Sabtu, 09 Desember 2017

Saya Mengerti Engkau Teramat Lelah

Sudah lama saya  tahu tentang kesusahanmu, kekurangan uang sudah biasa bagimu. Tetapi saya  yakin, engkau tidak menderita. Seperti katamu selalu kepada saya, sejak tujuh tahun lalu, saat kita bertemu dan bekerja sama dalam satu pekerjaan.

Bahwa kekurangan finansial bukanlah alasan untuk tidak bahagia. Seperti katamu, “Saya memang melarat tetapi saya tidak menderita.”

Begitu luas hatimu menerima segalanya, saya pastikan itu adalah bentuk keikhlasanmu menerima takdir, karena engkau tidak pernah berhenti seharipun untuk bekerja, berusaha memperbaiki nasib yang engkau anggap sebagai hadiah dari Tuhan.

Hingga berita sakitnya pasangan hidupmu, engkau masih saja tegar menghadapinya. Selalu minta izin pulang lebih awal. Saya maklum dan berusaha memahami keadaanmu.
Setiap saya tanyakan berita tentang keadaan isterimu, engkau hanya tersenyum tipis. Anehnya engkau menyentuh bahuku sambil berkata, “tenang saja Bu, dia baik-baik saja, hanya sakit biasa.”

Satu hal yang membuat saya kagum adalah dirimu yang pantang berkeluh kesah dan mengemis perhatian. Engkau tetap tegar, berdiri dengan dada tegap, walau saya tahu ada lara yang teramat dalam di matamu.

Hingga kematian itu datang, memisahkan dirimu dengan pasangan hidupmu. Saya datang melayat. Tak sedikitpun saya melihat air matamu, namun sekali lagi saya sangat yakin, bahwa laramu kali ini sudah semakin mendalam. Yang terlihat saat itu adalah matamu yang sendu dengan senyuman tipis bahkan sangat tipis, nyaris tak berbentuk.

Engkau merengkuh anak-anakmu dengan senyuman getir, berusaha membenanmkan isak tangisnya. Padahal saya tahu engkau sendiri sangat susah menepis dukamu.



Sebulan telah berlalu. Tiba-tiba malam ini engkau datang dengan mata layu, menyimpan sedih teramat dalam. Engkau marah, sangat marah. Saat saya datang menyentuh bahumu, mengusap dadamu, engkau menyeringai. Saya tidak perduli, saya tidak takut, karena saya yakin, malam ini engkau tidak marah kepada saya. Kau hanya kecewa atas sepimu juga lelahmu yang seakan tiada bertepi.

Bersabarlah Dik.

Kau telah melewati separuh hidupmu dalam ketegaran dan kesabaran, jangan berhenti. Pupuk terus benih-benih ikhlasmu, tidak banyak yang bisa sepertimu, juga diri saya. Saya tidak yakin akan mampu menyaingi keteguhan dan kesabaranmu. Maka janganlah kau rusak itu.

Biarlah kelelahan itu datang, toh engkau masih bisa istirahat sejenak.


Biarkan sepi itu datang menyelisik ke relung hatimu, tetapi jangan biarkan terlalu lama, nikmati sejenak dan hempaskan! Jangan biarkan sepi bersemayam terlalu lama dalam kalbumu.

Maafkan bila saya menulis tentangmu, karena hanya dengan inilah saya akan mengenang dirimu, bahwa di suatu masa saya pernah memiliki saudara sekaligus sahabat yang selalu menjadi inspirasi bagi saya,  membuat saya selalu bersyukur, dan sekaligus bersabar manakala mengalami suatu masalah maupun musibah.


18 komentar:

  1. begiti tegarnya adikmu mba, semoga kebahagiaan segera menghampirinya.

    BalasHapus
  2. Belajar bisa dari mana saja, termasuk dari adik, orang yang secara umur lebih muda dari kita.
    Semoga orang-orang yang kita sayangi mendapat nikmat dan kebahagiaan yang berlipat ganda setelah kesedihan dan ketidaknyamanan sebelumnya. Amin

    BalasHapus
  3. Kisahnya menyentuh sekali mba...

    BalasHapus
  4. Berunting sekali punya adik yang luar biasa sabar ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaps dia menjadi guru kehidupan bagi siapapun yang mengenalnya.

      Hapus
  5. Semoga adiknya selalu diberi kekuatan dan ketegaran oleh Allah ya Mbak...Aamiin

    BalasHapus
  6. Tiba-tiba ada yang menggenang di mataku. Semoga Allah selalu melindungi dan memberikan kemudahan untuk segala urusan adiknya ya Mba

    BalasHapus
  7. saya jarang membaca tulisan dengan POV2 seperti ini, Mbak. Menyentuh sekali. Adik yang tangguh dan menginspirasi, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, padahal dia adalah mantan siswa saya, tetapi dia jauh lebih dewasa dalam menangani masalahnya. Terima kasih sudah meninggalkan jejak.

      Hapus
  8. Balasan
    1. Apalagi kalau kenal langsung sama orangnya mbak.

      Hapus
  9. Ceritanya menginspirasi, dituliskan dengan begitu mengalir. Keren kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih dinda sudah berkenan singgah.

      Hapus
  10. Masyaallah..

    Kesedihan itu sangat jelas tergambar dalam tulisan mbak

    BalasHapus