Minggu, 05 Maret 2017

ANAK = INVESTASI



Kegiatan pembelajaran dalam semester genap telah berlangsung selama sebulan lebih, dan hari ini kembali saya menerima tamu istimewa. Ya, bagi saya setiap orang tua siswa yang datang berkunjung dan menemui saya adalah tamu istimewa. Istimewa karena mereka telah meluangkan waktunya untuk datang ke sekolah. Entah itu mereka datang untuk memenuhi panggilan guru karena perbuatan anaknya yang super kreatif atau hanya sekedar datang bersilaturahim.

Tamu-tamu saya itu datang untuk memenuhi undangan sekolah dan terkhusus undangan dari saya karena sehari sebelumnya anak-anak mereka terlibat perkelahian.

Teringat lagi  peristiwa kemarin, di saat saya sedang sibuk mengatur kelompok-kelompok belajar siswa tiba-tiba terdengar jeritan dari sudut kelas
“Bu, si Fulan dan si Fulis berkelahi”. Teriak beberapa suara siswa serempak.
Saya lalu bergegeas ke sudut kelas, rasanya gemas. Beberapa anak laki-laki turut membantu saya melerai kedua siswa yang sedang bergumul.
“Kenapa nak berkelahi?  Sambil menarik salah satu tangan mereka.
“ Dia salah Bu” Teriak si Fulan.
“Dia yang salah Bu, patoa-toai “ Balas si Fulis dengan muka merah.
Mereka saling bertatapan dengan mata melotot. Rasanya mata saya juga ikut melotot, segenap jiwa  menahan amarah. Duh, anak-anak ini,  mereka berkelahi di depan mata.
Setelah melewati tanya jawab diselingi ceramah dan sedikit suara tinggi sebagai penekanan kekesalan atas kelakuan mereka, maka akhirnya saya berhasil mendamaikan si Fulan dan si Fulis.

Maka inilah kelanjutan dari kejadian kemarin. Tamu pertama saya adalah seorang perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dengan usia ibu saya lalu disusul oleh tamu ke-dua, yaitu seorang laki-laki yang kelihatannya hampir seumur dengan tamu pertama.

“Saya neneknya si Fulan, kata cucu saya, Ibu guru memanggil orang tuanya tetapi berhubung kedua orang tua si Fulan tidak tinggal besama kami maka sayalah yang mewakili orang tuanya”. Si Ibu memperkenalkan dirinya setelah saya persilahkan duduk.
“Saya kakeknya si Fulis, cucu saya ini sudah tidak memiliki orang tua”. Si Bapak juga memperkenalkan diri sebelum saya persilahkan duduk.
“Terima kasih atas kesediaan bapak dan ibu menghadiri undangan dari sekolah”.
“Apakah bapak dan ibu tahu tentang kejadian kemarin?” Tanya saya sembari menatap mata mereka, kelihatannya mereka belum mengetahuinya.
“Tidak, Bu”. Mereka kompak menjawab.
“Sebenarnya masalah anak-anak kita kemarin sudah ditangani dan mereka sudah saling memaafkan, tetapi sangat penting Bapak dan Ibu ketahui, bahwa kemarin mereka berseteru, lebih tepatnya berkelahi”.
“Terima kasih, Bu. Nanti pi di rumah baru kuhukum ki”. Jawab kakeknya Fulis. Kedengarannya sedikit kesal.
“Edede..anak-anaka assibajjimi sede.., disuruh pigi sekolah untuk belajar tetapipigiji sibajji, persoalan apakah Bu Guru, tidak adakah gurunya yang jagaiki?”. Neneknya Fulan bicara sambil menggerutu. 

Oh baru sadar, ternyata guru juga berfungsi sebagai satpam, paling tidak ini anggapan si Nenek dan bisa jadi juga anggapan sebahagian orang tua siswa. 
Pegang jidat, puyeng.

“Begini.. saya mengundang Bapak dan Ibu ke sekolah untuk bersilaturahim sekaligus mau mengajak kerjasama, siapa tahu berminat” Kata-kata ini keluar setelah saya berpikir cukup keras.
“Wee…bagusnya itu Bu Guru, bisnis apami itu”. 
Cling! Mata Kakek bersinar ceriah.
Itumi kusuka, lumayan toh untuk tambah-tambah uang belanjanya Fulan”. 
Hi..hi..dasar ibu-ibu.
“Ini keuntungannya lebih besar dari uang yang berjuta-juta tetapi harus berinvestasi dahulu”. Bismillah, semoga saya diberi petunjuk.

“Bermodal ki dulu ya, Bu Guru?” Tanya mereka hampir serempak.
“Iya, investasi ini untuk anak-anak kita dan nanti hasilnya akan didapatkan setelah mereka dewasa”.
“Ii..lamanya itu Bu ditabung?” Terdengar nada kurang setuju.
“Memang lama tetapi hasilnya sangat memuaskan dan sekedar informasi yah Bu, Pak, hasil dari investasi ini nantinya  akan tetap didapat  sampai anak-anak kita meninggal dunia”. Sedikit kesulitan juga merangkai kata-kata.
“Investasi apami itu na sanggena mate niya inji wassele’na”. Geli dengar kata si Nenek.

Saya menggunakan kata investasi bagi anak-anak kita, sekalipun dalam pengertian yang sebenarnya, investasi berhubungan dengan keuangan namun keterkaitannya dengan mendapatkan keuntungan pada masa depan, penanaman modal membuat saya menggunakan kata itu. Karena seyogyanya, anak adalah modal utama suatu keluarga dan  bangsa.
Jika anak-anak kita dibekali modal pengetahuan tentang akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat serta melatihnya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik maka kelak kita akan menuai hasil investasi itu, tentu saja hasil yang diharapkan adalah generasi yang lebih baik dari generasi kita saat ini.

Setelah menjelaskan panjang lebar diselingi dengan minum-minum teh yang disuguhkan oleh siswa yang bertugas piket, akhirnya mereka manggut-manggut tanda mulai mengerti.
Maka sepakatlah kami, di sekolah, guru mendidik dan mengajarkan nilai-nilai dan ilmu, di rumah orang tua mendidik dan melatih hasil pengajaran guru-gurunya. 
Deal!


Demikianlah, maka tamu istimewa saya pulang dengan senyum mengembang, kelihatannya bersemangat. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar