Kamis, 21 Desember 2017

Merajut Kenangan Bersama Mama

Tanah suci umat Islam, Mekka atau Makka Al Mukarramah adalah impian mama saya  sejak dahulu. Setiap kali melihat tayangan tentang negeri kecintaan umat Islam itu di televisi, mata mama berkaca-kaca. Terharu. Apalagi kalau yang dilihatnya adalah Ka’bah, maka beliau akan selalu berkata. “Semoga kita bisa juga ke sana.”
Suatu waktu, mama menonton televisi dengan tayangan kesukaannya. Tawaf mengelilingi Ka’bah.

“Dawiah, sama-ki nanti pergi ke Mekka nah!” Seru mama.
“Kapan yah kita ke sana?” Mama bicara lagi sebelum saya sempat menjawab seruannya.
“Andaikan Mekka itu dekat, seperti ke Pangkep pasti saya sudah bawa maki ke sana.” Jawab saya sekenanya.
Awwi… kalau seperti ji Pangkep, tiap bulanma ke sana, hahaha…” Mama tergelak sampai bahunya terguncang-guncang.

Saat dana sertifikasi pertama saya  cair, atas izin suami saya berniat menyerahkan dana itu  buat biaya haji mama. Tetapi mama menolak karena dia tidak ingin berangkat sendiri.
“Kenapa Mama menolak?” Tanya saya.
“Mama tidak mau pergi sendiri, nanti kita pergi berdua kalau perlu bertiga dengan suamimu.” Jawabnya seraya menengadahkan kedua tanganya. Berdoa.

Saya hanya bisa menelan ludah. Biaya satu orang saja mahal apalagi bertiga.
Tetapi siapa yang bisa menyangkal doa seorang ibu. Doanya langsung diijabah oleh Allah swt. Setahun kemudian, saya  berhasil mengumpulkan dana untuk setoran haji bersama mama. Bukan hanya berdua melainkan bertiga dengan suami saya.

 “Tunggu 10 tahun ya Bu.” Demikian jawaban pegawai yang melayani kami di kantor Departemen Agama.  Kami hanya diam mendengarnya. Tetapi mama menjawab dengan kesederhanaan pikirannya.
“Biar 20 tahun kami akan menunggu yang penting kami sudah berniat dan berusaha.”

Sejak hari itu, mama rajin belajar dengan bertanya kepada teman-temannya di majlis taklim. Semakin rajin mengaji, mengikuti pengajian-pengajian dan semakin rajin ke masjid. Katanya, untuk latihan agar nanti di tanah suci tidak kagok lagi melaksanakan ibadah.
Ternyata Allah swt sangat sayang sama mama. Entah bagaimana caranya kami mendapatkan rezki untuk berangkat ke tanah suci. Walaupun hanya ibadah umroh, namun setidaknya sudah bisa memenuhi separuh impiannya.

Semalam di Kualalumpur

Hari yang indah, matahari bersinar cerah secerah hati mama. Tidak sedikitpun dia memperlihatkan kelelahan atau kecemasan, padahal ini adalah perjalanan pertamanya menggunakan pesawat terbang.
Pukul 17.30 waktu setempat, rombongan kami tiba di Kualalumpur. Rencananya kami akan menginap semalam di hotel yang telah disediakan oleh pihak travel, dan esoknya kami akan singgah di beberapa tempat sebelum menuju ke bandara dan terbang ke Jedda.
Saat berada di salah satu hotel di Kualalumpur, mama  kedinginan. Beliau memang tidak terlalu suka dengan ruangan yang ada acnya.Saya  mencari remot ac untuk  menonaktifkan ac, sayangnya remot acnya tidak berfungsi. Maka semalaman kami tidur berpelukan agar dapat saling menghangatkan tubuh kami. Serasa saya kembali menjadi bayi, tidur dalam pelukan mama.

Mama paling senang difoto. Ini foto beliau di depan salah satu hotel di Kualalumpur


Hajja! Masuk Pintu Nomor 25

Rombongan kami tiba di Madina sekitar pukul 03.00. Azan subuh berkumandang tepat setelah kami membereskan barang-barang dan tas di kamar hotel. Kami turun dari hotel menuju masjid Nabawi. Kulihat mata mama berbinar-binar, sembari tersenyum semringah dia menggapit lengan saya sambil berbisik.

“Alhamdulillah, Dawiah … engka tongengni ko Madina di .. de’ usangka-sangkai. Sukkuruki mappoji ri puang Allah Taala.”

Artinya:
     Alhamdulillah, Dawiah … kita betul-betul sudah di Madina ya … tidak kuduga. Bersyukurlah kepada Allah Taala.”

Iye Ma …” Saya memeluk mama  dengan penuh rasa haru.

Kami bergandengan mencari pintu masuk masjid Nabawi, tiba-tiba kami dihadang oleh seorang laki-laki yang tinggi besar, memakai jubah putih sambil berteriak. Tangannya menunjuk ke arah selatan. Langkah kaki kami terhenti, kami diam mematung tidak tahu mau berkata apa.

“Hajja mau masuk masjid?” Tanyanya. Masya Allah! Dia menyapa kami dengan bahasa Indonesia.
“Iya Pak.” Jawab saya senang.
“Hajja masuk lewat pintu nomor 25.” Katanya lagi tersenyum sambil berlalu. Mama mengangguk takzim. Laki-laki itu balik mengangguk tak kalah takzimnya.
Mama  memang selalu sopan kepada siapapun.

Subuh di depan Masjid Nabawi bersama mama


Bonus untuk Mama

Berziarah ke makam Rasulullah saw adalah salah satu impian mama. Makam Rasulullah saw berada di dalam masjid Nabawi, ditandai dengan pintu berlapis emas dan warna karpet kehijauan, berbeda dengan warna karpet lainnya di dalam masjid.

Di sebelah mimbar Rasulullah terdapat Raudah, sebuah bilik kecil tempat para peziarah bermunajat kepada Allah swt. Sayangnya, untuk berziarah dan memasuki Raudah bukan hal yang gampang. Biasanya jemaah memasuki makam bersama rombongannya dan sebelumnya harus  antri menunggu giliran. Jika giliran rombongan jemaah tiba untuk masuk makam, masih juga memerlukan perjuangan yang cukup berat untuk sekedar salat dua rakaat, karena biasanya rombongan jemaah lain saling berdesakan. 

Hal inilah yang saya takutkan. Postur tubuh mama kecil ditambah dengan usianya yang sudah tidak muda lagi serta fisiknya yang lemah, mana mungkin beliau mampu bertahan dari desakan jemaah lainnya. Apalagi postur tubuh jemaah dari negara Timur Tengah pada umumnya tinggi dan besar.
Untuk menyiasatinya, saya menggandeng tangan mama mengikuti rombongan jemaah dari Uzbekistan. Saya pikir, kalau kami berada di antara mereka maka kami akan terlindungi oleh tubuh-tubuh mereka yang besar dan kekar.

Tiba-tiba seseorang memanggil kami. “Bu! Kesini Bu!”
Kami menoleh, ternyata ada seorang perempuan bercadar melambaikan tangannya ke arah kami. Mamaku mencengkeram lenganku sambil berbisik.” Astagfirullah, salahki kapang di?”
Perempun bercadar itu mendatangi kami sambil bertanya.
“Ibu berasal dari Indonesia?” Terdengar logat dan bahasa yang tidak asing ditelinga kami. “Iyah Mbak.” Saya balas menjawab dan mama bernafas lega.
“Mbak orang Indonesia kan?” Tanya saya  tanpa ragu.
“Iya, saya berasal dari Purwokerto. Kalian mau ke makam Rasulullah?” Perempuan bercadar memandang kami sambil tersenyum, walaupun bibirnya tidak terlihat karena dia memakai cadar tetapi garis matanya memperlihatkan kalau dia sedang tersenyum. Saya  dan mama mengangguk bersamaan.
“Sini, ikuti Saya.” Perempuan bercadar yang belakangansaya ketahui bernama Ummu Salama itu adalah seorang tenaga kerja wanita, dia bertugas membersihkan masjid Nabawi. Kami mengikuti Ummu Salama yang berjalan ke arah lain yang berlawanan arah dengan rombongan jemaah yang akan berziarah ke makam Rasulullah. Ummu Salama berhenti di depan jalan tempat keluarnya jemaah yang telah selesai berziarah. Dia bercakap sejenak dengan perempuan bercadar lainnya yang bertugas menjaga pintu keluar. Perempuan itu lalu mempersilahkan kami masuk dan Ummi Salama mengangguk ke arah kami kemudian berlalu.

Subhanallah! Saya tidak berhenti  mengucap syukur. Disaat jemaah lain berdesak-desakan memasuki ruang berkarpet hijau dan salat sambil ditunggui oleh teman rombongannya, kami malah mendapatkan tempat yang luang untuk salat sambil ditunggui oleh penjaga yang bercadar. Mamaku salat lalu berdoa sambil menangis. Sejurus kemudian, kami dihalau oleh penjaga. “Hajja … hajja keluar, sudah … sudah.”

Kamipun keluar melalui jalan tempat kami tadi masuk. Sekali lagi mama mengangguk takzim kepada penjaga yang kami lewati, penjaga bercadar itupun balas mengangguk.
Setelah berada di luar masjid, mama duduk di pinggir emperan tokoh, tidak henti-hentinya dia mengucap syukur sambil berkata.

 “Dapatki ini bonus dari Allah, ka banyaknya orang Indonesia ma’jaga, itumi bisaki masuk di ...”

Air Mata Mama di Depan Ka’ba

Pada hari keenam, rombongan jemaah melanjutkan perjalanan menuju Mekka. Singgah sebentar untuk mengambil miqot di Bir Ali lalu perjalananpun dimulai.  Sepanjang jalan menuju Mekka, mama  tidak henti-hentinya mengucapkan “Labbaikallahumma labbaik..”
Rombongan kami tiba di hotel pukul 24.30. Kami hanya menyimpan koper dan bawaan lainnya, lalu turun di pelataran hotel berkumpul bersama jemaah lainnya dan bersiap berjalan menuju Masjidil Haram untuk melanjutkan serangkaian ibadah umroh kami, yaitu  tawaf, sai’, dan tahallul.

Selama tawaf  tak sekalipun terdengar  mama mengeluh karena capek. Padahal jarak dari hotel ke Masjidil Haram lumayan jauh, kemudian tanpa beristirahat kami langsung melakukan tawaf. Mama juga tidak menjadi heboh saat melihat ka’ba, padahal inilah tempat yang sangat dirindukannya. Beliau hanya menangis pelan tanpa suara. Air matanya bagaikan kristal bening, menggantung indah di pipinya yang keriput.

Demikian pula, saat kami melakukan sai’, mama  berjalan dan berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dengan langkah yang ringan. Kalau urusan jalan kaki, mama  memang jagonya. Tidak sia-sia beliau setiap hari berjalan kaki dari rumah menuju masjid, tiga sampai lima kali sehari.

Alhamdulillah, kami menyelesaikan prosesi ibadah umroh dengan baik. Semoga ibadah umroh kami mabrur.



Kenangan-kenangan yang saya rajut bersama mama tidak terbilang banyaknya, tetapi bersamanya melakukan ibadah umroh adalah kenangan yang  terukir setelah saya sendiri telah menjadi ibu, mama bagi anak-anak saya.



Dari kebersamaan itu, menyadarkan saya bahwa betapa pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani. 
Kesehatan jasmani mama terjaga dari rutinnya beliau berjalan kaki dan selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pernah sekalipun mengeluh. Sementara kesehatan rohaninya, beliau jaga dengan selalu salat fardu tepat waktu, salat malam, dan puasa sunat. 
Mama juga tipe orang yang tidak banyak menuntut, ikhlas mengerjakan apapun, setidaknya itu yang saya  lihat sejak pertama kali saya  mengenalnya.

Sehat terus Mama, semoga keberkahan Allah swt selalu menyertai mama. 


8 komentar:

  1. senang banget yaa bisa umroh bersama orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak. Terima kasih sudah meninggalkan komentarnya.

      Hapus
  2. Berbahagia ya Bun masih ada mama, aku sudah tidak ada

    BalasHapus
  3. Sehat terus ya untuk mba Dawiah serta sang Mama juga seluruh keluarganya. Hiks, jadi kangen. Bersyukur banget ya mba dimudahkan ziarah ke makam Rasulullah SAW.

    BalasHapus
  4. Masya Allah, ikut terharu T_T Alangkah bahagianya bisa ke baitullah bersama Mama. Semoga mamanya selalu sehat ya, Bunda :)

    BalasHapus
  5. Bahagianya bisa membahagiakan mama ya Bunda... sukses dan sehat terus untuk semua

    BalasHapus
  6. Keajaiban memang sll ada saat umroh dan haji. Ini cerita teman yang sudah kesana. Smg kita bs ke sana

    BalasHapus
  7. Wahhh, semoga mbak dan mamanya sehat sampai hari H ibadah haji... Tidak semua seberuntung itu.

    BalasHapus