Kamis, 22 Juni 2017

Sedih Karena Tidak Dapat Bersedih

27 Ramadan 1438 H/ 22 juni 2017 M
Beberapa hari ini saya tidak menyapa si-lippi, karena sudah bertekad untuk konsentrasi di 10 hari terakhir Ramadan, juga menyelesaikan baju seragam saya dengan si-bungsu, kami hanya berdua perempuan di rumah jadi wajar dong kalau kami seragam berdua saja (hehe..kakak-kakak jangan iri yah).
Semua sudah disiapkan, rencananya, tarawih tak mau ditinggalkan  kemudian lanjut salat malam dan ditutup dengan witir. Facebook hanya dilirik sekali-sekali saja, hanya sekedar menjaga agar tidak menderita penyakit kudet (kurang update). Sudah janji juga untuk tidak jalan ke pasar apalagi ke mal, tidak mau sibuk di depan oven bikin macam-macam kue (niatnya beli saja sekedarnya).
Pokoknya, hanya dua macam kegiatan saja yang akan saya lakukan, selain kegiatan rutin tentunya, masak untuk sahur dan buka puasa.

Namun apalah daya, tubuh  ini hanya seonggok daging yang sudah mulai matang  (saya paling anti disebut tua) walau kenyataannya memang begitu. Karena menjadi tua, oleh sebagian orang dianggap sama dengan tidak berdaya dan saya merasa masih bisa berdaya.

Perjuangan batin dimulai.
Ketika kain sudah digelar, pola sudah disiapkan lalu sret-sret, kain digunting tiba-tiba, tamu datang, bukan satu tetapi serombongan. Maka kain yang sudah siap dieksekusi di mesin jahit dimasukkan ke tempat yang aman. Lalu berpindah ke ruang tamu, cipika cipiki, cerita-cerita hingga menjelang sore. Serombongan tamu pulang, karena udah menjelang buka puasa, kegiatan lanjut ke dapur.
Malamnya, menjelang salat isya, godaan itu mulai datang, antara salat isya dan tarawih di masjid dengan melanjutkan jahit baju yang tadinya tertunda. Dan taraaaa…jahit baju menang. Dengan alasan, saya bisa kok salat malam sebentar, akan lebih tenang dan lebih khusyuk dan bla..bla..

Ting..tong, alhamdulillah, tamu datang lagi. Jahitan tertunda lagi.
Ya Allah, kapan selesainya jahitan ini, lebaran sebentar lagi ini sudah H-5, baju lebaran belum selesai juga.
Hingga H-3, saya menyerah, mungkin Allah swt tidak menghendaki kami pamer baju seragam. Baju yang sudah setengah jadi saya gulung dengan rapi kemudian saya masukkan ke dalam kantong plastik terus disimpan dalam lemari, beres.

“Nak, kita tidak usah pakai seragam yah, simpan saja untuk pernikahan kakak nanti.” Saya sampaikan dengan muka memelas kepada putri saya satu-satunya.
“Iyah Ma, saya sembarang-ji. Jadi saya pakai baju apa nanti lebaran?” jawab putri saya santai.
“Kita ke Mal.” Seru saya girang.
“Hm…katanya tidak mau ke Mal.” Sindirnya dengan senyum dikulum.
“Ini darurat sayang, ayo siap-siap, kita jalan mumpung masih pagi.”

Maka pantangan kedua terlanggar sudah
Namanya juga Mal, ada banyak godaan di sana. Celangak-celinguk, lihat sana-sini tak terasa sudah sore. Maka pulanglah kami dengan membawa sepasang baju dan sepatu buat si-putri.
“Mama, tidak beli baju?” Putri mengusik hati saya.
“Ah, mama biar tidak pakai baju baru, tetap cantik kok, hehehe…”
“Ih ..Mama pasti lelah.” Jawabnya dengan senyum dikulum.
Lelah, memang lelah sayang. Tubuh ini memang harusnya  digunakan saja untuk lebih banyak rukuk dan sujud, bukannya jalan-jalan sepanjang hari. Tetapi karena sudah melanggar janji sendiri, maka jiwa dan  fisik ini protes.

Dan malam ini, setelah menikmati tidur dalam kelelahan saya duduk di sini menuliskan perasaan saya yang berkecamuk dalam sesal. Ramadan sisa dua hari, dan saya terlena dengan pernak-pernik lebaran.

Astagfirullah!
Dalam sesal ada sedih yang menyeruak hati, kok saya tidak bersedih  akan berpisah dengan Ramadan?
Padahal saya belum tentu bersua dengannya tahun depan, kenapa? Apakah karena saya telah ingkar janji terhadap diri sendiri? Oh yah bukankah janji yang saya buat itu, otomatis adalah janji saya juga kepada-Nya, untuk datang kepada-nya bersimpuh dan mencurahkan sagala rasa?

Astagfirullah, saya harus berhenti sekarang!
Dan malam ini saya harus memaksa hati, pikiran, dan raga ini untuk datang kepada-Mu. Ampuni jiwa yang rapuh ini ya Allah!
Buatlah hati saya sedih yah Allah, atas perpisahan dengan bulan yang penuh rahmat ini. Buatlah mata ini menangis untuk menangisi semua hal yang telah saya lakukan di masa lalu.
Jangan biarkan hati ini gersang, wahai yang Maha Penyejuk.
Limpahilah jiwa ini dengan tangis penyesalan, wahai yang Maha Pengampun.  
Hingga Engkau memanggil hamba-Mu ini  dengan kata-kata:

“yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma’innah.”
“irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah.”
“fadkhulii fii ‘ibaadii.”
“wadkhulii jannatii.”

Sabtu, 10 Juni 2017

Maafkan Saya Menulis Tentang Bapak


Dari dulu, sejak saya mulai pandai membaca maka menulis adalah kegiatan yang paling saya sukai. Menulis di atas kertas buram, menulis di atas lembar-lembar buku tulis yang bercampur dengan catatan pelajaran. Karena dahulu pada tahun 70-an saat saya masih SD (hem.. pasti teman-teman sudah bisa menebak usia saya), belajar itu sama dengan mencatat materi pelajaran sepenuh papan tulis, kemudian dihapus lalu disambung lagi hingga bel istirahat berbunyi.

Saya menulis perasaan saya pada halaman belakang di buku pelajaran, tulisan yang tidak teratur bentuk dan  paragrafnya, tetapi saya menemukan keasyikan tersendiri setelah  menuliskan sesuatu yang menggambarkan keadaan sekitar dan perasaan saya waktu itu.
Samar dalam ingatan, waktu itu saya menulis tentang sifat dan sikap guru kelas lima saya, namanya Pak Tua (bukan nama sebenarnya) dan  semoga beliau mendapatkan kelapangan di alam kuburnya. Beliau seorang guru yang berwibawa tetapi tunduk dan menjadi lemah kalau ada murid yang memberinya bingkisan, yang berisi kue, minuman atau pakaian. Dia menjadi sangat tidak berwibawa di mata saya dan beberapa murid lainnya yang tidak mampu memberinya sesuatu.

Saya menjadi sedikit membencinya, karena saya dan beberapa teman lainnya tidak pernah dipuji, tidak pernah disebut-sebut sebagai murid yang baik, apalagi dibelai-belai. Hobbi guru saya itu adalah membelai rambut muridnya, tetapi hanya untuk murid yang telah memberinya bingkisan.

Saya juga sangat kesal kepadanya, ketika beliau menerangkan pelajaran matematika dengan suaranya yang khas, tetapi matanya hanya tertuju kepada deretan bangku terdepan, di mana di sana duduk murid-murid yang rajin memberinya bingkisan, dan saya beserta murid lainnya cukuplah hanya mendengarkan suaranya saja, tanpa menikmati tatapannya.  Sekali lagi, semoga beliau mendapatkan ampunan-Nya.

Saya menuliskan perasaan tidak suka terhadapnya dengan bahasa anak usia 11 tahun, saya mengumpatnya dengan kata-kata yang tidak ingin saya ingat lagi, tetapi itulah tulisan pertama dan terakhir   bernada kebencian yang tidak ingin saya ulangi.
Karena sebelumnya saya selalu menulis yang baik-baik dan indah-indah tentang teman-teman saya yang baik juga. Pernah menulis tentang teman perempuan saya yang cantik dengan hidungnya yang mancung, mungkin tulisan saya waktu itu kurang lebihnya seperti ini:

“Engkau Bulqis, temanku yang cantik, hidungmu seperti Tanti Yosepha, pipimu padat seperti Lenni Marlina, saya suka kamu karena kamu baik. Kalau kita pulang sekolah saya selalu singgah di rumahmu, karena mamamu selalu baik kepada,, memberi saya  makanan, sepiring nasi beserta gorengan tempe yang lezat. Mamamu pandai masak karena dia penjual nasi kuning di ujung lorong.”

Kemudian kertas yang ada tulisan itu dirobek oleh Bulqis, lebih tepatnya dilepaskan dari buku tulis saya, dia melipat secarik kertas itu kemudian dia simpan di balik pembungkus bukunya, katanya: “Saya mau kasi lihat ini sama mamaku.” Sambil tersenyum manis.
Oh iya, kita kembali kepada tulisan buruk  tentang guru saya. Setelah menumpahkan semua kekesalan saya dalam buku tulis itu hingga hampir dua halaman. Rasanya ada kepuasan tersendiri.

Anehnya, setelah  menuliskan perasaan itu, saya memandang wajahnya, tiba-tiba ada rasa sedih, penyesalan karena sudah mengumpat dan mencaci maki beliau, walau tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Diam-diam saya membaca tulisan itu tanpa memperhatikan kalau ada yang ikut membacanya, yaitu teman saya yang menjadi murid kesayangan beliau. Maka bencana itu datang. Teman saya  berseru.

“Pak Guru, Dawi mengatai-ngatai Bapak di bukunya!” Sontak kelas menjadi riuh. Bapak guru mendatangi saya dan meraih buku itu. Beliau membaca tulisan saya dengan muka merah, sementara saya hampir kencing di celana karena ketakutan. Saya meringkuk di bawah meja, menutup mata dengan tangis yang tertahan.

Tiba-tiba saya merasa diangkat, bahu saya diraih dan ditarik keluar dari bawah meja. Dengan   kaki gemetar berdiri di depan kelas dan   membacakan tulisan tersebut atas perintah bapak guru.
Saya membaca sambil diiringi tangis yang tertahan. Menyesal disertai rasa takut. Saya disuruh mengulang membaca satu kalimat sampai tiga kali, yaitu kata-kata: “Saya sangat membenci Pak Guru Tua itu, mukanya bagaikan serigala yang selalu siap menerkam makanan di atas meja.”

Kelas menjadi hening, teman-teman yang senasib yang saya sebutkan dalam tulisan itu sebagai “kumpulan orang-orang terbuang” (mungkin waktu itu saya terinspirasi dari puisi seorang penyair yang saya lupa namanya), hanya memandang saya dengan muka prihatin. Tuntas sudah tulisan buruk itu dibacakan.


Aneh! Pak guru tidak bereaksi apa-apa. Beliau hanya diam lalu menyuruh saya kembali ke bangku.  Teman-teman  juga diam. Lalu beliau maju ke papan tulis dan menulis.
“Hari ini kita belajar bahasa Indonesia, tugas anak-anak adalah mengarang tentang ayah atau tentang ibu kalian, tulis di buku bahasa Indonesia. Saya akan periksa besok.” Setelah itu, beliau ke luar kelas.

Hanya begitu, yah hanya begitu saja akhir dari drama yang terjadi. Tidak ada amarah dari guru saya bahkan teguranpun   tidak ada. Hingga bel pulang sekolah berbunyi, kami pulang tanpa kata-kata seperti biasanya, karena pak guru tidak muncul di kelas. Beliau pulang.

Saya pulang dengan hati nelangsa, tetapi tidak berani memberi tahu orang tua. Hingga esoknya, saya  berniat mencari pak guru, bertekad untuk minta maaf kepadanya. Sebelum masuk kelas saya singgah membeli pisang goreng gerobak  (begitu biasa kami menyebutnya, pisang goreng gerobak)  yang ada di depan sekolah,   pisang goreng dbungkus dengan kertas.

Di depan kelas saya melihat pak guru sedang menghapus papan tulis yang tidak sempat kami hapus kemarin akibat ulah saya. Dengan takut-takut saya mendekati beliau, menyodorkan pisang goreng hangat yang saya beli tadi, beliau menoleh, memandangi saya, tidak tahu apa makna tatapannya karena  tidak berani menatapnya, saya tertunduk dalam sekali sampai-sampai tubuh  nyaris membungkuk.
Pak guru menyentuh kepala dan membelai rambut saya, bagai disetrum listrik berkekuatan 1000 watt, gemetar, tangis saya pecah lalu lari menghambur memeluk kedua kakinya. Pak Guru jongkok dan menatap mata saya, beliau menghapus air mata saya, dia tersenyum sambil berkata, “Kamu berbakat jadi penulis.”

“Saya minta maaf Pak.” Kataku terbata. Sekali lagi beliau tersenyum.
“Bapak yang minta maaf yah Nak, bapak tidak tahu perasaanmu.” Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya waktu itu. Yang jelasnya saya merasa berada di suatu tempat yang sangat sejuk. Apalagi ketika Pak Guru membuka bungkusan pisang goreng yang tadi saya berikan kepadanya sambil berkata.
“Ayo kita makan bersama pisang goreng ini, satu untuk kamu dan satunya lagi buat bapak.” Itulah pisang goreng ternikmat di dunia yang pernah saya makan. Hati saya lega.
Setidaknya saya merasa, kalau waktu itu saya sudah dimaafkan.