Minggu, 05 Maret 2017

SAGUSAKU 2017

Sehari sebelum kegiatan SAGUSAKU ada tanya dalam benak, bagaimana bentuk pelatihannya besok, bagaimana pendampingannya, bagaimana menemukan idenya dan entah berapa banyak pertanyaan yang berkelebat dalam pikiranku. Ah, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Pertama kali melihat postingan di grup WA tentang kegiatan Ikatan Guru Indonesia (IGI), SAGUSAKU, langsung mendaftar via online. Karena jika berhubungan dengan buku, menulis dan sejenisnya aku pasti tertarik. Apalagi ini tentang mimpi dari IGI  yang berjuang untuk meningkatkan kompetensi guru, membangkitkan dunia literasi.

SAGUSAKU?  Seperti biasanya IGI paling senang membuat program yang unik dengan jargon yang mengundang rasa penasaran, seperti SAGUSANOV (satu guru satu inovasi) , SAGUSABLOG (satu guru satu blok), SAGUSATAB (satu guru satu tablet).


Motto IGI: “Sharing and Growing Together” berbagi dan tumbuh bersama, memang terus digalakkan dan Alhamdulillah telah berproses serta kian maju.
Nah, sehubungan dengan Sagusaku yang aku ikuti ini, maka aku akan bercerita tentang kegatan yang sangat aku apresiaisi ini.

Hari pertama kegiatan yang berlangsung di Perguruan Islam Athira Kajaolalido Makassar, sambil menunggu narasumber dan juga sebagai coach yang masih dalam perjalanan, ketua IGI Sulawesi Selatan, bapak Edi Sutarto tampil memberi informasi serta membagi sedikit ilmunya tentang dunia kepenulisan.
Selain sebagai ketua IGI Sul-Sel, beliau juga adalah Direktur Perguruan Islam Athira Makassar dan yang paling keren, beliau adalah penulis. Beberapa bukunya telah menjadi best seller, diantaranya “Pemimpin Cinta.” Beliau share pengalamannya dalam menulis buku, memberi semangat, bahwa kita bisa menambah penghasilan dari menulis.
Hm…inilah impianku Pak Edi!

Oh iya, sementara Pak Edi berbicara di depan kelas, di barisan bangku belakang terdengar suara sedikit riuh,  rupanya panitia membagikan buku. Buku itu adalah buku “Metamorfosis Kura-Kura” Tulisan Pak Edi.  Gratis untuk dua puluh orang guru yang hadir lebih awal.
Alhamdulillah, rizki guru rajin, hehehe…

Tidak lama kemudian, pemateri yang dinanti-nanti tiba. Seperti pelatihan IGI pada umumnya, pelatihan dimulai dengan pembukaan, menyanyikan lagi kebangsaan, dan perkenalan pemateri.
Suasana pelatihan berlangsung santai tetapi serius. Mereka adalah guru-guru dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan bahkan ada yang berasal dari Sulawesi Barat. Hadir dengan mimpi yang sama dapat menulis dan menerbitkan buku, namanya juga SAGUSAKU, Satu Guru Satu Buku. 
Yah, kalau bisa jangan hanya satu buku, banyak buku seperti pemateri  Bapak Slamet Riyanto yang telah menulis buku lebih dari seratus lima puluh   buku. Aamiin.

Guru menulis buku? 
Sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi, buku-buku yang selama ini digunakan di sekolah mulai dari buku PAUD hingga buku setingkat menengah atas, adalah buku yang ditulis oleh guru. Tentu saja buku mata pelajaran dan ditulis oleh guru yang sesuai disiplin ilmunya.
Hanya saja masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah guru di seluruh Indonesia.

Menulis buku dapat menambah penghasilan, Seperti kata pak Edi Sutarto, menulis buku pelajaran lebih menjanjikan dalam hal finansialnya dibandingkan buku-buku lain karena tidak perlu menjadi best seller terlebih dahulu. Yah, bisa dibayangkan jika seumpama menulis buku pelajaran kemudian diterbitkan lalu digunakan di sekolahnya saja, maka otomatis buku tersebut akan terjual. 

Aku lalu bermimpi, aku menulis buku pelajaran IPA kemudian diterbitkan lalu aku promosikan ke sekolah tempat aku mengabdi, kemudian aku jadikan referensi kepada anak-anak didikku, “Anak-anak mari kita belajara IPA, boleh kita gunakan buku ini yah, sambil mengumumkan kalau buku itu ditulis olehku.” Aduhai senangnya.
Semoga bukan hanya sekedar mimpi belaka.

Saat pelatihan berlangsung terjadi sesi tanya jawab, dari sekian tanya jawab itu maka terungkaplah berbagai macam alasan mereka mengikuti pelatihan ini, pada umumnya mereka berniat mngikuit pelatihan ini dalam rangka menerbitkan buku untuk kenaikan pangkat. 
WOW, kenapa aku tak memikirkan itu yah?
Metode pelatihan kali ini adalah tatap muka selama dua hari lalu dilanjutkan secara online selama tiga bulan, target satu buku terbit.
Terima kasih IGI yang telah memprakarsai kegiatan ini, semoga setiap guru di Indonesia dapat menerbitkan buku.
Terima kasih pak Slamet Riyanto atas bimbingan dan ilmunya.

 Satu kata buat guru-guru peserta SAGUSAKU adalah BERSEMANGAT.


0 komentar:

Posting Komentar