Minggu, 02 Juli 2017

Dunia Tanpa Aair Mata yang Sarat Dengan Air Mata

Judul Buku: Dunia Tanpa Air Mata
Penulis: Pipiet Senja & Azimattinur Siregar
Pemeriksa Aksara: Aminah Mustari
Pewajah  Sampul: Meita Safitri
Penata Letak: Yunita Hye
Penerbit: Salsabila Pustaka Al-Kautsar Grup
Cetakan: Pertama, Januari 2016

Pipiet Senja, nama ini sudah tidak asing lagi bagiku, sejak kecil aku sudah menggandrungi tulisan-tulisannya. Tetapi mengenal beliau secara pribadi hingga dapat berkomunikasi melalui media sosial barulah pada tahun ini.
Namun bukan tentang pertemananku dengan beliau yang akan aku tulis melainkan perasaanku terhadap salah satu dari ratusan karyanya, yaitu “Dunia Tanpa Air Mata.”


Tidak butuh waktu lama untuk melumat habis isi buku itu, mungkin karena ceritanya yang terasa sangat nyata. Apalagi dibarengi dengan tulisan Azimattinur Siregar, anak beliau yang ngocol dan fresh sekali.

Dimulai dari tulisan Pipiet Senja yang dibagi menjadi 9 tulisan, bercerita tentang penyakit yang beliau derita sejak kecil, lalu selanjutnya semua tentang Butet, panggilan untuk putrinya, Zhizhi Siregar alias Azimattinur Siregar.
Ada asa dalam tulisan itu, cinta dan kasih sayang yang tak dapat diukur kedalamannya. Juga kesabaran menerima perilaku yang ajaib dari pasangannya. Sungguh suatu pembelajaran kesabaran.

Kemudian beranjak ke tulisan Zhizhi yang juga terbagi atas beberapa bagian. Kisah-kisah yang lucu dengan gaya penulisan yang menurutku “anak muda” sekali, sehingga aku merasa sedikit konyol membacanya. Bagaimana tidak konyol, jika saat membacanya, aku lebih banyak senyum-senyum bahkan terbahak.

Sub-sub judul yang ditampilkan juga lucu dan mengundang rasa penasaran, cobalah simak, Nightmare, Baybay Einstein, Pensi Ajep-ajep atau Hari Degdegplas. Dari semua sub-sub judul itu terdapat benang merah yang menghubungkan antara penderitaan dan kebahagiaan yang silih berganti, juga kasih, cinta dan bangga kepada mamanya.
Zhizhi menyuarakan penderitaannya dengan lugas tetapi dalam bahasa yang unik, tidak menghiba apalagi meraung. Sungguh, suatu pribadi yang kuat.

Dari semua cerita yang disuguhkan oleh Manini (begitu biasa beliau dipanggil) Pipiet Senja dan anaknya itu dalam buku ini, terdapat dua bab terakhir yang membuatku benar-benar larut, sehingga memicu kemarahanku sekaligus kesedihanku.
Bagaimana tidak marah coba, mengetahui perlakuan orang-orang di rumah sakit, mulai petugasnya hingga perawatnya yang begitu ketus tak berperikemanusiaan. Dapat kubayangkan, andaikan aku berada di posisi itu, aku belum tentu sesabar Manini.

Hampir seluruh bab-bab terakhir dalam buku ini membahas tentang keburukan pelayanan rumah sakit yang besar itu. Demikian yang bisa kusimak.

Walaupun buku ini berjudul “Dunia Tanpa Air Mata” namun sesungguhnya kisah-kisah di dalamnya  justru sarat dengan air mata, air mata kebahagiaan, keharuan dan ketidak berdayaan.

Oh iya, ada satu tulisan yang jleb banget ke hatiku, “Setiap anak memenggal cita-cita orangtuanya hingga ke titik tertentu. Membatasinya, bahkan bisa jadi menghancurkannya. Adalah tugas setiap anak untuk mengemban harapan-harapan yang tercapai itu.”

Sudahkah aku memenuhi harapan orangtuaku, terutama mamaku?
Apakah aku tahu apa harapannya? Karena aku dan mamaku tidak sedekat Zhizhi dengan mamanya  (mungkin karena aku banyak bersaudara, mencoba mencari alasan, bheuu…)

Membaca buku ini memberiku kesadaran baru, bahwa sangat penting melakoni hidup dengan semangat perjuangan yang tiada henti yang dibarengi dengan rasa syukur atas semua nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah swt.

Terima kasih Manini.

Terima kasih Zhizhi.

0 komentar:

Posting Komentar