. 

Mengapa? Apa yang salah?

Semuanya itu berawal dari rendahnya mutu pendidikan di negara yang kita cintai ini. Jika ada anak yang bodoh, malas, dan bandel maka yang salah adalah gurunya. Jika pendidikan kacau maka gurunyalah yang amburadul, bodoh, dan tidak pandai mendidik.

SEDIH!

Walaupun kami, guru-guru Indonesia berteriak dan mengatakan,

Itu bukan salah kami saja, orangtua, pemerintah, sistem dan bla .. bla… ikut bertanggung jawab!”

Namun suara kami tertelan oleh riuhnya pemberitaan yang sudah terlanjur meng”hakimi” kami. Itulah fenomena yang terjadi.

Maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, kami harus menerima. Tetapi bukan berarti kami diam. Semoga bersama IGI kami guru-guru Indonesia dapat merubah wajah pendidikan Indonesia.

Agar rakyat Indonesia   menjadi bangga kepada gurunya.