Minggu, 31 Desember 2017

Ketika Alumni Sekolah Perempuan Menulis Memoar


Judul Buku: Selaksa Cinta Bakti Ananda
Penulis: Alumni Sekolah Perempuan
Editor dan Proofreader: Alumni Sekolah Perempuan
Cover: Dian Apsari
Layout: Tim Najmubooks
Penerbit: Najmubooks Publishing
Cetakan Pertama Desember 2017
Buku ini berisi kisah inspiratif  dengan tema orang tua, ditulis oleh 68 orang penulis. 
WOW!
Apa yang menarik dari buku antologi ini?





Karena saya sebagai salah satu penulisnya maka tidak adil dong,  kalau saya katakan bahwa, buku ini sangat bagus. Karena itu saya hanya mau menuliskan kembali tanggapan dari orang yang sangat  berkompeten dalam dunia kepenulisan. 
Berikut tanggapan mereka.

“Kisah-kisah yang membuat mata saya menitik, haru biru selalu ada saat menceritakan keluarga dan alumni Sekolah Perempuan sukses menuliskannya dengan sangat baik. Sebuah buku yang wajib Anda baca!”
(Indari Mastuti, Founder Sekolah Perempuan)

”Kenangan kita dengan orang tua tak selalu semanis gula. Sepahit apa pun cinta mereka, jejak ingatan tentang mereka tidak akan pernah hilang. Dalam setiap tarikan napas sejak kita lahir di dunia, ada sentuhan mereka dalam jiwa-jiwa kita. Alumni Sekolah Perempuan mengabadikan kenangan atas sentuhan itu dalam bunga rampai karya bersama. Sungguh karya yang membuat saya berkali-kali mengusap sudut mata.”
(Anna Farida – Kepala Sekolah Perempuan)

“Teman, bicara tentang kedua orang tua tercinta, kadang selalu ada bulir hangat mengalir dari kedua pelupuk mata. Entahlah, kadang ada rasa bersalah karena belum cukup berbakti dan maksimal membahagiakan mereka.
Atas dasar ingin saling mengingatkan bakti kita pada orang tua tercinta, lahirlah antologi ini. Ditulis oleh 68 alumni Sekolah Perempuan. Untuk anda yang ingin berbakti dan membahagiakan kedua orang tua tercinta, milikilah buku ini! Bacalah! Anda akan sadari, apakah anda sudah maksimal berbakti pada orang tua tercinta?”
(Ida Fauziah, Mentor Sekolah Perempuan)

“Selaksa Cinta Bakti Anahda, sebenarnya adalah kisah tentang semangat hidup manusia. Dalam kegagalan, kepahitan, kerasnya perjuangan. Segala yang tak sempurna dalam sosok bernama orang tua, namun mampu memberi makna pada kehidupan berikutnya.”
(Artha Julia Nava, Certified Persoal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst | Writing Mentor)

Saat buku ini berada di tangan saya, maka kebiasaan saya kambuh, yaitu setiap kali akan membaca buku antologi maka saya  membuka lembaran-lembaran buku dengan cepat dan berhenti sesuka saya (maaf yah…soalnya bingung, darimana saya mulai membacanya).

Yap! 
Saya ketemu satu judul “ Anak yang Hilang” karya Sri Widi Handayani Soekarno

Profesi beliau sebagai Inspiring Family Coach dan terapis mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki masalah. Kemudian penulis  menceritakan tentang seorang bapak yang datang berkonsultasi kepadanya. Cerita yang cukup mengaduk-aduk perasaan. Kisah tentang kerinduan seorang bapak  kepada salah seorang anaknya yang pergi tanpa berita. Si bapak datang kepada penulis dengan satu tujuan, “ingin didengarkan.”

Itu hanya satu contoh kisah yang ada di dalam buku ini. Masih  ada 67 kisah lainnya yang tidak kalah seruh, indah, syahdu, dan haru biru. Pokoknya membaca buku ini akan membawa kita menyelam ke dasar hati lalu melambungkan kita menuju alam pikiran kemudian berakhir pada pelangi kehidupan. Penuh warna. 

Oh iyah, di dalam buku ini saya menulis tentang bapak, laki-laki pertama yang saya cintai dan selalu menjadi inspiratif. Beliau bukanlah laki-laki sempurna, namun dalam keterbatasannya saya justru mendapatkan pelajaran kehidupan.

Hidup tidak selalu nyaman tetapi selalu bermakna

Berikut sedikit tulisan saya tentang bapak yang berjudul “Buta Mata Tak Buta Hati.”

Bapakku yang buta tidak pernah mengeluh. ” Jika penglihatanmu diambil oleh Allah, bisa jadi Allah menghukum matamu karena telah lalai melihat kebesaran Allah, atau mungkin Dia memelihara pandanganmu dari melihat maksiat. Bapak tidak tahu, mataku ini berada dalam kategori yang mana, tetapi aku bersyukur karena Allah sudah memberiku kesempatan melihat ciptaan-Nya.” Ucapan beliau itu tidak pernah hilang dari ingatan.”
Jangan risau anakku, Allah selalu menanti kedatangan hamba-Nya, jika engkau berjalan ke arah-Nya maka Dia akan berlari ke arahmu.”

Masihkah Anda ragu memilikinya?


Rabu, 27 Desember 2017

Analisis SWOT Dasar Resolusi Tahun 2018

Sebelum membuat dan menyusun resolusi tahun 2018, maka ada baiknya kita mencari tahu, apa sebenarnya arti dari resolusi itu. Perhatikan arti resolusi menurut  Kamus Bahasa Indonesia Daring berikut ini.


Resolusi adalah: putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa membuat resolusi bagi diri sendiri adalah membuat pernyataan tertulis yang menuntut diri sendiri, dan diajukan kepada diri sendiri agar tuntutan itu dipenuhi.  Dengan membuat resolusi saya berharap saya akan menjadi lebih produktif dan lebih fokus terhadap resolusi-resolusi yang telah saya buat.
Teringat dengan resolusi yang saya buat tahun lalu. Resolusi itu saya bagi dua, yaitu resolusi untuk  akhirat dan resolusi untuk dunia, karena setahu saya setiap perbuatan yang dilakukan di dunia akan berdampak kepada kehidupan selanjutnya di akhirat. Dengan membuat resolusi dunia yang diiringi dengan resolusi akhirat saya berharap kehidupan saya akan seimbang antara dunia dan akhirat, karena itu saya selalu berdoa kepada yang Maha Pemberi Kehidupan.
 “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.”
Walaupun tidak semua resolusi di tahun 2017 itu terwujud, tetapi paling tidak saya merasa ada dampak positifnya untuk semua aktivitas yang saya lakukan. Tanpa saya sadari, lebih dari seperdua dari resolusi itu telah terwujud dan sedang dalam proses menuju terwujudnya resolusi itu. Maka tidak berlebihan kalau akhir tahun 2017 ini, saya membuat lagi resolusi untuk tahun  2018. Semoga saja resolusi itu menjadi pemantik semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih  bermanfaat pada diri sendiri dan orang lain.
Sebelum memutuskan resolusi apa yang akan saya buat, saya akan mencoba membuat semacam  analisis SWOT sederhana, tidak sehebat dan sejelimet  analisis swot suatu perusahaan atau instansi sih. Hanya sekedar analisis untuk bahan evaluasi diri saja.
Bismillah!

Strengths = Kekuatan
Kekuatan apakah yang saya miliki?
Semangat dan tidak pantang menyerah adalah kekuatan yang saya yakini selalu bersemayam di hati dan di jiwa saya. Saya tidak gampang putus asa juga tidak malu untuk terus belajar dan membenahi diri.
Belajar kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja merupakan modal utama saya. Tidak pernah memandang siapa dia, usianya berapa dan apa jenis pekerjaannya. Selama orang itu memiliki ilmu yang bermanfaat dan bersedia menebarkan ilmunya, pasti akan saya datangi.
Selain semangat, tidak mudah putus asa, dan tidak malu untuk belajar kepada siapapun maka kekuatan lainnya adalah keluarga. Keluarga adalah modal utama saya. Jika suami saya merestui, mama saya mendoakan, anak-anak saya mendukung, dan saudara serta kerabat lainnya ikut mengamini, maka insya Allah semuanya akan lancar.
Sahabat-sahabat terhebat saya,  baik di dunia nyata maupun di dunia maya tidak kalah besar pengaruhnya sebagai sumber kekuatan saya. Berkumpul, bersilaturahim, dan saling menebarkan kebaikan merupakan salah satu cara saya mendapatkan ilmu.
Sumber dari segala kekuatan saya adalah Tuhan. Allah swt. Dia adalah sumber dari segala kekuatan seluruh makhluk-Nya. Saya yakin, bahwa kekuatan yang saya miliki saat ini adalah berkat kemurahan-Nya dan kasih sayang-Nya kepada saya.
Weaknesses = Kelemahan
Kelemahan saya yang paling nyata adalah manajemen waktu yang masih amburadul. Saya masih belum mampu mengatur waktu antara tugas pokok saya sebagai ibu rumah tangga, menjalankan profesi saya sebagai guru, dan menekuni passion saya sebagai penulis. Saya juga belum mampu fokus dalam jangka waktu yang relatif panjang.
Opportunities = Peluang
Dibalik semua kelemahan itu,  saya masih optimis karena ada kekuatan-kekuatan yang saya miliki, keluarga dan sahabat saya yang selalu siap membantu. Selain itu semangat saya yang tidak kenal putus asa untuk terus berjuang dalam mencapai cita-cita dan impian-impian saya. Alhamdulillah, anak-anak saya sudah mandiri, itu berarti saya memiliki waktu luang yang lebih banyak dibandingkan ketika mereka masih kecil-kecil. Peluang saya untuk menjalankan ibadah, belajar, bekerja dan terutama memenuhi semua impian-impian saya tentu akan lebih besar.
Threats = Ancaman
Ancaman yang paling nyata dan kadang-kadang datang menghampiri adalah masalah kesehatan saya. Diusia saya yang tidak muda lagi tentu saja sangat rentan dengan penyakit. Aktivitas saya juga semakin bertambah sehingga rasa lelah semakin sering datang menyerang.
Berdasarkan hasil analisis SWOT ala saya itu, maka saya mencoba menyusun resolusi tahun 2018 sebagai berikut.
Memperbaiki Manajemen Waktu
Hal paling utama yang akan saya reformasi adalah manajemen waktu. Bukankah waktu berada  diposisi tertinggi dalam kehidupan kita? Sebagaimana Allah berfirman dalam kitab-Nya.
“Dan mereka berkata, ”kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan selain kita masa (waktu)….” (QS Al-Jasiyah: 24).

Lebih Produktif Menulis
Alhamdulillah, salah satu resolusi saya tahun 2017 menerbitkan buku solo telah terwujud, juga menjadi kontributor untuk tiga buku antologi. Hal itulah yang  memicu semangat saya untuk semakin produktif lagi menulis. Maka resolusi saya tahun 2018 adalah menyelesaikan buku solo kedua yang sedang dalam proses.  
Blog adalah tempat yang asyik untuk menulis bagi saya, olehnya itu saya akan lebih produktif lagi menggoreskan pena di blog saya.

Menjaga Kesehatan
Kesehatan adalah rezeki yang tidak ternilai harganya. Oleh sebab itu, saya harus menjaga kesehatan saya, istirahat yang cukup dan banyak minum air putih. Saya akan mulai berolah raga secara rutin.
Saya juga akan lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. Terutama makanan yang mengandung vitamin A, B, C, D, dan E  juga berbagai jenis bahan  makanan yang mengandung mineral esensial  seperti magnesium dan zinc. Saya juga akan  mengurangi minum minuman yang mengandung kafein. 
Dilansir theragran.co.id (20/12/2017), magnesium menjaga sistem daya tahan tubuh terhadap berbagai jenis penyakit. Sumber magnesium bisa didapatkan dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan ikan. Zinc adalah mineral esensial yang membantu regulasi sel tubuh dan sistem saraf. Kandungan Zinc dapat ditemukan pada sereal dan daging merah.
Sedangkan vitamin A berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh dan anti oksidan. Sumber vitamin A adalah susu, wortel serta sayuran buah berwarna oranye.
Vitamin B yang terdiri dari vitamin B1, B2, B3, B5, B6, dan B12 berkhasiat membantu proses metabolisme, mencegah sakit tenggorokan, menghindari mood yang tidak stabil, mengatur keseimbangan hormon steroid.
Vitamin C berfungsi menjaga ketahanan tubuh. Sumbernya adalah jeruk, tomat, pepaya dan berbagai jenis sayuran dan buah lainnya.
Vitamin D berkhasiat menjaga kesehatan tulang dan gigi. Vitamin D bisa didapatkan pada susu, minyak ikan, dan telur. Vitamin E berperan penting dalam sistem reproduksi. Sumber vitamin E adalah biji-bijian, susu, sayuran, dan telur.
Beruntunglah saya sudah mengenal multivitamin Theragran-M, sehingga saya akan lebih mudah mendapatkan berbagai jenis vitamin dan magnesium yang dibutuhkan oleh tubuh saya.

Theragran-M merupakan kombinasi Multivitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E. Selain itu, Theragran-M juga mengandung mineral esensia, yaitu magnesium dan zinc. Dengan mengonsumsi multivitamin ini, maka dapat meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan.
Semoga semua resolusi itu dapat terwujud. 

Referensi: 

Kamusbahasaindonesia.org
taiso.co.id
theragran.co.id


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M

Sabtu, 23 Desember 2017

29 Kisah Inspiratif tentang Ramadan



Judul Buku: Ramadhan Kareem
Penulis: Alumni SP 15
Desainer Cover: Dindin Rasdi
Layout: Dindin Rasdi
Penerbit: Bitread Publishing

Buku ini berisi kisah inspiratif tentang Ramadhan, baik berupa memoar maupun cerpen. Ditulis oleh para perempuan yang tergabung dalam alumni Sekolah Perempuan Gelombang 15, terdiri dari:

Rara Radyanti, Endah Rini, Irienindra, Nur Aynun, Wulansari Apriani, Nurria Betty, Chadijah Hakim, Niken Sari, Titik Suswati, Wahyuni Indriyani, Neni Triani, Yetrie Gustianti, Lily Kholida, dan saya Dawiah
Ada 14 orang penulis yang menulis  29 kisah. Kisah-kisah tersebut dirangkai dengan manis karena ditulis  dalam rangka menyambut dan mengisi bulan Ramadan yang penuh berkah.

Proses penulisan hingga terbitnya tidak lama, hanya selama kurang lebih sebulan dan buku antologi ini terbit. Ada suka duka yang menyertai proses penerbitannnya. Terutama ketika akan  dijadikan bingkisan  buat guru-guru SMP Negeri 7 Makassar dari para alumni SMP Negeri 7 Makassar  angkatan 1987.
Seperti kata Rara Radyanti yang menjadi PJ dalam  proses penerbitannya.
“Ibarat rayap yang bekerjasama membangun istananya, begitulah persahabatn kami sesama alumni Sekolah Perempuan angkatan 15 dalam menyusun buku ini. Kisah-kisah kehidupan penuh inspirasi dalam suka dan duka di bulan penuh hikmah ini, semoga dapat memberikan inspirasi, pemahaman, dan khasanah keilmuan tentang Ramadan.”
 
 14 orang penulis buku ini berada diantara seluruh peserta SP 15
Kehadiran buku ini juga memberi makna dalam bulan Ramadan. Simaklah kata-kata berikut.
 “Kumpulan kisah Ramadan yang penuh warna. Suka dan duka disajikan dalam rangkaian kata yang mempesona. Antologi ini membuat Ramadan lebih bermakna!”
                                    Ida Fauziah (Penulis, Mentor, dan Pengajar di Sekolah Perempuan).
Alhamdulillah, buku ini terbit dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan buku Ramadhan Kareem tak akan lekang oleh waktu.
Setiap tahun, buku ini selalu pantas untuk dibaca.
Berikut cuplikan dari tulisan saya dalam “hidayah.”
Salsabila mengumpulkan keberaniannya, saat melewati hutan itu. Menurut cerita penduduk, di dalam hutan itu, sering terdengar suara tangisan yang menyayat, atau suara lolongan anjing yang panjang. Biasa pula terdengar suara sesenggukan yang ngilu. Tetapi Salsabila harus melewati hutan ini, karena itulah jalan satu-satunya menuju rumahnya.
Hutan rimbun dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi. Di pinggir hutan terdapat pohon trembesi yang sangat subur berjejer-jejer di sepanjang jalan, terasa sejuk kala siang hari. Namun terasa seram di malam hari. Daun-daunnya yang melambai menimbulkan suara berdesir-desir diterpa angin, menambah suramnya malam pekat yang mencekam…



Kamis, 21 Desember 2017

Merajut Kenangan Bersama Mama

Tanah suci umat Islam, Mekka atau Makka Al Mukarramah adalah impian mama saya  sejak dahulu. Setiap kali melihat tayangan tentang negeri kecintaan umat Islam itu di televisi, mata mama berkaca-kaca. Terharu. Apalagi kalau yang dilihatnya adalah Ka’bah, maka beliau akan selalu berkata. “Semoga kita bisa juga ke sana.”
Suatu waktu, mama menonton televisi dengan tayangan kesukaannya. Tawaf mengelilingi Ka’bah.

“Dawiah, sama-ki nanti pergi ke Mekka nah!” Seru mama.
“Kapan yah kita ke sana?” Mama bicara lagi sebelum saya sempat menjawab seruannya.
“Andaikan Mekka itu dekat, seperti ke Pangkep pasti saya sudah bawa maki ke sana.” Jawab saya sekenanya.
Awwi… kalau seperti ji Pangkep, tiap bulanma ke sana, hahaha…” Mama tergelak sampai bahunya terguncang-guncang.

Saat dana sertifikasi pertama saya  cair, atas izin suami saya berniat menyerahkan dana itu  buat biaya haji mama. Tetapi mama menolak karena dia tidak ingin berangkat sendiri.
“Kenapa Mama menolak?” Tanya saya.
“Mama tidak mau pergi sendiri, nanti kita pergi berdua kalau perlu bertiga dengan suamimu.” Jawabnya seraya menengadahkan kedua tanganya. Berdoa.

Saya hanya bisa menelan ludah. Biaya satu orang saja mahal apalagi bertiga.
Tetapi siapa yang bisa menyangkal doa seorang ibu. Doanya langsung diijabah oleh Allah swt. Setahun kemudian, saya  berhasil mengumpulkan dana untuk setoran haji bersama mama. Bukan hanya berdua melainkan bertiga dengan suami saya.

 “Tunggu 10 tahun ya Bu.” Demikian jawaban pegawai yang melayani kami di kantor Departemen Agama.  Kami hanya diam mendengarnya. Tetapi mama menjawab dengan kesederhanaan pikirannya.
“Biar 20 tahun kami akan menunggu yang penting kami sudah berniat dan berusaha.”

Sejak hari itu, mama rajin belajar dengan bertanya kepada teman-temannya di majlis taklim. Semakin rajin mengaji, mengikuti pengajian-pengajian dan semakin rajin ke masjid. Katanya, untuk latihan agar nanti di tanah suci tidak kagok lagi melaksanakan ibadah.
Ternyata Allah swt sangat sayang sama mama. Entah bagaimana caranya kami mendapatkan rezki untuk berangkat ke tanah suci. Walaupun hanya ibadah umroh, namun setidaknya sudah bisa memenuhi separuh impiannya.

Semalam di Kualalumpur

Hari yang indah, matahari bersinar cerah secerah hati mama. Tidak sedikitpun dia memperlihatkan kelelahan atau kecemasan, padahal ini adalah perjalanan pertamanya menggunakan pesawat terbang.
Pukul 17.30 waktu setempat, rombongan kami tiba di Kualalumpur. Rencananya kami akan menginap semalam di hotel yang telah disediakan oleh pihak travel, dan esoknya kami akan singgah di beberapa tempat sebelum menuju ke bandara dan terbang ke Jedda.
Saat berada di salah satu hotel di Kualalumpur, mama  kedinginan. Beliau memang tidak terlalu suka dengan ruangan yang ada acnya.Saya  mencari remot ac untuk  menonaktifkan ac, sayangnya remot acnya tidak berfungsi. Maka semalaman kami tidur berpelukan agar dapat saling menghangatkan tubuh kami. Serasa saya kembali menjadi bayi, tidur dalam pelukan mama.

Mama paling senang difoto. Ini foto beliau di depan salah satu hotel di Kualalumpur


Hajja! Masuk Pintu Nomor 25

Rombongan kami tiba di Madina sekitar pukul 03.00. Azan subuh berkumandang tepat setelah kami membereskan barang-barang dan tas di kamar hotel. Kami turun dari hotel menuju masjid Nabawi. Kulihat mata mama berbinar-binar, sembari tersenyum semringah dia menggapit lengan saya sambil berbisik.

“Alhamdulillah, Dawiah … engka tongengni ko Madina di .. de’ usangka-sangkai. Sukkuruki mappoji ri puang Allah Taala.”

Artinya:
     Alhamdulillah, Dawiah … kita betul-betul sudah di Madina ya … tidak kuduga. Bersyukurlah kepada Allah Taala.”

Iye Ma …” Saya memeluk mama  dengan penuh rasa haru.

Kami bergandengan mencari pintu masuk masjid Nabawi, tiba-tiba kami dihadang oleh seorang laki-laki yang tinggi besar, memakai jubah putih sambil berteriak. Tangannya menunjuk ke arah selatan. Langkah kaki kami terhenti, kami diam mematung tidak tahu mau berkata apa.

“Hajja mau masuk masjid?” Tanyanya. Masya Allah! Dia menyapa kami dengan bahasa Indonesia.
“Iya Pak.” Jawab saya senang.
“Hajja masuk lewat pintu nomor 25.” Katanya lagi tersenyum sambil berlalu. Mama mengangguk takzim. Laki-laki itu balik mengangguk tak kalah takzimnya.
Mama  memang selalu sopan kepada siapapun.

Subuh di depan Masjid Nabawi bersama mama


Bonus untuk Mama

Berziarah ke makam Rasulullah saw adalah salah satu impian mama. Makam Rasulullah saw berada di dalam masjid Nabawi, ditandai dengan pintu berlapis emas dan warna karpet kehijauan, berbeda dengan warna karpet lainnya di dalam masjid.

Di sebelah mimbar Rasulullah terdapat Raudah, sebuah bilik kecil tempat para peziarah bermunajat kepada Allah swt. Sayangnya, untuk berziarah dan memasuki Raudah bukan hal yang gampang. Biasanya jemaah memasuki makam bersama rombongannya dan sebelumnya harus  antri menunggu giliran. Jika giliran rombongan jemaah tiba untuk masuk makam, masih juga memerlukan perjuangan yang cukup berat untuk sekedar salat dua rakaat, karena biasanya rombongan jemaah lain saling berdesakan. 

Hal inilah yang saya takutkan. Postur tubuh mama kecil ditambah dengan usianya yang sudah tidak muda lagi serta fisiknya yang lemah, mana mungkin beliau mampu bertahan dari desakan jemaah lainnya. Apalagi postur tubuh jemaah dari negara Timur Tengah pada umumnya tinggi dan besar.
Untuk menyiasatinya, saya menggandeng tangan mama mengikuti rombongan jemaah dari Uzbekistan. Saya pikir, kalau kami berada di antara mereka maka kami akan terlindungi oleh tubuh-tubuh mereka yang besar dan kekar.

Tiba-tiba seseorang memanggil kami. “Bu! Kesini Bu!”
Kami menoleh, ternyata ada seorang perempuan bercadar melambaikan tangannya ke arah kami. Mamaku mencengkeram lenganku sambil berbisik.” Astagfirullah, salahki kapang di?”
Perempun bercadar itu mendatangi kami sambil bertanya.
“Ibu berasal dari Indonesia?” Terdengar logat dan bahasa yang tidak asing ditelinga kami. “Iyah Mbak.” Saya balas menjawab dan mama bernafas lega.
“Mbak orang Indonesia kan?” Tanya saya  tanpa ragu.
“Iya, saya berasal dari Purwokerto. Kalian mau ke makam Rasulullah?” Perempuan bercadar memandang kami sambil tersenyum, walaupun bibirnya tidak terlihat karena dia memakai cadar tetapi garis matanya memperlihatkan kalau dia sedang tersenyum. Saya  dan mama mengangguk bersamaan.
“Sini, ikuti Saya.” Perempuan bercadar yang belakangansaya ketahui bernama Ummu Salama itu adalah seorang tenaga kerja wanita, dia bertugas membersihkan masjid Nabawi. Kami mengikuti Ummu Salama yang berjalan ke arah lain yang berlawanan arah dengan rombongan jemaah yang akan berziarah ke makam Rasulullah. Ummu Salama berhenti di depan jalan tempat keluarnya jemaah yang telah selesai berziarah. Dia bercakap sejenak dengan perempuan bercadar lainnya yang bertugas menjaga pintu keluar. Perempuan itu lalu mempersilahkan kami masuk dan Ummi Salama mengangguk ke arah kami kemudian berlalu.

Subhanallah! Saya tidak berhenti  mengucap syukur. Disaat jemaah lain berdesak-desakan memasuki ruang berkarpet hijau dan salat sambil ditunggui oleh teman rombongannya, kami malah mendapatkan tempat yang luang untuk salat sambil ditunggui oleh penjaga yang bercadar. Mamaku salat lalu berdoa sambil menangis. Sejurus kemudian, kami dihalau oleh penjaga. “Hajja … hajja keluar, sudah … sudah.”

Kamipun keluar melalui jalan tempat kami tadi masuk. Sekali lagi mama mengangguk takzim kepada penjaga yang kami lewati, penjaga bercadar itupun balas mengangguk.
Setelah berada di luar masjid, mama duduk di pinggir emperan tokoh, tidak henti-hentinya dia mengucap syukur sambil berkata.

 “Dapatki ini bonus dari Allah, ka banyaknya orang Indonesia ma’jaga, itumi bisaki masuk di ...”

Air Mata Mama di Depan Ka’ba

Pada hari keenam, rombongan jemaah melanjutkan perjalanan menuju Mekka. Singgah sebentar untuk mengambil miqot di Bir Ali lalu perjalananpun dimulai.  Sepanjang jalan menuju Mekka, mama  tidak henti-hentinya mengucapkan “Labbaikallahumma labbaik..”
Rombongan kami tiba di hotel pukul 24.30. Kami hanya menyimpan koper dan bawaan lainnya, lalu turun di pelataran hotel berkumpul bersama jemaah lainnya dan bersiap berjalan menuju Masjidil Haram untuk melanjutkan serangkaian ibadah umroh kami, yaitu  tawaf, sai’, dan tahallul.

Selama tawaf  tak sekalipun terdengar  mama mengeluh karena capek. Padahal jarak dari hotel ke Masjidil Haram lumayan jauh, kemudian tanpa beristirahat kami langsung melakukan tawaf. Mama juga tidak menjadi heboh saat melihat ka’ba, padahal inilah tempat yang sangat dirindukannya. Beliau hanya menangis pelan tanpa suara. Air matanya bagaikan kristal bening, menggantung indah di pipinya yang keriput.

Demikian pula, saat kami melakukan sai’, mama  berjalan dan berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dengan langkah yang ringan. Kalau urusan jalan kaki, mama  memang jagonya. Tidak sia-sia beliau setiap hari berjalan kaki dari rumah menuju masjid, tiga sampai lima kali sehari.

Alhamdulillah, kami menyelesaikan prosesi ibadah umroh dengan baik. Semoga ibadah umroh kami mabrur.



Kenangan-kenangan yang saya rajut bersama mama tidak terbilang banyaknya, tetapi bersamanya melakukan ibadah umroh adalah kenangan yang  terukir setelah saya sendiri telah menjadi ibu, mama bagi anak-anak saya.



Dari kebersamaan itu, menyadarkan saya bahwa betapa pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani. 
Kesehatan jasmani mama terjaga dari rutinnya beliau berjalan kaki dan selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pernah sekalipun mengeluh. Sementara kesehatan rohaninya, beliau jaga dengan selalu salat fardu tepat waktu, salat malam, dan puasa sunat. 
Mama juga tipe orang yang tidak banyak menuntut, ikhlas mengerjakan apapun, setidaknya itu yang saya  lihat sejak pertama kali saya  mengenalnya.

Sehat terus Mama, semoga keberkahan Allah swt selalu menyertai mama. 


Senin, 18 Desember 2017

Menjajal Diri dengan Menulis Buku Non Fiksi

Judul Buku: Analisis Soal Tes Tertulis
Penulis: Mardawiah
Perancang Sampul: M Yusuf. S, S.Kom
Tata Letak: Syafa’atul Maulida, S.Kom
Penerbit: Matsnuepa Publising
Cetakan  pertama, Agustus 2017

ISBN: 978-602-73443-3-4


Pengalaman saya sebagai guru sejak tahun 1984 menyisakan keprihatinan tersendiri. Ketika anak murid saya mengeluh karena tidak dapat menjawab soal-soal  dengan baik, padahal dia sudah belajar keras. 

Katanya, materinya dia kuasai tetapi soal-soal yang dibuat oleh bapak/ibu gurunya yang sangat sukar, tidak sama dengan materi pelajaran yang diajarkan setiap hari, juga katanya soal-soalnya kurang bisa dimengerti. 

Saya merenung, ada apa dengan anak murid saya? Apa yang terjadi  dengan soal-soal yang disusun oleh guru, termasuk soal saya. Pasti ada sesuatu yang salah. 

Itulah latar belakang saya melakukan penelitian tentang kualitas soal, lalu berujung pada penulisan buku ini.

Apa yang menarik dari buku ini? Buku "Analisis Soal Tes Tertulis"  adalah buku non fiksi yang diperuntukkan bagi guru-guru dan mahasiswa calon guru. Ide dasarnya adalah keprihatinan saya terhadap soal-soal buatan  guru yang pada umumnya soal tersebut kurang berkualitas (sesuai hasil penelitian saya tehadap soal-soal try out IPA Tahun Pelajaran 2011/2012 di Makassar).



Hasil penelitian itu termaktub dalam  tesis saya dengan judul: “Analisis Kualitas Soal Try Out IPA Tahun Pelajaran 2011/2012 Pada Peserta Didik SMP di Makassar.”  Telah diujikan di depan panitia ujian tesis pada tanggal 28 Juli 2012 di UNM Makassar.

Keunggulan dari buku ini adalah:
  1.  Cara penulisan dalam buku ini ringan dan gampang dipelajari.
  2. Buku ini memuat penjelasan tentang evaluasi, penilaian, pengukuran dan perbedaan antara tes dengan non tes.
  3.  Buku ini menguraikan berbagai macam tes disertai dengan contoh soal
  4. Buku ini memuat petunjuk praktis dalam  menganalisis soal baik secara manual maupun dengan menggunakan program komputer.
  5. Dilengkapi dengan latihan menganalisis soal

Berikut gambaran garis besar isi buku:

Bab I. Evaluasi Pendidikan
Bab ini berisi penjelasan tentang perbedaan evaluasi pendidikan dengan penilaian serta pengukuran.

Bab II.  Tes Tertulis
Bab ini menjelaskan pengertian tes tertulis, tujuan penggunaan tes serta bentuk-bentuk  soal tes tertulis.

Bab III. Analisis Kualitatif
Bab ini menjelaskan tentang kaidah-kaidah penulisan soal, terdapat pula contoh-contoh penulisan soal yang sesuai dengan kaidah-kaidah tersebut.

Bab IV. Analisis Kuantitatif
Bab ini berisi penjelasan tentang daya beda soal, tingkat kesukaran dan penyebaran pilihan jawaban untuk jenis soal pilihan ganda. Dijelaskan pula tentang validitas dan reliabilitas soal.

Bab V. Analisis Soal Manual dan Program
Bab ini menjelaskan tentang cara menganalisis soal secara manual dan cara menganalisis soal dengan menggunakan program komputer, dalam hal ini menggunakan program exel dan program I-Teman. Dalam bab ini juga akan diberikan contoh serta petunjuk praktis menganalisis soal.

Dan ini Referensinya:

  1. Analisis Butir Untuk Instrumen. Hadi, Sutrisno, Penerbit Andi offset.
  2. Analisis Soal Secara Manual, Tim Puspendik. Penerbit Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Diknas depdiknas.
  3. Assesmen Pembelajaran di Sekolah, Mansyur, Rasyid, & Suratno. Penerbit Multi Pressindo.
  4. Bagaimana Menganalisis Soal Dengan Program Iteman? Zulaiha, Rahma, Penerbit Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Diknas depdiknas.
  5.  Evaluasi Pendidikan; Prinsip dan Operasionalnya, Sukardi, Penerbit Bumi Aksara.
  6.  Penilaian Hasil Belajar, Rasyid Harun, Mansur, Penerbit Wacana.
  7. Penilaian Autentik, (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013),  Kunandar, Penerbit Raja Grafindo Persada
  8. Pengembangan Alat Ukur Psikologi, Suryabrata, Sumadi Penerbit Andi offset.
  9.  Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, Djaali & Pudji Muljono, Penerbit Grasindo.
  10. Prinsip-prinsip dan Strategi Penilaian di Kelas, Hayat, Bahrul. Penerbit Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Diknas depdiknas.
  11. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes, Mardapi, Djemari, Penerbit Mitra Cendekia Press.
  12. Tes Prestasi; Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar,  Saifuddin Azwar, Penerbit Pustaka Pelajar
  13. Tes Tertulis, Tim Puspendik, Penerbit Tim Puspendik. Penerbit Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Diknas.

Oh iyah, buku ini tidak terbit begitu saja sebab  ada orang-orang yang berjasa di balik proses penulisannya. Karena itu saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mentor terkeren saya, ibu Anna Farida, Kepala Sekolah dari Sekolah Perempuan. Beliau telah mendampingi, membimbing, dan selalu siaga menyiapkan “gunting kukunya” agar saya terus bersemangat hingga buku ini selesai.


Terima kasih pula kepada IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan terkhusus kepada IGMP Bahasa Indonesia Pusat yang digawangi oleh ketua terkeceh Nurbadriyah. IGI dan IGMP Bahasa Indonesia Pusat telah memfasilitasi penerbitan buku saya ini ditengah keterbatasan dana yang saya miliki. 

Terima kasih.

Maka saya katakan bahwa, bapak/ibu guru dan adik mahasiswa calon guru tidak akan rugi memiliki buku ini.
Jika berminat silahkan hubungi saya di fb: Dawiah, IG: dawiah_nurdin atau ke email saya: nabilamarda@yahoo.co.id