Jumat, 27 Oktober 2017

Berkunjung Ke PerpustakaanTertinggi Di Dunia


Seusai temu alumni peserta SAGUSAKU IGI, bedah buku serta pelatihan editor dan layout, kami melanjutkan kegiatan, yaitu berkunjung ke gedung Perpustakaan Nasional. Lebih tepatnya gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan.

Perjalanan dari Senayan, kantor Kemdikbud menuju ke jalan Medan Merdeka Selatan, gedung Perpustakaan Nasional, tidak memerlukan waktu lama. Mungkin karena perjalanan kami bukan di waktu jam-jam macet atau memang jarak dari Senayan ke jalan Medan Merdeka Selatan tidak jauh.

Mengapa perpustakaan menjadi pilihan utama untuk dikunjungi?
Jelaslah alasannya, perpustakaan memang harusnya menjadi rumah kedua bagi guru, apalagi guru penulis. Kami ini kan rombongan guru penulis. Wuiiiss…keren sekali. Setidaknya merasa diri keren.

Seperti yang dilansir perpusnas.go.id, gedung fasilitas layanan tersebut didirikan di atas lahan seluas 11.975 meter persegi  dengan luas bangunan 50.917 meter persegi. Fasilitas layanan perpustakaan dirancang dengan konsep Green Building dengan indeks konsumsi energi (IKE) 150 kwh/mm2 per tahun, dilengkapi dengan teknologi kabel jaringan data kategori 7 (CAT-7) serta perangkat jaringan aktif yang mampu mentransfer data sampai dengan 100 Gbps.
Kebayang kan betapa kerennya gedung ini?

Salah satu sudut dengan latar lukisan pahlawan nasional, buku-bukunya antik



Gedung fasilitas layanan perpustakaan nasional ini disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia, sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo saat meresmikan gedung ini.

“Saya ingin menginformasikan sekali lagi mengenai Perpustakaan Nasional ini. Dulunya hanya tiga lantai, tidak ada yang mau datang ke sini. Sekarang 27 lantai ditambah basement. Jadi tidak kaget kalau gedung Perpustakaan Nasional ini tertinggi di dunia untuk gedung perpustakaan,” Joko Widodo, Presiden RI.(14/9/2017).

Kita intip  direktori tiap lantainya, yuk!

Lantai 1 adalah lobby utama. Di lantai ini kita akan melihat foto-foto kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan. Saat aku memasuki satu ruangan, mataku tertuju kepada sebuah sepeda tua yang dilengkapi dengan buku-buku yang tidak kalah tuanya. Sepertinya sepeda itu menggambarkan kendaraan yang digunakan oleh pak  pos di zaman dahulu.

Ini adalah sepeda pak pos, lumayan antik sama antiknya buku-buku yang ada di sadel belakang

Lantai 2 adalah ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater. Di lantai inilah aku melihat beberapa orang duduk antri untuk foto sekaligus mencetak kartu anggota perpustakaan nasional.
Sistem pendaftarannya keren loh. Kita mendaftar via on line, setelah mengisi data pada formulirnya di layar yang tersedia, calon anggota duduk manis menunggu panggilan untuk difoto. Tidak sampai 5 menit, kartunya sudah jadi.
Wow, baru kali ini aku melihat pelayanan keanggotaan yang sangat cepat. Terbersit dipikiranku, coba pelayanan-pelayanan publik lainnya secepat dan sekeren ini, pasti tidak akan ada keluhan dari masyarakat. Tapi sudahlah ya, kita teruskan perjalanan saja ke lantai berikutnya.

Dari lantai 2 kita menuju ke lantai 3, tempat atau Zona Promosi Budaya Baca, lantai 4 merupakan Ruang Pameran Koleksi Perpustakaan. Lantai 5 adalah Ruang Pustakawan.
Lantai berikutnya adalah lantai 6, di sini selain terdapat masjid juga merupakan tempat data center. Selain itu terdapat pula suatu tempat yang akan melayani khusus anak-anak dan para lansia. Lebih kerennya lagi, disiapkan tempat khusus buat para disablitas. Tempatnya ada di lantai 7.

Lantai 8 adalah khusus layanan audiovisual. Lantai 9 adalah layanan naskah nusantara. Layanan Deposit ada di lantai 10. Sementara di lantai 11, 12, dan 13 adalah masing-masing tempat Monograf Tertutup, Ruang Baca Pemustaka, dan Layanan Repositori Terbitan Karya Indonesia.
Jika ingin melihat Koleksi Buku Langka, tempatnya ada di lantai 14. Lalu naik setingkat lagi menuju lantai 15, di sana terdapat layanan Referens. Mau lihat Koleksi Foto, Peta dan Lukisan? Naik saja ke lantai 16.

Lantai 17 dan 18 terdapat Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, sementara di lantai 19 dan 20 terdapat Layanan Multi Media dan Layanan Koleksi Berkala Mutakhir dan Bidang Ilmu   Perpustakaan.

Di lantai  21-22, terdapat Layanan Monograf Terbuka. Di lantai 23 adalah Layanan Koleksi Bangsa-bangsa di Dunia Dan Majalah Terjilid.
Nah, di lantai 24 ini terdapat Layanan Koleksi Budaya Nusantara, Eksekutif Lounge dan Ruang Penerimaan Tamu Mancanegara.
Mungkin karena gedung ini masih baru, peresmiannya saja baru beberapa sebelum kami berkunjung, yaitu tanggal 14 September 2017 oleh Presiden Joko Widodo, maka situasinya masih sedikit sepi. Padahal kami berkunjung tepat pada hari kedua, hari kunjung perpustakaan, tanggal 25-30 September 2017.

Menyusuri setiap ruangan dari lantai 1 hingga lantai 24, tidaklah membuat kami lelah. Cukup menaiki lift, sampai deh..
Oh iya fasilitas liftnya juga banyak, sehingga tidak perlu terlalu lama antri.

Pada saat mau turun dari lantai 24, seorang satpam memberi informasi, kalau mau foto dengan hasil yang bagus, fotonya di lantai 25. Namanya juga ibu-ibu narsis, maka ramai-ramailah kami menuju lantai 25, khusus untuk foto-foto.

Berada di lantai 25, tugu Monas kelihatan kecil

Berkunjung ke gedung ini sungguh membuatku puas. Satu-satunya hal yang membuatku sedikit kecewa adalah aku tidak sempat mencetak kartu anggota, padahal sudah punya nomor anggota.

Semoga masih diberi waktu untuk datang lagi ke sini. Doakan yah teman-teman. 

Sabtu, 21 Oktober 2017

Dibalik Kisah Sedih Ada Asa yang Membara


Entah mengapa tiba-tiba aku merasa harus menuliskan kisah ini. Kisah sedih sekelompok pelajar yang tergabung dalam suatu organisasi. Bukan karena melihat mereka menangis sesenggukan saat dilantik, bukan juga karena senyum semringah dari wajah-wajah imut mereka.

Tetapi ini adalah tanda kebanggaanku melihat perjuangan mereka tanpa lelah. Menyaksikan betapa kuatnya persaudaraan mereka. Bahu membahu, saling menghibur hingga menangis bersama, demi menghidupkan syiar Islam untuk menebarkan kebaikan.






Kisah ini dimulai ketika mereka, pelajar yang masih remaja sangat bersemangat menyiapkan prosesi pelantikan mereka sebagai pengurus IPM Cabang Bontoala Makassar. Suatu organisasi  pelajar yang menjadi anak bungsu angkatan Muda Muhammadiyah.

Kurang lebih tiga pekan sebelumnya, sekelompok remaja ini mengalami kesedihan yang mendalam. Pengurus inti, yaitu sekertaris umumnya dipanggil yang kuasa dalam keadaan yang mengenaskan. Ditikam oleh dua orang begal.

Adalah seorang pemuda yang menyenangkan, supel, sabar, dan selalu bersemangat. Dia selalu memotivasi teman-temannya,  menyatukan seluruh anggotanya hingga dapat menembus tirai perbedaan. Dia dikenal dengan kata-katanya setiap kali bicara di podium. "Tidak ada keringat, air mata, bahkan darah sekalipun yang terbuang sia-sia untuk ikatan tercinta ini."

Muh Aslan Syah. Andai kamu bisa hadir di hari pelantikan ini, maka lihatlah adik-adikmu yang menangis sesenggukan sambil berpegangan untuk saling menguatkan. Aku yakin mereka tidak menyesali takdir, mereka hanya terharu atas semua pengorbananmu.


Walaupun tak ada gunanya menangisi kepergianmu, tetapi sekedar meluapkan rasa yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata adalah lebih baik untuk menandai awal suatu perjuangan.

Tersenyumlah!

Lihatlah, semangatmu sekarang telah bersemayam di dada mereka, adik-adikmu, saudara-saudaramu, sahabat seperjuanganmu. Mereka telah bersumpah dan menerima tanggung jawab untuk meneruskan harapanmu.

Tersenyumlah anak-anakku!

Ini adalah awal perjuangan kalian, teruslah berkarya dan menebarkan semangat.
Tautkanlah tangan-tangan kalian untuk bersama menunaikan tanggung jawab dalam berlomba-lomba menuju kebaikan.




Selasa, 17 Oktober 2017

Menuju Maha Karya SAGUSAKU Nasional Ke-1


Setelah melewati malam penuh sensasi, tepat pukul 04.00 aku bangun dari tidurku yang lelap. Semangatku kembali berkobar, sejuta asa terukir dalam jiwa. Sebentar lagi aku akan bertemu 100 guru hebat dari seluruh Indonesia. 100 guru yang telah berhasil menulis buku dan aku ada di dalamnya.

Masya Allah! 
Tak dapat kulukiskan perasaanku, yang kutahu aku sangat bahagia.
Pukul 06.00 pagi, aku dan ibu Dewi sudah berdandan cantik, menunggu mobil yang kami pesan online menuju Senayan, Kantor Kemdikbud. Excited!

*****************
Inilah kali kedua aku berkunjung ke kantor ini, kantornya orang-orang yang bekerja dalam lingkup dunia pendidikan. Di salah satu ruangan dalam kantor inilah kami akan bertemu dengan para alumni peserta SAGUSAKU, yang selama kurang lebih tiga bulan sejak mengikuti kegiatan SAGUSAKU hanya bertegur sapa lewat dunia maya.
Pengalaman pertama ketika mengikuti sagusaku dapat dibaca di link berikut.


Kegiatan ini  bukan hanya temu alumni saja melainkan kami juga akan dihadiahi ilmu melalui kegiatan bedah buku, workshof tentang editing dan layout.
Perasaan ini semakin menggebu manakala berjumpa dengan guru-guru yang berasal dari daerah di seluruh Indonesia. Berjuta suka cita diiringi senyum-senyum sumringah dari guru-guru yang telah berhasil menyelesaikan dan menerbitkan buku  hasil workshof sagusaku selama tiga bulan. 

Inilah kami, guru-guru Indonesia yang tiada lelah belajar untuk meningkatkan kompetensi. Kami tidak pernah menghitung berapa banyak keringat, waktu, dan materi yang kami persembahkan, karena kami sadar bahwa negara yang kami cintai ini hanya bisa bangkit dan berjaya melalui pendidikan. 

Dan kami, guru-guru Indonesia adalah tombaknya!



Prosesi Acara Temu Alumni Sagusaku Nasional ke-1

Pembukaan acara dimulai dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim disusul dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan laopran ketua IGMP Bahasa Indonesia Pusat, sebagai ketua penyelenggara program sagusaku seluruh Indonesia. Ibu Nurbadriyah, M.Pd.
Tampillah seorang perempuan manis yang mungil dengan suaranya yang penuh semangat mengangkat tangan kanannya sambil berseru.

 “Alhamdulillah! Yeaaaa…kita berhasil guru-guru hebat, ini baru awal. Mari kita lanjutkan pada sagusaku ke-2, ke-3 dan seterusnya. Kita tingkatkan kompetensi untuk meraih sejuta prestasi.”

Yah, dialah yang selalu memotivasi guru-guru peserta sagusaku, mulai awal mengikuti workshof hingga terbitnya karya guru. Tubuhnya boleh mungil tetapi spirit yang disebarkan dan ditularkan kepada kami telah memicu semangat guru untuk membuktikan bahwa guru-guru Indonesia sudah bangkit.

Sekedar informasi, IGMP adalah singkatan dari Ikatan Guru Mata Pelajaran merupakan transformasi dari IGI sebagai induk organisasi guru yang mulai dibentuk awal tahun 2017. IGMP ini hadir untuk menjawab keterbatasan literasi berbasis mata pelajaran dan rendahnya kompetensi profesionalisme guru.
Nah, salah satu program IGMP Bahasa Indonesia ini adalah sagusaku dan telah dilaksanakan di 34 provinsi di Indonesia.



 "Daeng" Ketua Umum IGI Pusat

Bagiku beliau bukan orang asing, sudah beberapa kali bertemu dan berbincang, bukan saja karena ia adalah ketua umum IGI Pusat yang selalu hadir di setiap acara yang diselenggarakan oleh IGI, melainkan beliau berasal dari Sulawesi Selatan, sekampung denganku. Usianya memang jauh dibawahku tetapi semangat dan kerja kerasnya tidaklah semuda usianya.  Bersama dengan seluruh pengurus IGI Pusat hingga ke daerah-daerah telah membuktikan bahwa IGI fokus kepada peningkatan kompetensi guru.
Informasi tentang IGI dapat dilihat di link berikut.


Selalu, jika Daeng (panggilan Ketua IGI Pusat) yang berbicara maka pastilah berisi motivasi sehingga membakar semangat kami, guru-guru Indonesia untuk terus meningkatkan kompetensi demi meraih sejuta prestasi, sebagaimana motto yang selalu disuarakan oleh IGI.

Acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan, dimulai dari Ibu Lucya Dhamayanti sebagai direktur deposit bahan perpustakaan nasional lalu diteruskan oleh bapak Dr. E Nurzaman A.M, M.Si, MM sebagai Sesditjend Kemdikbud sekaligus membuka secara resmi acara hari itu.


Foto di atas adalah Ketua IGI Pusat Muhammad Ramli Rahim, Direktur Deposit Bahan Perpustakaan Nasional,  Sesditjend Kemdikbud, dan Ketua IGMP Bahasa Indonesia Pusat, Nurbadriyah, M.Pd 

Senin, 09 Oktober 2017

PENGALAMAN HOROR

Kisah ini aku alami beberapa puluh tahun yang lalu. Saat itu aku masih berstatus mahasiswa di IKIP Ujung Pandang, sekarang UNM Makassar. Pada waktu itu, IKIP Ujung Pandang sedang gencar-gencarnya membangun kampus baru.

Tahun 1984 kampus UNM Parangtambung masih dalam proses pembangunan, bahkan sebagian besar lokasinya masih dijadikan area praktek berkebun. Nah, salah satu mata kuliah yang kuprogramkan waktu itu, oleh dosennya diwajibkan praktek berkebun. Mulai dari menanam, menyiangi, menyiram hingga tanamannya bisa dipanen. 
Kami dibagi berkelompok, setiap kelompok wajib datang ke kebun dua kali dalam sepekan.

Sementara itu, kondisi daerah Parang Tambung saat itu masih sangat sunyi, belum ada kendaraan umum dan jalanannya belum mulus masih berbatu-batu. Mobil yang melewati kampus baru itu hanya mobil-mobil truk yang mengangkut batu bata atau pasir, ada juga mobil yang mirip dengan truk tetapi ukurannya lebih kecil, kami menyebutnya mobil open kap. Kadang-kadang juga ada mobil boks yang lewat.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya kami mendatangi lokasi itu. Karenanya aku dan teman-teman biasanya meminta tolong kepada sopir mobil truk yang akan masuk ke daerah itu. Untungnya sopir-sopir mobil truk itu baik hati, kami diizinkan naik ke mobilnya dengan catatan bersedia naik di belakang, bergabung dengan pasir, batu, bahkan terkadang bergabung dengan rumput yang disediakan untuk makanan sapi dan kambing. Syukurlah tidak pernah bergabung dengan kambing. He … he … he …

Mobil truk itu biasanya berangkat pukul 8 pagi dan  pulang jam 17.00, akibatnya kami juga akan tinggal di kebun hingga sore, menunggu kembalinya truk-truk tersebut. Pada saat truk itu pulang, biasanya truk dalam keadaan kosong, sehingga kami bisa duduk berselonjor di atas truk.

Hingga suatu waktu, seperti biasanya kami menunggu truk yang akan lewat, aku bersama lima orang temanku, menunggu di depan jalan yang menuju arah kebun kampus. Tepat jam 8.00 satu mobil lewat, tetapi bukan mobil truk yang biasa kami tumpangi, melainkan mobil boks. 

Daripada terlambat kami menyetop mobil tersebut. Untunglah sopirnya baik hati, kami dipersilahkan naik ke atas mobil, dan masuk ke dalam boks.
Astagfirullah!  Pengap nian mobil boks itu. Kami berenam bersama kardus-kardus yang berisi rokok, sehingga kami duduk, lebih tepatnya jongkok mengkerut berusaha mengecilkan badan kami. Namanya juga mobil boks, tanpa jendela, maka pastilah pengap.

Mobil melaju cukup kencang.  Karena kami di dalam boks yang tidak memiliki jendela, tentu saja kami tidak melihat jalanan. Akibatnya kebun kampus kami terlewati. Kami baru sadar setelah mobil berhenti, dan kami turun di suatu tempat yang asing.
“Di mana ini Pak? Tanyaku heran.
“Ini di Mallengkeri Dik.” Jawab sopir kalem.
“Apakah kebun kampus IKIP sudah lewat Pak?” Tanya temanku, satu-satunya laki-laki dalam kelompok kami.
“Oh sudah jauh Dik, kenapa tadi tidak kasi tahu sopir.” Kata kernetnya.
Waduh, bagaimana ini? Jalanan ini kan sunyi, belum ada kendaraan yang lalu lalang
“Kapan bapak balik ke kota?” Seorang teman bertanya dengan harapan mobilnya akan kembali.
“Besok pagi Dik, kami harus melanjutkan perjalanan ke Gowa dulu mengantar barang.” Pak sopir menjawab sambil menatap kami sedih.
“Iyah Pak, ndak apa-apa, terima kasih yah Pak.” Jawabku lesu.

Setelah berembuk, maka diputuskanlah kami beristirahat di rumah penduduk sambil berharap ada mobil lain yang lewat. Cukup lama kami menunggu, akhirnya terdengar suara mobil dari kejauhan, bukan satu melainkan lebih dari satu. Teman laki-laki kami maju ke tengah jalan ingin menyetop mobil tersebut.

Alhamdulillah mobilnya berhenti diikuti oleh beberapa motor, ternyata suara yang kami dengar itu adalah suara motor dan hanya satu mobil.
“Mau ke mana Dik?” Tanya sopirnya ramah. Di dekat sopir ada juga seorang perempuan setengah baya, menatap kami dengan mata sayu.
“Kami mau ke jalan raya Pak, bolehkah kami menumpang?”
“Boleh saja, tetapi apakah kalian berani?” Pak sopir menjawab dengan mata  menyelidik ke arah kami satu persatu.
“Memangnya kenapa Pak.” Tanyaku sedikit khawatir.
“Ini mobil jenazah Dik, yang di belakang itu adalah jenazah suami ibu ini.” Jawab sopir sambil memiringkan badannya, seakan memperkenalkan perempuan setengah baya yang duduk di sampingnya. Si ibu mengangguk, matanya sembab.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, sebentar lagi malam, jika kami tidak memberanikan diri maka kami akan semakin terlunta-lunta. Akhirnya kami naik ke mobil itu. Di atas mobil, terbaring jenazah yang ditutupi dengan kain batik, kami duduk bersebelahan, dengan jenazah terbaring di tengah.
Sepanjang jalan kami terdiam, dan saling memandang dengan wajah yang tidak karuan. Aku duduk meringkuk di tengah sambil menahan kencing karena takut. Bukannya takut sama jenazahnya, tetapi kondisinya sangat horor.  Saat melewati jalanan yang berbatu, jenazah itu tergoncang-goncang seakan-akan ingin bangkit dari tidurnya.
Apalagi saat mobil membelok, maka posisi jenazah ikut miring. Celakanya jenazah itu miring ke arahku. Aku menggigit bukuku sangat erat menahan teriak. Dua temanku yang duduk di samping kiri kananku,  menahan takutnya dengan meremas lenganku. 

Astagfirullah!  Lengkaplah sudah derita yang kualami.

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Serentak  kami melongok  ke jendela kaca.  Rupanya mobil sudah tiba di jalan poros kota. Sopir mobil turun dan membuka pintu belakang mobil
“Sudah sampai adik-adik, maaf tadi direm mendadak, hampir lupa kalau kalian ada di belakang, jenazah itu akan dikuburkan di pekuburuan Panaikang, adakah yang searah? Kalau mau, boleh ikut lagi jadi tidak usah turun.” Tawar pak sopir ramah.

“Oh tidak ada-ji Pak, terima kasih banyak.” Jawabku buru-buru.

Akhirnya kami bisa bernafas lega, tiba di jalan poros dengan selamat.
“Hei, Dawiah rumah kamu kan searah dengan mobil tadi, kenapa tidak ikut?” Salah seorang temanku menggodaku sambil cengengesan.
“Hii..lebih baik aku jalan kaki dari pada ikut mobil itu.” Kataku bergidik.

“Ha… ha … ha ... bisa-bisa kamu kencing di celana yah?”  Mereka tertawa serentak.

Aku hanya tersenyum kecut. 

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN
#sekolahperempuan

Selasa, 03 Oktober 2017

PENGALAMAN YANG MENDEBARKAN


Siang yang cerah, saat aku menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ada asa dan suka cita di hati, membayangkan akan bertemu dengan guru-guru hebat yang berasal dari sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sesama guru yang terkumpul dalam salah satu program IGI. SAGUSAKU.

Jarak dari rumahku ke bandara yang sejauh 17,3 km kutempuh tanpa keluhan, padahal sinar matahari sangat menyengat. Benarlah kata orang, bahwa seburuk apapun cuaca jika hati kita  bahagia maka hati akan terasa nyaman.



Setelah berkomunikasi dengan Ibu Dewi Wahyuni, ketua IGI Bulukumba sebagai teman seperjalanan sekaligus yang akan menjadi teman sekamarku, akhirnya kami bertemu. Karena memiliki profesi yang sama, cita-cita dan visi misi yang sama, kami langsung klop.

Ketinggalan Pesawat

Oh yah, ada kejadian lucu sekaligus mendebarkan, kami ketinggalan pesawat!
Astagfirullah!
Ini adalah akibat kecerobohan kami. Aku dan Bu Dewi sama-sama sangat ceroboh. Cobalah dibayangkan, sejak siang kami sudah di bandara, sudah cek in, kopor kami sudah di bagasi, sudah masuk gate 5, sisa menunggu panggilan masuk pesawat.
Tetapi kami ketinggalan pesawat, gara-gara fokus mendaftar GESS via online, kami tidak mendengar pangumuman keberangkatan pesawat. Saat aku menutup laptop, sayup-sayup aku mendengar namaku dan nama bu Dewi dipanggil sebagai panggilan terakhir.
Aku berseru kaget, “Bu Dewi, itu nama kita dipanggil!”

Kami lalu berlarian dari gate 6 lalu ke gate 5 kembali ke gate 6. Dan pas tiba di gate 6, pesawat sudah menarik tangganya.
Alamak!   Pesawatnya sudah mulai bergerak.

Dengan muka memelas, Bu Dewi memohon kepada petugas, “Pak tolonglah pesawatnya disuruh berhenti sejenak, nanti kami berlari ke sana.”
“Itu bukan pete-pete Bu.” Jawab petugas tersenyum lucu.
“He..he…he..,buru-mi itu Bu Dewi.”
Maka kami memandang pesawat yang membawa kopor kami dengan hati nelangsa.
Da..da..da.. kopor!
Sampai bertemu di bandara Sukarno Hatta, baik-baik yah di sana.

Menuju Hotel RedDoorz

Jam 19.30 pesawat kami mendarat dengan manis di bandara Sukarno Hatta. Kecemasan yang melanda hati kami beberapa jam sebelumnya perlahan-lahan mulai sirna berganti dengan keceriaan. Karenanya kami sempatkan foto-foto, Emak-emak narsis eieuee…
Sambil jepret-jepret si-lincah bu Dewi, aku ingatkan tentang kopor yang jalan duluan.
“Ingat kopor kita Bu Dewi, jangan sampai lupa.”
“Iyah yah, bagaimana kalau kopornya hilang, apa yang terjadi dengan kita?” Tanyanya cemas.
“Yaaah … alamat bau de nih badan.” Jawabku santai.
Ha..ha..ha… kami tertawa lepas, walaupun masih sedikit dumba-dumba.



Alhamdulillah. Kopor kami sudah diamankan oleh petugas bandara. Terima kasih ibu petugas bandara yang manis, jasamu tak akan kami lupakan.
Dua kopor itu “menatap” kami dengan mata sayu, rindu untuk dibelai, ada rasa takut di matanya. Dan aku menjingjingnya dengan rasa sayang sambil berbisik mesra, “Tenang saja, aku pasti mencarimu, aku juga merindukanmu, karena di dalam badanmu tersimpan segala perlengkapanku.” Hiist ..lebay…

“Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan” Inilah janji Allah yang pasti.
Kami sudah mengalaminya. Pejalanan kami menuju hotel diantar oleh sopir yang baik, sopan, dan ramah sehingga kami merasa aman dan nyaman. Diantar hingga di depan hotel, lalu disambut dengan suasana hotel yang teduh, kamar yang apik dan bersih.
Setelah istirahat sejenak, aku mengajak bu Dewi ke luar hotel cari makan (hotel tidak menyiapkan makan. Hiiks).

Rupanya temanku ini sudah lama diet karbo dan tidak makan di malam hari. Oh alaaa… gimana dong, aku kan tidak bisa tidur kalau belum makan, ini bawaan lahir Mak.
Mungkin karena kasihan atau tidak enak hati, maka jadilah bu Dewi menemaniku makan. Dia makan dengan muka menyesal.
“Maaf yah Bu Dewi, sekali-sekali langgar janjilah.” Bujukku sambil menyuap habis capcay pesananku, teh manis panas kuseruput dengan nikmat.


Minggu, 01 Oktober 2017

Pilihanmu Tak Lagi Membuatku Cemas

Setelah tiga bulan masa karantina berlalu, dia sudah diperbolehkan pulang sekali sepekan. Saat-saat itulah yang selalu aku nantikan. Setiap dia datang, bapaknya selalu bertanya tentang keadaan dirinya, apakah dia mendapatkan penyiksaan dari seniornya, apakah dia di-bully, dan sebagainya.

Ajaib, anakku yang satu ini tidak pernah sekalipun mengeluh apalagi melaporkan keadaannya kepada kami, pertanyaan-pertanyaan bapaknya hanya dijawab dengan senyum penuh arti.

Tetapi aku tahu, bahwa dia banyak mengikuti latihan fisik, terlihat dari kedua tangannya yang mengeras, terutama terlihat pada otot-otot lengannya. Aku tidak mau menanyakan pertanyaan seperti pertanyaan bapaknya, tetapi aku punya cara lain untuk mengorek informasi darinya.

Aku mengelus-elus lengannya sambil berkata, “ini lengan kamu tambah kekar, badanmu semakin tegap, bagus yah latihannya.”
“Iya Mama, setiap hari kami olahraga.” Jawabnya sambil memamerkan lengannya.
Semua kejadian yang dialaminya selama masa itu, disebutnya sebagai latihan untuk mengasah mentalnya, kedisiplinannya, dan menambah kekuatan fisiknya.

Sekalipun sistem pendidikan di ATKP berupa semi militer, dengan sebutan bagi siswa-siswi taruna/taruni, aku tidak perlu mencemaskannya. Karena aku tahu, dia menikmati semua proses dalam masa pendidikannya.

Program Pendidikan D.III Teknik Navigasi Udara yang menjadi pilihannya yang dilaksanakan selama tiga tahun sebentar lagi akan berakhir. Hasil gemblengan dari pembimbing dan dosen-dosen di ATKP telah banyak mengubah dirinya. Mulai dari fisiknya, cara makannya hingga caranya berjalan.
Satu-satunya yang tidak berubah adalah senyum manisnya yang selalu kurindukan.

Praktek ke Bandung

Bandung adalah pilihannya untuk praktek, selama tiga bulan, dia akan berada di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara. Dia semakin dewasa, tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, walaupun demikian dia masih mendiskusikan tempat prakteknya, dan usulanku diterima. Bandung.
Mengapa aku memilih Bandung? Karena di sana ada kakaknya yang akan membantu dia manakala memerlukan sesuatu. (Eh … ternyata aku masih mencemaskannya).

Akhir dari Perjuangan

Ini adalah saat-saat terakhir  dari perjuangannya selama tiga tahun. Dia semakin sibuk dengan urusan laporan hasil prakteknya selama tiga bulan dan penyusunan tugas akhir hasil penelitiannya. 

Hingga tepat tanggal 7 September 2017, dia diwisuda di Curug Tangeran. Lebih tepatnya disebut Pelantikan Perwira Transportasi.



Aku tidak dapat lagi membendung rasa haru, suka, dan kebanggaan atas perjuangannya. Dia lulus dengan sangat memuaskan. Bentuk atas kesyukuran itu, kami bertiga, aku, bapak, dan kakaknya  datang mendampingi prosesi pelantikannya.

Ini adalah pengalaman pertama kami. Bagi yang biasa mengikuti proses pelantikan semacam ini, mungkin itu adalah hal biasa, tetapi bagi kami adalah peristiwa yang luar biasa. Juga bagi sebagian besar orang tua taruna, tampak dari sinaran-sinaran kebahagiaan yang memancar dari setiap mata para orang tua, juga senyum semringah  yang tiada henti-hentinya.

Tidak sedikit yang mengusap air mata haru. Puncaknya adalah ketika para orang tua diperkenankan maju ke lapangan untuk mencari anaknya dan mengalungkan plakat ke leher anaknya.
Kami berlarian memasuki lapangan dan mencari anak kami. Saat menemukannya, aku tidak dapat lagi membendung kebahagiaan dan keharuan, aku memeluknya sangat erat. Dan seperti biasanya, dia balas memelukku sambil tersenyum kalem.



Satu lagi keberhasilan dalam mengasuh, membimbing, dan mendampingi putraku. Walaupun jalan yang akan ditempuhnya masih sangat jauh, namun paling tidak satu episode baru telah rampung diselesaikan dan akan menuju episode-episode berikutnya.
Semoga ini awal keberhasilan-keberhasilan selanjutnya.

Selalu kuingatkan, bahwa setinggi apapun pencapaian pendidikanmu, pekerjaanmu belumlah apa-apa jika dibandingkan pencapaianmu dalam meraih ridho-Nya. Karena sesungguhnya mendapatka ridho Allah swt jauh di atas segalanya.



Maka ketahuilah, anakku!

Puncak dari kepuasanku dalam mendidik dan mendampingimu adalah ketika kalian wahai anakku menjadi anak soleh, seperti doa-doaku di setiap akhir salatku, di keheningan malam dalam sujudku.


                                         "Robbi hablii minash shoolihiin.”

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

                                                                                         (Q.S. Ash-Shaffaat: 100).