Jumat, 27 Oktober 2017

Berkunjung Ke PerpustakaanTertinggi Di Dunia


Seusai temu alumni peserta SAGUSAKU IGI, bedah buku serta pelatihan editor dan layout, kami melanjutkan kegiatan, yaitu berkunjung ke gedung Perpustakaan Nasional. Lebih tepatnya gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan.

Perjalanan dari Senayan, kantor Kemdikbud menuju ke jalan Medan Merdeka Selatan, gedung Perpustakaan Nasional, tidak memerlukan waktu lama. Mungkin karena perjalanan kami bukan di waktu jam-jam macet atau memang jarak dari Senayan ke jalan Medan Merdeka Selatan tidak jauh.

Mengapa perpustakaan menjadi pilihan utama untuk dikunjungi?
Jelaslah alasannya, perpustakaan memang harusnya menjadi rumah kedua bagi guru, apalagi guru penulis. Kami ini kan rombongan guru penulis. Wuiiiss…keren sekali. Setidaknya merasa diri keren.

Seperti yang dilansir perpusnas.go.id, gedung fasilitas layanan tersebut didirikan di atas lahan seluas 11.975 meter persegi  dengan luas bangunan 50.917 meter persegi. Fasilitas layanan perpustakaan dirancang dengan konsep Green Building dengan indeks konsumsi energi (IKE) 150 kwh/mm2 per tahun, dilengkapi dengan teknologi kabel jaringan data kategori 7 (CAT-7) serta perangkat jaringan aktif yang mampu mentransfer data sampai dengan 100 Gbps.
Kebayang kan betapa kerennya gedung ini?

Salah satu sudut dengan latar lukisan pahlawan nasional, buku-bukunya antik



Gedung fasilitas layanan perpustakaan nasional ini disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia, sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo saat meresmikan gedung ini.

“Saya ingin menginformasikan sekali lagi mengenai Perpustakaan Nasional ini. Dulunya hanya tiga lantai, tidak ada yang mau datang ke sini. Sekarang 27 lantai ditambah basement. Jadi tidak kaget kalau gedung Perpustakaan Nasional ini tertinggi di dunia untuk gedung perpustakaan,” Joko Widodo, Presiden RI.(14/9/2017).

Kita intip  direktori tiap lantainya, yuk!

Lantai 1 adalah lobby utama. Di lantai ini kita akan melihat foto-foto kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan. Saat aku memasuki satu ruangan, mataku tertuju kepada sebuah sepeda tua yang dilengkapi dengan buku-buku yang tidak kalah tuanya. Sepertinya sepeda itu menggambarkan kendaraan yang digunakan oleh pak  pos di zaman dahulu.

Ini adalah sepeda pak pos, lumayan antik sama antiknya buku-buku yang ada di sadel belakang

Lantai 2 adalah ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater. Di lantai inilah aku melihat beberapa orang duduk antri untuk foto sekaligus mencetak kartu anggota perpustakaan nasional.
Sistem pendaftarannya keren loh. Kita mendaftar via on line, setelah mengisi data pada formulirnya di layar yang tersedia, calon anggota duduk manis menunggu panggilan untuk difoto. Tidak sampai 5 menit, kartunya sudah jadi.
Wow, baru kali ini aku melihat pelayanan keanggotaan yang sangat cepat. Terbersit dipikiranku, coba pelayanan-pelayanan publik lainnya secepat dan sekeren ini, pasti tidak akan ada keluhan dari masyarakat. Tapi sudahlah ya, kita teruskan perjalanan saja ke lantai berikutnya.

Dari lantai 2 kita menuju ke lantai 3, tempat atau Zona Promosi Budaya Baca, lantai 4 merupakan Ruang Pameran Koleksi Perpustakaan. Lantai 5 adalah Ruang Pustakawan.
Lantai berikutnya adalah lantai 6, di sini selain terdapat masjid juga merupakan tempat data center. Selain itu terdapat pula suatu tempat yang akan melayani khusus anak-anak dan para lansia. Lebih kerennya lagi, disiapkan tempat khusus buat para disablitas. Tempatnya ada di lantai 7.

Lantai 8 adalah khusus layanan audiovisual. Lantai 9 adalah layanan naskah nusantara. Layanan Deposit ada di lantai 10. Sementara di lantai 11, 12, dan 13 adalah masing-masing tempat Monograf Tertutup, Ruang Baca Pemustaka, dan Layanan Repositori Terbitan Karya Indonesia.
Jika ingin melihat Koleksi Buku Langka, tempatnya ada di lantai 14. Lalu naik setingkat lagi menuju lantai 15, di sana terdapat layanan Referens. Mau lihat Koleksi Foto, Peta dan Lukisan? Naik saja ke lantai 16.

Lantai 17 dan 18 terdapat Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, sementara di lantai 19 dan 20 terdapat Layanan Multi Media dan Layanan Koleksi Berkala Mutakhir dan Bidang Ilmu   Perpustakaan.

Di lantai  21-22, terdapat Layanan Monograf Terbuka. Di lantai 23 adalah Layanan Koleksi Bangsa-bangsa di Dunia Dan Majalah Terjilid.
Nah, di lantai 24 ini terdapat Layanan Koleksi Budaya Nusantara, Eksekutif Lounge dan Ruang Penerimaan Tamu Mancanegara.
Mungkin karena gedung ini masih baru, peresmiannya saja baru beberapa sebelum kami berkunjung, yaitu tanggal 14 September 2017 oleh Presiden Joko Widodo, maka situasinya masih sedikit sepi. Padahal kami berkunjung tepat pada hari kedua, hari kunjung perpustakaan, tanggal 25-30 September 2017.

Menyusuri setiap ruangan dari lantai 1 hingga lantai 24, tidaklah membuat kami lelah. Cukup menaiki lift, sampai deh..
Oh iya fasilitas liftnya juga banyak, sehingga tidak perlu terlalu lama antri.

Pada saat mau turun dari lantai 24, seorang satpam memberi informasi, kalau mau foto dengan hasil yang bagus, fotonya di lantai 25. Namanya juga ibu-ibu narsis, maka ramai-ramailah kami menuju lantai 25, khusus untuk foto-foto.

Berada di lantai 25, tugu Monas kelihatan kecil

Berkunjung ke gedung ini sungguh membuatku puas. Satu-satunya hal yang membuatku sedikit kecewa adalah aku tidak sempat mencetak kartu anggota, padahal sudah punya nomor anggota.

Semoga masih diberi waktu untuk datang lagi ke sini. Doakan yah teman-teman. 

6 komentar:

  1. waaw tinggi banget ya mba, sekalian lihat-lihat pemandangan deh di bawahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, pemandangannya tidak terlalu jelas mungkin karena terlalu tinggi. Terima kaish sudah berkunjung

      Hapus
  2. wah, aku belum ke sana , jadi pingin

    BalasHapus
  3. Total ada 24 lantai ya mbak, tinggi banget ya, bangga banget Indonesia punya perpustakaan tertinggi di dunia. Nice....

    BalasHapus
  4. Kebetulan banget kak, sepupuku juga baru tulis tentang Perpunnas ini di blognya.
    Keren yaa, banyak fasilitas modern.

    BalasHapus