Senin, 09 Oktober 2017

PENGALAMAN HOROR

Kisah ini aku alami beberapa puluh tahun yang lalu. Saat itu aku masih berstatus mahasiswa di IKIP Ujung Pandang, sekarang UNM Makassar. Pada waktu itu, IKIP Ujung Pandang sedang gencar-gencarnya membangun kampus baru.

Tahun 1984 kampus UNM Parangtambung masih dalam proses pembangunan, bahkan sebagian besar lokasinya masih dijadikan area praktek berkebun. Nah, salah satu mata kuliah yang kuprogramkan waktu itu, oleh dosennya diwajibkan praktek berkebun. Mulai dari menanam, menyiangi, menyiram hingga tanamannya bisa dipanen. 
Kami dibagi berkelompok, setiap kelompok wajib datang ke kebun dua kali dalam sepekan.

Sementara itu, kondisi daerah Parang Tambung saat itu masih sangat sunyi, belum ada kendaraan umum dan jalanannya belum mulus masih berbatu-batu. Mobil yang melewati kampus baru itu hanya mobil-mobil truk yang mengangkut batu bata atau pasir, ada juga mobil yang mirip dengan truk tetapi ukurannya lebih kecil, kami menyebutnya mobil open kap. Kadang-kadang juga ada mobil boks yang lewat.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya kami mendatangi lokasi itu. Karenanya aku dan teman-teman biasanya meminta tolong kepada sopir mobil truk yang akan masuk ke daerah itu. Untungnya sopir-sopir mobil truk itu baik hati, kami diizinkan naik ke mobilnya dengan catatan bersedia naik di belakang, bergabung dengan pasir, batu, bahkan terkadang bergabung dengan rumput yang disediakan untuk makanan sapi dan kambing. Syukurlah tidak pernah bergabung dengan kambing. He … he … he …

Mobil truk itu biasanya berangkat pukul 8 pagi dan  pulang jam 17.00, akibatnya kami juga akan tinggal di kebun hingga sore, menunggu kembalinya truk-truk tersebut. Pada saat truk itu pulang, biasanya truk dalam keadaan kosong, sehingga kami bisa duduk berselonjor di atas truk.

Hingga suatu waktu, seperti biasanya kami menunggu truk yang akan lewat, aku bersama lima orang temanku, menunggu di depan jalan yang menuju arah kebun kampus. Tepat jam 8.00 satu mobil lewat, tetapi bukan mobil truk yang biasa kami tumpangi, melainkan mobil boks. 

Daripada terlambat kami menyetop mobil tersebut. Untunglah sopirnya baik hati, kami dipersilahkan naik ke atas mobil, dan masuk ke dalam boks.
Astagfirullah!  Pengap nian mobil boks itu. Kami berenam bersama kardus-kardus yang berisi rokok, sehingga kami duduk, lebih tepatnya jongkok mengkerut berusaha mengecilkan badan kami. Namanya juga mobil boks, tanpa jendela, maka pastilah pengap.

Mobil melaju cukup kencang.  Karena kami di dalam boks yang tidak memiliki jendela, tentu saja kami tidak melihat jalanan. Akibatnya kebun kampus kami terlewati. Kami baru sadar setelah mobil berhenti, dan kami turun di suatu tempat yang asing.
“Di mana ini Pak? Tanyaku heran.
“Ini di Mallengkeri Dik.” Jawab sopir kalem.
“Apakah kebun kampus IKIP sudah lewat Pak?” Tanya temanku, satu-satunya laki-laki dalam kelompok kami.
“Oh sudah jauh Dik, kenapa tadi tidak kasi tahu sopir.” Kata kernetnya.
Waduh, bagaimana ini? Jalanan ini kan sunyi, belum ada kendaraan yang lalu lalang
“Kapan bapak balik ke kota?” Seorang teman bertanya dengan harapan mobilnya akan kembali.
“Besok pagi Dik, kami harus melanjutkan perjalanan ke Gowa dulu mengantar barang.” Pak sopir menjawab sambil menatap kami sedih.
“Iyah Pak, ndak apa-apa, terima kasih yah Pak.” Jawabku lesu.

Setelah berembuk, maka diputuskanlah kami beristirahat di rumah penduduk sambil berharap ada mobil lain yang lewat. Cukup lama kami menunggu, akhirnya terdengar suara mobil dari kejauhan, bukan satu melainkan lebih dari satu. Teman laki-laki kami maju ke tengah jalan ingin menyetop mobil tersebut.

Alhamdulillah mobilnya berhenti diikuti oleh beberapa motor, ternyata suara yang kami dengar itu adalah suara motor dan hanya satu mobil.
“Mau ke mana Dik?” Tanya sopirnya ramah. Di dekat sopir ada juga seorang perempuan setengah baya, menatap kami dengan mata sayu.
“Kami mau ke jalan raya Pak, bolehkah kami menumpang?”
“Boleh saja, tetapi apakah kalian berani?” Pak sopir menjawab dengan mata  menyelidik ke arah kami satu persatu.
“Memangnya kenapa Pak.” Tanyaku sedikit khawatir.
“Ini mobil jenazah Dik, yang di belakang itu adalah jenazah suami ibu ini.” Jawab sopir sambil memiringkan badannya, seakan memperkenalkan perempuan setengah baya yang duduk di sampingnya. Si ibu mengangguk, matanya sembab.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sebentar lagi malam, jika kami tidak memberanikan diri maka kami akan semakin terlunta-lunta. Akhirnya kami naik ke mobil itu. Di atas mobil, terbaring jenazah yang ditutupi dengan kain batik, kami duduk bersebelahan, dengan jenazah terbaring di tengah.
Sepanjang jalan kami terdiam, dan saling memandang dengan wajah yang tidak karuan. Aku duduk meringkuk di tengah sambil menahan kencing karena takut. Bukannya takut sama jenazahnya, tetapi kondisinya sangat horor.  Saat melewati jalanan yang berbatu, jenazah itu tergoncang-goncang seakan-akan ingin bangkit dari tidurnya.
Apalagi saat mobil membelok, maka posisi jenazah ikut miring. Celakanya jenazah itu miring ke arahku. Aku menggigit bukuku sangat erat menahan teriak. Dua temanku yang duduk di samping kiri kananku,  menahan takutnya dengan meremas lenganku. 

Astagfirullah!  Lengkaplah sudah derita yang kualami.

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Serentak  kami melongok  ke jendela kaca.  Rupanya mobil sudah tiba di jalan poros kota. Sopir mobil turun dan membuka pintu belakang mobil
“Sudah sampai adik-adik, maaf tadi direm mendadak, hampir lupa kalau kalian ada di belakang, jenazah itu akan dikuburkan di pekuburuan Panaikang, adakah yang searah? Kalau mau, boleh ikut lagi jadi tidak usah turun.” Tawar pak sopir ramah.

“Oh tidak ada-ji Pak, terima kasih banyak.” Jawabku buru-buru.

Akhirnya kami bisa bernafas lega, tiba di jalan poros dengan selamat.
“Hei, Dawiah rumah kamu kan searah dengan mobil tadi, kenapa tidak ikut?” Salah seorang temanku menggodaku sambil cengengesan.
“Hii..lebih baik aku jalan kaki dari pada ikut mobil itu.” Kataku bergidik.

“Ha… ha … ha ... bisa-bisa kamu kencing di celana yah?”  Mereka tertawa serentak.

Aku hanya tersenyum kecut. 

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN
#sekolahperempuan

18 komentar:

  1. Ceritanya seruu, Bunn. Berasa baca cermis. TOP deh, ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seseru perasaan kami dulu, deg-deg duarr

      Hapus
  2. Wah.. Sesunyi itu ya jalanan ke arah Daeng Tata dan Malengkeri di tahun '84. Horrornya kak, gak kebayang duduk di dalam ambulance berisi mayat yang gak kita kenal 😯

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tidak sunyi, sudah banyak penduduknya. Hanya belum ada angkot/pete-pete.
      Kentaranya di manusia lawas hahaha...

      Hapus
  3. Klo aku sih mending gak ikut nebeng mba. Hiiiiiii

    BalasHapus
  4. Pengalamannya bikin yang baca berasa ikutan ada di sana. Cara penceritaannya kece nih, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal jangan ikut-ikutan gigit buku yah, terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus
  5. aduh jadi ikutan deg2an. salam kenal ya bu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak. Maaf baru lihat komennya.

      Hapus
  6. duh kalo ngebayangin kok saya yg deg2an ya hehe,
    seru jadi ikut kebawa ceritanya...
    salam kenal buu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak, terima kasih ya sudah berkunjung.

      Hapus
  7. Bacanya seru, mengalaminya ...enggak deh. Makasih :))

    BalasHapus
  8. Ya Ampun Mba, serunya cerita jaman kuliah ya. Masa muda emang nggak ada lawannya ya 😁 *yangpernahmuda.

    BalasHapus
  9. Bacanya jadi ikut deg-degan.. huhuhu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya sudah lewat ya. Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus