Pilihanmu Membuatku Cemas Part 2

Thursday, August 17, 2017

Saya masih di sekolah, ketika dia datang dengan senyuman penuh misteri, saya memandang raut wajahnya dengan saksama, saya melihat ada kilau bahagia di matanya.
“Kamu lulus Nak?” Saya menatapnya sembari mengharap dia mengangguk.

Seperti biasa, dia tersenyum sambil menggoda, “Adajikah uangta untuk membayar biaya pendaftran ulang, kalau saya lulus?” Duh ini anak malah balik bertanya.
“Insya Allah ada.” Dan yang saya harapkan terjadi, dia mengangguk seraya menyodorkan laptop yang dibawanya. Pada file pengumuman yang dia perlihatkan, namanya tertera pada urutan 63 dari 138 nama calon taruna yang diterima, file itu berupa surat dengan kop surat, Kementerian Perhubungan Badan Pengembangan SDM Perhubungan.  Alhamdulillah.

Baca sebelumnya di sini

Ini Baru Awalnya


Sejak hari itu, dia sangat sibuk mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pendaftaran ulangnya. Mulai dari pembayaran hingga surat-surat yang harus disiapkannya, semuanya dia lakukan sendiri. Kacuali, ketika dia diminta membeli pakaian tambahan sesuai petunjuk dari pihak kampus, sepatu olah raga, pakaian dalam yang berwarna putih, kemeja putih hingga pohon trembesi.

Pohon trembesi? Itu untuk apa yah? Belakangan baru saya mengerti, pohon itu akan ditanam di kampus baru atau kampus 2 Salodong Makassar, karena di sana masih sangat gersang.

Saat kami, saya dan ibu saya mengantarnya ke kampus, saya baru menyadari, mengapa dia sangat berminat melanjutkan pendidikannya di ATKP ini. Para taruna yang menyambut kami kelihatan gagah semua dengan postur tubuh yang tegap, kukuh dengan langkah kaki yang tegak dan gerakannya sigap. Yah mirip-mirip dengan tentara atau polisi. Mungkin inilah yang membuatnya tertarik.

Setelah serangkaian acara penyambutan selesai, calon taruna didampingi orang tuanya dipersilahkan ke salah satu ruang, seperti aula mini. Sebelum memasuki aula, tas calon taruna diperiksa, semua barang yang tidak sesuai dengan daftar yang telah diberikan sebelumnya, dikeluarkan. Dompet dan uang jajan yang saya selipkan di saku celananya juga dikembalikan kepada orang tua. Sekilas saya melihat matanya yang cemas.


Di dalam aula, calon taruna dan orang tua atau pengantar duduk terpisah tetapi saling berhadapan. Seorang pembina memberikan  wejangan, semacam renungan. Para orang tua diminta untuk bersabar dan mengikhlaskan anaknya untuk dibina dan digembleng. Karena selama tiga bulan, mereka tidak akan berhubungan dengan orang tua, baik via telepon apalagi bertemu langsung. 

Hampir semua yang hadir menangis terharu tidak terkecuali calon taruna, bahkan ada seorang ibu yang menangis sambil meraung-raung. Saya jadi kepo, rupanya anaknya itu adalah anak semata wayang. Tiga bulan bepisah dengan anak tanpa bisa berhubungan sedikitpun, mungkin itulah yang dipikirkan oleh ibu itu.

Sebenarnya saya juga berpikiran yang sama, tetapi saya percaya dia akan mampu melewatinya. Bukankah itu adalah pilihannya sendiri, itu artinya dia sudah siap menerima semua konsekwensinya.



Tiga Bulan Tanpa Berita


Inilah pertama kalinya saya berpisah dengan anak dalam jangka waktu lama tanpa komunikasi sedikitpun. Sekalipun usianya sudah 18 tahun, tetapi kecemasan akan keselamatannya sering mengganggu pikiran. Ditambah dengan informasi dari orang-orang, bahwa pendidikan seperti itu sarat dengan bullying, penyiksaan, penzaliman dari senior terhadap yuniornya.

Allahu Akbar, saya hanya pasrahkan semuanya kepada-MU.

Setelah dua bulan, rupanya pertahanan ini jebol juga. Saya harus bertemu dengan anak saya, sekedar melihatnya saja untuk memastikan keadaannya. Dengan dibonceng motor oleh kakaknya, saya menyusuri jalan Salodong, jalan menuju asramanya sambil membawa beberapa makanan kecil.

Sebelum tiba di kampus II, saya singgah di rumah penduduk, berbincang-bincang dengan mereka. Dari informasi mereka, saya tahu kalau setiap pagi, bis kampus mengantar semua taruna  ke kampus I di Maros untuk belajar dan sore harinya diantar kembali ke asrama.  Ada niat untuk menunggu bis itu lewat, tetapi kakaknya mengingatkan kalau hari itu adalah hari libur. Berarti semua taruna tidak ada yang ke kampus I. Tidak ada bis pengantar yang akan lewat.

Untuk beberapa waktu, saya hanya duduk di halaman rumah penduduk. Rupanya saya tidak cukup berani untuk menemuinya. Bukan karena penjagaan satpam yang cukup ketat, melainkan kecemasan saya, kalau-kalau dia akan mendapatkan hukuman akibat perbuatan saya. Sekali lagi, doa saja yang bisa saya kirimkan, semoga dia selalu dalam perlindungan Allah swt.




To be continue …

3 comments

  1. sama mertuaku waktu suami diterima dapat penempatan tugas pertama di Luwuk menangis terus kodong barusan pisah sama anaknya hehehehe... semangat bundaa.. :)

    ReplyDelete
  2. Iyah begitulah perasaan semua ibu, setegar-tegarnya berpisah sama anak pasti akan sedih juga akhirnya. Terima kasih sayang sudah berkenan mengunjungi blogku yang sangat sederhana ini.

    ReplyDelete
  3. Semoga wisudanya lancar dan sukses selalu buat kak Uci. Amin

    ReplyDelete